Rabu, 23 Mei 2018

Puasa dan Sholat Lail, Syiar Orang-orang Sholih




Puasa dan Sholat Lail, Syiar Orang-orang Sholih

oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
_hafizhahullah_

Orang sholih-sholih dahulu kala memiliki dua sifat yang selalu mereka jaga pada dirinya. Dua sifat itu adalah ash-sholah (sholat) dan ash-shiyam 'puasa'.

Dua sifat ini melekat pada diri mereka, seperti melekatnya pakaian pada diri seorang manusia.

Keduanya telah menjadi syiar, kebiasaan dan kesenangan mereka di dunia. Kemana pun dan kapanpun saatnya, sholat malam (tahajjud) dan puasa sunnah senantiasa menghiasi diri mereka.

Tentang qiyamullail (tahajjud) mereka, Allah -Tabaroka wa Ta'ala- abadikan di dalam Al-Qur'an Al-Karim.

Rasa takut terhadap huru-hara kiamat dan ngerinya siksa neraka, membuat orang-orang sholih bangkit di tengah malam untuk melaksanakan sholat lail (tahajjud), demi mencari rahmat dan keridhoan Allah -Tabaroka wa Ta'ala-.

Senin, 21 Mei 2018

Ancaman Mengerikan bagi Mereka yang Lancang Berbuka Puasa di Siang Hari Romadhon sebelum Matahari Tenggelam





oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-

Beberapa waktu yang lalu, masyarakat ramai memperbincangkan tentang kasus Ibu Saeni –semoga Allah memberinya hidayah- yang buka warung di siang hari di Bulan Romadhon, sehingga membuat para Satpol PP Serang, Banten, merasa geram.

Pasalnya, sudah ada PERDA pelarangan buka warung di siang hari selama Bulan Romadhon. Kemudian kasus ini menuai pro-kontra, sebagaimana dilansir oleh media elektronik 'detik.com'[1]

Kasus ini memanggil kami untuk menuangkan pena ilmu padanya sebagai sebuah renungan bagi kita dan sebagai tanggung jawab ilmiah yang harus kami tunaikan di hadapan Allah -Azza wa Jalla-

Para pembaca yang budiman, “seorang yang dikarunia akal sehat, seyogianya menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang utama dan membersihkan diri dari perilaku-perilaku yang buruk lagi rendah secara umum, dan terkhusus lagi di Bulan Romadhon.

Hendaknya ia tidak berbuka di siang hari Bulan Romadhon, tanpa ada udzur (alasan yang dibenarkan dalam syariat), sebagaimana halnya ia tidak menenggak khomer (minuman keras atau narkoba), tidak berzina, tidak meng-ghibah (menceritakan aib orang lain), serta tidak melakukan dosa apapun.

Jika ia tidak demikian, maka ia akan menjadi orang-orang yang terhalangi dari pahala, lagi terusir dari rahmat Allah Pencipta makhluk. Dosa-dosa mereka akan dilipatgandakan!!” [Lihat Irsyadul Haqq ila Dinil Haqq (8/367)]

Bulan Romadhon adalah bulan yang diberkahi oleh Allah -Tabaroka wa Ta'ala-. Para hamba mukmin diberi pertolongan oleh Allah -Azza wa Jalla- untuk bersemangat dalam memperbanyak dan mengumpulkan banyak amal sholih dan ketaatan di dalamnya dalam rangka taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah -Subhanahu wa Ta'ala-.

Bila disana ada sebagian orang yang tidak punya semangat dalam mengisi dan menghidupkan Romadhonnya dengan berbagai ketaatan dan jalan-jalan kebaikan (berupa sedekah, sholat tarwih, berdzikir kepada Allah, bersholawat, menuntut ilmu, dan berdoa kepada Allah, dan lain sebagainya), maka ini adalah tanda bahwa orang itu adalah orang yang merugi.

Lebih merugi lagi, orang yang menodai kesucian dan kemuliaan Romadhon dengan dosa-dosa besar.

Disinilah kita sayangkan adanya sekelompok manusia yang lancang berbuka di siang hari Bulan Romadhon.

Jumat, 18 Mei 2018

Fatwa Resmi Majelis Ulama Besar Kerajaan Saudi Arabia Tentang Gerakan Terorisme & Bom Bunuh Diri




Fatwa Resmi

Majelis Ulama Besar Kerajaan Saudi Arabia
Tentang Gerakan Terorisme & Bom Bunuh Diri

oleh : 
Ust. Abdul Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. 
_hafizhahullah_


Assalamu alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.

Para pembaca yang budiman, kali ini kami akan menurunkan sebuah Fatwa Ulama Besar Kerajaan Saudi Arabia yang menjadi rujukan muslim sedunia.

Fatwa ini terkait dengan aksi terorisme yang melanda Saudi Arabia berupa peledakan, perusakan fasilitas umum, peculikan, pembajakan, dan sederet aksi lainnya yang didalangi oleh para teroris.

Fatwa ini sengaja kami bawakan, agar kaum muslimin Indonesia mengerti bahwa ulama dunia telah lama menasihati umat ini agar jangan melakukan “aksi terorisme” yang mencoreng nama Islam dan melahirkan dampak negatif dan buruk bagi kaum muslimin secara khusus, dan manusia pada umumnya.

Selain itu, agar kita semua mengerti bahwa Saudi bukanlah pendukung terorisme, bahkan mereka adalah adalah negara terdepan melawan terorisme, dan Saudi sendiri pernah mengalami kerugian akibat aksi yang didalangi oleh para teroris yang menyusup ke dalam negeri mereka.

