Senin, 07 November 2016

Jauh Hari sebelum Wahdah Islamiyah Turun Berdemo, Syaikh Al-Utsaimin sudah Mengingkari Demonstrasi


Jauh Hari sebelum Wahdah Islamiyah Turun Berdemo, Syaikh Al-Utsaimin sudah Mengingkari Demonstrasi

=============================================
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
=============================================

Di dalam sebuah pernyataan resmi Wahdah Islamiyah dalam membolehkan demonstrasi -dan jelas ini batil- bahwa demonstrasi merupakan perkara yang dilegitimasi oleh negara. (https://goo.gl/0jU6YY)

Kebatilan pernyataan ini jelas dan terang. Kebatilannya akan tampak jika kita ajukan sebuah pertanyaan, "Apakah semua yang diizinkan oleh pemerintah adalah benar menurut agama, walaupun nyata hal itu bertentangan dalil syar'i?"

Tidak ada yang menyatakan "ya", melainkan orang yang bodoh dan ceroboh. Namun jika ia menjawab "tidak", maka ia telah merobohkan pernyataan batil tersebut.

Salah seorang ulama sunnah di masa ini, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya dalam Liqo'at Al-Bab Al-Muaftuh,
السؤال: بالنسبة إذا كان حاكم يحكم بغير ما أنزل الله ثم سمح لبعض الناس أن يعملوا مظاهرة تسمى عصامية مع ضوابط يضعها الحاكم نفسه ويمضي هؤلاء الناس على هذا الفعل، وإذا أنكر عليهم هذا الفعل قالوا: نحن ما عارضنا الحاكم ونفعل برأي الحاكم، هل يجوز هذا شرعاً مع وجود مخالفة النص؟
Pertanyaan : "Kaitannya bila seorang pemerintah berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan. Kemudia ia (pemerintah tersebut) membolehkan manusia untuk mengadakan demonstrasi yang disebut dengan "aksi mogok" yang diiringi dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh pemerintah itu sendiri. Manusia pun terus di atas perbuatan ini. Jika mereka diingkari atas perbuatan ini, maka mereka (para demonstran) itu pun berkilah, "Kami tidaklah menentang pemerintah, dan kami berbuat sesuai pandangannya. Apakah hal ini boleh menurut syariat, seiiring adanya penyelisihan nash?"

Kemudian Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- menjawab si penanya seraya berkata,
الجواب: عليك باتباع السلف، إن كان هذا موجوداً عند السلف فهو خير، وإن لم يكن موجوداً فهو شر، ولا شك أن المظاهرات شر؛ لأنها تؤدي إلى الفوضى من المتظاهرين ومن الآخرين، وربما يحصل فيها اعتداء؛ إما على الأعراض، وإما على الأموال، وإما على الأبدان؛ لأن الناس في خضم هذه الفوضوية قد يكون الإنسان كالسكران لا يدري ما يقول ولا ما يفعل، فالمظاهرات كلها شر سواء أذن فيها الحاكم أو لم يأذن. وإذن بعض الحكام بها ما هي إلا دعاية، وإلا لو رجعت إلى ما في قلبه لكان يكرهها أشد كراهة، لكن يتظاهر بأنه كما يقول: ديمقراطي وأنه قد فتح باب الحرية للناس، وهذا ليس من طريقة السلف.
"Wajib bagi mengikuti para salaf. Jika hal ini ada di sisi para salaf, maka ia adalah kebaikan. Jika ia tidak ada, maka ia adalah keburukan.

Tidak ragu lagi bahwa demonstrasi adalah keburukan. Karena, ia akan mengantarkan kepada kekacauan, baik dari pihak demonstran, maupun dari pihak lainnya. Terkadang muncul padanya sikap melampaui batas, entah pada kehormatan, harta benda, atau entah pada badan.

Karena, manusia dalam gelombang kekacauan ini; terkadang seseorang bagiakan orang yang mabuk. Ia tak menyadari apa yang ia ucapkan dan apa yang ia lakukan.

Jadi. Demonstrasi semuanya adalah keburukan, baik yang diizinkan oleh pemerintah, ataukah tidak diizinkan.

Adanya izin dari sebagian pemerintah untuk berdemo, tiada lain hanya propaganda (pengakuan) saja. Sebab, andaikan anda kembali kepada sesuatu yang ada di dalam hatinya, maka ia pasti membencinya dengan sekeras-kerasnya kebencian.

Hanya saja ia berpura-pura bahwa –sebagaimana yang ia nyatakan- ia adalah seorang yang demokratis, dan bahwa ia membuka pintu kebebasan bagi manusia. Ini (demo) bukanlah jalannya para salaf." (https://goo.gl/djbfvG)

Beberapa Kesimpulan dari Fatwa Ini:
1.    Dalam inkarul munkar, wajib mengikuti dalil menurut bimbingan para salaf.
2.     Demonstrasi tidak pernah dikerjakan para salaf dan bukanlah jalan dan manhaj mereka, sebab ia adalah tindakan yang menimbulkan keburukan.
3.    Demonstrasi adalah penyebab lahirnya kekacauan dan menyebabkan seseorang bertindak anarkis bagai orang gila.
4.    Demonstrasi semuanya adalah keburukan, baik yang diizinkan oleh pemerintah, ataukah tidak diizinkan.
5.    Demonstrasi (baik yang damai, atau yang ricuh) semuanya adalah haram, sebab illah-nya (sebab pengharamannya), demo merupakan sebab dan pintu menuju kerusakan. Sementara agama kita mengharuskan bagi kita menutup semua pintu pengantar menuju kepada kerusakan. Itulah kaedah "Saddu Adz-Dzari'ah".
6.    Adanya izin berdemo dari pemerintah, bukanlah legitimasi syar'i, sehingga demo pun dibolehkan. Bahkan demo tetap haram, karena ia adalah kerusakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar