Renungan Jiwa tentang Besarnya Dosa Mengganggu & Menyakiti Tetangga
Renungan Jiwa tentang
Besarnya Dosa Mengganggu & Menyakiti Tetangga
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-
Tetangga
yang hidup berdampingan rumah dengan kita termasuk orang-orang yang dekat
dengan kita. Bahkan terkadang mereka lebih dekat lagi dibandingkan kerabat kita
sendiri!!
Mereka
memiliki perhatian yang lebih besar daripada kerabat kita sampai kadang
mereka bagaikan saudara kandung atau orang tua sendiri.
Mereka
mengetahui keadaan dan seluk-beluk rumah kita, baik yang masuk ke rumah, maupun
yang keluar.
Intinya, mereka tahu persis tentang segala yang terjadi pada
rumah kita. Itulah tetangga!!
Tetangga
juga merupakan orang kepercayaan kita, tumpuan harapan kita dalam mengerjakan
sebagian perkara yang kita hadapi.
Selain
itu, mereka punya kehormatan dan
kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang tinggal jauh dari
kita.
Itulah
sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- amat berang bila mendengarkan
seseorang mengganggu tetangganya.
Dari Abu
Syuraih -radhiyallahu anhu- berkata bahwa Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
واللهِ
لا يؤمنُ، واللهِ لا يؤمنُ، واللهِ لا يؤمِنُ، قِيْلَ: ومن يا رسولَ اللهِ ؟ قال:
الذي لاَ يَأْمَنُ جَارُه بوائقَه
"Demi
Allah, tak akan beriman. Demi Allah, tak akan beriman. Demi Allah, tak akan
beriman". Beliau ditanyai, "Siapakah dia wahai Rasulullah?"
Beliau bersabda, "Orang yang tetangganya tak merasa aman dari
keburukan-keburukannya". [HR.
Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 5670)]
Ini
adalah kecaman yang amat keras bagi orang yang mengganggu tetangga. Orangnya
dicap sebagai "orang yang tak sempurna imannya", yakni ia tak
akan mampu mencapai derajat iman yang sempurna sepanjang ia masih suka
mengganggu tetangga dan tak mau bertobat dari kesalahan itu!!
Al-Imam
Ibnu Baththol Al-Qurthubiy -rahimahullah-
berkata,
وهذا
الحديث شديد فى الحض على ترك أذى الجار ، الا ترى أنه عليه السلام أكد ذلك بقسمه
ثلاث مرات أنه لاؤمن من لايؤمن جاره بوائقه ، ومعناه أنه لايؤمن الإيمان الكامل ،
ولا يبلغ أعلى درجاته من كان بهذه الصفة ، فينبغى لكل مؤمن أن يحذر أذى جاره ويرغب
أن يكون فى أعلى درجات الإيمان ، وينتهى عما نهاه الله ورسوله عنه ، ويرغب فيما
رضياه وحضا العباد عليه . وقال أبو حازم المنزى : كان اهل الجاهلية أبر بالجار
منكم ((شرح صحيح البخارى ـ لابن بطال - (9 / 222))
"Hadits
ini amat menganjurkan untuk tidak mengganggu tetangga. Tidakkah anda melihat
bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menekankan hal itu dengan bersumpah
sebanyak tiga kali bahwa tidaklah beriman orang yang tetangganya tidak
merasa aman dari keburukan-keburukannya. Maknanya, ia tidak beriman dengan
keimanan yang sempurna.
Orang
yang demikian ini sifatnya tak akan mencapai derajat yang paling tinggi. Karena
itu, sepantasnya bagi setiap mukmin waspada dari mengganggu tetangganya, dan
(hendaknya) ia berkeinginan untuk berada pada tingkatan iman yang paling tinggi
serta berhenti dari sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya larang, dan (sebaliknya) mencintai
sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya ridhoi dan menganjurkan para hamba untuk
melakukannya.
Abu
Hazim Al-Madaniy berkata,
"Dahulu orang-orang jahiliah adalah orang-orang yang amat berbuat
kebajikan kepada tetangganya dibandingkan kalian…". Selesai ucapan Ibnu Baththol -rahimahullah-. [Lihat
Syarh Shohih Al-Bukhoriy (9/222) karya Al-Imam Ali bin Kholaf
Ibnu Baththol Al-Andalusiy, cet. Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh , 1423 H]
Bayangkan
saja beratnya ancaman ini!! Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
menyatakan bahwa pelakunya tak akan mencapai puncak keimanan.
