Rabu, 06 Desember 2017

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama


Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat
yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras
tidak Memiliki Dasar dalam Agama

oleh
_Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc._
-hafizhahullah-

Ustadz Adi Hidayat adalah seorang dai yang terkenal melalui media sosial, seperti YOUTUBE dan lainnya.

Ia merupakan salah satu “figur” yang banyak digandrungi oleh kaum muda di Indonesia, dan seringkali mengisi acara-acara ceramah dan khutbah di berbagai tempat di nusantara ini.

Belakangan ini, ia mengeluarkan pernyataan kontroversial dalam membela maulid sampai lisannya terpeleset dalam masalah takfir (pengafiran) bagi mereka yang menyatakan bid’ahnya maulid, semata-mata karena Sang Ustadz ingin membela maulid dan para pelakunya. [ https://goo.gl/cgt6mh ]

Kali ini, kami tidak akan menanggapi masalah takfir tersebut. Kami hanya akan menyoroti istidlal (pengambilan dalil) yang dilakukan oleh sang ustadz berdasarkan logikanya.

Logika Sang Ustadz menyatakan bahwa kalau maulid itu memang bid’ah, dengan alasan tidak ada di zaman Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-, maka berarti zakat dengan beras juga bid’ah dong, karena juga tidak ada di zaman kenabian.

Pendalilan logika yang dilakukan oleh Sang Ustadz adalah pendalilan keliru, karena ia telah melakukan qiyas bathil dalam menyamakan antara bermaulid dengan berzakat dengan menggunaka beras.


Kebatilan qiyas yang dilakukan oleh Sang Ustadz amat terang bagi setiap penuntut ilmu, dan sebenarnya hal ini sekalipun tidak dijelaskan, maka jelas perkaranya di depan para thullabul ilmi (penuntut ilmu).

Hanya saja hal ini harus kita terangkan, karena banyak diantara saudara-saudara kita yang ikut mendengarkan dan menyaksikan ceramah Sang Ustadz, namun mereka tidak mengerti kebatilan ucapan Sang Ustadz Adi Hidayat.

Benarkah ZAKAT DENGAN BERAS tidak ada di zaman Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-?

Memang para sahabat tidaklah mengeluarkan zakat fitri mereka dengan menggunakan beras.

Namun bukan berarti bahwa mengeluarkan zakat fitri dengan beras tidak memiliki dasar dalam agama!

Kita cermati hadits-hadits berikut :

Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ
"Kami mengeluarkan zakat fitrah pada zaman Rasulullah -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dengan satu sho’ bahan makanan.”

Dalam sambungan riwayat di atas, Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
وَكَانَ طَعَامَنَا : الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالأَقِطُ وَالتَّمْرُ
“Yang menjadi makanan pokok kami adalah gandum, kismis (anggur kering), keju, dan kurma.” [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (1510), dan Muslim (985)]

Di dalam riwayat yang lain, Abu Sa’id Al-Khudriy –radhiyallahu anhu- berkata,
«كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ»
“Dulu kami mengeluarkan zakat fitri sebanyak satu sho’ makanan, atau satu sho’ gandum, atau satu sho’ kurma kering, atau satu sho’ keju, atau sho’ kismis.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1506) dan Muslim dalam Shohih-nya (17/no. 985)]

Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah, sebagai pembersih bari orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” [HR. Abu Dawud (no. 1609) dan Ibnu Majah (no. 1827). Dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Misykah Al-Mashobih (no. 1818)]

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat dalam mengeluarkan zakat fitri, mereka mengeluarkan zakat berupa makanan pokok yang ada pada masa itu berupa kurma, kismis, gandum, dan keju.

Andaikan mereka mengenal BERAS pada masa itu sebagai makanan pokok dalam kebiasaan hidup mereka, maka pasti Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- akan memerintahkan mereka membayar zakat fitri dengan beras.

Karena, inti dari zakat fitri adalah sebagai makanan pokok yang mereka nikmati pada hari raya.
 Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyahrahimahullah- berkata setelah menyebutkan jenis-jenis makanan pokok para sahabat di dalam hadits-hadits tersebut, beliau berkata,
وهذه كانت غالب أقواتهم بالمدينة فأما أهل بلد أو محلة قوتهم غير ذلك فإنما عليهم صاع من قوتهم كمن قوتهم الذرة أو الأرز أو التين أو غير ذلك من الحبوب ، فإن كان قوتهم من غير الحبوب ، كاللبن واللحم والسمك أخرجوا فطرتهم من قوتهم كائنا ما كان ، هذا قول جمهور العلماء ، وهو الصواب الذي لا يقال بغيره ، إذ المقصود سد حاجة المساكين يوم العيد ومواساتهم من جنس ما يقتاته أهل بلدهم ، وعلى هذا فيجزئ إخراج الدقيق وإن لم يصح فيه الحديث ". اهـ
“Ini adalah makanan-makanan pokok yang dominan pada mereka di Kota Madinah. Adapun penduduk negeri atau kampung yang makanan pokoknya selain itu, maka hanyalah (wajib) atas mereka satu sho’ dari makanan pokok mereka , seperti orang-orang yang makanan pokoknya adalah jagung, atau beras, atau buah tin, atau yang lainnya berupa bebijian. Jika makanan pokok mereka adalah dari selain biji-bijian, seperti susu, daging, dan ikan, maka mereka mengeluarkan zakat fitri mereka dari makanan pokok mereka itu, apapun bentuknya! Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Inilah pendapat yang benar yang tidak boleh dinyatakan selainnya. Sebab maksud (dari zakat fitri itu) adalah menutupi kebutuhan kaum miskin (berupa makanan) pada raya, serta membantu mereka dengan jenis makanan pokok yang dikonsumsi oleh penduduk negeri mereka. Karena ini, sah mengeluarkan tepung (sebagai zakat fitri jika menjadi makanan pokok), walaupun tidak shohih suatu hadits tentangnya.” [Lihat I’lam Al-Muwaqqi’in (3/18), karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, cet. Dar Al-Kutub Al’Ilmiyyah, 1411 H]

Apa yang dinyatakan oleh Ibnul Qoyyim sejalan dengan penjelasan Syaikhul Islam –rahimahullah- saat beliau berkata dalam menguatkan pendapat itu,
يُخْرِجُ مَا يَقْتَاتُهُ. وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ هَذِهِ الْأَصْنَافِ. وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ: كَالشَّافِعِيِّ وَغَيْرِهِ. وَهُوَ أَصَحُّ الْأَقْوَالِ؛
فَإِنَّ الْأَصْلَ فِي الصَّدَقَاتِ أَنَّهَا تَجِبُ عَلَى وَجْهِ الْمُسَاوَاةِ لِلْفُقَرَاءِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ} .
وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ؛ لِأَنَّ هَذَا كَانَ قُوتَ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَلَوْ كَانَ هَذَا لَيْسَ قُوتَهُمْ بَلْ يَقْتَاتُونَ غَيْرَهُ لَمْ يُكَلِّفْهُمْ أَنْ يُخْرِجُوا مِمَّا لَا يَقْتَاتُونَهُ كَمَا لَمْ يَأْمُرْ اللَّهُ بِذَلِكَ فِي الْكَفَّارَاتِ. وَصَدَقَةُ الْفِطْرِ مِنْ جِنْسِ الْكَفَّارَاتِ هَذِهِ مُعَلَّقَةٌ بِالْبَدَنِ وَهَذِهِ مُعَلَّقَةٌ بِالْبَدَنِ بِخِلَافِ صَدَقَةِ الْمَالِ فَإِنَّهَا تَجِبُ بِسَبَبِ الْمَالِ مِنْ جِنْسِ مَا أَعْطَاهُ اللَّهُ." اهـ من مجموع الفتاوى (25/ 68)
“Seseorang mengeluarkan sesuatu yang ia jadikan sebagai makanan pokok, walaupun ia bukan termasuk dari jenis-jenis ini. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama, seperti Asy-Syafi’iy, dan selainnya. Ini merupakan pendapat yang paling benar. Karena, hukum asal pada sedekah (zakat fitri) bahwa ia wajib sebagai bentuk bantuan bagi kaum fakir, sebagaimana yang Allah –ta’ala- katakan (tentang kaffaroh), “…dari sebaik-baik apa yang kalian beri makan kepada keluarga kalian.”
Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-telah mewajibkan zakat fitri sebanyak satu sho’ kurma, atau satu sho’ gandum. Karena, makanan ini adalah makanan pokok penduduk Madinah.
Andaikan makanan ini (yakni, kurma atau gandum) bukanlah makanan pokok mereka, maka pasti tidak akan membebani para sahabat untuk mengeluarkan sesuatu yang tidak mereka biasa jadikan sebagai makanan pokok, sebagaimana halnya Allah tidak memerintahkan mereka dengan hal itu dalam kaffaroh-kaffaroh.
Zakat fitri sama jenisnya dengan kaffaroh. Ini (yakni, zakat fitri) terkait dengan badan, sedang yang ini (kaffaroh) juga terkait dengan badan. Lain halnya dengan zakat maal (harta). Karena, zakat maal wajib karena (adanya) harta, (diambil zakat maal itu) dari jenis sesuatu Allah berikan kepadanya.”  [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (25/68)]



Apa yang dinyatakan oleh Ibnul Qoyyim –rahimahullah- dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam –rahimahullah- merupakan pendapat yang lurus berdasarkan lahiriah hadits-hadits di atas. Sebab, di dalam hadits-hadits itu, disebutkan kata “makanan” (طَعَامٌ) .

