Nasihat Penting Engkau Baca Wahai Saudaraku sebelum 4 November 2016
"Andaikan Mereka Bersabar"
Nasihat Penting Engkau Baca Wahai
Saudaraku sebelum 4 November 2016
==============================================
oleh :
Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
==============================================
Jika kita memperhatikan kondisi dakwah saat ini, maka
kita akan menyaksikan pemandangan yang aneh dan menakjubkan, namun menyedihkan.
Banyak da'i yang turun di kancah dakwah dengan semangat yang menggebu-gebu. Tujuan
mereka tentunya mulia, yaitu meninggikan kalimat Allah. Namun dengan cara
yang salah!!
Begitu
tingginya semangat mereka dalam berdakwah, sehingga terkadang mereka keluar
dari rel syariat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta.
Mereka
menggunakan segala cara, tanpa adanya kontrol, dengan alasan "Niat kami
kan baik,
kami mau jihad…mau dakwah!!"
Oleh
karena itu, sebagian orang, ada yang punya niat baik mau mendirikan khilafah
Islamiyah dan menerapkan syari'at, tapi dengan cara yang salah sehingga melakukan
pemboman disana-sini, mau melakukan kudeta atau DEMONSTRASI, mengafirkan penguasa MUSLIM, dan mencelanya!!
Ini semua adalah bentuk ketidaksabaran dalam berdakwah di jalan
Allah!!!
Padahal bersabar dalam berdakwah di jalan Allah adalah suatu suatu kewajiban yang besar yang harus dimiliki oleh para da'i.
Padahal bersabar dalam berdakwah di jalan Allah adalah suatu suatu kewajiban yang besar yang harus dimiliki oleh para da'i.
Oleh
karena itu, Allah memerintahkan kepada imamnya para da'i, yaitu Nabi -Shallallahu
'alaihi wa sallam-,
وَاصْبِرْ
وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ
مِمَّا يَمْكُرُونَ (127) إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ
هُمْ مُحْسِنُونَ (128) [النحل : 127 ، 128]
"Bersabarlah
(hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah
dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu
bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.An-Nahl
:127-128 )
Ajarilah kaum muslimin tentang Al-Qur'an dan Sunnah
berdasar pemahaman salaf, dengan telaten dan sabar.
Jangan terburu-buru mau melihat hasil, atau berputus asa
saat melihat musuh-musuh Islam berjaya sehingga kalian (para da'i) pun berbuat
serampangan, dan keluar dari rel syari'at.
Umair bin Habib
Al-Anshoriy -radhiyallahu 'anhu-
berkata, Jika seorang diantara kalian ingin memerintahkan yang ma'ruf, dan
melarang dari kemungkaran, maka hendaklah ia menempatkan dirinya di atas
kesabaran terhadap segala cobaan, dan meyakini (akan mendapatkan) pahala dari
Allah. Karena barangsiapa yang meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah,
maka ia tak akan merasakan cobaan apapun". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al-Hilm
(1/30)]
Pembaca yang budiman, sabar itu seperti namanya; pahit rasanya, namun hasilnya manis
seperti madu.
Allah -Ta'ala- telah menjelaskan kepada kita bahwa
Dia pasti akan memberi ujian serta cobaan kepada para hamba-Nya.
Terlebih lagi ujian itu akan menimpa para da'i yang
berdakwah di jalan-Nya untuk membedakan antara dai yang jujur dan yang
pendusta, mukmin dengan munafiq, orang yang sabar dan orang yang tidak sabar.
Ini merupakan sunnatullah bagi hamba-hamba-Nya. Allah -Ta'ala-
berfirman,
أَحَسِبَ النَّاسُ
أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ
فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا
وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3) [العنكبوت : 2 ، 3]
"Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman",
sedang mereka tidak diuji lagi? Dan
Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Sesungguhnya
Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui
orang-orang yang dusta". (QS. Al-Ankabuut:
2-3).
Dakwah di jalan Allah
amat panjang perjalanannya, serta penuh
dengan kesulitan, dan penderitaan. Karena da'i di jalan Allah menghendaki
manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwatnya, serta tunduk pada
aturan-aturan-Nya, menegakkan hukum-hukum-Nya, dan mengamalkan
syariat-syariat-Nya.
