Mulutmu Jangan Suka Memuji-muji Kaum Kafir
Mulutmu Jangan Suka
Memuji-muji Kaum Kafir
oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
Sebuah
fenomena miris yang menyedihkan kaum muslimin berupa munculnya generasi muslim gemar dan suka memuji-muji kaum
kafir, entah karena ia jahil akan agama
dan aqidahnya, atau karena ia paham, namun karena ia memiliki tendensi duniawi
dan ingin meraih jabatan dan barang-barang dunia.
Memuji-muji
kaum kafir adalah perkara yang tercela dalam agama dan akan menimbulkan efek
buruk bagi pola pikir dan aqidah umat Islam. Diantara efek dan dampak buruknya,
akan muncul kesan atau asumsi bahwa kaum muslimin adalah masyarakat yang penuh
kekurangan.
Saya
ambilkan sebuah contoh. Misalnya, dalam persoalan KEPEMIMPINAN. Banyak orang
secara sadar (namun ia jahil agama atau karena tendensi duniawi), ia pun
memuji-muji pemimpin kafir yang konon kabarnya –wallahu a'lam- bahwa ia
(si kafir) ini adalah pemimpin yang lebih baik, lebih jujur, lebih bersih, dan
bla…bla.bla..
Pujian-pujian
seperti ini bagi seorang kafir akan berefek buruk dan memberi kesan bahwa seakan-akan
tidak ada pemimpin muslim yang baik dan bersih dari korupsi atau penyelewengan.
Belum
lagi, belakangan ini ada sebagian pihak menyebarkan sebuah pernyataan yang
menipu dan membingungkan umat, yang
berbunyi :
"Lebih
baik memilih pemimpin kafir yang jujur dan tidak korupsi daripada memilih
pemimpin muslim yang curang dan korupsi."
Seakan-akan
pesan dan pernyataan menipu ini menyiratkan suatu makna dan asumsi bahwa tidak
ada pemimpin muslim yang jujur, semuanya pendusta, korupsi, dan curang. Lalu
sebaliknya, yang jujur, baik, dan bersih adalah pemimpin kafir!!
Laa
haula wala quwwata illa billah, ini jelas pernyataan jahat yang ingin menipu
umat Islam.
Khusus,
yang hidup di Indonesia ,
saya ingin mengajak mereka untuk memalingkan kepala ke arah Bapak Presiden RI
(Jokowi), lalu aku ingin bertanya kepadanya, "Apakah beliau yang kalian
pilih juga korupsi?"
Yakin,
orang yang mengeluarkan pernyataan ini akan bungkam seribu bahasa!!
Ini membuktikan bahwa di Indonesia ini masih masih banyak muslim
yang baik, bersih, dan jujur.
Saya
ingin berbincang dengan kaum muslimin yang beriman, bukan mereka yang dibutakan
mata hatinya dari kebenaran!
Munculnya
seorang KAFIR jadi pemimpin atas kalian adalah kerusakan dan keburukan besar
yang akan menimpa kalian dan agama kalian Islam!
Kekafiran
yang ada dalam hati seorang musyrik dan Ahlul Kitab merupakan musibah dan
kerusakan besar pada diri kaum kafir. Kekafiran ini yang akan melahirkan
KEBENCIAN kepada kalian, sehingga tidak heran apabila tersembunyi kebencian
besar kepada kalian wahai kaum muslimin di dalam hati mereka.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
وَلَنْ
تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ
إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ
الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِير
[البقرة : 120]
"Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti
agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk
(yang benar)". Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan
penolong bagimu." (QS. Al-Baqoroh :
120)
Masihkah
ada musibah dan kerusakan yang lebih besar yang lebih bagi kaum muslimin
dibandingkan kebencian seorang kafir yang akan menjadi pemimpinnya.
KEBENCIAN
seorang kafir mendorong dirinya untuk mengeluarkan kebijakan yang akan merusak
dan menekan serta mempersempit agama kalian. Hatinya lebih senang bila kalian
mendapatkan kesusahan dan penderitaan. Mereka menginginkan kalian kafir dan
murtad seperti diri mereka yang akan menjadi bahan bakar neraka.
Allah
mengabadikan isi hati mereka yang jahat dalam Kitab-Nya yang mulia,
وَدَّ
كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ
كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ
الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [البقرة :
109]
"Sebagian
besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran
setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri,
setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka,
sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu."
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
يحذر
تعالى عباده المؤمنين عن سلوك طَرَائق الكفار من أهل الكتاب، ويعلمهم بعداوتهم لهم
في الباطن والظاهر وما هم مشتملون عليه من الحسد للمؤمنين، مع علمهم بفضلهم وفضل
نبيهم. ويأمر عباده المؤمنين بالصفح والعفو والاحتمال، حتى يأتي أمر الله من النصر
والفتح.
"Allah
-Ta'ala- mengingatkan para hamba-Nya yang beriman dari bahaya mengikuti jalan
orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab, dan Allah memberitakan kepada
mereka (kaum beriman) tentang permusuhan mereka (kaum kafir) kepada mereka
(orang beriman), baik secara batin, maupun secara lahiriah, serta (Allah
mengabarkan) apa yang mereka sembunyikan berupa sifat hasad (dengki) kepada
kaum beriman, seiiring tahunya mereka tentang keutamaan mereka (kaum beriman)
dan Nabi mereka (Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-). Allah memerintahkan para hamba-Nya yang beriman
untuk memaafkan dan membiarkan mereka
serta menahan diri (dalam menghadapinya) sampai datanglah perintah Allah berupa
kemenangan dan penaklukan."
[Lihat Tafsir Ibni Katsir (1/382)]
Wahai
saudaraku yang beriman, tahukah kalian bahwa langit, bumi, dan lautan akan
mengalami kerusakan akibat dosa-dosa manusia berupa kekafiran, kesyirikan,
bid'an dan maksiat?!
Ini
telah dijelaskan oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الروم : 41]
"Telah
tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Ruum : 41)
Seorang
ulama tabi'in, Abul Aliyah Ar-Riyahiy -rahimahullah- menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "KERUSAKAN" yang tersebut dalam ayat di atas adalah irtikab
al-ma'ashi (melakukan maksiat-maksiat). [Lihat Zadul Masir
(5/99), karya Ibnul Jauziy, cet. Al-Maktab Al-Islamiy]
Kata Abul
Aliyah Ar-Riyahiy -rahimahullah-,
مَنْ
عَصَى اللَّهَ فِي الأَرْضِ أَوْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ فَقَدِ أَفْسَدَ فِي
الأَرْضِ ؛ لأَنَّ صَلاحَ الأَرْضِ وَالسَّمَاءِ بِالطَّاعَةِ
"Barangsiapa
yang memaksiati (mendurhakai) Allah di bumi, atau memerintahkan untuk
bermaksiat kepada Allah, maka sungguh ia telah melakukan kerusakan di permukaan
bumi. Karena, kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan." [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim Musnadan 'an
Rasulillah -Shallallahu alaihi wa sallam- wa Ash-Shohabah wa At-Tabi'in (no.
121 & 16177), karya Ibnu Abi Hatim Ar-Roziy, cet. Maktabah Nizar Mushthofa
Al-Baaz, 1419 H]
Kira-kira
kerusakan dan keburukan apalagi yang lebih besar dibandingkan KEKAFIRAN DAN
KESYIRIKAN (menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya dalam penyembahan dan
peribadahan)?!
Kekafiran
dan kesyirikan inilah yang membuat Allah amat murka kepada kaum musyrikin dan
Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani 'Kristen').
Ketika
lisan-lisan perusak Ahli Kitab menyatakan bahwa Allah memiliki anak yang mereka
namai dengan Uzair dan Yesus, maka Allah -Azza wa Jalla- amat
marah sebagaimana yang tampak dalam firman-Nya,
وَقَالُوا
اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ
السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ
هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ
أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93) [مريم : 88 - 93]
"Dan
mereka (Ahli Kitab) berkata: "Tuhan yang Maha Pemurah mengambil
(mempunyai) anak".
Sesungguhnya
kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar.
Hampir-hampir
langit pecah karena ucapan itu, dan
bumi belah, dan gunung-gunung runtuh.
Karena,
mereka menda'wakan (menyatakan) Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.
Dan
tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.
Tidak
ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang
Maha Pemurah selaku seorang hamba." (QS.
Maryam : 88-93)
Di
dalam ayat yang mulia ini, Allah menerangkan besarnya kerusakan dan kemungkaran
dalam ucapan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum musyrikin yang menganggap
Allah memiliki anak.