Syaikh
Faishol bin Abdil Aziz Alu Mubarok -rahimahullah-
berkata,
"Di
dalam hadits ini terdapat ancaman yang amat keras bagi orang membuat
tetangganya merasa takut ataukah ia mengkianatinya dengan merusak keluarga dan
harta bendanya". [Lihat Tathriz
Ar-Riyadh (1/221)]
Itulah
sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa
mengganggu dan menyakiti tetangga amatlah besar dosanya.
Sebab
hal itu akan merusak hubungan dan menyakiti hati para tetangga, bahkan boleh
jadi menghancurkan kehidupan mereka!! Belum lagi, dosa menyakiti hati tetangga
merupakan maksiat dan kedurhakaan kepada Allah -Tabaroka wa Ta'ala-.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لَأَنْ
يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ
بِامْرَأَةِ جَارِهِ ولَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ،
أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ
"Seseorang
berzina dengan 10 orang perempuan adalah lebih ringan baginya dibandingkan ia
berzina dengan istri tetangganya. Seseorang mencuri dari 10 rumah adalah lebih
ringan baginya dibandingkan ia mencuri dari seorang tetangganya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (6/8), Al-Bukhoriy
dalam Al-Adab Al-Mufrod (no. 103), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir
(no. 605). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 65)]
Al-Imam
Abdur Rahman Ibnul Jawziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-
berkata menjelaskan alasan dosa mengganggu tetangga lebih besar dibandingkan
selainnya,
وإنما
كان هذا؛ لأنه يضم إلى معصية الله عز وجل انتهاك حق الجار ((صيد الخاطر - (1 / 293))
"Hanyalah
demikian ini halnya. Karena, melanggar hak tetangga bergabung bersamanya
kedurhakaan kepada Allah -Azza wa Jalla-". [Lihat Shoidul Khothir (hal. 293), cet.
Darul Qolam, 1425 H]
Bekal
dan teman safar akan membantu kita dalam mencapai tujuan yang kita inginkan.
Seseorang
dalam safarnya haruslah menjaga perasaan dan hajat teman safarnya serta tidak menyakitinya
agar perjalanan nyaman dan selamat sampai ke tujuan. Ia bahagia dan kita pun
bahagia!
Jika
tidak, maka ia akan sampai dalam keadaan capek sekali, bahkan boleh jadi akan
celaka dan tidak sampai ke tujuan atau tersesat!! Betapa banyak tetangga sial
nan buruk membuat tetangga yang dulunya baik dan sholih. Namun akibat keburukan
si tetangga sial ini, akhirnya saudara seperjalanannya dalam kehidupan dunia
ini semakin jauh darinya dan pada gilirannya mmebenci si tetangga sial ini.
Tetangga
baik yang mestinya menjadi teman seiring dan sejalan dalam ber-ta'awun (tolong-menolong)
dalam kebaikan, justru ia musuhi dan sakiti.
Salah
satu TEMAN SAFAR dalam menuju akhirat adalah tetangga. Mereka inilah yang
harus kita pergauli dengan baik dalam hari-hari perjalanan kita di dunia menuju
akhirat. Jangan justru menyakiti dan mengganggu mereka, sehingga hal itu akan
menjauhkan kita dari kebaikan dan jalan-jalan surga.
