Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)
Mengenang Buah Pahit Peristiwa
Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang
Gemar Berdemonstrasi
(Renungan Bermakna sebelum 4
November 2016 M)
===============================================
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah -hafizhahullah-
===============================================
Yakin
banyak diantara kita yang masih mengingat peristiwa besar yang terjadi pada
tahun 1998 M yang silam. Peristiwa itu dikenal dengan "GERAKAN REFORMASI" atau "GERAKAN MAHASISWA INDONESIA 1998" yang melibatkan ribuan mahasiswa dan beberapa elemen
masyarakat di berbagai daerah. Tak luput dalam aksi dan gerakan demonstrasi
tersebut, beberapa elemen dari berbagai ormas dan organisasi yang memiliki
kepentingan yang sama dalam melengserkan Bapak Presiden Soeharto -rahimahullah-
pada saat itu.
Gerakan
Reformasi masa itu diwarnai berbagai macam kerusuhan dan kekacauan dimana-mana,
dan muncul berbagai macam kerusakan dan ketimpangan dalam berbagai sektor
akibat dan dampak buruk Gerakan Reformasi kala itu.
Disana-sini
terjadi kericuhan, kegaduhan, penjarahan, kezoliman dan pembunuhan akibat aksi
berdosa itu. Demonstrasi demi demonstrasi pun terus dilancarkan oleh berbagai
pihak baik yang ber-KTP muslim, maupun kafir dengan berbagai warna dan sukunya.
Berbagai
dampak negatif dan kerusakan dari Gerakan Reformasi 1998, pun terus dirasakan
oleh masyarakat Indonesia ,
baik pemerintah, maupun rakyat. Walaupun sudah terjadi delapan belas tahun silam,
dampak buruk tersebut masih kita rasakan sampai saat ini.
Aksi
demonstrasi yang diusung oleh para pejuang reformasi banyak melahirkan
kerusakan sehingga iklim politik menjadi semrawut dan amburadul, karena banyak
yang menyalah artikan makna kebebasan yang mereka serukan.
Kebebasan
dalam menyampaikan pendapat semakin tidak beretika. Banyak demonstran dalam
aksinya menyampaikan aspirasi justru berujung pada kerusuhan, perkelahian dan
mencaci maki pemerintah yang semestinya dihormati dan diluruskan dengan dengan
cara-cara yang bertetika, bukan dengan cara-cara anarkis.
Di
dalam aksi itu banyak perbuatan amoral yang muncul dari para demonstran, mulai
dari bakar ban, melempar orang atau fasilitas umum, melawan aparat,
menjelek-jelekkan pemerintah yang berkuasa dengan berbagai macam celaan pedas
yang menurunkan wibawa mereka, dan lainnya.
Sekarang
buah apa yang dipetik oleh masyarakat dan pemerintah dari GERAKAN REFORMASI itu?!
Kita semua telah merasakan pahitnya.
Dengan
gerakan reformasi itu, banyak pihak yang menungganginya demi kepentingan
golongan dan keyakinannya.
Dengan
reformasi, mereka menyuarakan kebebasan dengan sebebas-bebasnya, sehingga
terbukalah semua pintu keburukan, bagaikan badai tornado yang tak terbendung.
Kini,
anda menyaksikan sendiri berbagai badai problema menghantam negeri ini dan
merugikan masyarakatnya, dan terkhusus kaum muslimin. Kini terbukalah pintu
KOMUNIS, yang memanfaatkan isu kebencian kepada mendiang Presiden Republik Indonesia
yang kedua, Bapak Soeharto -rahimahullah- .
Selanjutnya,
mereka (kaum komunis) memutarbalikkan fakta bahwa kaum komunislah yang
teraniaya pada masa lalu.
Padahal
sejarah telah membuktikan melalui tulisan dari para sejarawan yang merupakan
saksi hidup dan pengakuan korban kebengisan PKI (Partai Komunis Indonesia ) pada masa itu, saat mereka berusaha
menguasai negeri Indonesia
yang mayoritas muslim ini.[1]
Alhamdulillan, berkat pertolongan Allah dan usaha para pahlawan kita,
maka makar dan kejahatan mereka dapat dilumpuhkan.
Dampak
buruk lainnya dari gerakan reformasi, bermunculannya agama dan budaya sesat yang
dahulu tidak mendapatkan pengakuan resmi di negeri ini, kini mendapatkan tempat
dan dan pengakuan yang semakin membuka pintu kesesatan bagi masyarakat
Nusantara.
Dari
realita pahit yang terpetik dari hasil aksi demonstrasi dan reformasi 1998 M
tersebut, kami ingatkan kepada para demonstran yang akan berangkat berdemo pada
tanggal 4 November 2016 M,
"Wahai
saudara-saudaraku, sayangilah diri dan bangsa kalian yang terdiri dari
mayoritas muslim. Jauhilah demonstrasi dan hentikanlah langkahmu. Ketahuilah
bahwa demonstrasi bukan dari Islam, bahkan ia adalah alat perusak bangsa dan
agama yang kita tahu bahwa yang pertama kali melakukannya adalah para pejuang
demokrasi yang berjalan bukan di atas bimbingan syariat Allah.
Jika
kalian menganggap bahwa demonstrasi adalah PERJUANGAN alias JIHAD
fi sabilillah, maka ketahuilah bahwa itu bukan cara yang diajarkan dalam agama
kita.
Taruhlah
niat anda baik, ingin membela Islam dari kaum penista agama. Tapi niat yang
baik dan ikhlash tidaklah cukup untuk membenarkan suatu perbuatan, jika cara
dan kaifiatnya salah, tidak mencocoki petunjuk Allah dan Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam-.
Oleh
karena itu, Sahabat mulia Abdullah bin Mas'ud -radhiyallahu anhu-
berkata,
وَكَمْ
مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيْبَهُ
"Alangkah
banyaknya orang yang menginginkan kebaikan, tapi ia tak sempat meraihnya". [HR. Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (1/68-69),
dan Bahsyal dalam Tarikh Wasith (hal. 198). Hadits ini di-shohih-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 2005)]
Kenapa
demikian?! Karena tidak mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Jadi, niat yang
baik tidaklah cukup dalam membenarkan suatu perbuatan, jika tidak dibarengi
dengan ittiba' (keteladanan) terhadap sunnah (petunjuk) Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam-.
Demonstrasi
yang dilakoni oleh masyarakat selama ini, walaupun niatnya baik, tapi caranya
tidak benar dan tidak sesuai petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Sebab
itu merupakan jalan orang-orang kafir dari kalangan pejuang-pejuang asas
demokrasi yang batil dalam menuangkan aspirasi mereka.
Aksi
demonstrasi seringkali disusupi oleh kaum kafir dalam menambah kerunyaman
masalah bagi kaum muslimin dan memperjuangkan kesesatan dan kebatilan mereka,
seperti yang telah kami paparkan dalam contoh kasus kaum komunis-PKI yang
memanfaatkan GERAKAN REFORMASI 1998 M.
"Seorang
yang cerdik tidak akan mau jatuh dalam lubang yang sama."
Selain
itu, demonstrasi juga merupakan jalan para pemberontak dari kalangan sekte
sesat KHAWARIJ saat ingin menasihati pemerintah muslim yang berkuasa, bukan
jalannya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya. Jalan
Islam adalah menasihati pemerintah muslim secara rahasia melalui para ulama dan
pejabat yang dekat dengan pemimpin negara. Merekalah yang mendatangi,
menyurati, dan menghubungi pemimpin negara, bukan setiap orang berhak berbicara
dan menasihati pemerintah muslim di depan publik secara terang-terangan. Itu
bukan cara rahmat!!
Jadi,
demonstrasi adalah jalan dakwahnya kaum Khawarij. Lantaran itu, para ulama kita
dari kalangan ahlus sunnah telah lama memberikan pengingkaran kepada aksi
demonstrasi, karena ia membawa kepada berbagai perusakan dan petaka bagi
manusia dan kaum muslimin di atas muka bumi ini.
وَإِذَا
قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11)
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12) [البقرة : 11
، 12]
"Dan
bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi", maka mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang
mengadakan perbaikan". Ingatlah,
sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat KERUSAKAN, tetapi mereka
tidak sadar". (QS. Al-Baqoroh:
2-3)
Kerusakan
apa yang ditimbulkan oleh demonstrasi?! Banyak kerusakan yang timbul darinya,
seperti mandegnya sebagian aktifitas, baik yang berkaitan dengan pendidikan,
ekonomi, politik, dakwah, dan lainnya. Jika kita mau menghitung berapa kerugian
masyarakat dalam sehari dengan adanya kegiatan demo, maka terlalu banyak, dan
susah diperkirakan.
Namun
kerusakan demonstrasi yang paling besar adalah rusaknya wibawa pemerintah,
bencinya masyarakat kepada mereka sehingga bermuara kepada PEMBERONTAKAN,
melanggar kehormatan, merusak harta benda, pembunuhan, merusak citra Islam, dan
melahirkan kekacauan di dalam negeri kaum muslimin.
Melakukan demo merupakan bentuk pemberontakan non-senjata yang
akan mengantarkan kepada pemberontakan bersenjata, dan fisik.
Demo bukanlah perkara remeh, yang setiap orang boleh berijtihad di
dalamnya! Sebab, ia merupakan bentuk khuruj ala hukkamil muslimin
(pemberontakan kepada penguasa kaum muslimin).
Sedang memberontak kepada penguasa muslim adalah perkara yang
menyelisihi aqidah dan manhaj (pedoman hidup) para sahabat.
Pemberontakan sekecil apapun, itu terlarang; walaupun menghasung
orang dengan ucapan dalam menjelekkan dan melawan pemerintahnya!!
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata saat menjelaskan hadits Dzul Khuwaisiroh yang mengoreksi Nabi -Shallallahu alaihi
wa sallam- di depan publik,
"Ini merupakan dalil terbesar bahwa pemberontakan terhadap
pemerintah (khuruj alal hukkam, -pen.) bisa dengan senjata, ucapan dan
komentar. Maksudnya, orang ini
(Dzul Khuwaisiroh) tidak mengambil senjata melawan Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam-, tapi orang itu hanya mengingkari Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam-.
Adapun sesuatu yang disebutkan dalam sebagian
kitab-kitab Ahlus Sunnah bahwa pemberontakan melawan pemerintah adalah
pemberontakan dengan menggunakan senjata, maka yang mereka maksudkan dengan hal
itu adalah pemberontakan akhir lagi terbesar, sebagaimana halnya Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa zina bisa mata, telinga, kaki. Tapi zina
terbesar –yang merupakan zina pada hakikatnya- adalah zina farji. Ungkapan
seperti ini dari sebagian ulama', inilah maksud mereka.
Kita tahu betul -berdasarkan konsekuensi tabiat
suatu kondisi- bahwa tak mungkin ada pemberontakan bersenjata, kecuali
didahului oleh pemberontakan dengan menggunakan lisan, dan ucapan. Manusia
tak mungkin akan mengambil senjata untuk memerangi pemerintah, tanpa ada
sesuatu yang memancing emosi mereka. Pasti disana ada sesuatu yang memancing
emosi mereka, yaitu ucapan. Jadi, pemberontakan melawan pemerintah dengan
menggunakan ucapan merupakan pemberontakan pada hakikatnya yang telah
ditunjukkan oleh Sunnah dan waqi' (realita). Adapun Sunnah, maka anda telah
mengetahuinya. Adapun realita, maka sesungguhnya kita telah tahu dengan yakin
bahwa pemberontakan bersenjata adalah cabang (akibat) dari pemberontakan lisan
dan ucapan. Karena manusia tak akan memberontak melawan pemerintahnya, karena
hanya sekedar ada yang bilang, "Ayo jalan, ambil pedang". Mesti
disana ada pengantar dan pembukaan berupa celaan kepada pemerintah, dan
menutupi kebaikan-kebaikan mereka. Kemudian hati pun dipenuhi dengan perasaan
marah, dan dendam. Ketika itulah terjadi bala' (yakni, pemberontakan fisik)". [Lihat Fatawa Al-Ulama' Al-Akabir fi ma Uhdiro min
Dima' fil Jaza'ir (hal. 95-96)]
Menasihati
dan mengingkari kemungkaran pemerintah muslim, bukanlah dengan cara
terang-terangan dan kasar melalui aksi demonstrasi. Tapi memberikan nasihat
kepada mereka harus rahasia (empat mata saja).
