Argumen-argumen Wahyu tentang Kebatilan Para Penyembah Makhluk
Argumen-argumen Wahyu
tentang Kebatilan Para Penyembah Makhluk
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-
Bila pikiran anda melancong, dan
menerawang ke dunia penyembahan dan peribadahan umat manusia,
maka anda akan menemukan banyak keanehan.
Disana anda akan melihat semua penganut
agama selain
Islam; tak ada diantara mereka, kecuali memperhambakan diri dan menyembah
makhluk!
Pemeluk Buddha menyembah Sidarta
Gautama. Penganut Hindu menyembah Brahma, Siwa, Krisna, dan lainnya.
Konghuchu menyembah pendirinya. Yahudi Menyembah Uzair, manusia
yang disangka oleh mereka sebagai anak Allah. Nasrani (Kristen) menyembah Nabi Isa –shallallahu alaihi
wa sallam-, dan para pendeta atau
orang-orang sholih diantara mereka.
Pemeluk agama Shinto
menyembah Dewa Matahari. Kaum paganisme lainnya
(seperti kafir Quraisy dan lainnya) menyembah arca-arca, rumah, pepohonan, bebatuan, dan orang sholih.
Masih banyak lagi agama-agama lain
yang menyembah makhluk, seperti ada yang menyembah keris, malaikat, jin, setan,
Nyi Roro Kidul, Wali Songo, Syaikh Yusuf, dan lainnya diantara manusia yang
dikultuskan oleh orang-orang jahil.
Pendek kata, tak ada agama di dunia
ini, kecuali ia menyembah makhluk
dengan berbagai macam dan warnanya!
Adapun Islam yang dahulu dibawa oleh
Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- dan terwariskan sampai hari ini,
maka Islam mengajarkan umatnya agar mereka hanya menyembah Allah -Ta'ala-,
Penguasa langit dan bumi.
Allah -Tabaroka wa Ta'ala-
berfirman,
{أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ
شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (191) وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا
أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ } [الأعراف: 191-192]
"Apakah mereka mempersekutukan (Allah) dengan sesuatu
(sembahan) yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan sembahan-sembahan
itu sendiri diciptakan (oleh Allah). Dan
berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada
penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak
dapat memberi pertolongan". (QS. Al-A'raaf : 191-192)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah-
berkata,
"هَذَا إِنْكَارٌ مِنَ اللَّهِ عَلَى الْمُشْرِكِينَ
الَّذِينَ عَبَدُوا مَعَ اللَّهِ غَيْرَهُ، مِنَ الْأَنْدَادِ وَالْأَصْنَامِ
وَالْأَوْثَانِ، وَهِيَ مَخْلُوقَةٌ لِلَّهِ مَرْبُوبَةٌ مَصْنُوعَةٌ، لَا
تَمْلِكُ شَيْئًا مِنَ الْأَمْرِ، وَلَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَا تَنْصُرُ
وَلَا تَنْتَصِرُ لِعَابِدِيهَا، بَلْ هِيَ جَمَادٌ لَا تَتَحَرَّكُ وَلَا
تَسْمَعُ وَلَا تُبْصِرُ، وَعَابِدُوهَا أَكَمُلُ مِنْهَا بِسَمْعِهِمْ
وَبَصَرِهِمْ وَبَطْشِهِم." اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 529)
"Ini merupakan pengingkaran dari Allah kepada kaum
musyrikin yang menyembah selain Allah bersama-Nya berupa tandingan-tandingan,
arca-arca, dan berhala-berhala.Padahal semua itu adalah makhluk ciptaan Allah,
yang dikuasai dan diciptakan (oleh Allah). Sesembahan itu tidak memiliki kekuasaan
untuk (menentukan) suatu urusan, tak mampu memberi bahaya, dan manfaat.
Sesembahan itu tak akan tertolong, dan tak akan menolong para penyembahnya.
Bahkan sesembahan itu merupakan benda mati yang tak dapat bergerak; tak dapat
mendengar dan melihat. Padahal para penyembahnya lebih sempurna dibandingkan
sesembahan itu sendiri dengan adanya pendengaran, penglihatan, dan hukuman
mereka". [Lihat Tafsir Ibn Katsir (3/529)]
Penyembahan kepada makhluk merupakan
kebatilan terbesar dan pelanggaran terhebat terhadap hak Allah -Azza wa
Jalla-.
Mestinya seluruh makhluk menyembah
Allah -Tabaroka wa Ta'ala-. Tapi malah ada sebagian besar umat manusia yang
memperhambakan dan menghinakan diri kepada makhluk yang lemah seperti dirinya,
bahkan boleh jadi lebih lemah dibandingkan diri penyembahnya!!
Seseorang jika ingin berpikir dan
mempelajari sifat-sifat kekurangan yang ada pada sesembahan kaum kafir dan
musyrikin, maka ia pasti akan menyatakan kebatilan agama kekafiran mereka.
Bukankah sesembahan mereka,
baik berupa makhluk hidup atau pun benda mati; semuanya tak berdaya menolong
para penyembahnya.
Sesembahan itu tak dapat mendengar
dan melihat para penyembahnya.
Anggaplah bahwa sesembahan mereka
dapat melihat dan mendengar para penyembahnya saat mengajukan dan memohon
segala hajatnya.
Namun ketahuilah
bahwa sesembahan batil itu tak dapat mengabulkan doa dan permohonan mereka. Yang mengabulkan doa dan memberi pertolongan bagi para
hamba, hanyalah Allah ‘Pemilik dan Penguasa alam semesta’!
Allah -Ta'ala- berfirman,
{وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ
دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (13) إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا
دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ
يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ (14)} [فاطر: 13، 14]
"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah
tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari biji korma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada
mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat
memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari
kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana
yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui (Allah)". (QS.
Faathir: 13-14)
Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan -hafizhahullah-
berkata dalam Syarh Kitab At-Tauhid,
"يُشترط في المدعُو ثلاثة شروط:
الأول:
أن يكون مالكاً لما يطلب منه.
الثاني:
أن يكون يسمع الداعي.
الثالث:
أن يكون يقدر على الإجابة.
وهذه
الأمور لا تتّفق إلاّ في الله سبحانه وتعالى، فإنه المالك، السميع، القادر على
الإجابة،
أما
هذه المعبودات فهي أولاً : فقيرة، ليس لها ملك. ثانياً: لا تسمع من ودعاها.
وثالثاً: لو سمعت فإنها لا تقدر على الإجابة." اهـ من إعانة المستفيد بشرح
كتاب التوحيد (1/ 207)
"Dipersyaratkan tiga syarat pada sesuatu yang diseru
(disembah). Pertama: Sesembahan itu memiliki sesuatu yang diminta
darinya. Kedua: Sesembahan itu mendengarkan si pemohon. Ketiga:
Sesembahan itu mampu mengabulkan permohonan. Semua perkara ini tak ada yang
cocok (pas), kecuali Allah -subhanahu wa ta'ala- . Karena Dia-lah Pemilik
segala sesuatu, Maha Mendengar, dan Maha Kuasa untuk mengabulkan permohonan.
Adapun sembahan-sembahan ini, maka pertama ia faqir, kedua: ia
tak mampu mendengarkan orang yang menyerunya. Ketiga: Andaikan ia mampu mendengar,
maka sesungguhnya ia tak mampu mengabulkan permohonan". [Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid (1/207), karya Syaikh Sholih
bin Abdillah bin Fauzan Al-Fauzan, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1423 H]
Kesempurnaan sifat, kekuasaan serta
keagungan Allah, lalu lemahnya kondisi para makhluk
merupakan argumen dan hujjah yang terkuat bahwa tak ada diantara makhluk yang
berhak dan layak diibadahi dan diseru,
serta dimintai pertolongan. Hanya Allah saja yang berhak disembah dan dimintai oleh jin, manusia, dan semua makhluk.
Syaikh Abdur Rahman bin Nashir
As-Sa'diy -rahimahullah-
berkata,
"فالمتفرد بالخلق والتدبير، والمتوحد في الكمال المطلق من
جميع الوجوه هو الذي لا يستحق العبادة سواه.