Al-Imam As-Saffariniy Al-Hanbaliy
-rahimahullah- berkata,
وَمِنْ
أَرْكَانِ السَّفَرِ حُسْنُ الصُّحْبَةِ فِي مَنَازِلِ السَّفَرِ مَعَ
الْمُسَافِرِينَ . وَالْخَلْقُ كُلُّهُمْ مُسَافِرُونَ يَسِيرُ بِهِمْ الْعُمْرُ
سَيْرَ السَّفِينَةِ بِرَاكِبِهَا فِي الْبَحْرِ . وَأَقَلُّ دَرَجَاتِ حُسْنِ
الصُّحْبَةِ كَفُّ الْأَذَى عَنْهُمْ ، وَهَذَا وَاجِبٌ ((غذاء الألباب في شرح
منظومة الآداب - (1 / 361))
"Diantara
rukun-rukun safar (menuju akhirat), baiknya perkawanan di dalam tempat-tempat
persinggahan saat safar bersama para musafir. Seluruh manusia adalah
musafir; umur membawa mereka seperti halnya perahu membawa penumpangnya di
lautan. Serendah-rendahnya tingkatan baiknya perkawanan (dalam safar
menuju akhirat) adalah menghindarkan gangguan dari mereka (yakni, dari para
musafir). Ini adalah wajib!!". [Lihat
Ghidzaa' Al-Albab Syarh Manzhumah Al-Adaab (1/278) karya Muhammad
bin Ahmad As-Saffariniy, dengan tahqiq Muhammad Abdul Aziz al-Kholidiy,
cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1423 H]
Jika
tetangga ibarat teman safar, maka tentunya mereka harus saling percaya, peduli, memperhatikan
dan mencintai tetangganya, bukan malah mengkhianatinya, membencinya, berburuk
sangka kepadanya atau merusak hati, jasad, atau kehidupannya!!
Suatu
realita yang tak terbayangkan bila –misalnya- tetangga kita mengkhianati
kita dalam urusan rumah tangga kita. Si tetangga buruk ini pun membawa lari
istri kita!! Na'udzu billahi min dzalik!!!
Coba
bayangkan bagaimana remuknya hati kita, galaunya pikiran kita, hancurnya
perasaan kita, kelamnya masa depan kita, bingungnya sikap kita, dan hilangnya
kehormatan kita!!!!
Oh,
hancur segalanya!! Semua harapan hancur, karena kekasih (yakni, istri) yang
selama ini menjadi orang yang paling kita sayangi dan cintai, guru bagi
anak-anak dan keluarga kita, tambatan hati kita yang menjadi penyejuk hati di
kala galau. Kini ia dihancurkan martabatnya oleh manusia setan dari kalangan
tetangga kita yang selama ini menjadi saudara, sahabat, dan kepercayaan kita.
Kini, tetangga ini berubah menjadi musuh dalam selimut, perusak dan
pengkhianat!!!
Alangkah
besarnya dosa si perusak rumah tangga ini. Lebih para lagi, bila si perusak ini
adalah saudara kita, saudara yang memutuskan tali kekeluargaan kita.
Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata,
ولا
بائقه أعظم من الزناء بامرأته فالزناء بمائة امرأة لا زوج لها أيسر عند الله من
الزناء بامرأة الجار فان كان الجار أخا له أو قريبا من أقاربه إنضم الى ذلك قطيعة
الرحم فيتضاعف الاثم فان كان الجار غائبا في طاعة الله كالصلاة وطلب العلم والجهاد
وتضاعف الاثم ((الجواب الكافي - (1 / 78))
"Tidak
ada kerusakan yang lebih besar dibandingkan berzina dengan istri tetangga. Berzina
dengan 100 orang wanita yang tidak memiliki suami, lebih ringan di sisi Allah dibandingkan
berzina dengan istri tetangga.
Jika
tetangga itu adalah saudara seseorang atau seorang diantara kerabatnya, maka
bergabung kepada dosa itu pemutusan tali silatur rahim. Karenanya, berlipat
gandalah dosanya.
Jika
tetangga itu pergi dalam rangka ketaatan kepada Allah, seperti sholat, mencari
ilmu, dan berjihad, maka dosa si perusak itu dilipatgandakan.
Jika
si istri adalah kerabat sang suami, maka bertambah lagi pemutusan tali silaturahimnya
si wanita itu (dari suaminya)". [Lihat
Al-Jawab Al-Kafi (5/217)]
Seorang
tetangga memiliki kehormatan dan kemuliaan di dalam Islam. Tak boleh seorang
muslim mengganggunya dengan ucapan, maupun perbuatan. Dilipatgandakannnya dosa
bagi orang yang menyakiti dan mengganggu tetangga, demi menjaga kehormatan mereka
dan kemuliaan mereka sehingga tidak hilang atau berkurang disebabkan ulah dan
perbuatan buruk si tetangga sial.
Syaikh Athiyyah Salim Al-Mishriy
-rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits di atas,
فلماذا
كانت السرقة من الجار أشد إثماً من السرقة من عشرة بيوت؟ وما الذي ضاعف الجرم في
تلك الجريمة؟ إنها حرمة الجار. ((دروس للشيخ عطية سالم - (27 / 13))
"Nah,
kenapa pencurian dari tetangga lebih besar dosanya dibandingkan mencuri dari 10
rumah lain. Apa yang menyebabkan berlipatgandanya dosa pada pelanggaran ini.
Semua itu karena kehormatan tetangga".
[Lihat Duruus li Asy-Syaikh 'Athiyyah Salim (27/13)-Syamilah]
"Menyakiti
tetangga dengan pergaulan yang buruk atau mengorek-orek aib mereka,
mencari-cari keburukan mereka, atau menyebarkan rahasia mereka, mengolok-olok
mereka, atau mengganggu mereka dengan suara tinggi lagi mengagetkan, membuang
sampah di depan mereka, atau berzina dengan istri mereka ataukah mencuri dari
rumah mereka. Semua ini lebih besar dosanya dibandingkan dosa yang kita
lakukan pada selain tetangga sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam-". [Lihat Darokaat An-Naar min Al-Kitab wa
Shohih Al-Akhbaar (hal. 52), karya Abu Abdil Malik Hatim bin
Asy-Syarbiniy Al-Atsariy]
Hendaknya
seorang muslim dalam bertetangga dengan muslim lainnya, menjadikan tetangganya
sebagai sebab imannya meningkat.
Ia
tumbuhkan di dalam hatinya semangat dalam mencintai kebaikan bagi saudaranya. Ia
senang melihat saudaranya berada dalam kebaikan, dan hatinya bergembira di saat
ia melihat mereka berbahagia.
Jika
ia melihat sebuah keburukan dan kekeliruan pada tetangganya, maka ia mencari
jalan terbaik dalam memperbaikinya, bukan malah menjadikan keburukannya menjadi
bahan gunjingan dan ghibah yang sedap di lidah, namun berbuah pahit di akhirat.
Seseorang
ketika hidup bertetangga, harus mengingat bahwa tetanggaku bukanlah seorang
nabi dan bukan pula malaikat yang tidak memiliki dosa dan kekurangan.
Sebagian
orang terkadang menyangka dan berasumsi bahwa tetangganya harus selamanya baik.
Kapan pun ia melihatnya buruk, maka ia kumpulkan keburukan-keburukannya, lalu
ia jadikan hal itu sebagai alasan dalam berbuat buruk kepada tetangganya.
Orang
seperti ini kadang tidak menyadari bahwa dirinya penuh dengan kekurangan. Ia
mengira dirinya adalah manusia sempurna yang tidak memiliki aib dan kekurangan.
Na'udzu billahi min dzalik.
Seorang
yang berakal akan selalu berpikir positif kepada para tetangganya, dan selalu
mengoreksi diri saat ia hidup bersama mereka, apalagi saat munculnya
gesekan-gesekan hidup. Ia koreksi dirinya,
"Sudah
baikkah pergaulan dan akhlakku kepada mereka?
Mereka
benci kepadaku, bukankah aku sebab ia benci?
Saat
aku membenci mereka, apakah tidak dosa?
Aku
berbuat buruk kepadanya, kemanakah suatu saat aku meminta pertolongan?
Jadi,
seorang tetangga yang berakal akan selalu mencari aib dirinya sendiri dan
senantiasa berbaik sangka kepada tetangganya dan mencari udzur tetangga dan
saudaranya.
Lain
halnya, apabila tetangga kita terang-terangan melakukan kemaksiatan dan
dosa-dosa serta berbangga dengannya, maka kita berulang kali berikan nasihat yang
terbaik kepadanya. Jika nasihat itu tidak berguna, dan kemaksiatannya dapat
mempengaruhi diri kita dan keluarga kita, maka kita batasi pergaulan dengannya,
sambil tetap memikirkan jalan terbaik baginya agar ia bisa berubah baik seperti
diri kita.
Karenanya,
seorang muslim hendaknya meminta kepada Allah agar diberi tetangga yang baik
dan dijauhkan dari tetangga yang buruk.
Abu Hurairah Ad-Dausiy -radhiyallahu
anhu- berkata,
كَانَ
مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ
مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ
يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ
مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا
وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
"Diantara
doa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-,
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ
الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ
عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ
رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
"Ya
Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dari istri yang membuatku beruban sebelum masa beruban,
dari anak yang menjadi tuan bagiku, dari harta yang menjadi siksaan atasku dan
dari kawan yang berbuat makar; matanya memandangiku, sedang hatinya
mengawasiku. Jika ia melihat kebaikan, maka ia tanam (sembunyikan) dan jika
melihat keburukan, maka ia menyebarkannya". [HR. Hannad dalam Az-Zuhd (no.
1038) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam Al-Awsath (no. 1339). Hadits
ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no.
3137)]
Hadits
ini merupakan lautan faedah yang memendam banyak mutiara hikmah yang
dapat kita gali. Itulah lentera wahyu yang memancarkan cahaya melalui lisan
Rasul dan manusia terbaik, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Di
dalam hadits ini Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengingatkan kita
tentang lima golonganmakhluk yang
harus diwaspadai, jangan sampai menjerumuskan kita ke dalam lembah kebinasaan.
Jika
seseorang salah langkah dalam memilih dan mencari hal-hal tetangga –misalnya-,
maka ia akan mendapatkan kesusahan hidup dan kesengsaraan di dunia dan boleh
jadi di akhirat.
Tetangga
yang buruk akan banyak menimbulkan masalah dan keburukan bagi saudaranya yang
lain.
Tetangga
buruk merupakan beban berat yang melebihi beratnya batu besar dan besi berat!!
Konon
kabarnya, Luqman Al-Hakim -rahimahullah- pernah berpesan
kepada anaknya,
يَا
بُنَيَّ حَمَلْتُ الْجَنْدَلَ وَالْحَدِيدَ وَكُلَّ شَيْءٍ ثَقِيلٍ، فَلَمْ أَجِدْ
شَيْئًا هُوَ أَثْقَلَ مِنْ جَارِ السَّوْءِ
"Wahai
anakku, aku telah memikul batu besar dan besi serta segala sesuatu yang
berat. Namun aku tak pernah memikul sesuatu yang lebih berat dibandingkan
tetangga yang buruk."[Atsar Riwayat Ibnu Mubarok dalam Az-Zuhd (no.
991), Ahmad dalam Az-Zuhd (hlm. 105), Al-Marwaziy dalam Al-Birr
wa Ash-Shilah (no. 225 & 261), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (no.
34296), Ibnu Abid-Dun-ya dalam Makarim Al-Aklahq (no.
351), dan Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (no.
4891)]
Tetangga
yang buruk merupakan musibah dunia, bahkan boleh jadi juga merupakan sebab
kesengsaraan akhirat kita selaku tetangganya, sebagaimana halnya tetangga baik
yang tidak pernah menyakiti dan mengganggu tetangganya merupakan sebab seorang
hamba mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat. Sebab, ia akan selalu menolong
dan membimbing kita kepada kemaslahatan dunia dan akhirat kita.
Dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqosh -radhiyallahu
anhu-, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
أربعٌ مِنَ السعادةِ : المرأةُ الصالحةُ والمسكنُ الواسعُ والجارُ الصالِحُ والمركبُ الهِنِيْءُ، وأربعٌ من الشقاوةِ : الجارُ السوءُ والمرأةُ السوْءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوْء
أربعٌ مِنَ السعادةِ : المرأةُ الصالحةُ والمسكنُ الواسعُ والجارُ الصالِحُ والمركبُ الهِنِيْءُ، وأربعٌ من الشقاوةِ : الجارُ السوءُ والمرأةُ السوْءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوْء
“Ada empat diantara
kebahagiaan : istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman.
Ada
empat kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang
buruk”.
[HR. Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 4032) dan Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (12/99). Sanad hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 282)]
[HR. Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 4032) dan Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (12/99). Sanad hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 282)]
أصل المادة من منشورات التوحيد التي قام بنشرها سابقا الأستاذ
عبد القادر أبو فائزة –حفظه الله المولى-، إصدار : 5 مارس 2013 م
|

Komentar
Posting Komentar