Doa-doa Penting di Musim Hujan
Doa-doa
Penting di Musim Hujan
Oleh
: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. _hafizhahullah_
[Pengasuh
Ponpes Al-Ihsan]
Musim hujan merupakan salah satu
musim yang sering menghampiri kaum muslimin Indonesia dan negara-negara
lainnya. Setiap tahunnya, hujan pasti “menyapa” kita, dan kadang pula disertai
oleh angin kencang dan awan hitam.
Hujan yang turun dari awan, tidak
selamanya membawa rahmat dan rezki dari langit. Kadang ia datang membawa
musibah dan petaka bagi manusia.
Allah _tabaroka wa ta’ala_
berfirman,
{فَلَمَّا
رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا
بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ
كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ
كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)} [الأحقاف: 24، 25]
“Maka tatkala mereka melihat azab itu
berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah
awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah siksaan
yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung siksaan
yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka
jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat
tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”
(QS. Al Ahqaf: 24-25)
Angin itu datang menyapu rata kaum
Aad dan membinasakan mereka sampai tidak ada lagi yang berdaya. Mereka semua
binasa akibat dosa dan maksiatnya.
Amr bin Maimun _rahimahullah_
berkata,
"لقد
كانت الرِّيح تحتمل الظّعينة فترفعُها حتى تُرى كأنها جرادة، فَأَصْبَحُوا يعني
عاداً لا يُرى إِلَّا مَساكِنُهُمْ."
“Angin itu membawa tenda-tenda, lalu
mengangkatnya, sampai tenda-tenda itu terlihat seakan-akan belalang. Lantaran
itu, jadilah kaum Aad tidak lagi terlihat, melainkan tempat-tempat tinggal
mereka saja.” [Zadul Masir (4/110)]
Demikian pula angin yang datang sebelum hujan atau saat hujan, terkadang ia datang bukan sebagai kabar gembira datangnya hujan, tapi ia datang sebagai adzab (siksaan) dan musibah yang akan menimpa suatu negeri yang durhaka dan bermaksiat kepada Allah.
Allah _azza wa jalla_ berfirman,
{وَأَمَّا
عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ
لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى
كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7) فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ
(8)} [الحاقة: 6 - 8]
"Dan adapun kaum 'ad maka mereka telah
dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin. Allah menimpakan kepada
mereka selama tujuh malam delapan hari secara terus menerus, maka engkaupun
melihat mereka bergelimpangan seperti pohon-pohon korma yang telah lapuk. Maka
apakah engkau masih melihat diantara mereka yang tersisa". (QS. Al Haqqah:
6-8)
Sebelum kaum Aad, telah berlalu kaum
Nabi Nuh. Mereka disiksa dengan hujan yang berkepanjangan, sampai banjir
bandang menenggelamkan bumi.
Inilah yang pernah diterangkan dalam
firman Allah _subhanahu wa ta’ala_,
وَقِيلَ
يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ
الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ
الظَّالِمِينَ
“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah
airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah
pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan
dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 44)
Dari ayat-ayat ini, kita bisa
memetik pelajaran bahwa angin, awan dan hujan tidak selamanya membawa rahmat
dari langit, bahkan terkadang membawa petaka berupa banjir atau longsor yang
sering kali menelan banyak korban harta, nyawa, dan lainnya, serta mengganggu
aktifitas manusia.
Rasulullah _shallallahu alaihi wa
sallam_ begitu khawatir saat menyaksikan mendung hitam
Beliau takut jika itu adalah siksa
dari langit.
Aisyah _radhiyallahu anha_ berkata,
وَكَانَ
إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِى وَجْهِهِ . قَالَتْ يَا رَسُولَ
اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا ، رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ
فِيهِ الْمَطَرُ ، وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِى وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ
. فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّى أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ
قَوْمٌ بِالرِّيحِ ، وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا ( هَذَا عَارِضٌ
مُمْطِرُنَا) »
“Jika Rasulullah _shallallahu alaihi
wa sallam_ melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.”
Aisyah berkata, “Wahai Rasululah,
jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu girang. Mereka
mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau.
Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.”
Beliau pun bersabda, “Wahai Aisyah,
apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah siksaan. Pernah ada suatu
kaum diberi siksaan dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu
kaum ‘Aad) ketika melihat siksaan, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang
akan menurunkan hujan kepada kita.” [HR. Bukhariy (no. 4829) dan Muslim (no.
899)]
Para pembaca yang budiman, di musim hujan, saat bergeraknya awan dan bertiupnya angin, maka hendaknya kita selalu takut akan datangnya hujan dan angin yang membawa siksa.
Sudah dimaklumi bahwa tidak ada yang
dapat menolak dan mencegah musibah, melainkan Allah Pemilik alam semesta ini.
Lantaran itu, seorang muslim
dianjurkan membaca sejumlah doa penting yang perlu dibaca saat angin bertiup,
awan bergerak, dan hujan turun.
Di dalamnya terdapat permintaan kepada Allah agar hujan dan angin tidak menjadi siksaan dan musibah.
Di dalamnya terdapat permintaan kepada Allah agar hujan dan angin tidak menjadi siksaan dan musibah.
Berikut ini, kami bawakan doa-doa
penting kita baca saat musim hujan :
Doa Saat Hujan Turun
|
A’isyah _radhiyallahu anha_ berkata, “Rasulullah _shallallahu alaihi wa sallam_ dulu apabila melihat hujan, maka beliau berkata (berdoa),
«اللَّهُمَّ
صَيِّبًا نَافِعًا»
“Ya Allah, (jadikanlah ia) sebagai hujan
yang bermanfaat.” [HR. Al-Bukhoriy (no.
1032)]
Di dalam riwayat Abu Dawud dalam
Sunan-nya (no. 5099), A’isyah _radhiyallahu anha_ berkata,
“Bila hujan turun, maka beliau
(yakni, Nabi _shallallahu alaihi wa sallam_) berdoa,
«اللَّهُمَّ
صَيِّبًا هَنِيئًا»
“Ya Allah, jadikanlah ia sebagai
hujan yang menyenangkan.”
Bila hujan yang turun telah membawa
petaka, maka disyariatkan membaca doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah
_shallallahu alaihi wa sallam_.
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi
wa sallam- pada saat hujan sangat deras beliau bersabda:
اللَّهُمَّ
حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا ، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ ،
وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Ya Alloh (turunkan) di sekitar kami
dan tidak menjadi bencana bagi kami, Ya Alloh, (turunkanlah) pada perbukitan,
pegunungan, perut-perut lembah dan hutan-hutan”.
[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(no. 1014)
Doa Saat Angin Bertiup Kencang
|
Di saat bertiup kencang, maka akan
muncul perasaan takut terhadap keburukan yang akan menimpa diri dan harta kita.
Nah, disinilah pentingnya seseorang
berdoa kepada Allah agar ia terhindar dari keburukan angin tersebut.
Dari Aisyah _radhiyallahu anha_, ia berkata,
“Nabi _shallallahu alaihi wasallam_
bila angin bertiup, beliau berdo’a :
«اللهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon
kepada-Mu kebaikannya, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan yang ia dikirim
karenanya, serta aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, dan keburukan yang
ada padanya, dan keburukan yang ia dikirim karenanya”. [HR.
Muslim dalam Shohih-nya (no. 899)]
Dzikir Saat Mendengarkan Suara
Petir
|
Dahulu sahabat yang mulia, Abdullah
bin Zubair _radhiyallahu anhu_ bila mendengarkan suara petir, maka beliau
meninggakan perbincangan, seraya berkata (berdoa),
"سُبْحَانَ
الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ. وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ."
“Maha Suci (Allah) Yang petir ber-tasbih
dalam memuji-Nya, serta para malaikat, karena takut kepada Allah.”
Kemudian Abdullah bin Zubair
berkata, “Sesungguhnya petir ini benar-benar merupakan ancaman yang keras bagi
penduduk bumi.”
[HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab
Al-Mufrod (no. 723). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij
Al-Kalim Ath-Thoyyib (no. 157)]
Doa-doa ini penting kita amalkan
agar hujan, angin dan petir tidak menjadi musibah atas kita dan bisa semakin
dekat kepada Allah Yang mengatur segala urusan makhluk-Nya.
Catatan :
Doa saat hujan turun, kami
terjemahkan :
«اللَّهُمَّ
صَيِّبًا نَافِعًا»
“Ya Allah, (jadikanlah ia)
sebagai hujan yang bermanfaat.” [HR.
Al-Bukhoriy (no. 1032)]
Banyak yang menerjemahkan dengan :
«اللَّهُمَّ
صَيِّبًا نَافِعًا»
“Ya Allah, (turunkanlah) hujan
yang bermanfaat.” [HR. Al-Bukhoriy (no.
1032)]
Namun terjemahan yang tepat, apa
yang kami pakai di atas, dengan menggunakan kata “jadikanlah”, bukan “turunkanlah”,
karena telah datang taqdir-nya dalam riwayat yang lain dalam Sunan
An-Nasa’iy (no. 1532), sebagai berikut :
Kata A’isyah _radhiyallahu anha_,
“Dulu Rasulullah _shallallahu alaihi
wa sallam_ bila hujan turun, maka beliau berkata (berdoa),
اَللّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا.
“Ya Allah, jadikanlah ia sebagai
hujan yang bermanfaat.” [Dishohihkan oleh Al-Albaniy dalam
Ash-Shohihah (2757)]

Komentar
Posting Komentar