Ahli
Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rohman bin
Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
وهذا
تقبيح وتشنيع لقول المعاندين الجاحدين، الذين زعموا أن الرحمن اتخذ ولدا، كقول النصارى:
المسيح ابن الله، واليهود: عزير ابن الله، والمشركين: الملائكة بنات الله، تعالى
الله عن قولهم علوا كبيرا.
"Ini
merupakan kecaman dan celaan bagi pernyataan para penentang lagi ingkar, yang
mengklaim bahwa Ar-Rohman (Allah) mengambil (mempunyai) anak, seperti ucapan
kaum Nashoro (Kristen), "Al-Masih (Isa) adalah anak Allah," dan
ucapan kaum Yahudi, "Uzair adalah anak Allah, serta ucapan kaum musyrikan,
"Para malaikat adalah putri-putri Allah." Maha Tinggi Allah dari
ucapan mereka ini dengan ketinggian yang besar." [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rohman, (hal.
501)]
Kerusakan
demi kerusakan dilakukan oleh Ahli Kitab dari kalangan Nasrani alias Kristen.
Mereka tidak hanya meyakini bahwa Allah itu memiliki anak!! Bahkan mereka
menyatakan paham dan doktrin TRINITAS yang mereka sembah!! Jelas ini sebuah
bentuk ghuluw 'ekstrim' dalam beragama!!!
Allah
–Jalla Dzikruh- berfirman,
يَا
أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ
إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ
وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ
وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ
إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ
وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (171) لَنْ يَسْتَنْكِفَ
الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ
وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ
جَمِيعًا (172) فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَأَمَّا الَّذِينَ
اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ
لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (173) [النساء : 171 - 173]
"Wahai
ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah
kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.
Sesungguhnya
Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan
dengan) kalimat-Nya[1] yang
disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[2].
Maka
berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian
mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah
(dari Ucapan itu). (itu) lebih baik bagimu.
Sesungguhnya
Allah Tuhan yang Maha Esa (Tunggal), Maha Suci Allah dari mempunyai
anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah
menjadi Pemelihara.
Al-Masih
sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat
(kepada Allah)[3].
Barangsiapa
yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan
mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.
Adapun
orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan
pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya.
Adapun
orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa
mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri
mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah." (QS. An-Nisaa' : 171-173)
Kerusakan
dalam beraqidah dan beragama yang dilakoni oleh Ahli Kitab dari kalangan
Nashoro alias Kristen, bukanlah ajaran yang pernah disampaikan oleh Nabi Isa
kepada mereka.
Oleh
karena itu, Allah akan menanyai Nabi Isa tentang hal itu nanti pada Hari
Kiamat. Nah, disanalah nanti Nabi Isa akan berlepas diri dari umat Kristen yang
selama ini mempertuhankan Nabi Isa –alaihis salam- atau menganggapnya anak.
Allah -Tabaroka
wa Ta'ala- menerangkan hal itu dalam serangkaian firman-Nya di bawah ini,
وَإِذْ
قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي
وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ
أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ
مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ
الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا
اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ
فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) [المائدة : 116 ، 117]
"Dan
(Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu pernah
mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan
selain Allah?".
Isa
menjawab :
"Maha
Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya).
Jika
aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada
diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya
Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.
Aku
tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan
kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan
Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku
berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku[4],
Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas
segala sesuatu." (QS. Al-Maa'idah :
116-117)
Ulama
Negeri Syam, Al-Imam Muhammad Jamaluddin bin Muhammad Al-Qosimiy -rahimahullah-
berkata,
((وأشد الأمم افتقارًا إلى التوبيخ والملامة النصارى. الذي
يزعمون أنهم أتباع عيسى عليه السلام. لأن طعن سائر الأمم كان مقصورا على الأنبياء.
