Minggu, 11 September 2016

Empat Hewan Yang Haram Diqurbankan

Hasil gambar

Empat Hewan Yang Haram Diqurbankan

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-

edisi : 9 Dzulhijjah, 1437 H
Qurban adalah ibadah agung yang senantiasa dijaga dan dilestarikan kaum beriman sejak zaman Nabi Ibrahim -Shallallahu alaihi wa sallam- sampai kepada umat Islam hari ini.

Hanya sayang keagungan ini hilang saat ada sebagian diantara kita yang sembarangan dalam memilih hewan qurban. Karenanya, perlu kiranya kita mengetahui beberapa hewan qurban berikut yang dilarang oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- untuk dijadikan sebagai hewan sembelihan qurban.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
أَرْبَعٌ لَا تُجْزِئُ : الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا ، وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تُنْقِي "

"Empat hewan qurban yang tidak mencukupi : hewan picok yang kentara picoknya, hewan yang sakit yang kentara sakitnya, hewan yang pincang yang kentara pincangnya, dan hewan patah (kurus) yang tidak bersumsum." [HR. Ahmad dalam Musnad-nya (4/284), An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (4369), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3144). Dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Irwa' Al-Gholil (no. 1148)]

Dari hadits yang singkat ini, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menyebutkan 4 sifat hewan qurban yang haram untuk disembelih sebagai qurban, bahkan tidak sah dan pelakunya tidak mendapatkan pahala qurban.

4 Sifat itu berikut rincian dan penjelasannya:

q  Hewan picok yang kentara picoknya
Hewan picok adalah hewan yang buta salah satu dari matanya. Yang dimaksud hewan picok disini adalah yang matanya terbenam (cekung) dan hilang daya penglihatannya. Mata merupakan anggota badan yang vital. Jika pada salah satu matanya terdapat keputihan, namun tidak hilang daya penglihatannya, maka boleh berqurban dengannya. Sebab, picoknya tidak kentara dan jelas, serta hal itu tidak membuat dagingnya berkurang. [Lihat Al-Mughni (11/101)]

Jadi, kalau picoknya ringan (tidak sampai membuatnya buta dan bola matanya tidak cekung), maka itu tidaklah memberikan pengaruh dan tidak menghalangi kita dari berqurban dengannya. Syariat melarang kita dari berqurban menggunakan hewan picok, sebab penyakit picok merupakan sebab yang menghalangi hewan dari mencari dan mengambil makanan dengan sempurna sebagaimana yang dilakukan oleh hewan yang sehat kedua matanya. [Lihat Syarh Sunan Abi Dawud (330/19-Syamilah), oleh Syaikhuna Abdul Muhsin Al-Abbad -hafizhahullah- ]

q  hewan yang sakit, yang kentara sakitnya
Dijelaskan oleh sebagian ulama kita bahwa yang dimaksud dengan hewan yang sakit disini adalah hewan tidak mau makan akibat pengaruh sakitnya. Sementara sakitnya tidak lagi diharapkan sembuh dalam waktu singkat. Sakit seperti ini mengakibatkan dagingnya berkurang dan harganya akan turun. Sakitnya hewan ini memberikan pengaruh baginya dengan berkurangnya daging tubuhnya dan akan merusaknya.
Al-Qodhi Iyadh -rahimahullah- menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sakit disini adalah penyakit kudis. Karena, kudis akan merusak daging dan membuatnya kurus bila membanyak dan menyebar. [Lihat Mirqoh Al-Mafatih (3/1085), oleh Ali bin Sulthon Al-Qori dan Dzakhiroh Al-Uqba (33/292) oleh Syaikh Ali bin Adam Al-Atsyubiy]

q  hewan yang pincang, yang kentara pincangnya
Yang dimaksud dengan hewan yang pincang dalam hadits ini adalah hewan terhalangi oleh pincangnya dari berjalan. Penyakit pincang yang dialaminya parah sehingga menghalanginya mengejar kambing-kambing lainnya dan kawanannya senantiasa mendahuluinya ke padang rumput. Akibatnya ia pun menjadi kurus. Kambing yang seperti ini tidak boleh dijadikan hewan qurban. Adapun apabila pincangnya ringan sehingga ia bisa beriringan dengan kawanannya, maka –insya Allah- sah dijadikan qurban. [Lihat Asy-Syarh Al-Kabir (3/543) oleh Abdur Rohman Ibnu Qudamah, dan Al-Mubdi' (3/279) oleh Abu Ishaq Ibnu Muflih]

q  hewan patah (kurus) yang tidak bersumsum.
Hewan patah yang dimaksud adalah hewan yang patah kakinya sehingga ia tak mampu berjalan. Diterangkan dalam riwayat lain bahwa ia adalah hewan kurus (العَجْفَاءُ), yaitu hewan yang kehilangan sumsum, karena saking kurusnya. Sebagian hewan ini tidak mampu berdiri karena saking lemah dan kurusnya. Ini sifat yang wajib dihindari dalam qurban. [Lihat At-Tamhid (20/168), An-Nihayah fi Ghorib Al-Hadits (4/172), Mirqoh Al-Mafatih (3/1085), Al-Mughni (11/101), Dzakhiroh Al-'Uqba (33/293)]

Para pembaca yang budiman, inilah sebagian cacat yang mengaharmkan kita dari menyembelih hewan yang demikian sifat. Disana masih ada sifat lain yang belum sempat kami rinci, seperti : terbelah, atau putus telinganya, dan lainnya. Semoga di kesempatan lain, kami akan jelaskan, insya Allah -Ta'ala-.

Dari hadits ini, ada beberapa faedah yang dapat kami simpulkan :
1.     Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang hewan yang tidak boleh diqurbankan, yaitu hewan picok yang kentara picoknya, hewan yang sakit yang kentara sakitnya, hewan yang pincang yang kentara pincangnya, dan hewan patah (kurus) yang tidak bersumsum yang tidak mampu ke padang rumput, sehingga ia jadi sangat kurus. [Lihat Dzakhiroh Al-'Uqba (33/294)]
2.     Hadits ini menunjukkan bahwa aib dan cacat yang samar dan ringan pada hewan qurban adalah dimaafkan dan hewan ini sah dijadikan qurban. [Lihat Mirqoh Al-Mafatih (3/1085)]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar