Minggu, 29 Juli 2018

Bahaya Fatal Meninggalkan Tuma'ninah ketika Sholat




Bahaya Fatal Meninggalkan Tuma’ninah Ketika Sholat

Disadur oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_

“Tuma’ninah” (tenang), tanpa tergesa-gesa melakukan gerakan-gerakan sholat adalah perkara amat asasi dalam sholat.

Sebab, orang yang meninggalkannya tak akan mendapatkan buah pahala dari sholatnya, tak akan meraih khusyu’, dan malah mendapatkan dosa. Ia mendapatkan dosa karena sholatnya tidak sah, tanpa "tuma'ninah"!

Perkara “tuma’ninah” dalam sholat sering dilalaikan oleh banyak orang saat ia melakukan sholat sehingga terkadang ia bagaikan seorang yang berolah raga saja, bahkan laksana ayam yang mematok makanannya.

Begitu cepatnya ia bergerak dari rukun sholat ke rukun lainnya. Orang yang seperti ini tak akan mendapatkan sesuatu dari sholatnya, selain capek dan penat saja!!

Ada seorang sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang bernama Hudzaifah bin Al-Yaman -radhiyallahu anhu- pernah melihat seseorang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya, karena ia tak tuma’ninah.

Hudzaifah _radhiyallahu ‘anhu_ ketika itu berkata saat menegurnya,
مَا صَلَّيْتَ وَلَوْ مُتَّ مُتَّ عَلَى غَيْرِ الْفِطْرَةِ الَّتِي فَطَرَ اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا
“Kamu belum sholat!! Andai kau mati, maka engkau akan mati di atas selain fitrah (Islam) yang Allah menciptakan Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- di atasnya”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 791)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata,
"وَاسْتَدَلَّ بِهِ عَلَى وُجُوبِ الطُّمَأْنِينَةِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَعَلَى أَنَّ الْإِخْلَالَ بِهَا مُبْطِلٌ لِلصَّلَاةِ وَعَلَى تَكْفِيرِ تَارِكِ الصَّلَاةِ لِأَنَّ ظَاهِرَهُ أَنَّ حُذَيْفَةَ نَفَى الْإِسْلَامَ عَمَّنْ أَخَلَّ بِبَعْضِ أَرْكَانِهَا فَيَكُونُ نَفْيُهُ عَمَّنْ أَخَلَّ بِهَا كُلِّهَا أَوْلَى." اهـ من فتح الباري لابن حجر (2/ 275)
“Hadits ini dijadikan dalil tentang wajibnya “tuma’ninah” dalam rukuk dan sujud, dan bahwa melalaikannya adalah pembatal sholat serta (hadits ini menunjukkan) pengafiran orang yang meninggalkan sholat, sebab lahiriahnya bahwa Hudzaifah meniadakan keislaman dari orang yang melalaikan sebagian rukun sholat. Jadi, peniadaan keislaman dari orang yang meninggalkan sholat secara total adalah lebih utama”. [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (2/275)]

Minggu, 22 Juli 2018

Rapor Merah buat Hanan At-Taki Akibat Pelecehannya terhadap Nabi Musa


Books Book Section Paper Pages Book Cover


Rapor Merah buat Hanan At-Taki
Akibat Pelecehannya terhadap Nabi Musa

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_

Tersebar sebuah video ringkas berisi pelecehan dari seorang “dai gaul”[1] yang bernama Hanan At-Taki _hadahullah_.

Pelecehan itu terkait dengan seorang figur dan tokoh mulia yang dimuliakan oleh setiap mukmin, yaitu Kalimulloh Musa _alaihish sholatu was salam_, seorang nabi mulia dari kalangan ulul ‘azmi yang wajib kita cintai dan muliakan, serta harus membelanya dari pelecehan siapapun!

Pelecehan Hanan At-Taki kepada Nabi Musa _alaihis salam_ sangat menyayat hati setiap mukmin. Pasalnya, ia mencela dan menggelari Nabi Musa _alaihis salam_  sebagai “Preman Para Nabi”. Na’udzu billahi min dzalik!

Kata “preman” adalah kata yang tidak digunakan, melainkan untuk makna yang berkonotasi buruk sebagaimana yang diungkapkan oleh para pakar bahasa.

Kita nukilkan –misalnya- dari KBBI Daring,
preman2/pre·man/ /préman/ n cak sebutan kepada orang jahat (penodong, perampok, pemeras, dan sebagainya): -- Medan sangat terkenal.”

Dari sini, tampak jelas bagi anda bahwa penggunaan kata “preman” adalah penggunaan kata yang membawa makna yang amat buruk dan tidak selayaknya kita sematkan kepada siapapun dari kalangan orang-orang mulia, apalagi seorang nabi.

Jumat, 20 Juli 2018

Adab-adab Menasihati Para Penguasa




Adab-adab Menasihati Para Penguasa

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_

Di awal Desember 2010, kembali terjadi peristiwa pahit yang meninggalkan dampak buruk bagi masyarakat di negeri ini dan Makassar secara khusus, yakni adanya sejumlah mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan-jalan melakukan aksi demo dalam rangka memperingati “Hari Anti Korupsi Sedunia” yang bertepatan dengan 9 Desember.

Setiap orang yang turun ke jalan memiliki tendensi dan niat tertentu. Ada yang menyangka bahwa demo yang ia lakukan adalah “jihad fi sabilillah”.

Ada yang menyangka bahwa demo mereka adalah nasihat dan amar ma’ruf-nahi munkar.

Ada yang turun dengan tendensi mencari reputasi dan nama baik agar selanjutnya ia mendapatkan pujian dan kedudukan politik.

Lahiriahnya, orang-orang seperti ini adalah pejuang rakyat. Tapi ternyata ia adalah pencari kursi ‘kekuasaan’, dunia, dan ketenaran.

Namun di balik semua itu, seorang yang cerdik nan pandai selayaknya bertanya,
“Apakah hal itu adalah nasihat yang dibenarkan dalam syariat?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka perlu diketahui bahwa nasihat adalah ibadah.

Jika ia adalah ibadah, maka ia harus ikhlash dan cocok dengan sunnah (petunjuk) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Nah, demonstrasi yang mereka namai dengan “jihad” atau “nasihat”, tentunya tidak ikhlash.

Anggaplah mereka ikhlash niatnya, karena semata mencari ridho Allah. Namun demo yang mereka lakukan adalah sebuah pelanggaran dan penyelisihan terhadap syariat Islam sebagaimana yang anda akan lihat dalam rincian ulasan berikut:

Para pembaca yang budiman, nasihat memiliki adab-adab yang harus dijaga oleh seseorang saat ia mau menasihati para pemerintahnya yang muslim.

Adapun adab-adab menasihati pemerintah, maka kami akan sebutkan dalam poin-poin di bawah ini:

Sabtu, 14 Juli 2018

Cermin Musibah




Cermin Musibah

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_

Musibah terlalu banyak menimpa kita, baik yang menimpa badan kita berupa penyakit dan kecelakaan, ataukah musibah yang menimpa semua orang, seperti banjir, longsor, gempa dan lainnya.

Namun banyak diantara kita yang lupa dan tak mau mengaca di depan cermin musibah seraya bertanya, “Apa gerangan yang menyebabkan datangnya musibah?”

Semua musibah yang menimpa diri kita dan yang lainnya, tak akan terjadi kecuali diiringi oleh sebab-sebab yang menimbulkan musibah.

Jika kita mengetahui sebab-sebab itu, maka itulah cermin yang akan memberikan gambaran kepada kita tentang hikmah di balik semua musibah agar kita sedikit “muhasabah” (mengoreksi) diri dan tidak lagi mengulangi semua dosa dan kesalahan di hari mendatang.

Ada sebuah hadits yang agung dari sahabat Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhu-.

Hadits ini akan menjadi cermin bagi kita dalam menghadapi musibah yang mendera.

Hadits ini akan menjadi kajian kita hari ini dalam beberapa catatan penting :

Minggu, 01 Juli 2018

Hukum Acara “Pemburu Hantu”




Hukum Acara “Pemburu Hantu”

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
(Alumni “Islamic University of Medina”, KSA)
_hafizhahullah_

Belakangan ini, ada sebuah acara  yang berbau mistik banyak disiarkan di televisi, baik dalam bentuk film sinetron maupun semacam show (pamer kemampuan ghaib).

Konon kabarnya, di dalam acara itu mereka mempertunjukkan acara penangkapan dan penyingkapan hantu alias setan atau jin atau makhluk halus.

Para pemburu hantu mendapat peran penting dalam acara-acara tersebut. Melalui acara mereka, setan atau hantu –menurut istilah mereka– dapat dipublikasikan.

Digambarkan bahwa para pemburu hantu adalah orang-orang sakti yang dapat memburu, menangkap dan membuat setan bertekuk lutut.

Bila ada tempat yang berhantu –menurut mereka-, maka didatangkanlah “orang hebat”[1] ke tempat tersebut.

Padahal para pemburu hantu itu adalah dukun alias paranormal yang kita dilarang mempercayai dan mendatanginya.

Rasulullah –alaihis sholatu was salam- bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
"Barang siapa yang mendatangi peramal (paranormal), kemudian menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2230)]

Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata,
"أَمَّا الْعَرَّافُ فَقَدْ سَبَقَ بَيَانُهُ وَأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ أَنْوَاعِ الْكُهَّان." اهـ من شرح صحيح مسلم (14/ 227) للنووي
"Adapun arrof (peramal atau paranormal), sungguh telah lewat penjelasannya, dan bahwa ia adalah termasuk golongan para dukun". [Lihat Al- Minhaj Syarh Shohih Muslim (14/227)]