وطعن هؤلاء الملحدة تعدى إلى جلال الله وكبريائه، حيث وصفوه بما لا يليق أن يوصف
مقامه به، وهو اتخاذ الزوجة والولد. فلا جرم، ذكر تعالى أنه يعدد أنواع نعمه على
عيسى بحضرة الرسل واحدة فواحدة. إشعارا بعبوديته، فإن كل واحدة من تلك النعم
المعدودة عليه، تدل على أنه عبد وليس بإله،
ثم
أتبع ذلك باستفهامه لينطق بإقراره، عليه السلام، على رؤوس الأشهاد، بالعبودية،
وأمره لهم بعبادة الله عز وجل إكذابا لهم في افترائهم عليه، وتثبيتا للحجة على
قومه
فهذا
سر سؤاله تعالى له، مع علمه بأنه لم يقل ذلك. وكل ذلك لتنبيه النصارى الذين كانوا
في وقت نزول الآية ومن تأثر بهم، على قبح مقالتهم وركاكة مذهبهم واعتقادهم)). اهـ من محاسن
التأويل - (4 / 299) للقاسمي
"Umat
yang paling penting dikecam dan dicela adalah kaum Nashoro (Kristen) yang
meyakini bahwa mereka adalah para pengikut Isa –alaihis salam-. Karena, cercaan
seluruh umat hanyalah terbatas pada diri para nabi, sedang cercaan kaum
(Nasrani-Kristen) yang menyimpang ini melangkah sampai pada kemuliaan dan
kebesaran Allah.
Dimana
mereka (umat Kristen) telah menyifati Allah dengan sesuatu yang tidak pantas
untuk disifati bagi Allah, yaitu mengambil istri dan anak.
Nah,
tidak ada salahnya Allah -Ta'ala- menyebutkan bahwa Dia menyebutkan satu
persatu dari nikmat-nikmat-Nya kepada Isa di hadapan para rasul, sebagai
isyarat tentang statusnya selaku HAMBA.
Karena,
setiap dari nikmat-nikmat yang terhitung itu atas beliau, menunjukkan bahwa beliau (Isa) adalah seorang HAMBA,
bukan tuhan!!
Kemudian
Allah mengiringi hal itu dengan bertanya kepada Isa, agar Isa berbicara dalam
mengakui di hadapan semua yang hadir (di Padang
Mahsyar, pent.) tentang kedudukan beliau selaku HAMBA, serta perintah beliau
kepada mereka (saat di dunia) untuk beribadah hanya kepada Allah -Azza wa
Jalla-, sebagai pendustaan bagi mereka (Umat Kristen) dalam hal kedustaan
mereka atas Isa, dan sebagai penetapan hujjah atas kaumnya.
Inilah
rahasia pertanyaan Allah -Ta'ala- kepada Isa, walau pun Allah telah tahu bahwa
Isa tidak pernah mengatakan hal itu.
Semua
itu untuk mengingatkan kaum Nashoro (Kristen) yang ada pada saat turunnya ayat
ini, dan juga orang-orang yang terpengaruh dengan mereka di atas pernyataan
buruk mereka dan jalan hidup mereka yang lemah." [Lihat Mahasin
At-Ta'wil (4/299), karya Jamaluddin Al-Qosimiy, cet. Dar Al-Kutub
Al-'Ilmiyyah, 1418 H]
Tidak
ada kerusakan yang lebih parah dibandingkan kerusakan aqidah, keyakinan dan
agama seseorang.
Setiap
hamba diwajibkan oleh Allah beriman kepada-Nya dengan benar dan masuk ke dalam
agama Islam. Ini adalah AMANAH TERBESAR.
Tapi
apakah anda melihat kaum kafir dari kalangan Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani)
mau beriman kepada-Nya dengan benar dan masuk ke dalam agama Islam.
Jawabnya, tidak ada, kecuali mereka yang
diberi taufik dan hidayah untuk beriman dan masuk ke dalam Islam secara total.
Jika
seorang kafir tidak menunaikan amanah beriman dan berislam yang Allah wajibkan,
maka tentu si kafir ini saat ia diberi amanah memimpin manusia, akan lebih
menyia-nyiakan amanah kepemimpinan itu.
Dengan
kata lain, jika hak Allah saja berupa ibadah dan ketaatan, tidak ditunaikan
oleh si kafir, maka tentunya hak-hak manusia akan ia lebih lalaikan!!
Mengangkat
seorang kafir sebagai pemimpin adalah musibah bagi manusia, sebagaimana halnya
mengangkat pemimpin beriman dan beramal sholih dari kalangan kaum muslimin
merupakan berkah dan nikmat yang teramat besar!
Allah
-Azza wa Jalla- mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya,
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ [الأعراف : 96]
"Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, maka pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat kami) itu. Maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya." (QS. Al-A'raaf :
96)
Mengangkat
seorang kafir atau non-muslim sebagai pemimpin atas kaum muslimin akan
menghasilkan buah buruk dan pahit berupa munculnya berbagai macam kerusakan dan
keburukan, disebabkan si kafir itu pasti akan keluar dari bimbingan Al-Qur'an
dan Sunnah yang berisi kebaikan, keberkahan, dan kemaslahatan hidup seluruh manusia.