Nasihat
kepada mereka jangan diekpos dan disebar ke masyarakat lewat media dan
mimbar-mimbar.
Inilah
yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
مَنْ َأَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ
بِأَمْرٍ فَلا َيُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ
فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى اَلَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ.
“Barangsiapa
ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah ia menampakkan
secara terang terangan. Akan tetapi hendaknya ia ia mengambil tangannya agar ia
bisa berduaan. Jika ia terima ,aka itulah yamg diharap, jika tidak maka sungguh
ia telah menunaikan tugas yan ada pada pundaknya”. [HR Ahmad dalam Al-Musnad (3/403-404) dan
Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1096, 1097, 1098). Hadits ini di-shohih-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (hal. 514)]
Ibnu An-Nuhhas Asy-Syafi’iy -rahimahullah-
berkata, “Seseorang yang menasehati penguasa hendaknya memilih pembicaraan
empat mata bersama penguasa dibandingkan berbicara bersamanya di depan publik,
bahkan diharapkan (adanya kebaikan) andaikan ia berbicara dengan penguasa
secara sirr ((rahasia), dan menasehatinya secara tersembunyi, tanpa pihak
ketiga.” [Lihat Tanbih Al- Ghofilin (hal. 64)]
Selain
itu, nasihat yang kita berikan adalah nasihat yang lembut, bukan celaan dan
ucapan kasar. Sebab pemerintah adalah manusia biasa seperti kita, tak ingin
dimarahi dan direndahkan martabatnya.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman saat memberikan petuah kepada dua orang
nabi-Nya ketika keduanya hendak menasihati manusia yang paling kafir dan zhalim
di zamannya,
اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي
(42) اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا
لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44) [طه : 42 - 45]
Pergilah
kamu (Musa) beserta saudaramu (Harun) dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan
janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku.
Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui
batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah
lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Thaahaa : 42-44)
Al-Imam Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy
-rahimahullah- berkata saat menafsiri ayat ini,
"Inti
dari komentar para ulama kita bahwa dakwah Nabi Musa dan Nabi Harus kepada
Fir'aun adalah dengan kelemahlembutan, dekat, lagi mudah agar lebih mengena,
mendalam dan manjur bagi hati". [Lihat
Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (5/295) oleh Ibnu Katsir, tahqiq Sami
Salamah.]
Orang-orang
yang melakukan aksi demo telah membuka aib para penguasa. Ini tiada lain,
kecuali penghinaan dan perendahan kepada para penguasa, yang dapat mendatangkan
kemurkaan Allah.
Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
من أجل سلطان الله أجله الله يوم القيامة
"Barangsiapa
yang memuliakan penguasa Allah, niscaya Allah akan memuliakannya pada hari
kiamat". [HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah
(no. 1025). Hadits di-hasan-kan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy
dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (no. 2297)]
Hadits
ini menjelaskan kepada kita bahwa memuliakan pemerintah muslim, walaupun ia
banyak melakukan maksiat, baik itu berupa korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta
kezholiman. Selama ia muslim, maka kita wajib memuliakan mereka dan
menghormatinya.
Barangsiapa
yang merendahkan mereka, maka Allah akan merendahkannya pada hari kiamat
sebagai balasan atas kejelekannya dalam bermuamalah dengan seorang pemerintah muslim.
Di
sebagian negeri-negeri Islam ada yang berkilah dalam mendurhakai pemerintah muslim
bahwa pemerintah kami menerapkan sistem yang tidak islamiy sehingga kami tak
mau taat dan membai'atnya.
Pernyataan
seperti ini adalah keliru, sebab jika seorang pemimpin muslim berkuasa dengan
cara tak syar'iy, (seperti berkuasa melalui pemberontakan, kudeta, demokrasi,
dan lainnya), maka seorang wajib membai'atnya, dan mengakuinya sebagai pemimpin
yang harus ditaati dan dimuliakan!! Adapun kesalahannya, maka dinasihati dengan
cara syar'i: lembut, sopan dan rahasia, bukan diekspos!!