وكذلك
من براهين التوحيد معرفة أوصاف المخلوقين ومن عبد مع الله، فإن جميع ما يعبد من
دون الله من ملك وبشر ومن شجر وحجر وغيرها كلهم فقراء إلى الله، عاجزون ليس بيدهم
من النفع مثقال ذرة، ولا يخلقون شيئا وهم___يخلقون، ولا يملكون ضرا ولا نفعا ولا
موتا ولا حياة ولا نشورا، والله تعالى هو الخالق لكل مخلوق وهو الرازق لكل مرزوق،
المدبر للأمور كلها، الضار النافع، المعطي المانع، الذي بيده ملكوت كل شيء، وإليه
يرجع كل شيء، وله يقصد ويصمد ويخضع كل شيء.
فأي
برهان أعظم من هذا البرهان الذي أعاده الله وأبداه في مواضع كثيرة من كتابه وعلى
لسان رسوله، فهو دليل عقلي فطري كما أنه دليل سمعي نقلي على وجوب توحيد الله وأنه
الحق، وعلى بطلان الشرك.
وإذا
كان أشرف الخلق على الإطلاق لا يملك نفع أقرب الخلق إليه وأمسهم به رحما فكيف
بغيره؟ فتبا لمن أشرك بالله وساوى به أحدا من المخلوقين، لقد سلب عقله بعدما سلب
دينه.
فنعوت
الباري تعالى وصفات عظمته وتوحده في الكمال المطلق أكبر برهان على أنه لا يستحق
العبادة إلا هو. وكذلك صفات المخلوقات كلها، وما هي عليه من النقص والحاجة والفقر
إلى ربها في كل شئونها، وأنه ليس لها من الكمال، إلا ما أعطاها ربها من أعظم
البراهين على بطلان إلهية شيء منها.
فمن
عرف الله وعرف الخلق اضطرته هذه المعرفة إلى عبادة الله وحده، وإخلاص الدين له
والثناء عليه، وحمده وشكره بلسانه وقلبه وأركانه، وانصرف تعلقه بالمخلوقين خوفا
ورجاء وطمعا، والله أعلم." اهـ من القول السديد شرح كتاب التوحيد ط النفائس
(ص: 64_65)
"Sifat-sifat Allah Sang Maha Pencipta -Ta'ala-, sifat-sifat
keagungan-Nya, dan tunggalnya Allah dalam kesempurnaan muthlaq merupakan bukti
terbesar bahwa tak ada yang berhak diibadahi, selain Dia (Allah). Demikian
pula sifat-sifat makhluk seluruhnya, dan sesuatu yang ada padanya berupa
kekurangan, hajat, dan kebutuhan mereka kepada Penciptanya dalam seluruh
urusannya, dan bahwa makhluk-makhluk itu tak memiliki kesempurnaan, kecuali
sesuatu yang Penciptanya (Allah) berikan kepadanya. Semua ini merupakan bukti
terbesar tentang kebatilan penyembahan sesuatu diantara makhluk-makhluk itu.
Barangsiapa yang mengenal Allah, dan menggenal makhluk-Nya, maka pengenalan ini
akan mendorong dirinya untuk menyembah Allah saja, memurnikan ketaatan
kepada-Nya, memuji dan bersyukur kepada-Nya dengan lisan, hati, dan anggota
badannya, serta akan sirna ketergantungannya kepada makhluk, karena takut,
mengharap, dan menginginkan (sesuatu pada Allah), Wallahu A'lam". [Lihat Al-Qoul
As-Sadid (hlm. 64-65), karya As-Sa'diy, cet. Majmu’ah At-Tuhaf An-Nafa’is Ad-Dauliyyah, dengan tahqiq
Al-Murtadho Az-Zain Ahmad]
Di Tangan Allah-lah segala urusan
makhluk. Dia yang mengatur rejeki, ajal, jodoh, kehidupan para hambanya.
Oleh karenanya, minta dan mohonlah
hajat dan segala keperluanmu kepada Allah -Azza wa Jalla-.
Apa saja yang dibutuhkan oleh
makhluk, berupa hidayah, keselamatan, perlindungan dan kebaikan di dunia atau
di akhirat, maka janganlah meminta semua itu kepada makhluk, walaupun makhluk
itu adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah -Ta'ala-.
Mintalah kepada Allah yang Maha Kaya
lagi Maha Terpuji. Dia-lah Yang memiliki dan mengatur
alam semesta ini beserta hajat, ajal, rezeki mereka, serta hal-hal lainnya yang
terkait dengan dunia dan akhirat mereka.
Yang menentukan bahagia tidaknya
seorang hamba adalah Allah. Persoalan seorang
hamba mendapatkan hidayah ataukah tidak mendapatkan hidayah, maka urusannya kembali kepada
Allah, bukan kepada makhluk!
Lantaran
itu, mintalah hidayah kepada Allah agar hatimu ditegarkan di atas petunjuk
Al-Qur’an dan Sunnah. Itulah jalan lurus yang selalu kita minta kepada Allah
setiap kali kita membaca Suroh Al-Fatihah dalam sholat.
Allah
–tabaroka wa ta’ala- berfirman,
{لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ
شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ (128)}
[آل عمران: 128]
"Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.
(Bersabarlah) sampai Allah menerima taubat mereka, atau menyiksa mereka, karena
sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim". (QS. Ali
Imraan : 128)
Disebutkan dalam hadits-hadits
tentang sebab turunnya ayat ini bahwa Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa
sallam- berdoa kepada Allah agar membinasakan sebagian pemuka-pemuka
musyrikin, serta beberapa kabilah setelah perang Uhud dan peristiwa Sumur
Ma'unah.
[Lihat Al-Istii'aab fi Bayan
Al-Asbaab (1/290-292) karya Salim Al-Hilaliy & Muhammad bin Musa
Alu Nashr, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, 1425 H]
Lalu turunlah ayat ini sebagai
teguran bagi Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam
sebuah hadits dari Anas -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ فَجَعَلَ يَسْلُتُ
الدَّمَ عَنْهُ وَيَقُولُ كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا
رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
:
(لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ)
"Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- gigi serinya
patah pada waktu perang Uhud, dan terluka kepalanya. Kemudian mulailah beliau
mengusap darah dari kepalanya seraya bersabda, "Bagaimana akan beruntung suatu
kaum yang melukai nabinya, dan mereka mematahkan gigi serinya. Padahal nabi itu
mengajak mereka kepada (agama) Allah. Kemudian Allah -Azza wa Jalla- menurunkan
ayat (kemudian beliau menyebutkan ayat di atas)".[HR. Muslim dalam Kitab
Al-Jihad (no. 4621)]
Dari Abdullah
bin Umar -radhiyallahu anhuma-,
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا
رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ الْفَجْرِ
يَقُولُ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا بَعْدَ مَا يَقُولُ
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ:
({لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ
يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُون} [آل عمران: 128])
"Bahwa ia pernah mendengar Rasulullah -Shollallahu alaihi
wa sallam-; apabila beliau mengangkat kepalanya dari raka'at terakhir pada sholat
Shubuh, maka beliau berdoa, "Ya Allah, Laknatlah fulan, fulan, dan
fulan", setelah beliau mengucapkan, "Sami'allahu liman hamidah,
rabbana wa lakal hamdu". Lalu Allah menurunkan ayat, (lalu Anas
menyebutkan ayat di atas)". [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Maghozi (no.
4069)]
Urusan makhluk, seperti memberikan
hidayah kepada makhluk; semuanya kembali kepada Allah –azza
wa jalla-.
Nabi -Shollallahu alaihi wa
sallam- saja tak mampu memberikan hidayah (taufiq) kepada mereka. Beliau hanya mampu memberikan bimbingan berupa ilmu
kepada mereka. Adapun hidayah taufiq, maka itu hanyalah di Tangan Allah –tabaroka
wa ta’ala-.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata usai
menjelaskan hal ini,
"فإذا كان الأمر كذلك؟ فما بالك بمن سواه؟ فليس لهم من الأمر
شيء" كالأصنام، والأوثان، والأولياء، والأنبياء، فالأمر كله لله وحده".
اهـ من القول المفيد على كتاب التوحيد (1/ 290)
"Jika permasalahannya demikian, maka bagaimanakah pandangan
kalian tentang selain beliau (Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam-)? Maka tak
ada campur tangan dalam urusan makhluk bagi siapa saja, seperti arca-arca,
berhala-berhala, para wali, dan para nabi. Urusan makhluk semuanya kembali
kepada Allah saja". [Lihat Al-Qoul Al-Mufid
(1/290) karya Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin, cet. Dar Ibnil Jauziy, 1424 H]
Jadi, Nabi -Shollallahu alaihi wa
sallam- tak punya campur tangan dalam urusan makhluk, seperti memberi hidayah,
menyelamatkan manusia dari siksa neraka, atau memasukkan mereka ke dalam surga.
Semua ini adalah urusan Allah!
Oleh
karenanya, Nabi -Shollallahu
alaihi wa sallam- pernah mendakwahi kerabatnya dan mengabarkan kepada
mereka bahwa beliau tak mampu menolong dan menyelamatkan mereka di hari kiamat,
jika mereka berbuat syirik.
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu
anhu- berkata,
قَامَ رَسُولُ اللَّهِ _صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_ حِينَ أَنْزَلَ
اللَّهُ _عَزَّ وَجَلَّ_ :
({وَأَنْذِرْ
عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ } [الشعراء: 214])،
قَالَ: يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا- اشْتَرُوا
أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا, يَا بَنِي عَبْدِ
مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا, يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ
الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا, وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ
رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا, وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ
مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي, لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ
شَيْئًا
"Rasulullah -Shollallahu alaihi
wa sallam- bangkit ketika Allah -Azza wa Jalla- menurunkan ayat (yang artinya),
"Dan berilah peringatan kepada
kerabat-kerabatmu yang terdekat". (QS. Asy-Syu'araa : 214),
seraya beliau bersabda,
"Wahai orang-orang Quraisy
–atau kalimat semisal itu-, belilah (bebaskanlah)
diri kalian dari (siksa) Allah. Aku tak mampu memberikan manfaat (pertolongan)
bagi kalian dari (siksa) Allah sedikitpun. Wahai Bani Abdi Manaf, aku
tak mampu memberikan manfaat (pertolongan) bagi kalian dari (siksa) Allah
sedikitpun. Wahai Abbas bin Abdil Muththolib, aku tak mampu memberikan
manfaat (pertolongan) bagimu dari (siksa) Allah sedikitpun. Wahai Shofiyyah,
Bibi Rasulullah, aku tak mampu memberikan manfaat (pertolongan) bagi kalian
dari (siksa) Allah sedikitpun. Wahai Fathimah Puteri Muhammad, mintalah
kepadaku sesuatu berupa hartaku, aku tak mampu memberikan manfaat (pertolongan)
bagi kalian dari (siksa) Allah sedikitpun". [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Washoyaa
(no. 2753), dan Muslim dalam Al-Iman (no. 503)]
Nabi -Shollallahu alaihi wa
sallam- menjelaskan kepada umatnya bahwa tak ada yang menyelamatkan mereka
dari siksa neraka, dan tak ada yang memasukkan mereka ke dalam surga, kecuali
Allah, sebagai rahmat dari-Nya. [Lihat Taisir Al-Aziz Al-Hamid
(hal. 207)]
Dari sini, tampaklah kebatilan para penipu yang menjanjikan kepada manusia
keselamatan dari siksa neraka dan kesempatan masuk surga. Si penipu itu berkata kepada pengikutnya, “Jamin
duniaku, niscaya aku jamin akhiratmu.”
Jelas
pernyataan ini keliru. Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- tidak mampu menyelamatkan keluarganya dari api
neraka atau memasukkan mereka ke dalam surga. Nah, apalagi si penipu ini! Jelas
ia lebih tidak mampu melakukan semua itu!!
Hadits ini juga membantah Ja'far Al-Barzanji
saat ia berkata dalam Qoshidah-nya (pada Du'a Al-Qiyam),
يَا بَشِيْرُ يَا نَذِيْرُ *** أَغِثْنِيْ
وَأَجِرْنِيْ
"Wahai Pemberi kabar gembira dan ancaman (yakni, Nabi
-Shollallahu alaihi wa sallam-), tolonglah aku di kala susah, dan lindungilah
aku"
Berdoa dan
meminta pertolongan di kala susah kepada Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam-
dalam perkara yang tidak mampu beliau lakukan, atau meminta perlindungan dari
marabahaya kepada Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- merupakan syirik
akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam dan di akhirat kelak ia akan
kekal dalam neraka.
………………………………….
Selesai kami edit ulang pada tanggal
15 Syawwal 1440 H, di Kota Wonomulyo, Kab. Polman, Sulbar. Wa shollallohu ala
Nabiyyina wa alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsan ila yaumid din.
.

Komentar
Posting Komentar