Kami juga turunkan fatwa itu agar kita menyadari bahwa jika Saudi saja yang merupakan pusat Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah juga tertimpa musibah aksi brutal kaum teroris, nah bagaimana lagi negeri lainnya yang jauh dari ilmu agama.

Semakin negeri itu jauh dari ilmu agama, maka besar kemungkinannya benih-benih terorisme berkembang pesat di dalamnya.

Semoga jawaban dan arahan para ulama dunia ini, akan memberikan solusi yang baik untuk negeri kita.

Terorisme harus diobati dengan ilmu dari para ulama. Karena, terorisme adalah buah dari kejahilan tentang agama dan kesalahpahaman terhadapnya.

Para pembaca yang budiman, berikut nash fatwa para ulama besar kita yang terhimpun dalam “Hai’ah Kibar Al-Ulama’” :

Rabu, 16 Mei 2018

Islam tidak Mengajarkan Terorisme kepada Pemeluknya



Islam
tidak Mengajarkan Terorisme
kepada Pemeluknya

oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
_hafizhahullah_

Kaum muslimin harus lebih cerdik menilai sebagian berita-berita yang disebarkan oleh para propagandis dari kalangan musuh-musuh Islam yang amat tertata halus dan rapi.

Berita-berita yang mereka sebarkan dengan memanfaatkan media sosial yang bekerja hanya sekedar mencari duit, tanpa memperhatikan kerugian dan bahaya yang ditimbulkan bagi Islam dan kaum muslimin.

Berita-berita berbahaya yang dihembuskan oleh mereka mengandung berbagai macam kebatilan, dan igauan dusta, dan terkadang berita itu dipotong, atau dibolak-balik, sehingga memberikan kesan buruk bagi Islam dan menyudutkan kaum muslimin.

Diantara usaha buruk para propagandis dari kalangan kaum kafir dalam menjatuhkan dan mendiskreditkan Islam, menyandarkan "TERORISME" kepada Islam.

Ini merupakan tuduhan terkeji bagi Islam sepanjang sejarah, khususnya belakangan ini. Sebuah tuduhan keji untuk menebar kebencian, fobia Islam, dan memusuhi Islam serta menyandarkan keburukan kepada Islam. Padahal Islam bersih dari semua tuduhan dan keburukan itu!!

Tuduhan busuk ini dihembuskan melalui media-media sosial merupakan usaha terencana dan halus dalam menjauhkan manusia dari Islam, dimana manusia pada hari-hari ini banyak yang masuk Islam dan simpati kepadanya.

Sebenarnya kalau kita mau jujur dan mau mengerti sedikit saja, maka sesungguhnya "terorisme" itu ada pada setiap tempat dan kaum, karena terorisme merupakan fenomena global yang mungkin ada pada setiap tempat dan kaum. 

Tidak ada suatu agama pun yang rela dituduh mengajarkan terorisme kepada umatnya, apalagi Islam.

Rabu, 09 Mei 2018

Masjid tidak akan pernah Bersatu dengan Kuburan dalam Islam




Masjid tidak akan pernah Bersatu dengan Kuburan 
dalam Islam

Oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-

Sebuah realita yang amat menyedihkan kita semua, banyaknya masjid yang dibangun oleh kaum muslimin, lalu dijadikan tempat untuk menguburkan mayat.

Bila anda berjalan-jalan di Sulawesi Selatan dan lainnya, maka mata anda akan banyak menyaksikan kubur di dalam lokasi masjid atau masjid di dalam kuburan.

Dengan kata lain, entah masjid lebih dahulu, lalu kubur berikutnya, atau kubur lebih dulu, lalu dibuat masjid setelahnya.

Perkara seperti ini adalah perkara yang terlarang! Karena, di dalam Islam, tidak boleh menyatukan kubur dan masjid dalam sebuah lokasi.

Terjadinya penyatuan masjid dan kubur, nanti terjadi setelah zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat. Perkara seperti ini bukanlah kebiasaan kaum muslimin, bahkan kebiasaan ahlul Kitab dan kaum penyembah makhluk.

Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبَيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
"Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashara yang menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)".[HR. Al-Bukhari (435) dan Muslim (531)]

Seorang ulama besar Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata,
"وَالْغَرَضُ مِنْهُ ذَمُّ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فِي اتِّخَاذِهِمْ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ." اهـ من فتح الباري لابن حجر (6/607)
"Tujuan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah mencela kaum Yahudi dan Nashoro, karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah". [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (6/607) karya Ibnu Hajar Al-Asqolaniy, dengan tahqiq Asy-Syibl, cet. Dar As-Salam, 1421 H]

Kamis, 03 Mei 2018

Polemik Qunut Shubuh




Polemik Qunut Shubuh

Oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhohulloh-

Qunut Shubuh adalah sebuah perkara yang sering menjadi bahan polemik dan khilaf di kalangan kaum muslimin sehingga ada masjid yang ber-qunut dan ada yang tidak qunut.

Kelompok yang ber-qunut pun menyalahkan yang tidak ber-qunut dan menganggapnya sebagai aliran sesat.

Akhirnya, terjadilah perpecahan yang dilatari oleh permasalahan qunut.

Terkadang ada diantara mereka, ada yang ekstrim dalam menyikapi saudaranya yang tidak ber-qunut dengan menyebutnya sebagai “orang sesat”!!

Sebenarnya, kalau mereka jujur mau mencari kebenaran, maka pasti mereka akan bertanya, “Manakah pendapat yang benar dan dikuatkan oleh dalil?”