Oleh
karena itu, Syaikh Muhammad bin
Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- ketika
ditanya tentang pemerintah Al-Jaza'ir yang menerapkan sistem demokrasi,
maka beliau menjelaskan bahwa mereka (para pemimpin muslim Al-Jaza'ir) memiliki
hak untuk dibai'at oleh rakyat Al-Jaza'ir.
Andaikan
mereka bukan pemimpin dan pemerintah yang sah, maka tentu Syaikh akan
menyatakan bahwa tak ada bai'at bagi mereka.
Dengar
dialog berikut ini yang terjadi antara Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin
dengan para penanya dari kalangan orang-orang Al-Jaza'ir:
لاَ مَا صَلَّوْا
"Jangan,
selama ia masih sholat". [HR.
Muslim dalam Kitab Al-Imaroh (62)]
Tidak boleh memberontak melawan pemimpin itu, tak boleh
mengkafirkannya!! Barangsiapa yang mengkafirkannya, maka dia (yang
mengkafirkannya) dengan perbuatannya ini menginginkan masalah kembali dari nol.
Baginya ada bai'at, dia adalah pemimpin yang syar'iy". [Lihat Fatawa
Al-Ulama' Al-Akabir fi maa Uhdiro min Dima' fil Jaza'ir (hal. 173-175)
karya Syaikh Abdul Malik Romadhoni Al-Jaza'ir, cet. Maktabah Al-Asholah Al-Atsariyyah,
1422 H].
Terakhir,
kami nasihatkan kepada saudara-saudaraku yang diberi anugerah ilmu agama,
bertaqwalah kalian kepada Allah kaitannya dengan umat Islam Indonesia . Tuntunlah
mereka kepada jalan-jalan kebaikan yang diajarkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah,
dan jangan kalian mengarahkan mereka kepada jalan-jalan keburukan (termasuk
demo), lalu akhirnya kalian menjerumuskan mereka kepada kebinasaan, dan kalian
pun bersama mereka menjadi sebab banyaknya muncul musibah yang menimpa umat
ini.
[1] Kini, PKI berusaha menunggangi REFORMASI 1988 untuk menyebarkan
agama kekafirannya.
Dampak
buruk PKI dan usaha-usaha mereka dalam menunggangi REFORMASI, dapat anda
cermati dalam beberapa poin :
1. Adanya usaha dari sebagian pihak mengajukan TUNTUTAN
PENCABUTAN TAP MPRS NO.XXV TAHUN 1966 tentang Pembubaran PKI dan Larangan
Penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.
2. Penghapusan sejarah PENGKHIANATAN PKI DALAM KURIKULUM,
sehingga generasi pelanjut tidak lagi mengenal sejarah kelam PKI.
3. Putra-putri PKI bebas MASUK PARPOL DAN INSTANSI NEGARA
4. Pembuatan BUKU dan FILM pembelaan terhadap PKI.
5. PASCA REFORMASI 1998, Para Narapidana PKI melalui YPKP
65/66 (Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 / 1966) terus mencari cara
untuk “PEMUTIHAN DOSA PKI”, salah satunya adalah dengan terus mendesak
pemerintah agar mengajukan RUU KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi).
YKPPI 65/66 dimana-mana selalu mengkampanyekan bahwa PKI
adalah ”KORBAN KEJAHATAN” bukan ”PELAKU KEJAHATAN”, sekaligus memutar-balikkan fakta
dan memanipulasi data serta melemparkan semua kesalahan kepada ”ORDE BARU”.
6. Pemutarbalikkan SEJARAH PKI
Poin-poin ini gencar diperjuangkan dan dilakukan oleh PKI
dan pendukungnya, pasca REFORMASI 1998, sehingga patut dicurigai jangan-jangan reformasi
1998 tidak lain dan tidak bukan adalah REFORMASI PKI yang ditujukan untuk BALAS
DENDAM, bukan hanya kepada Rezim Orde Baru, tapi juga kepada para ulama, tokoh
dan masyarakat Islam, yang telah ikut andil menghancur-leburkan PKI di tahun
1965. Wallaahu A’lam.

Jazakallahu khoiron Ustadz 🙏
BalasHapus