Minggu, 20 November 2016

Mulutmu Jangan Suka Memuji-muji Kaum Kafir



Mulutmu Jangan Suka Memuji-muji Kaum Kafir

oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-

Sebuah fenomena miris yang menyedihkan kaum muslimin berupa munculnya generasi muslim gemar dan suka memuji-muji kaum kafir, entah karena ia jahil akan agama dan aqidahnya, atau karena ia paham, namun karena ia memiliki tendensi duniawi dan ingin meraih jabatan dan barang-barang dunia.

Memuji-muji kaum kafir adalah perkara yang tercela dalam agama dan akan menimbulkan efek buruk bagi pola pikir dan aqidah umat Islam. Diantara efek dan dampak buruknya, akan muncul kesan atau asumsi bahwa kaum muslimin adalah masyarakat yang penuh kekurangan.

Saya ambilkan sebuah contoh. Misalnya, dalam persoalan KEPEMIMPINAN. Banyak orang secara sadar (namun ia jahil agama atau karena tendensi duniawi), ia pun memuji-muji pemimpin kafir yang konon kabarnya –wallahu a'lam- bahwa ia (si kafir) ini adalah pemimpin yang lebih baik, lebih jujur, lebih bersih, dan bla…bla.bla..


Pujian-pujian seperti ini bagi seorang kafir akan berefek buruk dan memberi kesan bahwa seakan-akan tidak ada pemimpin muslim yang baik dan bersih dari korupsi atau penyelewengan.

Belum lagi, belakangan ini ada sebagian pihak menyebarkan sebuah pernyataan yang menipu dan membingungkan umat,  yang berbunyi :
"Lebih baik memilih pemimpin kafir yang jujur dan tidak korupsi daripada memilih pemimpin muslim yang curang dan korupsi."

Seakan-akan pesan dan pernyataan menipu ini menyiratkan suatu makna dan asumsi bahwa tidak ada pemimpin muslim yang jujur, semuanya pendusta, korupsi, dan curang. Lalu sebaliknya, yang jujur, baik, dan bersih adalah pemimpin kafir!!

Laa haula wala quwwata illa billah, ini jelas pernyataan jahat yang ingin menipu umat Islam.

Khusus, yang hidup di Indonesia, saya ingin mengajak mereka untuk memalingkan kepala ke arah Bapak Presiden RI (Jokowi), lalu aku ingin bertanya kepadanya, "Apakah beliau yang kalian pilih juga korupsi?"

Yakin, orang yang mengeluarkan pernyataan ini akan bungkam seribu bahasa!!

Ini membuktikan bahwa di Indonesia ini masih masih banyak muslim yang baik, bersih, dan jujur.

Para pembaca yang budiman, kalau kita kembali kepada wahyu, maka pernyataan ini lebih tampak lagi kerusakannya.

Saya ingin berbincang dengan kaum muslimin yang beriman, bukan mereka yang dibutakan mata hatinya dari kebenaran!

Munculnya seorang KAFIR jadi pemimpin atas kalian adalah kerusakan dan keburukan besar yang akan menimpa kalian dan agama kalian Islam!

Kekafiran yang ada dalam hati seorang musyrik dan Ahlul Kitab merupakan musibah dan kerusakan besar pada diri kaum kafir. Kekafiran ini yang akan melahirkan KEBENCIAN kepada kalian, sehingga tidak heran apabila tersembunyi kebencian besar kepada kalian wahai kaum muslimin di dalam hati mereka.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِير [البقرة : 120]
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al-Baqoroh : 120)

Masihkah ada musibah dan kerusakan yang lebih besar yang lebih bagi kaum muslimin dibandingkan kebencian seorang kafir yang akan menjadi pemimpinnya.

KEBENCIAN seorang kafir mendorong dirinya untuk mengeluarkan kebijakan yang akan merusak dan menekan serta mempersempit agama kalian. Hatinya lebih senang bila kalian mendapatkan kesusahan dan penderitaan. Mereka menginginkan kalian kafir dan murtad seperti diri mereka yang akan menjadi bahan bakar neraka.

Allah mengabadikan isi hati mereka yang jahat dalam Kitab-Nya yang mulia,

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [البقرة : 109]
"Sebagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
يحذر تعالى عباده المؤمنين عن سلوك طَرَائق الكفار من أهل الكتاب، ويعلمهم بعداوتهم لهم في الباطن والظاهر وما هم مشتملون عليه من الحسد للمؤمنين، مع علمهم بفضلهم وفضل نبيهم. ويأمر عباده المؤمنين بالصفح والعفو والاحتمال، حتى يأتي أمر الله من النصر والفتح.
"Allah -Ta'ala- mengingatkan para hamba-Nya yang beriman dari bahaya mengikuti jalan orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab, dan Allah memberitakan kepada mereka (kaum beriman) tentang permusuhan mereka (kaum kafir) kepada mereka (orang beriman), baik secara batin, maupun secara lahiriah, serta (Allah mengabarkan) apa yang mereka sembunyikan berupa sifat hasad (dengki) kepada kaum beriman, seiiring tahunya mereka tentang keutamaan mereka (kaum beriman) dan Nabi mereka (Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-). Allah  memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk memaafkan dan membiarkan  mereka serta menahan diri (dalam menghadapinya) sampai datanglah perintah Allah berupa kemenangan dan penaklukan." [Lihat Tafsir Ibni Katsir (1/382)]

Wahai saudaraku yang beriman, tahukah kalian bahwa langit, bumi, dan lautan akan mengalami kerusakan akibat dosa-dosa manusia berupa kekafiran, kesyirikan, bid'an dan maksiat?!

Ini telah dijelaskan oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم : 41]
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Ruum : 41)

Seorang ulama tabi'in, Abul Aliyah Ar-Riyahiy -rahimahullah- menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "KERUSAKAN" yang tersebut dalam ayat di atas adalah irtikab al-ma'ashi (melakukan maksiat-maksiat). [Lihat Zadul Masir (5/99), karya Ibnul Jauziy, cet. Al-Maktab Al-Islamiy]

Kata Abul Aliyah Ar-Riyahiy -rahimahullah-,
مَنْ عَصَى اللَّهَ فِي الأَرْضِ أَوْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ فَقَدِ أَفْسَدَ فِي الأَرْضِ ؛ لأَنَّ صَلاحَ الأَرْضِ وَالسَّمَاءِ بِالطَّاعَةِ
"Barangsiapa yang memaksiati (mendurhakai) Allah di bumi, atau memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah, maka sungguh ia telah melakukan kerusakan di permukaan bumi. Karena, kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan." [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim Musnadan 'an Rasulillah -Shallallahu alaihi wa sallam- wa Ash-Shohabah wa At-Tabi'in (no. 121 & 16177), karya Ibnu Abi Hatim Ar-Roziy, cet. Maktabah Nizar Mushthofa Al-Baaz, 1419 H]

Kira-kira kerusakan dan keburukan apalagi yang lebih besar dibandingkan KEKAFIRAN DAN KESYIRIKAN (menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya dalam penyembahan dan peribadahan)?!

Kekafiran dan kesyirikan inilah yang membuat Allah amat murka kepada kaum musyrikin dan Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani 'Kristen').

Ketika lisan-lisan perusak Ahli Kitab menyatakan bahwa Allah memiliki anak yang mereka namai dengan Uzair dan Yesus, maka Allah -Azza wa Jalla- amat marah sebagaimana yang tampak dalam firman-Nya,
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93) [مريم : 88 - 93]
"Dan mereka (Ahli Kitab) berkata: "Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak".
Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar.
Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh.
Karena, mereka menda'wakan (menyatakan) Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.
Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.
Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba." (QS. Maryam : 88-93)

Di dalam ayat yang mulia ini, Allah menerangkan besarnya kerusakan dan kemungkaran dalam ucapan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum musyrikin yang menganggap Allah memiliki anak.

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rohman bin Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
وهذا تقبيح وتشنيع لقول المعاندين الجاحدين، الذين زعموا أن الرحمن اتخذ ولدا، كقول النصارى: المسيح ابن الله، واليهود: عزير ابن الله، والمشركين: الملائكة بنات الله، تعالى الله عن قولهم علوا كبيرا.
"Ini merupakan kecaman dan celaan bagi pernyataan para penentang lagi ingkar, yang mengklaim bahwa Ar-Rohman (Allah) mengambil (mempunyai) anak, seperti ucapan kaum Nashoro (Kristen), "Al-Masih (Isa) adalah anak Allah," dan ucapan kaum Yahudi, "Uzair adalah anak Allah, serta ucapan kaum musyrikan, "Para malaikat adalah putri-putri Allah." Maha Tinggi Allah dari ucapan mereka ini dengan ketinggian yang besar." [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rohman, (hal. 501)]

Kerusakan demi kerusakan dilakukan oleh Ahli Kitab dari kalangan Nasrani alias Kristen. Mereka tidak hanya meyakini bahwa Allah itu memiliki anak!! Bahkan mereka menyatakan paham dan doktrin TRINITAS yang mereka sembah!! Jelas ini sebuah bentuk ghuluw 'ekstrim' dalam beragama!!!

Allah –Jalla Dzikruh- berfirman,
  يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (171) لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا (172) فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (173) [النساء : 171 - 173]
"Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.

Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya[1] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[2].

Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari Ucapan itu). (itu) lebih baik bagimu.

Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa (Tunggal), Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.
Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah)[3].

Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.

Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya.

Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah." (QS. An-Nisaa' : 171-173)

Kerusakan dalam beraqidah dan beragama yang dilakoni oleh Ahli Kitab dari kalangan Nashoro alias Kristen, bukanlah ajaran yang pernah disampaikan oleh Nabi Isa kepada mereka.

Oleh karena itu, Allah akan menanyai Nabi Isa tentang hal itu nanti pada Hari Kiamat. Nah, disanalah nanti Nabi Isa akan berlepas diri dari umat Kristen yang selama ini mempertuhankan Nabi Isa –alaihis salam- atau menganggapnya anak.

Allah -Tabaroka wa Ta'ala- menerangkan hal itu dalam serangkaian firman-Nya di bawah ini,
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) [المائدة : 116 ، 117]
"Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu pernah mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?".
Isa menjawab :
"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).
Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku[4], Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu." (QS. Al-Maa'idah : 116-117)

Ulama Negeri Syam, Al-Imam Muhammad Jamaluddin bin Muhammad Al-Qosimiy -rahimahullah- berkata,  
((وأشد الأمم افتقارًا إلى التوبيخ والملامة النصارى. الذي يزعمون أنهم أتباع عيسى عليه السلام. لأن طعن سائر الأمم كان مقصورا على الأنبياء. وطعن هؤلاء الملحدة تعدى إلى جلال الله وكبريائه، حيث وصفوه بما لا يليق أن يوصف مقامه به، وهو اتخاذ الزوجة والولد. فلا جرم، ذكر تعالى أنه يعدد أنواع نعمه على عيسى بحضرة الرسل واحدة فواحدة. إشعارا بعبوديته، فإن كل واحدة من تلك النعم المعدودة عليه، تدل على أنه عبد وليس بإله،
ثم أتبع ذلك باستفهامه لينطق بإقراره، عليه السلام، على رؤوس الأشهاد، بالعبودية، وأمره لهم بعبادة الله عز وجل إكذابا لهم في افترائهم عليه، وتثبيتا للحجة على قومه
فهذا سر سؤاله تعالى له، مع علمه بأنه لم يقل ذلك. وكل ذلك لتنبيه النصارى الذين كانوا في وقت نزول الآية ومن تأثر بهم، على قبح مقالتهم وركاكة مذهبهم واعتقادهم)). اهـ من محاسن التأويل - (4 / 299) للقاسمي
"Umat yang paling penting dikecam dan dicela adalah kaum Nashoro (Kristen) yang meyakini bahwa mereka adalah para pengikut Isa –alaihis salam-. Karena, cercaan seluruh umat hanyalah terbatas pada diri para nabi, sedang cercaan kaum (Nasrani-Kristen) yang menyimpang ini melangkah sampai pada kemuliaan dan kebesaran Allah.
Dimana mereka (umat Kristen) telah menyifati Allah dengan sesuatu yang tidak pantas untuk disifati bagi Allah, yaitu mengambil istri dan anak.
Nah, tidak ada salahnya Allah -Ta'ala- menyebutkan bahwa Dia menyebutkan satu persatu dari nikmat-nikmat-Nya kepada Isa di hadapan para rasul, sebagai isyarat tentang statusnya selaku HAMBA.
Karena, setiap dari nikmat-nikmat yang terhitung itu atas beliau, menunjukkan  bahwa beliau (Isa) adalah seorang HAMBA, bukan tuhan!!
Kemudian Allah mengiringi hal itu dengan bertanya kepada Isa, agar Isa berbicara dalam mengakui di hadapan semua yang hadir (di Padang Mahsyar, pent.) tentang kedudukan beliau selaku HAMBA, serta perintah beliau kepada mereka (saat di dunia) untuk beribadah hanya kepada Allah -Azza wa Jalla-, sebagai pendustaan bagi mereka (Umat Kristen) dalam hal kedustaan mereka atas Isa, dan sebagai penetapan hujjah atas kaumnya.
Inilah rahasia pertanyaan Allah -Ta'ala- kepada Isa, walau pun Allah telah tahu bahwa Isa tidak pernah mengatakan hal itu.
Semua itu untuk mengingatkan kaum Nashoro (Kristen) yang ada pada saat turunnya ayat ini, dan juga orang-orang yang terpengaruh dengan mereka di atas pernyataan buruk mereka dan jalan hidup mereka yang lemah."  [Lihat Mahasin At-Ta'wil (4/299), karya Jamaluddin Al-Qosimiy, cet. Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, 1418 H]

Para pembaca yang budiman, dari serangkaian ayat-ayat di atas, masihkah kita meyakini bahwa kaum kafir adalah pembawa kebaikan, bukan kaum perusak?!

Tidak ada kerusakan yang lebih parah dibandingkan kerusakan aqidah, keyakinan dan agama seseorang.

Setiap hamba diwajibkan oleh Allah beriman kepada-Nya dengan benar dan masuk ke dalam agama Islam. Ini adalah AMANAH TERBESAR.

Tapi apakah anda melihat kaum kafir dari kalangan Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani) mau beriman kepada-Nya dengan benar dan masuk ke dalam agama Islam.

Jawabnya, tidak ada, kecuali mereka yang diberi taufik dan hidayah untuk beriman dan masuk ke dalam Islam secara total.

Jika seorang kafir tidak menunaikan amanah beriman dan berislam yang Allah wajibkan, maka tentu si kafir ini saat ia diberi amanah memimpin manusia, akan lebih menyia-nyiakan amanah kepemimpinan itu.

Dengan kata lain, jika hak Allah saja berupa ibadah dan ketaatan, tidak ditunaikan oleh si kafir, maka tentunya hak-hak manusia akan ia lebih lalaikan!!

Mengangkat seorang kafir sebagai pemimpin adalah musibah bagi manusia, sebagaimana halnya mengangkat pemimpin beriman dan beramal sholih dari kalangan kaum muslimin merupakan berkah dan nikmat yang teramat besar!

Allah -Azza wa Jalla- mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [الأعراف : 96]
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, maka pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu. Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raaf : 96)

Mengangkat seorang kafir atau non-muslim sebagai pemimpin atas kaum muslimin akan menghasilkan buah buruk dan pahit berupa munculnya berbagai macam kerusakan dan keburukan, disebabkan si kafir itu pasti akan keluar dari bimbingan Al-Qur'an dan Sunnah yang berisi kebaikan, keberkahan, dan kemaslahatan hidup seluruh manusia.

Kapan ia keluar dari rel wahyu, maka pasti akan tercipta berbagai macam petaka dan musibah manusia, baik kecil, maupun besar, baik terasa atau tidak terasa, baik terlihat atau tersembunyi.

======================================

Para pembaca yang budiman, memuji-muji orang kafir adalah terlarang dalam agama, karena akan menciptakan kekaguman kepadanya, perilakunya, jalan hidup dan agamanya, serta menjadi sebab si kafir nanti akan menjadi idola yang akan diikuti, didengar, ditaati, dan dijadikan pemimpin.

Al-Allamah Abuth Thoyyib Shiddiq Hasan Khan Al-Kinnaujiy -rahimahullah- berkata,
" وأما من يمدح النصارى ، ويقول إنهم أهل العدل ، أو يحبّون العدل ، ويكثر ثناءهم في المجالس ، ويهين ذكر السلطان للمسلمين ، وينسب إلى الكفار النّصيفة وعدم الظلم والجور ؛ فحكم المادح أنه فاسق عاص مرتكب لكبيرة ؛ يجب عليه التوبة منها والندم عليها ؛ إذا كان مدحه لذات الكفار من غير ملاحظة الكفر الذي فيهم . فإن مدحهم من حيث صفة الكفر فهو كافر ، لأنه مَدَح الكفر الذي ذمته جميع الشرائع " .
"Adapun orang yang memuji-muji kaum Nasrani (Kristen), dan berkata, "Sesungguhnya mereka (orang-orang Kristen) adalah orang-orang yang adil (tidak curang), atau mereka (orang Kristen) mencintai keadilan," serta sering memuji mereka (orang Kristen)  dalam berbagai majelis, dan merendahkan sebutan Penguasa (yang muslim, pent.) kepada kaum muslimin serta ia menyandarkan kepada orang-orang kafir itu sifat adil, tidak zalim, dan tidak curang, maka hukumnya orang yang memuji-muji itu bahwa ia adalah seorang yang fasik lagi durhaka serta melakukan dosa besar!! Wajib baginya untuk bertobat darinya dan menyesal atasnya, jika pujiannya semata-mata kepada diri orang-orang kafir, tanpa memandang kekafiran yang ada pada mereka.
Jika ia (si pemuji) memuji-muji mereka dari sisi sifat kekafiran mereka, maka ia (si pemuji) adalah kafir. Karena, ia (si pemuji) telah memuji-muji kekafiran yang telah dicela oleh seluruh syariat." [Lihat Al-Ibroh, (hal. 245)]

Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan -hafizhahullah- pernah ditanya tentang memuji-muji kafir,

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
هل مدح الكفار بما عندهم من العلم والتطور والنظام والعدل وغيرها من الأمور
هل هذا من موالاة الكفار؟ جزاكم الله خيرا

"Assalamu alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.
Apakah memuji-muji orang kafir dalam sesuatu yang ada pada mereka berupa ilmu, perkembangan (kemajuan), aturan dam keadilan dan lainnya berupa perkara-perkara
Apakah ini termasuk loyalitas kepada kaum kafir?
Semoga Allah membalasi anda dengan kebaikan."

Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan -hafizhahullah- menjawab,
نعم هذا نوع موالاة للكفارواعجاب بالكفار، فلا تمدح الكفارولا تتظاهر بمدحهم ، وما يقومون به من الاختراع ومن الصناعة هذا من تسخير الله لهم وشغلهم بالدنيا عن الدين ، هم اشتغلوا بالدنيا واتقنوها هم اشتغلوا بالدنيا واتقنوها (مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16) [هود : 15 ، 16]) ،
فهم صناع ، مجرد صناع فقط وهم يقصدون مصالحهم ما هم يقصدون نفعنا ، يقصدون مصالحهم ولذلك يبيعونها علينا بأغلى الأثمان ، ما هم يقصدون نفعنا إنما يقصدون نفع أنفسهم . نعم 
Jawab :

"Ya, termasul bentuk loyalitas kepada orang-orang kafir dan berbangga-bangga dengan orang-orang kafir.
Janganlah kamu memuji-muji orang-orang kafir!! dan jangan kamu mempertunjukkan pujian bagi mereka dan apa yang mereka lakukan berupa penemuan baru dan kerajinan (perindustrian).
Ini semua termasuk bentuk (dimana) Allah memanfaatkan mereka dan membuat mereka sibuk dengan dunia dari akhiratnya.
Mereka menyibukkan diri dengan  dunia dan menguasainya. "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Huud : 15-16)
Jadi, mereka (kaum kafir) adalah ahli industri, sekedar ahli industri saja. Mereka menginginkan kemaslahatan diri mereka. Tidaklah mereka menginginkan kemanfaatan bagi kita.
Mereka menginginkan kemaslahatan diri mereka. Karena itu, mereka menjualnya kepada kita dengan harga yang mahal.
Tidaklah mereka menginginkan kemanfaatan bagi kita.Tapi mereka menginginkan kemanfaatan bagi diri mereka." [https://goo.gl/mNf05W]

Dalam momen lain, Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan -hafizhahullah- pernah ditanya tentang hukum memuji-muji kaum kafir karena keadilan, keteraturan mereka, dan kuatnya mereka menjaga atau menghargai waktu.

Kemudian beliau memberi jawaban,
ما يمدح الكفار ، لأنك إذا مدحتهم أدخلت تعظيمهم على الناس ، فلا تمدحهم!
"Orang-orang kafir tidak boleh dipuji-puji. Karena, kalau kamu memuji-muji mereka, maka kamu akan memasukkan rasa pengagungan terhadap mereka kepada manusia. Jadi, jangan kamu memuji-muji mereka!" [https://goo.gl/l2pKbH]

Alangkah hinanya seorang muslim yang memuji-muji kaum kafir, karena mengharap, tertipu dan terpukau dengan dunia mereka, tanpa ia melihat kepada kerusakan agama dan akhirat mereka.

Allah -Azza wa Jalla- mengingatkan kita akan hal ini dalam dua ayat berikut,
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (197) [آل عمران : 196 ، 197]
"Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri[5].
Itu hanyalah kesenangan sementara, Kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya." (QS. Ali Imraan : 196-197)

Kemajuan dunia, kesenangan dan kebahagiaan kaum kafir hanyalah sebentar. Adapun orang yang beriman dan bertaqwa, -insya Allah- surga menunggu mereka.

Demikian tulisan ini kami turunkan agar menjadi nasihat bagi kaum seluruh kaum muslimin Indonesia. Sebab, belakangan ini kami melihat ada sebagian kaum muslimin yang terang-terangan memuji, membela, menjilat, bahkan siap mati membela Ahok, Hary Tanoesodibjo, dll dari kalangan orang-orang kafir.

Semoga dengan tulisan ini, mereka terpanggil untuk kembali kepada pangkuan wahyu. amiin…







[1] Maksudnya: membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu nabi Isa a.s.
[2] disebut tiupan dari Allah Karena tiupan itu berasal dari perintah Allah.
[3] yaitu malaikat yang berada di sekitar Arsy seperti Jibril, Mikail, Israfil dan malaikat-malaikat yang setingkat dengan mereka.

[4] Wafat disini maknanya adalah diangkat ke langit, bukan mati, sebagaimana yang dijelaskan para ahli tafsir. Sebab, para ulama telah sepakat bahwa Nabi Isa saat diangkat ke langit dalam keadaan hidup sampai diturunkannya beliau untuk membunuh Dajjal yang akan muncul pada akhir zaman. [Lihat Zadul Masir (2/291)]
Diwafatkan, artinya : "disempurnakan masanya di dunia". Orang yang dicabut ajalnya, diwafatkan, karena masa hidupnya di dunia telah cukup dan sempurna sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah.
Demikian pula Nabi Isa saat diangkat ke langit, maka beliau diwafatkan, yakni sempurna masa hidupnya di dunia sampai ia diturunkan ke dunia pada akhir zaman. Wallahu a'lam.
[5] Yakni: kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar