Minggu, 26 Agustus 2018

Fiqih Indah dalam Berpoligami





Fiqih Indah dalam Berpoligami

oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhohulloh_

Poligami adalah syariat yang tinggi di sisi Allah _azza wa jalla_. Ia merupakan solusi yang terbaik dalam mengatasi sebagian perkara sosial bagi sebagian orang.

Walaupun seseorang terkadang merendahkan kedudukan poligami dengan sikap dan tindakannya yang mencoreng nama baik syariat “poligami” ini.

Karenanya, penting kiranya kita memahami seluk-beluk poligami agar kita tidak salah dalam mempraktikkannya, atau tidak keliru menempatkannya dan tidak pula merendahkan kedudukannya.

Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy Al-Yamaniy _rahimahulloh_ berkata,

Senin, 20 Agustus 2018

Kisah Palsu Anak Yatim di Hari Ied


Hasil gambar untuk Kisah palsu anak yatim di hari ied

Kisah Palsu Anak Yatim di Hari Ied

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_

Kisah palsu yang disandarkan kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, teramat banyak jumlahnya. Semua itu disebabkan karena beberapa faktor. Diantaranya, tersebarnya kejahilan di kalangan kaum muslimin tentang ilmu hadits. Tak luput, kejahilan tentang ilmu hadits ini, juga mewarnai sebagian besar muballigh dan dai kita.

Padahal Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- jauh hari telah bersabda,
وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya(110), dan Muslim dalam Shohih-nya (3)]

Al-Allamah Ibnul Arabiy Al-Malikiy -rahimahullah- berkata,
أَنَّ الحَدِيث الضَّعِيف لَا يُعْمَلُ بِهِ مُطلقًا
"Hadits dho'if tidak boleh diamalkan secara mutlak". [Lihat Al-Muqni' fi Ulum Al-Hadits (hal. 104) oleh Sirojuddin Ibnul Mulaqqin Al-Anshoriy, tahqiq Abdullah bin Yusuf Al-Judai', cet. Dar Fawwaz lin Nasyr, 1413 H]

Para pembaca yang budiman, dalam beberapa momen ied yang berbeda, kami telah mendengarkan dari beberapa orang dai, sebuah hadits yang asing rasanya di telinga kami.

Itulah KISAH BOCAH YATIM yang dijumpai oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam kondisi si bocah bersedih karena kehilangan sang ayah tercinta.

Kisah ini kembali menelisik telinga kami di hari ied (1 Syawwal 1437 H/6 Juli 2016 M) dari seorang khothib yang menyampaikan khutbah ied di Alun-alun Wonomulyo (dulu Lapangan Gaswon), Polman, Sulawesi Barat.

Rasa penasaran dan ingin tahu tentang keabsahan kisah itu, mendorong kami untuk membuka kitab-kitab hadits yang merangkum dan menghimpun hadits-hadits dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Sebelum kami jelaskan kedudukan kisah anak yatim ini, maka ada baiknya kami bawakan teks dan redaksi kisah tersebut sebagaimana yang tersebar di lisan para dai, muballigh dan khothib di hari ied, dan juga tersebar di dunia maya :
خَرَجَ الرَّسُوْلُ يَوْمًا لأداء صلاة العيد، فرأى أطفالاً يلعبون ويمرحون، ولكنه رأى بينهم طفلاً يبكي، وعليه ثوب ممزق، فاقترب منه، وقال (( مالكَ تبكي ولا تلعب مع الصبيان؟؟))
فأجابه الصبيُّ : أيها الرجلُ دَعْنِيْ وشأني ، لقد قُتِلَ أبِيْ في إحدى الحروبِ وتزوجتْ أُمِّيْ، فأكلوا مالي وأَخْرَجُوْنِيْ من بيتي، فليس عندي مأكل ولا مشرب ولا ملبس ولا بيت آوِيْ إِلَيْهِ !! فعندما رايتُ الصبيانَ يلعَبونَ بسرور تَجَدَّدَ حُزْنِيْ فَبَكَيْتُ عَلَى مُصِيْبَتِيْ .
فأخذ الرسول بيد الصبي، وقال له : (( أَمَا تَرْضَى أَنْ أَكُوْنَ لَكَ أَباً، وَفَاطِمَةُ أُخْتاً، وَعَلِيٌّ عَمًّا وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ أَخَوَيْنِ ؟؟؟((
فعرَف الصبيُّ الرسولَ، وَقَالَ : كَيْفَ لاَ أَرْضَى بِذَلِكَ، يَارَسُوْلَ اللهِ !!
فأَخَذَهُ الرَّسولُ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) إلَى بَيْتِهِ وَكَسَاهُ ثَوْبًا جَدِيْدًا وَأَطْعَمَهُ وَبَعَثَ فِيْ قَلْبِهِ السُّرُوْرَ . فَرَكَضَ الصبيُّ إلَى الزِّقَاقِ لِيَلْعَبَ مَعَ الصِّبْيَانِ.
فقال له الصبيةُ : لَقَدْ كُنْتَ تَبْكِيْ، فَمَا الَّذِيْ جَعَلَكَ أَنْ تَكُوْنَ فَرِحًا وَمَسْرُوْرًا ؟؟؟
فقالَ اليتيمُ : كُنْتُ جَائِعًا فَشَبِعْتُ، وَكُنْتُ عَارِيًا فَكُسِيْتُ، وَكُنْتُ يَتِيْمًا فَأَصْبَحَ رَسُوْلُ للهِ أَبِيْ، وَفَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ أُخْتِيْ، وَعَلِيٌّ عَمِّيْ، وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ إِخْوَتِيْ .

