Menyingkap Kepalsuan Wasiat Penjaga Kubur
Menyingkap Kepalsuan Wasiat Penjaga
Kubur
Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-
Kedustaan dan kebatilan yang
disandarkan kepada agama Allah, teramat banyak. Semuanya bermuara kepada
penghancuran Islam, dan pemadaman cahaya Allah.
Hal ini tentunya adalah makar setan
dan bala tentaranya dalam menyesatkan manusia dari agama Islam yang suci.
Namun suatu hal yang perlu kita
syukuri, Allah menganugrahkan kepada kita sebuah Kitab suci, yakni Al-Qur'an
Al-Karim; Kitab yang membawa petunjuk dan pembeda antara kebenaran dan
kebatilan.
Allah -Azza wa Jalla-
berfirman,
{يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ
بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا (174)
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي
رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (175) }
[النساء: 174، 175]
"Hai manusia, sesungguhnya telah
datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu
cahaya yang terang benderang (Al Quran). Adapun orang-orang yang beriman kepada
Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan
mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya,
dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya". (QS. An-Nisaa' : 174-175)
Makar setan untuk menyesatkan
manusia senantiasa berjalan sampai hari ini.
Di antara
makar itu adalah sebuah khurafat yang dibuat oleh setan yang ingin
menyesatkan manusia.
Khurafat itu diformat dan dibuat dalam bentuk mimpi berisi WASIAT
PENJAGA KUBUR NABI -Shallallahu alaihi wa sallam- yang dinisbahkan kepada penjaga kubur Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- yang bernama Syaikh Ahmad, agar orang mudah
menerima wasiat dusta tersebut.
Wasiat batil yang berasal dari mimpi
tersebut, berisi kedustaan-kedustaan, dan ancaman, yang diklaim oleh si penjaga
kubur bahwa ia telah menerimanya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- saat
ia melihatnya dalam mimpi, seraya bersabda, "Kabarkanlah umatku tentang
wasiat ini, karena wasiat ini ternukil dengan pena takdir dari Lauhul Mahfuzh.
Barangsiapa yang menulisnya, dan
mengirimnya dari suatu negeri ke negeri lainnya dan dari tempat ke tempat lain,
maka akan dibangunkan baginya sebuah istana di surga.
Barangsiapa yang tak menulisnya, dan
mengirimnya, maka ia diharamkan dari syafaatku pada hari kiamat.
Barangsiapa yang menulisnya, sedang
ia faqir, maka Allah akan membuatnya kaya; atau ia dalam keadaan berutang, maka
Allah akan melunasi utangnya; atau ia memiliki dosa, maka Allah akan mengampuni
dosanya, dan dosa kedua orang tuanya, karena berkah wasiat ini.
Barangsiapa yang tak menulisnya dari
kalangan hamba-hamba Allah, maka wajahnya akan menghitam di dunia dan akhirat.
Barangsiapa yang membenarkannya, maka ia akan selamat dari siksa Allah. Barangsiapa
yang mendustakannya, maka ia kafir".
Inilah sebagian perkara yang tertera
di dalam WASIAT DUSTA yang diada-adakan oleh si pemalsunya, yang telah lancang
berdusta atas nama Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Di dalam sebuah hadits, Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ
كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barang
siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia mengambil tempat
duduknya di neraka". [HR.Al-Bukhory
(1291), dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 3)]
Wasiat batil dan dusta ini telah
tersebar merata di negeri-negeri Islam, seperti Saudi Arabiyyah, Mesir,
Indonesia, dan lainnya.
Wasiat ini tersebar kemana-mana,
karena jahilnya kaum muslimin tentang agamanya, sehingga membenarkan semua
ucapan yang diasalkan dan disandarkan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam-, walaupun itu dusta adanya, atau tidak diketahui asal-usulnya di
dalam kitab-kitab hadits.
Oleh karena itu, para ulama telah
memberikan pengingkaran dan bantahan atas wasiat dusta ini, seperti Syaikh
Abdul Aziz bin Baaz dalam kitabnya "At-Tahdzir minal Bida'"
(hal. 43-61), Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan dalam kumpulan
khutbah beliau yang berjudul Al-Khuthob Al-Mimbariyyah (1/307-314),
dan lainnya.
Wasiat palsu ini disebarkan dan
dibagi-bagikan sejak kami masih kecil sampai hari ini oleh sebagian orang-orang
jahil melalui lembaran atau selebaran yang di-foto copy, lalu disebarkan ke
masyarakat, entah masih dalam bentuk lembaran, atau dalam bentuk pesan melalui SMS,
Facebook, WhatsApp, Instagram, atau media internet lainnya.
Sebagian orang terdorong
menyebarkannya, karena si pendusta yang membuat wasiat palsu ini memberikan janji-janji,
dan ancaman seraya berkata,
"Barangsiapa yang men-foto copy
(mencetak) sekian lembar (10 lembar), lalu ia membagi-bagikannya, maka ia akan
menggapai cita-citanya.
Jika ia berdosa, maka Allah akan
mengampuninya.
Jika ia seorang pegawai, maka ia
akan diangkat kepada jabatan yang lebih baik dibandingkan jabatannya sekarang.
Jika ia berutang, maka Allah akan
melunasi utangnya. Barangsiapa yang mendustakannya, maka wajahnya akan
menghitam, dan karena hal itu akan terjadi siksaan begini dan begitu…"
Para pembaca yang budiman, jika kita
meneliti dan menilai WASIAT PALSU ini, dengan kacamata agama, maka wasiat ini
batil dan mungkar dari beberapa sisi berikut :
¾ Hukum-hukum agama, ancaman dan
janji-janji, serta pengabaran tentang perkara masa depan. Semua perkara ini
tidak sah dan tak benar, kecuali berdasarkan WAHYU dari Allah kepada Rasul-nya.
Sedang wahyu telah terputus dengan kematian Rasul -Shallallahu alaihi wa
sallam- setelah Allah menyempurnakan agama-Nya. Allah berfirman,
{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}
[المائدة: 3]
“Pada hari ini
telah Kusenpurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan nikmatKu
kepada kalian dan telah Kurhidhoi Islam sebagai agama bagi kalian”. (QS. Al-Maidah: 3)
Al-Imam
Abul Fida` Ibnu Katsir -rahimahullah-
berkata,
"هَذِهِ
أَكْبَرُ نِعَمِ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ حَيْثُ أَكْمَلَ
تَعَالَى لَهُمْ دِينَهُمْ، فَلَا يَحْتَاجُونَ إِلَى دِينِ غَيْرِهِ، وَلَا إِلَى
نَبِيٍّ غَيْرِ نَبِيِّهِمْ، صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ؛ وَلِهَذَا
جَعَلَهُ اللَّهُ خَاتَمَ الْأَنْبِيَاءِ، وَبَعَثَهُ إِلَى الْإِنْسِ وَالْجِنِّ،
فَلَا حَلَالَ إِلَّا مَا أَحَلَّهُ، وَلَا حَرَامَ إِلَّا مَا حَرَّمَهُ، وَلَا
دِينَ إِلَّا مَا شَرَعَهُ." تفسير القرآن العظيم _ ط. دار طيبة (3/ 26)
“Ini adalah karunia
Allah -Ta’ala- yang paling besar terhadap umat ini, di saat Allah telah
menyempurnakan agama bagi mereka, maka mereka pun tidak butuh lagi kepada agama
yang lain dan tidak kepada nabi yang lain selain Nabi mereka -Shollallahu
‘alaihi wasallam-. Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup
para nabi. Dia telah mengutus beliau kepada bangsa manusia dan jin. Jadi, tidak
ada perkara yang halal, selain yang beliau halalkan dan tidak ada perkara yang
haram selain yang dia haramkan, serta tidak ada ajaran agama selain yang dia
syariatkan". [Lihat Tafsir Al-Qur’an
Al-‘Azhim (3/26), karya Ibnu
Katsir Ad-Dimasyqiy, cet. Dar Thoibah]
Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- telah mewariskan kepada kita Al-Qur'an dan Sunnah, sedang
di dalamnya telah ada kecukupan dan petunjuk bagi kita.
Adapun
mimpi dan cerita dusta seperti ini, maka ia tidaklah menetapkan perkara-perkara
agama, karena dominannya berasal dari setan untuk menyesatkan manusia, dan juga
berisi kedustaan.
Si Pembuat
WASIAT ini menjanjikan orang yang membenarkan, dan menyebarkannya dengan janji
masuk surga, bahwa hajatnya akan dipenuhi, dan segala kesusahannya akan
dilonggarkan.
Sebaliknya,
ia mengancam orang yang mendustakan wasiat ini dengan ancaman masuk neraka, dan
wajahnya akan menghitam.
Ini
merupakan tasyri' (pembuatan syari'at) agama baru, dan kedustaan atas
nama Allah.
Lebih
parah lagi, ia berani mengafirkan orang yang tak mau menyebarkan wasiat itu.
Subhanallah, begitu mudahkah mengafirkan orang lain, tanpa hujjah?!
¾ Si Pembuat WASIAT ini menganggap
wasiat itu lebih agung dibandingkan Al-Qur'an. Karena, barangsiapa yang menulis
mushaf Al-Qur'an, maka ia tak mendapatkan keutamaan seperti yang didapatkan
oleh orang yang menulis WASIAT PALSU itu.
Nah, lain
halnya –menurut sangkaan si pembuatnya- dengan orang yang menggandakan dan
menyebarkan wasiat dusta itu, maka ia akan diberi keutamaan-keutamaan tersebut.
¾ Di dalam wasiat ini terdapat
pengakuan tentang ilmu gaib. Sebab, di dalam WASIAT PALSU itu tertera, "Sesungguhnya
dari Jum'at ke Jum'at telah meninggal 160 ribu orang di atas selain agama
Islam".
Syaikh
Sholih bin Fauzan Al-Fauzan -hafizhohullah- berkata,
"Ini
merupakan pengakuan tentang ilmu gaib, tak ada yang mengetahuinya, kecuali
Allah. Dia (Allah) saja yang mengetahui bilangan orang yang mati di atas Islam,
dan mati di atas kekafiran. Barangsiapa yang mengaku tahu perkara gaib, maka ia
telah ingkar kepada Allah". [Lihat
Al-Khuthob Al-Mimbariyyah (1/310), cet. Maktabah Al-Ma'arif, 1420
H]
Allah -Ta'ala-
berfirman,
{وَعِنْدَهُ
مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي
ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (59)
} [الأنعام: 59]
"Dan pada
sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan
tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak
jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau
yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)". (QS. Al-An'aam : 59)
¾
Pahala
dan siksaan di dunia dan di akhirat, tidak boleh ditetapkan, kecuali
berdasarkan nash dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam-.
Para
pembaca yang budiman, si Pembuat Wasiat Palsu ini telah menetapkan
pahala dan balasan bagi orang membenarkannya, serta siksaan bagi orang yang
mendustakannya dan orang yang tidak menyebarkannya.
Sementara
penetapan hal-hal tersebut, tidak didasari oleh dalil sedikitpun. Ini juga menunjukkan
kebohongannya!
Seseorang
yang menetapkan perkara seperti ini tanpa dalil, ia akan terkena firman Allah,
{وَلَا
تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ
لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ
الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (117)}
[النحل: 116، 117]
"Dan
janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara
dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan
bagi mereka azab yang pedih". (QS.
An-Nahl : 116-117)
Kemudian
Si Pembohong tersebut berusaha memberikan gambaran kepada para pembaca wasiat
itu bahwa wasiat itu benar, bukan palsu dan kebohongan.
Karenanya,
si Pembohong itu menghias-hiasi wasiatnya dengan sumpah yang berkali-kali,
bahkan ia bersumpah jika ia bohong, maka ia keluar dari Islam.