Kapan
ia keluar dari rel wahyu, maka pasti akan tercipta berbagai macam petaka dan
musibah manusia, baik kecil, maupun besar, baik terasa atau tidak terasa, baik
terlihat atau tersembunyi.
======================================
Al-Allamah Abuth Thoyyib Shiddiq Hasan Khan Al-Kinnaujiy -rahimahullah- berkata,
" وأما من يمدح النصارى
، ويقول إنهم أهل العدل ، أو يحبّون العدل ، ويكثر ثناءهم في المجالس ، ويهين ذكر
السلطان للمسلمين ، وينسب إلى الكفار النّصيفة وعدم الظلم والجور ؛ فحكم المادح
أنه فاسق عاص مرتكب لكبيرة ؛ يجب عليه التوبة منها والندم عليها ؛ إذا كان مدحه
لذات الكفار من غير ملاحظة الكفر الذي فيهم . فإن مدحهم من حيث صفة الكفر فهو كافر
، لأنه مَدَح الكفر الذي ذمته جميع الشرائع
" .
"Adapun
orang yang memuji-muji kaum Nasrani (Kristen), dan berkata, "Sesungguhnya
mereka (orang-orang Kristen) adalah orang-orang yang adil (tidak curang), atau
mereka (orang Kristen) mencintai keadilan," serta sering memuji mereka
(orang Kristen) dalam berbagai majelis,
dan merendahkan sebutan Penguasa (yang muslim, pent.) kepada kaum muslimin
serta ia menyandarkan kepada orang-orang kafir itu sifat adil, tidak zalim, dan
tidak curang, maka hukumnya orang yang memuji-muji itu bahwa ia adalah
seorang yang fasik lagi durhaka serta melakukan dosa besar!! Wajib baginya
untuk bertobat darinya dan menyesal atasnya, jika pujiannya semata-mata kepada
diri orang-orang kafir, tanpa memandang kekafiran yang ada pada mereka.
Jika
ia (si pemuji) memuji-muji mereka dari sisi sifat kekafiran mereka, maka ia (si
pemuji) adalah kafir. Karena, ia (si pemuji) telah memuji-muji kekafiran yang
telah dicela oleh seluruh syariat." [Lihat
Al-Ibroh, (hal. 245)]
Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan -hafizhahullah- pernah ditanya tentang
memuji-muji kafir,
السلام
عليكم ورحمة الله وبركاته
هل مدح الكفار بما عندهم من العلم والتطور والنظام والعدل وغيرها من الأمور
هل مدح الكفار بما عندهم من العلم والتطور والنظام والعدل وغيرها من الأمور
هل
هذا من موالاة الكفار؟ جزاكم الله خيرا
"Assalamu
alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.
Apakah
memuji-muji orang kafir dalam sesuatu yang ada pada mereka berupa ilmu,
perkembangan (kemajuan), aturan dam keadilan dan lainnya berupa perkara-perkara
Apakah
ini termasuk loyalitas kepada kaum kafir?
Semoga
Allah membalasi anda dengan kebaikan."
Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan -hafizhahullah- menjawab,
نعم
هذا نوع موالاة للكفارواعجاب بالكفار، فلا تمدح الكفارولا تتظاهر بمدحهم ، وما
يقومون به من الاختراع ومن الصناعة هذا من تسخير الله لهم وشغلهم بالدنيا عن الدين
، هم اشتغلوا بالدنيا واتقنوها هم اشتغلوا بالدنيا واتقنوها (مَنْ كَانَ يُرِيدُ
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا
وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي
الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ (16) [هود : 15 ، 16]) ،
فهم
صناع ، مجرد صناع فقط وهم يقصدون مصالحهم ما هم يقصدون نفعنا ، يقصدون مصالحهم
ولذلك يبيعونها علينا بأغلى الأثمان ، ما هم يقصدون نفعنا إنما يقصدون نفع أنفسهم
. نعم
Jawab
:
"Ya,
termasul bentuk loyalitas kepada orang-orang kafir dan berbangga-bangga dengan
orang-orang kafir.
Janganlah
kamu memuji-muji orang-orang kafir!! dan jangan kamu mempertunjukkan pujian
bagi mereka dan apa yang mereka lakukan berupa penemuan baru dan kerajinan
(perindustrian).
Ini
semua termasuk bentuk (dimana) Allah memanfaatkan mereka dan membuat mereka
sibuk dengan dunia dari akhiratnya.
Mereka
menyibukkan diri dengan dunia dan
menguasainya. "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan
perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di
dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di
akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang
telah mereka kerjakan." (QS. Huud : 15-16)
Jadi,
mereka (kaum kafir) adalah ahli industri, sekedar ahli industri saja. Mereka
menginginkan kemaslahatan diri mereka. Tidaklah mereka menginginkan kemanfaatan
bagi kita.
Mereka
menginginkan kemaslahatan diri mereka. Karena itu, mereka menjualnya kepada
kita dengan harga yang mahal.
Tidaklah
mereka menginginkan kemanfaatan bagi kita.Tapi mereka menginginkan kemanfaatan
bagi diri mereka." [https://goo.gl/mNf05W]
Dalam
momen lain, Syaikh Sholih bin Abdillah
Al-Fauzan -hafizhahullah-
pernah ditanya tentang hukum memuji-muji kaum kafir karena keadilan,
keteraturan mereka, dan kuatnya mereka menjaga atau menghargai waktu.
Kemudian
beliau memberi jawaban,
ما
يمدح الكفار ، لأنك إذا مدحتهم أدخلت تعظيمهم على الناس ، فلا تمدحهم!
"Orang-orang
kafir tidak boleh dipuji-puji. Karena, kalau kamu memuji-muji mereka, maka kamu
akan memasukkan rasa pengagungan terhadap mereka kepada manusia. Jadi, jangan
kamu memuji-muji mereka!" [https://goo.gl/l2pKbH]
Alangkah
hinanya seorang muslim yang memuji-muji kaum kafir, karena mengharap, tertipu
dan terpukau dengan dunia mereka, tanpa ia melihat kepada kerusakan agama dan
akhirat mereka.
Allah
-Azza wa Jalla- mengingatkan kita akan hal ini dalam dua ayat berikut,
لَا
يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيلٌ
ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (197) [آل عمران : 196 ، 197]
"Janganlah
sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam
negeri[5].
Itu
hanyalah kesenangan sementara, Kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam;
dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya." (QS. Ali Imraan : 196-197)
Kemajuan
dunia, kesenangan dan kebahagiaan kaum kafir hanyalah sebentar. Adapun orang yang
beriman dan bertaqwa, -insya Allah- surga menunggu mereka.
Demikian
tulisan ini kami turunkan agar menjadi nasihat bagi kaum seluruh kaum muslimin Indonesia .
Sebab, belakangan ini kami melihat ada sebagian kaum muslimin yang
terang-terangan memuji, membela, menjilat, bahkan siap mati membela Ahok, Hary
Tanoesodibjo, dll dari kalangan orang-orang kafir.
Semoga
dengan tulisan ini, mereka terpanggil untuk kembali kepada pangkuan wahyu.
amiin…
[1] Maksudnya: membenarkan kedatangan
seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu
nabi Isa a.s.
[2] disebut tiupan dari Allah Karena
tiupan itu berasal dari perintah Allah.
[3] yaitu
malaikat yang berada di sekitar Arsy seperti Jibril, Mikail, Israfil dan
malaikat-malaikat yang setingkat dengan mereka.
[4] Wafat
disini maknanya adalah diangkat ke langit, bukan mati, sebagaimana yang
dijelaskan para ahli tafsir. Sebab, para ulama telah sepakat bahwa Nabi Isa
saat diangkat ke langit dalam keadaan hidup sampai diturunkannya beliau untuk
membunuh Dajjal yang akan muncul pada akhir zaman. [Lihat Zadul Masir (2/291)]
Diwafatkan, artinya :
"disempurnakan masanya di dunia". Orang yang dicabut ajalnya,
diwafatkan, karena masa hidupnya di dunia telah cukup dan sempurna sebagaimana
yang telah ditentukan oleh Allah.
Demikian pula Nabi Isa saat diangkat ke langit, maka beliau
diwafatkan, yakni sempurna masa hidupnya di dunia sampai ia diturunkan ke dunia
pada akhir zaman. Wallahu a'lam.
[5] Yakni: kelancaran dan kemajuan
dalam perdagangan dan perusahaan mereka.

Komentar
Posting Komentar