Tentunya kata “makanan” mencakup semua jenis makanan, baik makanan pokok yang mereka kenal pada masa itu, atau pun yang lainnya.

Andaikan manusia (baik dari kalangan bangsa Arab atau selainnya) berubah pola makan mereka, dimana dahulu mereka memakan gandum atau kurma, lalu pada hari ini mereka mengonsumsi beras, maka pasti para ulama membolehkan mereka mengeluarkan zakat fitri dengan menggunakan makanan pokok yang bernama beras, dan tidak akan ada yang menyatakan itu adalah bid’ah.

Ketika Syaikh Abdul Aziz bin Bazrahimahullah- menguatkan pendapat jumhur ulama yang membolehkan untuk mengeluarkan zakat dari selain yang ada pada masa kenabian, beliau berkata,
"وهذا هو الصواب ؛ لأن الزكاة مواساة من الأغنياء للفقراء ، ولا يجب على المسلم أن يواسي من غير قوت بلده . ولا شك أن الأرز قوت في بلاد الحرمين وطعام طيب ونفيس ، وهو أفضل من الشعير الذي جاء النص بإجزائه. وبذلك يعلم أنه لا حرج في إخراج الأرز في زكاة الفطر".
“Ini yang benar. Karena, zakat itu adalah bantuan dari orang-orang kaya bagi kaum fakir, dan tidak wajib bagi seorang muslim untuk membantu dengan selain makanan pokok negerinya.. Tidak ragu lagi bahwa BERAS adalah makanan pokok di dua tanah suci (Makkah dan Madinah), dan ia adalah makanan yang baik lagi berharga. Beras lebih afdhol (utama) dibandingkan dengan gandum yang telah datang nash tentang cukupnya (sahnya membayar zakat fitri dengannya). Dengan itu, diketahuilah bahwa tidak masalah dalam mengeluarkan beras dalam zakat fitri.” [Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Mutanawwi’ah (14/200) karya Syaikh Ibnu Baz]

Pendapat ini pula yang didukung oleh Al-Allamah Faqihuz Zaman, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaiminrahimahullah- saat beliau berkata,
"والصحيح أن كل ما كان قوتاً من حب وثمر ولحم ونحوها فهو مجزئ "اهـ
“Pendapat yang benar bahwa semua yang menjadi makanan pokok berupa biji-bijian, buah-buahan, daging, dan sejenisnya, maka ia mencukupi (yakni, dalam zakat fitri).” [Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’ (6/183)]

Pendapat ini semakin meyakinkan kita bahwa praktik nyata di Saudi bahwa penduduk Saudi sekarang ini yang hampir dikata semuanya telah menjadikan BERAS sebagai manakan pokok, sehingga mereka juga mengeluarkan zakat dengan beras.

Sekalipun demikian, tidak ada diantara ulama zaman yang mengingkari hal itu dan menyatakan bahwa zakat dengan beras tidak ada dasarnya.

Kesimpulan :
1.  Zakat fitri di zaman kenabian  adalah dengan menggunakan kurma, gandum, kismis, dan keju. Karena, itulah makanan pokok yang ada dalam keseharian mereka. Itulah makanan pokon yang ada dalam kebiasaan mereka.

2.  Mayoritas ulama menyatakan bolehnya mengeluarkan zakat fitri dengan beras dan lainnya (selain yang ada di zaman kenabian), dan itulah pendapat yang terkuat, terlebih lagi mereka yang menjadikan beras dan sejenisnya sebagai makanan pokok.

3.  Tidak ada diantara ulama yang menyatakan bid’ahnya mengeluarkan zakat dengan beras. Kalaupun ada, maka itu adalah pendapat yang marjuh (tertolak). Karena, di dalam hadits Abu Sa’id bahwa para sahabat mengeluarkan zakat dalam bentuk “makanan”, yang dengan keumumannya ia mencakup kurma, beras, dan lainnya.


4.  Dengan ini, tampak bagi anda dengan terang tentang kebatilan pernyataan Ust. Adi Hidayat yang menyamakan antara maulid yang tidak ada dasar dan pijakannya dalam agama, dengan mengeluarkan zakat berupa beras (yang merupakan perkara yang ditopang oleh dalil-dalil berupa hadits-hadits yang telah kami nukilkan). 


====================================


DUKUNG KAMI

Dalam membantu pembangunan 
MASJID DAR AL-FALAH, 
milik Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

Rekening BANK MANDIRI
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 1740000532291




Kontak Person :

PANITIA PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.



NB :
Lokasi Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar.



2 komentar:

  1. Barokallahu fiik, syukron atas pencerahannya

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas pencerahanya pak ustad.

    BalasHapus