Dengarkan
Si Pembohong itu berceloteh,
"Demi
Allah Yang Maha Agung (tiga kali). Wasiat ini adalah benar. Jika aku dusta,
maka aku keluar dari dunia (mati), bukan di atas Islam. Barangsiapa yang
membenarkan wasiat ini, maka ia akan selamat dari siksa neraka. Barangsiapa
yang mendustakannya, maka ia kafir".
Ini
merupakan makar busuk si Pembohong ini, bahkan termasuk kejahilan dan
kepandirannya, sebab sumpah dan banyak janji, tidaklah menunjukkan kejujuran
dan kebenaran orangnya. Mayoritas tukang bohong bersumpah demi menipu manusia.
Oleh
karenanya, Allah berfirman,
{وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ }
[القلم: 10]
"Dan
janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina". (QS. Al-Qolam : 10)
Orang munafik
juga suka bersumpah dusta demi menipu kaum muslimin, sebagaimana dalam
firman-Nya,
{وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا
الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ } [التوبة: 107]
"Mereka
Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." dan
Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam
sumpahnya)". (QS. At-Taubah : 107)
Selain
itu, untuk lebih meyakinkan, si pembuat wasiat dusta tersebut berusaha
menampakkan kecintaannya kepada Islam dan kebenciannya kepada kemungkaran dan
maksiat, sehingga manusia tak buruk sangka kepadanya, dan selanjutnya manusia
pun membenarkan wasiat bohongnya.
Si
Pembohong ini tak tahu bahwa Fir'aun yang terlaknat juga pernah menampakkan
perasaan kasihan dan nasihat kepada kaumnya, saat Fir'aun berkata kepada mereka
dalam menjauhkan mereka dari Nabi Musa -Shallallahu alaihi wa sallam-,
{وَقَالَ
فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ
يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ } [غافر: 26]
"Dan
Fir'aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya), "Biarkanlah aku membunuh
Musa, dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku
khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka
bumi". (QS. Al-Mu'min : 26)
Tapi
apakah Fir'aun benar dalam nasihatnya ini?! Tentu tidak!! Malah dialah perusak
terbesar di muka bumi!!!
Ini
menunjukkan bahwa tidak semua orang yang menampakkan nasihat dan rasa kasihnya
kepada kita bahwa ia adalah orang yang baik, bahkan sering kita mendapatkan seorang
pendusta dan penipu memberikan nasihat dan tampak belas kasihnya kepada kita.
Namun
hakikatnya ia adalah orang yang menginginkan kerugian dan kerusakan pada diri
kita.
¾ Diantara perkara yang menunjukkan
kebohongan wasiat palsu itu, keluarga Syaikh Ahmad (Penjaga Kubur Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam-) sendiri menyatakan kepalsuan wasiat itu.
Syaikh
Abdul Aziz bin Baaaz (Mufti Saudi Arabiyyah) -rahimahullah-
berkata, "Sungguh aku pernah bertanya kepada sebagian kerabat Syaikh
Ahmad yang disandarkan kepadanya kebohongan ini tentang wasiat ini. Kemudian
mereka memberikan jawaban kepadaku bahwa wasiat itu dipalsukan atas nama Syaikh
Ahmad, dan bahwa asalnya beliau tak pernah mengucapkannya". [Lihat At-Tahdzir
minal Bida' (hal. 47)]
Terakhir, kami ingatkan kepada kaum muslimin agar jangan lagi
tertipu dengan WASIAT DUSTA tersebut, dan tidak lagi ikut menyebarkannya
setelah mengetahui hakikat kebatilan dan kedustaan surat wasiat bohong itu.
Bila kita turut menyebarkannya, maka
kita telah turut andil dalam menyebarkan kebohongan dan kebatilan, sehingga
menyebabkan orang lain tersesat. Wal'iyaadzu billah.

Baarakallahu fiyk
BalasHapusآمين
HapusJazakallahu khaer ustadz
BalasHapuswa iyyakum.
Hapus