Kemudian pasti disana ada musuh-musuh dakwah yang tidak
menghendaki demikian. Maka tidak ada jalan keluar bagi para da'i dan
kaum muslimin dari makar musuh mereka, kecuali dengan memohon pertolongan yang disertai dengan
usaha, dan kesabaran.
Karena sabar bagaikan pedang yang tajam, kendaraan yang
tidak menggelincirkan dan cahaya yang tidak pernah padam.
Kesabaran adalah tanda
kuatnya iman seseorang. Sebab ia
terpancar dari keyakinan kuat seseorang terhadap taqdir yang telah ditetapkan
oleh Allah.
Al-Mughiroh bin Amir -rahimahullah- berkata,
الشُّكْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ
وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ
"Syukur adalah separuh iman,
dan sabar adalah separuh iman, dan yakin adalah seluruh iman". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr (1/24)]
Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu 'alaihi
wasallam- memerintahkan kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam
menegakkan agama Allah -Ta'ala- , ketika mendapatkan siksaan, dan
kekejaman kaum musyrikin di Mekah.
Abu Abdillah Khabbab bin Al-Aratt -radhiyallahu 'anhu- berkata, "Kami pernah
mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam-, sedangkan [beliau
berbantalkan surbannya] di bawah naungan Ka'bah, [sedangkan kami baru saja
bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang
sangat berat], seraya kami berkata, "Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami? Apakah engkau tidak mendo'akan (kemenangan) bagi kami?"
Beliau bersabda,
قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ
يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي اْلأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا ثُمَّ يُؤْتَى
بِالْمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ
الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ,
وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى
حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ
تَسْتَعْجِلُوْنَ
"Sungguh orang-orang sebelum
kalian ada yang ditanam hidup-hidup. Ada juga yang digergaji dari atas
kepalanya, sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua.
Demi Allah, Allah pasti akan
memenangkan agama ini hingga
seseorang yang berjalan dari Shan'a sampai Hadramaut tidak ada yang ia takuti
kecuali Allah, dan serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa". [HR.
Al-Bukhariy (3612, & 6943)]
Alangkah baiknya kita simak nasihat
agung dari Seorang ulama' Salafiy, Syaikh
Al-Utsaimin -rahimahullah- saat berkata menjelaskan hadits ini,
"Dalam hadits ini terdapat
dalil tentang wajibnya bersabar terhadap gangguan musuh-musuh kaum muslimin.
Jika seorang sabar, maka ia akan menang!! Kewajiban seseorang adalah
menghadapi sesuatu yang ia dapatkan
berupa gangguan orang-orang kafir dengan kesabaran, mengharapkan pahala, dan menunggu kelapangan
(kemenangan).
Seseorang jangan menyangka masalah
ini akan berakhir dengan cepat dan mudah. Terkadang Allah menguji orang-orang
mukmin dengan orang-orang kafir yang menyakiti mereka, bahkan barangkali
membunuh kaum mukminin sebagaimana mereka telah membunuh para nabi.
Orang-orang Yahudi dari Bani Isra'il
telah membunuh para nabi yang lebih mulia dibandingkan para dai, dan kaum
msulimin.
Seorang harus bersabar, dan menunggu kelapangan, serta tidak bosan, dan tidak
berkeluh kesah, bahkan ia tetap tegar laksana batu. Akibat baik adalah milik
orang-orang bertaqwa; Allah akan bersama orang-orang yang bersabar.
Jika seorang muslim mau bersabar,
dan tegar, serta mau menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada tujuan
dengan cara teratur (baik), tapi bukan dengan cara berbuat keributan, bukan mengajak,
dan membangkitkan (emosi) massa .
Karena musuh-musuh kaum muslimin
dari kalangan orang-orang kafir, dan munafiq berjalan di atas rencana-rencana
yang hebat, dan kokoh, dan merealisasikan tujuan mereka.
Adapun orang-orang picik
yang diombang-ambingkan oleh perasaan,
sehingga bergejolak (marah), dan bangkit. Karena, terkadang akan luput sesuatu
yang banyak dari mereka, bahkan terjadi dari mereka ketergelinciran yang merusak
sesuatu yang mereka dahulu telah bangun, jika mereka sungguh pernah
membangun sesuatu.
Tapi seorang mukmin harus bersabar, dan tenang; ia berbuat, tenang, dan menenangkan diri,
serta membuat rencana secara rapi". [Lihat
Syarh Riyadh
As-Sholihin (1/104-105)]
Jika kita
memperhatikan hadits Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam- ini dengan
baik dan juga nasihat Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah-, maka kita akan
menemukan pelajaran yang sangat agung dan berharga, bahwa begitu besarnya ujian
yang didapatkan para sahabat nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam- berupa
gangguan dan siksaan kaum musyrikin dalam berpegang teguh dalam agama Allah -Ta'ala-.
Walau demikian, Rasulullah
-Shollallahu 'alaihi wasallam- tetap memerintahkan mereka untuk bersabar
dan tidak tergesa-gesa, sambil mencari solusi yang tepat.
Sebaliknya, Jika
kita bandingkan dengan kondisi kaum muslimin pada hari ini, sungguh jauh
berbeda.
Tatkala mereka
tidak mau bersabar, malah bersikap tergesa-gesa sehingga bukan hasil baik yang
diraih, namun kehancuran dan kebinasaan.
Jika kita mau
melihat ke belakang, ada sebagian kaum muslimin yang tidak bersabar dan picik. Mereka
melakukan DEMONSTRASI –walaupun mereka sebut aksi damai-, namun hakikatnya aksi
itu adalah sikap konyol dan kekanak-kanakan dan tanda bahwa mereka tidaklah
bersabar!
Mungkin anda
memiliki seorang anak kecil di rumah saat ia tidak diberi apa yang ia minta,
maka dengan segera ia marah, merengek-rengek, bahkan membentak dan mengancam
anda selaku orang tuanya. Padahal boleh jadi anda menunda permintaannya, karena
sesuatu yang anda pertimbangkan tentang kemaslahatan atau madhorot dirinya,
ataukah madhorot orang lain yang ada di sekitar anda.
Demikianlah
perumpamaan para demonstran yang tidak menyadari akan kedudukan diri, sifat
bijak yang perlu ditempuh, dan akibat dari perbuatan mereka yang akan merembes
dan mengenai orang banyak. ANDAIKAN
MEREKA MAU BERSABAR, maka pasti urusannya tidak akan
serumit apa yang mereka lakukan berupa demonstrasi yang akan mengurangi atau menghilangkan
martabat pemerintahnya yang muslim, serta menyebabkan banyak kerusakan dan
kerugian bagi negara dan bangsa.
Andaikan mereka mau bersabar, bertakwa, dan mengerjakan yang diperintahkan Rabb-nya,
niscaya akan berikan pertolongan-Nya.
Karena Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ
مَعَ الصَّبْرِ, وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Ketahuilah bahwa kemenangan
bersama kesabaran; kelonggaran bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada
kemudahan". [HR. HR. Ahmad dalam Al-Musnad
(1/307), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (6303 & 6304),
Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (11560), Abd bin Humaid dalam Al-Musnad
(636). Hadits ini di-shohih-kan Al-Arna'uth dalam Takhrij
Al-Musnad (no. 2804)]
Jadi, kesabaran merupakan senjata yang ampuh bagi kaum
muslimin pada hari ini. Janganlah hanya karena melihat sebagian
saudara-saudara kita yang tertindas oleh orang-orang kafir atau si kafir
menghina agama, sehingga membuat kita gelap mata, membabi buta dan
menghancurkan disana-sini serta membuat kerusakan di muka bumi. Janganlah hal
seperti ini membuat kita kehilangan hikmah. Ikutilah petunjuk Al-Qur'an dan
Sunnah, serta jalan para salaf.
Sebab dari dahulu orang-orang kafir
dan kaum munafiqin sangat besar kebencian dan permusuhannya terhadap kaum
muslimin. Musuh-musuh Islam sejak lama telah
membenci dan mencaci maki Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya. Tapi apakah para ulama
sunnah melakukan langkah-langkah gegabah mendahului pemerintahnya dan tidak
lagi menghargainya?!
Tengoklah orang-orang beriman dahulu, mereka disiksa dan
ditindas, bahkan para nabi dan rasul pun dibunuh dan dibantai oleh orang-orang
kafir.
Bacalah firman Allah -Ta'ala- ketika mengingkari
orang-orang yahudi yang membunuh para nabi,
3
ö@è%
zNÎ=sù
tbqè=çGø)s?
uä!$uÎ;/Rr&
«!$#
`ÏB
ã@ö6s%
bÎ)
NçGYä.
úüÏZÏB÷sB
ÇÒÊÈ
"Katakanlah:
"Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang
yang beriman?" (QS. Al-Baqarah :91 ).
Abdullah bin Mas'ud -radhiyallahu 'anhu- berkata,
كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِيْ نَبِيًّا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ
ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُوْلُ:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
"Seakan akan saya melihat Nabi
-Shollallahu 'alaihi wasallam- sewaktu menceritakan salah seorang dari
nabi-nabi ketika dipukuli oleh kaumnya sehingga berlumuran darah dan ia
mengusap darah dari wajahnya sambil berdo'a : "Wahai Allah, ampunilah
kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (3290), dan
Muslim dalam Shohih-nya (1792)].
Walaupun siksaan dan cobaan yang dialami oleh para nabi
dan rasul serta orang-orang beriman dahulu sangat berat, namun mereka tetap bersabar
hingga datangnya pertolongan dari Allah.
Mereka tidak meronta-ronta, dan membabi buta, lalu
mengadakan kerusakan tanpa memikirkan akibat buruknya.
Mereka tidaklah keluar ke
jalan-jalan melakukan demonstrasi, bahkan
mereka bersabar sesuai perintah Allah, sambil mencari solusi yang syar'i!!
Allah -Ta'ala- berfirman,
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ
رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ
نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ
الْمُرْسَلِينَ [الأنعام : 34]
"Dan
Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi
mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap
mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang
dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya Telah
datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu." (QS. Al-An'am :34 ).
Maka janganlah heran, ketika melihat kondisi kaum
muslimin pada hari ini yang semakin mundur dan terbelakang.
Tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa mereka, dan tidak bersabar serta bersikap tergesa-gesa!!!
Allah -Ta'ala- berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ
مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ [الشورى : 30]
"Dan apa
saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)".
(QS. Asy-Syuraa : 30).
Salah satu musibah yang harus direnungi oleh kaum
muslimin di Jakarta ,
munculnya seorang kafir yang memimpin mereka.
Si kafir ini memimpin kaum muslimin dan mengetahui serta
menentukan segala urusan mereka. Ini merupakan musibah besar.
Sebab, terangkatnya kafir itu jadi pemimpin akan
memberikan jalan baginya untuk menekan Islam, melecehkannya, mempersempit dan
menghalangi jalannya perkembangan Islam di wilayah kekuasaannya, dan sebaliknya
akan memberikan angin segar bagi agama kekafirannya.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي
بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [الأنعام : 129]
'"Dan
Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman
bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." (QS. Al-An'aam: )
Al-Imam Mahmud Syukri Al-Alusiy -rahimahullah- berkata
saat menerangkan ayat di atas,
روح
المعاني - (8 / 27)
واستدل
به على أن الرعية إذا كانوا ظالمين فالله تعالى يسلط عليهم ظالما مثلهم
"Hadits
ini dijadikan dalil bahwa rakyat bila mereka adalah orang-orang yang zholim,
maka Allah -Ta'ala- akan menguasakan atas mereka seorang (pemimpin) yang zholim
semisal mereka." [Lihat Ruh
Al-Ma'ani (8/27)]
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah Al-Harroniy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan hilangnya
sebagian kebaikan dari kaum muslimin dengan berubahnya khilafah menuju
kerajaan,
وَقَدْ
ذَكَرْت فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ أَنَّ مَصِيرَ الْأَمْرِ إلَى الْمُلُوكِ
وَنُوَّابِهِمْ مِنْ الْوُلَاةِ ؛ وَالْقُضَاةِ وَالْأُمَرَاءِ لَيْسَ لِنَقْصِ
فِيهِمْ فَقَطْ بَلْ لِنَقْصِ فِي الرَّاعِي وَالرَّعِيَّةِ جَمِيعًا ؛ فَإِنَّهُ "
كَمَا تَكُونُونَ : يُوَلَّى عَلَيْكُمْ "
"Sungguh aku telah menyebutkan di tempat lain bahwa
berubahnya urusan (khilafah) menjadi raja-raja dan wakilnya dari kalangan
pemerintah, hakim dan umaro', bukanlah karena kekurangan pada mereka saja,
bahkan karena kekurangan pada diri pemerintah dan rakyat sekaligus. Karena,
sesuai keadaaan kalian, maka diangkatlah (seorang pemimpin yang sesuai keadaan
kalian) atas kalian." [Lihat
Majmu' Al-Fatawa (35/20)]
Jadi, munculnya pemimpin zhalim atau kafir, mungkin
karena banyak diantara kita yang perbuatannya mirip dengan kaum kafir. Lihat
saja kaum muslimin ramai dalam memperingati hari raya kaum kafir (semisal
perayaan tahun baru masehi yang merupakan siyiar penyembahan kaum pagan
Romawi).
Kita saksikan kaum muslimin membuat perayaan-perayaan
yang menyerupai kaum kafir, pakaian, gaya
hidup, cara bermuamalah, semua mirip dengan perbuatan kaum kafir, bahkan ada
diantara mereka sudah hampir tak bisa dibedakan dari kaum kafir!! Disinilah
pentingnya kaum muslimin mengembalikan manusia kepada ilmu wahyu.
Tinggal kesiapan kita membangun agama Allah -Tabaroka wa
Ta'ala- dari yang terkecil sampai yang besar, dari aqidah sampai semua urusan
agama.
Andaikan mereka (para dai) bersabar dalam membangun
aqidah umat, akhlak, dan muamalah mereka, maka yakin kejayaan dan kemenangan itu ada pada umat Islam. Setelah
itu, tidak akan mungkin kita akan dipimpin dan dilecehkan oleh si kafir!!
Bagaimana mungkin Allah akan menolong kita apabila masih
banyak diantara kita yang masih alergi dengan TAUHID, bahkan dai tauhid
dilecehkan dan dijauhi oleh kaum muslimin.
Bagaimana mungkin kita akan diberi pertolongan dan
kejayaan oleh Allah -Azza wa Jalla- bila kita masih enggan berpegang teguh
dengan sunnnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan sebaliknya kita
malah MENYUBURKAN BID'AH?!
Bagaimana mungkin kita mendapat pertolongan dari langit, sementara akhlak dan perilaku
kita masih membebek dan meniru kaum kafir, bahkan berbagga dengan kaum kafir
dan mengikuti kebiasaan dan syiar mereka?!
Ketahuilah bahwa mengembalikan umat kepada aqidah dan
tauhid yang benar adalah perjalanan panjang.
Ingatlah bahwa meneguhkan umat di atas sunnah Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- adalah pekerjaan dan tanggung jawab yang menelan waktu, harta,
tenaga, pikiran, bahkan jiwa sekalipun.
Camkan bahwa membangun akhlak umat di bawah lentera wahyu
adalah lautan luas yang harus kita arungi demi keselamatan bersama.
Andaikan kalian –wahai para dai- mau bersabar, maka jalan
panjang akan terasa pintas, beban berat akan terasa ringan, dan kejayaan akan
menghampirimu.
Pinggirkan segala keluh kesah dalam dakwah. Jangan pernah
tergesa-gesa dan serampangan bersikap, karena hal itu hanyalah akan mewariskan
kerusakan dan perusakan yang esok hari akan menyelimuti kalian penyesalan
setelah gerbong berlalu.
Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dan jalan keluar
dari setiap permasalahan itu ada.
Di balik kesempitan ada kelapangan, dan di balik kesulitan
ada kemudahan, jika kita mau bersabar,
dan mencari solusinya, seperti yang dicontohkan oleh Nabi -Shallallahu
'alaihi wa sallam- dan para sahabat.
Karena Allah telah menjanjikan semua itu, sedangkan Allah
tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Allah -Ta'ala- berfirman,
فَاصْبِرْ إِنَّ
وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ
بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ [غافر : 55]
"Maka
bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan
untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang dan pagi". (QS.Ghofir :55 ).
Terakhir, kami ingatkan kepada para dai. Bertaqwalah
kalian wahai para dai yang menggiring umat untuk berorasi dan berdemonstrasi. Tanggung
jawab umat itu ada di pundak kalian. Darah dan harta mereka jika tumpah dan
hilang karena demonstrasi tersebut, maka kalian akan mempertanggungjawabkannya
di hadapan Allah.
Demonstrasi (damai-tidak damai) yang kalian lakukan
adalah sebuah madhorot dan
kerusakan, minimalnya akan merusak citra
presidenmu yang nyata-nyata masih muslim.
((لا ضرر ولاضرار))
Komentar
Posting Komentar