Senin, 13 Agustus 2018

Persembahan dan Sesajen Kesyirikan


Hasil gambar untuk dupa dan sesajen

Persembahan  dan Sesajen Kesyirikan

oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_

Peristiwa meletusnya Gunung Merapi di daerah Jogjakarta tahun 2010 M ini, banyak meninggalkan kenangan dan tragedi yang menguji dan menyaring keimanan kaum muslimin Nusantara.

Banyak orang yang sadar dan kembali kepada Allah, dan banyak juga yang semakin jauh dari agama Allah, bahkan semakin buruk dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Golongan yang pertama mulai tahu dan sadar bahwa segala musibah yang Allah takdirkan tak akan tertangguhkan dan tak ada yang mampu menahannya, selain Allah.

Walaupun semua makhluk bersatu menghalanginya, jika Allah menetapkan waktu kejadiannya, maka pasti terjadi. Golongan yang pertama ini adalah kaum beriman.

Golongan yang kedua semakin lalai dan sengsara, sebab mereka menyangka bahwa musibah Merapi terjadi, bukan terjadi atas kehendak Allah, tapi adanya campur tangan makhluk-makhluk halus yang mereka yakini sebagai pengatur dan penjaga Merapi. Jelas ini adalah kesyirikan.

Golongan ini ketika terjadinya tragedi Merapi semakin menjadi-jadi perbuatan kesyirikannya kepada Allah.

Mereka telah menyekutukan Allah -Azza wa Jalla- dengan makhluk-makhluk halus yang mereka sebut dengan “Eyang Sapu Jagad” dan bala tentaranya.

Para pembaca yang budiman, kalian jangan salah sangka bahwa golongan kedua ini adalah masyarakat Jawa dan Jogjakarta yang beragama Hindu, bahkan mereka kebanyakannya manusia yang ber-KTP Islam, tapi perbuatannya adalah perbuatan “kesyirikan” ‘menyekutukan Allah dalam ibadah’.

Di tengah memanasnya tragedi Merapi saat itu, muncullah manusia sial dari kalangan golongan kedua yang gandrung dengan ajaran kejawen yang berbau syirik, mistik, dan klenik.

Manusia sial ini tidaklah mengambil ibrah bahwa semua musibah ini terjadi karena dosa-dosa syirik alias kesyirikan yang selama ini mereka lakoni.

Mereka tidak bertobat kepada Allah dan tidak pula menyadari bahwa musibah terjadi sebagai teguran yang berbuah ibrah.

Malah mereka semakin musyrik, sehingga mereka pun menyiapkan beberapa ekor hewan sembelihan yang mereka siapkan untuk acara dan ritual kesyirikan mereka.

Menurut mereka, pengorbanan kepada selain Allah itu bertujuan demi meredam musibah.

Subhanallah, sungguh ini adalah sebuah kepandiran di atas kepandiran. Mereka tak tahu bahwa menyembelih dan mengorbankan sesuatu untuk makhluk adalah sebuah kesyirikan yang mendatangkan musibah dunia dan akhirat!!

Di dunia mereka akan dilaknat oleh Allah -Azza wa Jalla-, yakni akan dijauhkan dari hidayah dan rahmat (kasih sayang)-Nya. Belum lagi, siksaan akan menimpa mereka di dunia!

Di akhirat mereka akan dikekalkan dalam neraka Jahannam yang apinya jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan api Gunung Merapi!!

Seorang yang menyembelih dan mengorbankan sesuatu untuk makhluk halus atau kasar akan terkena laknat dari Allah -ta'ala-.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”. [HR. Muslim Al-Kitab Adhohiy (no. 1178), dan An-Nasa’iy dalam Kitab Adh-Dhohayaa (7/232)]

Syaikh Isma’il bin Abdil Ghoniy Ad-Dahlawiy -rahimahullah- berkata,
"وقد دل هذا الحديث على أن الذبح لغير اللَّه من الأعمال التي خصصها اللَّه لتعظيمه، ومن ذبح لغير اللَّه فقد أشرك." اهـ من رسالة التوحيد المسمى بـ تقوية الإيمان (ص: 142)
“Sungguh hadits ini menunjukkan bahwa menyembelih untuk selain Allah termasuk amalan (ibadah) yang Allah khususkan untuk mengagungkan diri-Nya. Barangsiapa yang menyembelih untuk selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat syirik (menyekutukan Allah)”.[Lihat Risalah At-Tauhid (hlm. 142)]

Jumat, 10 Agustus 2018

Hadits Palsu : Sholat Jumat, Hajinya Orang Fakir




Hadits Palsu : Sholat Jumat, Hajinya Orang Fakir

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_

Ibadah haji adalah ibadah yang dicita-citakan oleh setiap orang sehingga setiap orang berusaha mengumpulkan harta demi ibadah itu.

Namun sebagian diantara manusia ada yang tidak sempat melaksanakannya sehingga ia bersedih.

Tapi kesedihan itu hilang karena ia mendengarkan sebuah hadits berikut :
الدَّجَاجُ غَنَمُ فٌقَرَاءِ أُمَّتِيْ، وَاْلجُمُعَةُ حَجُّ فُقَرَائِهَا
"Ayam adalah kambingnya orang fakir dari kalangan umatku, dan shalat jum'at hajinya orang fakir mereka".[HR. Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin (3/90)]

Tapi ternyata sayangnya hadits ini palsu sehingga seorang muslim tidak boleh meyakini dan mengamalkannya.

Rabu, 08 Agustus 2018

Ibrah dan Pelajaran Berharga di Balik Ganasnya Musibah




Ibrah dan Pelajaran Berharga
di Balik Ganasnya Musibah

Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. _hafizhahullah_

Musibah demi musibah telah menghantam tanah air kita ‘Indonesia Raya’, bagaikan terpaan ombak yang silih berganti menghantam tepi pantai.

·      Mulai dari kasus teroris yang mengancam stabilitas negeri seribu pulau ini,
·      musibah Lumpur Lapindo (Sidoarjo),
·      banjir bandang di Sinjai (Sulsel),
·      Tsunami 2004 M di Aceh,
·      tenggelamnya KM Senopati, dan kapal-kapal lainnya
·      jatuhnya Adam Air, dan pesawat-pesawat lainnya,
·      tenggelamnya Jakarta, dan berbagai kota di negeri ini,
·      terjadinya kekeringan puso, dan tersebarnya hama yang menyebabkan gagal panen,
·      dan masih banyak lagi musibah lainnya.

Terdiam beberapa saat, kini musibah kembali meluluhlantakkan sebagian tempat di kota pelajar ‘Jogjakarta’, tepatnya di sekitar Gunung Merapi.

Belum lagi pukulan ganas tsunami kembali menghantam daerah Mentawai, dan banjir bandang menenggelamkan daerah Wasior, Papua.

Kini, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat dan sekitarnya hancur berantakan akibat serangan gempa yang bertubi-tubi, dengan kekuatan termaksimal 7,0 skala richter.