Pencinta Surga yang Terlena dengan Kesenangan Dunia dan Syahwat yang Melalaikan
Pencinta Surga yang Terlena
dengan Kesenangan Dunia dan Syahwat yang Melalaikan
oleh
: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
|
edisi : 17 Dzulhijjah 1437 H
Di dunia ini banyak manusia yang bercita-cita mendapatkan kebahagiaan dan nikmat surga serta terlindungi dari kerasnya siksa neraka. Hanya saja ia tak mempersiapkan bekal menuju kesana. Ia pun lalai dan terbuai dalam kesengangan dunia yang menipu dan berhura-hura dalam maksiat, sampai ia dijemput Malaikat Maut.
Seorang ulama tabi'in di zamannya, Harim bin Hayyan Al-Abdiy
Al-Bashriy (wft 46 H) -rahimahullah- berkata,
مَا رَأَيْتُ كَالنَّارِ
نَامَ هَارِبُهَا، وَلاَ كَالْجَنَّةِ نَامَ طَالِبُهَا
"Aku tak
pernah melihat sesuatu seperti neraka; orang yang lari (takut) darinya malah
tertidur, dan tidak pula sesuatu seperti surga; pencarinya pun tertidur". [Lihat Tarikh Al-Islam
(5/534) oleh Al-Imam Adz-Dzahabiy]
Demikianlah
sifat dan kebiasaan orang-orang yang lalai, ia senantiasa terbuai oleh
kesenangan dunia yang ia rasakan. Seakan semua hidupnya akan ia lalui tanpa
beban dan pengorbanannya.
Hidupnya
dipenuhi dengan gaya
hidup santai, hura-hura, sesuka hati. Sedikit ia merasakan lelah dalam ketaatan
dan ibadah kepada Allah, maka ia pun kesal dan berkeluh kesah.
Ia
menyangka bahwa surga itu digapai dengan angan-angan kosong. Waktu dan masa
sehatnya lebih banyak ia buang dan habiskan dalam perkara-perkara yang
melalaikannya dari mengingat Allah serta menjauhkannya dari bersiap bekal
menuju kampung hakiki, kampung setiap insan, yaitu akhirat.
Nasib
setiap orang disana tergantung perjuangan dan pengorbanannya saat ia di dunia.
Jika ia golongan manusia manja, maka ia akan gigit jari dengan penuh penyesalan
atas segala kekosongan lembaran amal sholihnya.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ
النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Ada dua
nikmat yang tertipu di dalamnya kebanyakan manusia, yaitu : kesehatan dan waktu
luang". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6412)]
Inilah dua nikmat yang mayoritas orang
telah menghabiskannya dalam perkara yang sia-sia dan tak berguna di akhirat.
Bahkan terkadang mereka gunakan dalam perkara yang diharamkan agama!!
Di saat sehat, jasad sehatnya
selayaknya ia kerahkan demi mencari ridho Allah. Namun ia pakai dalam perkara
yang diharamkan.
Kita lihat sebagian orang menggunakan
jasadnya dalam maksiat!! Ada
yang lebih gila lagi, mereka yang merusak dan berusaha membasmi kesehatannya
dengan mengisap rokok yang mengandung berbagai macam senyawa racun yang dapat
mematikan dan merusak fungsi organ tubuh mereka.
Tak heran bila mereka disiksa oleh
Allah -Azza wa Jalla- dengan berbagai deraan penyakit yang menyusahkan
hidupnya.
Sama halnya dengan kesehatan, umur termasuk nikmat terbesar yang dianugrahkan oleh Sang
Pencipta (Allah) -Azza wa Jalla- bagi manusia.
Namun realita menunjukkan bahwa banyak manusia yang menghabiskan umurnya dalam maksiat, seperti: minum khomer, judi, zina
dan pacaran, mendengar musik. Padahal semua itu adalah perbuatan-perbuatan
maksiat!!
Di pinggir-pinggir jalan atau di
tempat lain, sering kita menjumpai manusia-manusia sial yang menghabiskan
waktunya bermain Domino,
Joker, Poker, Ludo, Ular Tangga, game, dan lainnya sampai larut malam.
Semua ini tentunya adalah perkara
terlarang dan tercela dalam agama, karena membuat pelakunya lalai dari
mengingat Allah dan menghabiskan waktu dan kesehatan dalam perkara sia-sia dan
terlarang.
Sebagian orang lagi menghabiskan
waktunya bermain atau nonton televisi atau bermain internet dengan segala macam
ucapan yang tak berguna, bahkan non sen (omong kosong) dan penuh maksiat,
seperti yang kita lihat dalam dunia Face Book, Twitter, Black Berry, You Tube dan lainnya.
Pemuda yang gila dan hobi bola, juga tak kalah lalainya. Hari-harinya
disibukkan dengan bola, nonton pertandingan, mengikuti siaran sepak bola
domestik dan mancanegara, sehingga tak ada waktunya membaca Al-Qur'an,
mengikuti majelis taklim, dan berziarah ke rumah kerabat.
Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata saat
menerangkan hadits di atas,
ضرب النبي صلى الله عليه وسلم للمكلف مثلا بالتاجر الذي له رأس
مال، فهو يبتغي الربح مع سلامة رأس المال، فطريقه في ذلك أن يتحرى فيمن يعامله
ويلزم الصدق والحذق لئلا يغبن، فالصحة والفراغ رأس المال، وينبغي له أن يعامل الله
بالإيمان، ومجاهدة النفس وعدو الدين، ليربح خيري الدنيا والآخرة وقريب منه قول
الله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ
تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ} الآيات. وعليه أن يجتنب مطاوعة النفس ومعاملة
الشيطان لئلا يضيع رأس ماله مع الربح.
"Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- membuat perumpamaan bagi seorang mukallaf,
seperti seorang pedagang yang memiliki modal pokok. Si pedagang mencari
keuntungan di samping selamatnya modal pokok. Caranya dalam hal itu, ia memilih
orang ia ajak bermuamalah, melazimi kejujuran dan kemahiran (dalam
jual-belinya) agar ia tak tertipu. Jadi, kesehatan dan waktu lowong adalah
modal pokok. Selayaknya, seorang hamba bermuamalah bersama Allah dengan iman,
menghadapi jiwa dan musuh agama, agar ia kelak meraih keuntungan dunia dan
akhirat…Ia harus menjauh dari menuruti hawa nafsunya, dan dari bermuamalah
dengan setan agar modal pokoknya tidak hilang bersama keuntungannya". [Lihat Fathul Bari (11/230) oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar,
cet. Dar Al-Fikr]
Seorang manusia tak akan paham tentang
arti penting sebuah
nikmat, kecuali setelah
ia sirna dan pergi meninggalkannya. Adapun orang-orang yang cerdik, ia akan
senantiasa mengumpulkan berbagai macam amal sholih di hari-harinya.
Ia tahu bahwa hari-hari di dunia ia
gunakan untuk memperbanyak tabungan berupa amal sholih sebelum ia menjumpai
masa-masa sulit!!
Seorang
ulama tabi'in yang tsiqoh, Al-Mundzir
bin Malik Abu Nadhroh Al-Abdiy Al-Bashriy
-rahimahullah- berkata,
كنا
نتواعظ في أول الاسلام بأربع : اعمل في فراغك لشغلك، واعمل في صحتك لسقمك، واعمل
في شبابك لهرمك، واعمل في حياتك لموتك
"Dahulu kami
saling menasihati di awal Islam dengan tentang empat perkara : Beramalllah di
waktu senggangmu untuk (menghadapi) waktu sibukmu, beramallah di masa sehatmu
untuk (menghadapi) masa sakitmu, beramallah di masa
mudamu untuk (menghadapi) masa tuamu dan beramallah di masa hidupmu untuk
(menghadapi) masa kematianmu". [HR. Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (3/97)]
Kelalaian dan keterlenaan dengan
indahnya pemandangan dan kenikmatan dunia akan membawa sengsara. Harta benda
dan kenikmatan duniawi lainnya tak akan membawa kebahagiaan hakiki di akhirat
nanti, bila pemiliknya tak
menggunakanya dalam kebaikan, ibadah dan ketaatan!!
Seorang yang jenius akan mempersiapkan
bekal amal shalih sebanyak mungkin. Sebab ia tahu bahwa perjalanan ukhrawi
penuh dengan onak dan duri yang akan siap melukai dan mencelakakan dirinya,
bila ia tak memiliki bekal dan pelindung dalam menghadapinya berupa amal-amal
shalih yang ikhlash.
Al-Imam Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
مَنْ تَفَكَّرَ فِيْ عَوَاقِبِ الدُّنْيَا، أَخَذَ الْحَذَرَ،
وَمَنْ أَيْقَنَ بِطُوْلِ الطَّرِيْقِ، تَأَهَّبَ لِلسَّفَرِ
“Barangsiapa yang merenung tentang
kesudahan dari dunia ini, maka ia akan berhati-hati. Barangsiapa yang meyakini
panjangnya perjalanan (menuju Allah), maka ia akan melakukan persiapan untuk
safar (perjalanan panjang)”.
[Lihat Shoidul Khothir (1/26), cet. Dar
Al-Qolam, 1425 H]
Pencari
kebaikan harus selalu sadar bahwa kesenangan surga tak akan dipetik, tanpa
usaha dan perjuangan yang dihiasi dengan kesabaran. Adapun bermalas-malasan
dalam hal itu, maka kelak jangan ia mencela, kecuali dirinya sendiri.
Seorang
hamba juga harus mengerti bahwa neraka tak akan jauh darinya, selain ia
memperbanyak amal shalihnya dan membersihkan diri dari maksiat dan kedurhakaan
kepada Allah -Azza wa Jalla-.
Komentar
Posting Komentar