Rabu, 22 Mei 2019

People Power, bukan Sebuah Solusi!



People Power, bukan Sebuah Solusi!

Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-

Minggu, 07 April 2019

Jangan Berkiblat kepada Kaum Kafir Barat!




Jangan Berkiblat 
kepada Kaum Kafir Barat!

oleh : 
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.


Sebagian orang jahil dari kalangan kaum muslimin kadang tertipu dengan kemajuan orang-orang barat yang notabene beragama Yahudi atau Kristen.

Kemajuan teknologi dan dunia orang barat membutakan mata kaum muslimin sehingga merasa kecil hati dan minder dengan kondisi mereka yang terbelakang, dan pada gilirannya kaum muslimin membebek buta kepada kaum kafir barat, dan bangga dengan segala yang bermerek atau berbau barat.

Kondisi ini semakin diperparah oleh informasi yang dilancarkan orang-orang kafir bahwa mereka hebat dalam segala hal keduniaan, seperti teknologi, ekonomi, budaya, pendidikan, teknik perang, politik, dan lainnya.

Hal ini memberikan opini bahwa apa saja yang dibutuhkan oleh kaum muslimin, maka mereka harus belajar ke barat. Kondisi mereka sampai pada titik yang terparah, banyak anak-anak kaum muslimin yang belajar agama Islam ke barat.

Mengapa harus ke berkiblat barat?

Minggu, 31 Maret 2019

Bersolek ala Jahiliah




Bersolek ala Jahiliah

Oleh :
Ust. Abdul Qodir, Lc. & Ust. Abu Dawud

Roda kehidupan terus berjalan bagaikan air yang mengalir, tanpa penghalang. Perjalanan kehidupan ini dari zaman ke zaman terus mengalami perubahan. Era tahun 70-an berbeda dengan era tahun 80-an dan seterusnya.

Jika kita meneropong sebuah sudut kehidupan anak cucu Adam, khususnya kehidupan wanita dari zaman ke zaman, maka kita akan menemukan perubahan drastis sehingga muncullah istilah baru "Lain dulu, lain sekarang".

Dahulu wanita malu berkeliaran di luar rumah, dan berusaha menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, karena mengikuti firman Allah,
{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى} [الأحزاب: 33]
“Dan hendaklah kalian (kaum wanita) tetap di rumahmu dan janganlah kalian ber-tabarruj (berhias) dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu(QS. Al-Ahdzab: 33)

Kini, banyak wanita muslimah berkeliaran di jalan-jalan, kantor-kantor, pompa-pompa bensin, mall-mall dengan berbagai macam tabarruj (solekan dan gaya) ala jahiliah, mulai dari pakaian sempit, transparan, pendek lagi seksi, lalu dipoles dengan berbagai merek make up buatan dalam negeri ataupun buatan mancanegara.

Jumat, 22 Februari 2019

Meraih Manisnya Akhlak




Meraih Manisnya Akhlak

oleh : 
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
_hafizhohulloh_

Akhlaq merupakan salah satu perkara yang dibawa dan didakwahkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- di tengah umatnya.

Akhlak banyak memberikan pengaruh kepada kaum musyrikin sampai banyak diantara mereka yang masuk Islam karena melihat akhlaq Sang Nabi Pembawa Rahmat, Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Masyarakat Quraisy jahiliah adalah masyarakat yang menyembah makhluk, namun masih memiliki akhlaq yang karimah (mulia) yang mereka warisi dari orang-orang sholih sebelumnya.

Akhlaq yang mereka pelihara dahulu, seperti: menjaga malu, amanah, melayani para tamu, menjamu para jama'ah haji, menyambung silaturahmi, bersedekah, dan lainnya.

Ketika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- datang menyelamatkan mereka dari kubang kesyirikan, dan dari sebagian penyimpangan akhlak, maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- membawa risalah Islam berupa Al-Qur'an dan Sunnah yang berisi akhlak yang amat sempurna lagi terpuji.

Dahulu akhlak hanya dalam batasan sempit, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- memperluas cakupannya, sehingga mencakup akhlaq kepada Allah -Azza wa Jalla- dan akhlak kepada makhluk.

Inilah yang disinyalir oleh Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-  dalam sabdanya,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ
"Aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan makarimul akhlaq (akhlaq-akhlaq yang mulia)". [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (273), Ahmad dalam Al-Musnad (2/381/no. 8939), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (10/191/no. 20571), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok alaa Ash Shohihain (4221). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (2349)]

Penampilan seorang manusia ada dua macam :
(1)  penampilan lahiriah dan
(2)  penampilan batin.

Penampilan lahiriah, seperti : ganteng, jelek, hitam, putih, buta, melihat, dan lainnya.

Penampilan batin, misalnya : malu, berani, pemurah, dermawan, suka membantu, suka melayani hajat orang lain tanpa pamrih, menyambung silaturahim.

Penampilan batin inilah yang biasa disebut “AKHLAQ”.

Jadi, akhlaq adalah penampilan batin yang dimiliki oleh seorang hamba dalam bermuamalah dengan yang lain. Akhlaq biasa disebut dengan istilah "adab", atau "suluk".

Al-Imam Jamaluddin Al-Qosimiy -rahimahullah- menjelaskan bahwa jika dari penampilan batin itu muncul perbuatan-perbuatan yang baik menurut akal dan syari'at, maka penampilan itu disebut dengan "akhlaq hasanah" (akhlaq yang baik) atau "akhlaq karimah" (akhlaq yang mulia). [Lihat Jawami' Al-Adab fi Akhlaq Al-Anjaab (hal. 138) yang dicetak dalam sebuah album kitab yang berjudul "Rosa'il fil Akhlaq", cet. Dar Al-Bashiroh, Mesir]

Allah -Ta'ala- dan Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- ketika memuji akhlaq di dalam Al-Qur'an dan hadits, maka yang dimaksud ialah AKHLAQ KARIMAH.

Diantara keutamaan akhlaq yang disebutkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- :

Selasa, 22 Januari 2019

Doa-doa Penting di Musim Hujan




Doa-doa Penting di Musim Hujan

Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. _hafizhahullah_
[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan]

Musim hujan merupakan salah satu musim yang sering menghampiri kaum muslimin Indonesia dan negara-negara lainnya. Setiap tahunnya, hujan pasti “menyapa” kita, dan kadang pula disertai oleh angin kencang dan awan hitam.

Hujan yang turun dari awan, tidak selamanya membawa rahmat dan rezki dari langit. Kadang ia datang membawa musibah dan petaka bagi manusia.

Selasa, 01 Januari 2019

“Peringatan Tahun Baru Masehi”, Sebuah Kemungkaran Besar di Tengah Umat Islam




“Peringatan Tahun Baru Masehi”, 
Sebuah Kemungkaran Besar di Tengah Umat Islam


Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. _hafizhohulloh_

Malam ini kita menyaksikan sebuah kemungkaran yang bernama “Peringatan Tahun Baru”.

Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam bersabda :

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان
“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya, sedang itulah keimanan yang paling lemah.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya no. 49)]

Malam ini kita saksikan ada perayaan yang terus berulang, dinamakan dengan “Perayaan Tahun Baru”.

Padahal hakikatnya perayaan tersebut adalah “Perayaan Tahun Masehi”.

Perayaan ini asalnya adalah syiar dari orang-orang kafir. Seorang muslim tidak boleh ikut merayakan syiar seperti ini.

Di jelaskan oleh para ulama bahwa perayaan ini asalnya dari para penyembah berhala yang ingin menyucikan Dewa mereka yang bernama “Dewa Janus”, dewa orang-orang Romawi.

Ketika Kerajaan Romawi telah berubah menjadi “Kerajaan Kristen”, maka perayaan pada kerajaan tersebut diubah menjadi perayaan orang-orang Nashoro (Kristen).

Sejak saat itu, orang-orang yang merayakan “Perayaan Tahun Baru Masehi adalah orang-orang Kristen.

Sejarah seperti ini harus kita pahami agar kita mengetahui apa yang kita lakukan, sebab pada zaman ini sebagian manusia banyak yang ikut-ikutan dalam memperingati kaum Nashoro dalam melakukan “Perayaan Tahun Baru Masehi”.

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari, Nabi _Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam_ menjelaskan,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

"Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang dhob (sejenis biawak) pun, kalian pasti kalian akan mengikuti mereka.
" Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka!" (HR. Muslim no. 4822)

Ini sudah diingatkan oleh Nabi sejak 14 abad yang lalu, sebelum terjadinya perayaan-perayaan seperti ini di tengah kaum muslimin.

Hal ini telah di peringatkan oleh Nabi  _Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam_.

Nabi  _Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam_ telah menjelaskan kepada umatnya bahwa umat Islam hanya memiliki 2 hari raya!

Di masa Nabi  _Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam_, sebelum datangnya islam, di kalangan orang-orang Madinah, ada perayaan yang dikenal dengan “Perayaan Nairuz” dan “Perayaan Mahrojan”.

Kemudian ketika Nabi  _Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam_ datang, maka Nabi  _Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam_ pun menghapus 2 perayaan tersebut.

Disebutkan dalam sebuah riwayat :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ
Rasulullah _Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam_ bersabda:
" قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَإِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْرًا مِنْهُمَا، يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ "
“Aku datang kepada kalian, sedang dahulu kalian memiliki dua hari yang kalian dahulu bermain-main (berpesta pora) di dalamnya. Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya (Nairuz dan Mahrojan) : yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adh-ha.” [HR. Abu Dawud (no. 1134) dan Ahmad (12827). Al-Albaniy menyatakannya shohih dalam Ash-Shohihah (no. 2021)]

Di dalam hadits ini, Nabi _Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam_ menghapuskan semua jenis hari raya, seperti Mahrojan dan Nairuz (yang selalu diperingati sebagai awal tahun di masa jahiliah di kalangan Bangsa Persia dan Arab), serta semua hari-hari peringatan dihapus oleh beliau sejak saat itu!

Kemudian, Nabi _Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam_ juga memperingatkan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti syiar dan kekhususan orang-orang kafir, ritual-ritual mereka.

Kata Nabi Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam dalam suatu riwayat :
وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” [HR. Ahmad (no. 5409) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (4031). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy]

Ini tegas dari Nabi Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam!

Jadi, seorang muslim itu punya syiar agama, punya simbol agama, serta punya jalan dalam beragama!

Jangan kita ikut dan membebek kepada orang-orang kafir.
Sejak kecil, kita telah diajarkan sebuah suroh dari Al-Qur’an oleh orang-orang tua kita, yaitu :

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
(QS. Al-Kafirun : 6)

Ini perlu saya ingatkan agar kaum muslimin itu jangan bersifat latah, mengikut, mengekor dalam beragama atau melakukan perayaan-perayaan yang tidak disyariatkan dalam agama kita.

Karena, simbol-simbol seperti ini (yakni, “Perayaan Tahun baru Masehi”, misalnya) haram hukumnya.

Siapa yang telah mengetahui hal ini, namun dia tetap merayakannya, maka dia sudah melakukan dosa besar! Bahkan lambat laun dia bisa terjatuh ke dalam kekafiran, akibat meniru-niru syiar-syiar dan symbol agama Kristen, semisal : “Perayaan Tahun Baru Masehi” ini, atau “Perayaan Valentine Day’s”, “Perayaan Haloween”, “Perayaan April Mop”, dan lain sebagainya diantara perayaan-perayaan kaum Kristen yang diadopsi oleh sebagian umat Islam yang memiliki dasar agama yang dangkal.
Semoga Allah _azza wa jalla_ memberi taufiq bagi seluruh kaum muslimin agar kembali berpegang dengan Islam secara total dan menjauhi syiar-syiar agama lain! Wallohul Musta’an.

Jadi kembali saya ingatkan bahwa malam hari ini bukan hari raya kita, malam ini kita berjalan, kita beraktivitas seperti pada malam-malam biasanya.

Terakhir, perlu kami jelaskan bahwa ketika kami tegaskan bahwa “Perayaan Tahun Baru Masehi” adalah sebuah kemungkaran, jangan dipahami bahwa “Perayaan Tahun Baru Hijriah” adalah perkara yang disyariatkan dan dianjurkan.

Kami tegaskan bahwa “Perayaan Tahun Baru Hijriah” juga adalah kemungkaran dan bid’ah yang tidak memiliki dasar dalam Islam! Ia adalah perkara yang diada-adakan dalam agama dan juga mengandung unsur “tasyabbuh” (meniru) “Perayaan Tahun Baru Masehi”, dan meniru mereka dalam hal itu adalah terlarang!

NB : Kami telah menelaah ulang tulisan di atas, disertai tambahan faedah dan penjelasan.



Tulisan di atas adalah Nasihat Singkat yang Kami Sampaikan 
di Masjid Darul Falah, Pampang, Makassar, 2018.

Ditranskrip oleh : Abu Dzar Muhammad Rafli