Pintu Tobat masih Terbuka untukmu
Pintu Tobat masih Terbuka untukmu
Penulis :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-
Romadhon telah lewat membawa kenangan yang banyak bagi
kaum muslimin. Secercah harapan terpatri dalam sanubari setiap insan yang
mencoba menggapai ridho ilahi.
Dari balik penghambaan dan penghinaan diri di hadapan
Allah Robb semesta alam, lahir sebuah cita dan rasa untuk menapaki jalan-jalan
yang disinari oleh lentera-lentera keimanan, ilmu, dan amal sholeh.
Gema takbir, tahmid, dan tahlil
menembus relung hati yang paling dalam; gembira, dan bangga dengan kebersaman
kaum muslimin di Hari Raya Ied itu.
Sang Khothib mulai menabur ilmu, dan menebar
hikmah. Kata demi kata menyeruak dalam kalbu setiap manusia. Tampak sebuah sosok nun jauh terdiam seribu bahasa,
menyesali, dan menangisi noda dan bercak hitam dari dosa yang ia lakukan dahulu.
Dia hanya bisa terdiam menangis sambil mendengar nasihat
dari seorang khothib. Segala kenangan pahit dari
kehidupan yang ternodai dengan kedurhakaan kepada Allah Sang Maha Pencipta
tiba-tiba muncul satu demi satu. Khotib itu seakan-akan berbicara kepadanya, "Kenapa
engkau dahulu lalai di masa lalumu…engkau lancang kepada Allah, tak mau
menundukkan wajah bersujud kepada-Nya…engkau merasa aman dari dosa sehingga
berani menenggak khomer…kenapa engkau mendurhakai orang tuamu, padahal dialah
merawatmu dengan penuh kasih. Lalu engkau balas dengan kedurhakaan. Segala
penderitaan, dan musibah, mereka lalui demi merawat dirimu. Kebaikan itu engkau
balas dengan kekejaman, kekasaran, ketidaksopanan, dan seterusnya. Usai sholat
ied ini engkau pulanglah kepada orang tuamu;
peluklah dan cium kedua tangannya dengan penuh sayang sambil meminta
maafnya".
Sosok manusia ini semakin membludak kesedihannya.
Butiran-butiran air mata penyesalan dan tobat menetes bak embun suci di pagi
hari membasahi bumi.
Dia melirik karena malu dilihat orang, ternyata
sekumpulan manusia pun menangis saat mendengar khotib. Sosok ini bertanya, "Adakah
pintu tobat bagiku?"
Sang Khothib ketika itu mengakhiri khutbahnya, "Pintu
tobat bagi orang-orang yang berdosa masih terbuka…".
Setelah itu, sang khotib pun mulai membawakan ayat-ayat suci, dan
kalam nabawi.
{يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ
يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ
تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ
آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ} [التحريم: 8]
"Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa
(taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan
orang-orang mukmin yang bersamanya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan
dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu.". (QS.
At-Tahrim : 8).
"Masihkah Ada
Pintu Tobat Bagiku?"
Pertanyaan ini juga pernah terlontar dari mulut seorang
bajingan durjana yang pernah melumuri kehidupannya dengan berbagai macam
maksiat.
Dia adalah pribadi yang biadab sampai ia telah
menumpahkan darah, dan membunuh 100 nyawa sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi
-Shallallahu 'alaihi wa sallam-
dalam sebuah hadits yang shohih.
Pembaca yang budiman, cerita dan kisah pembunuh 100 nyawa
tersebut, ada baiknya kami sajikan agar para pembaca bisa meneguk ibroh dari
lautan ilmu yang terdapat dalam kalam nabawi (sabda Nabi -Shallallahu
'alaihi wa sallam-).
Kisahnya, Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-
bersabda,
كَانَ
فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا, فَسَأَلَ
عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ, فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ , فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ
قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا فَهَلْ لَهْ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فَقَالَ: لاَ,
فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً, ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ,
فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ, فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ , فَهَلْ لَهُ
مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فَقَالَ: نَعَمْ, وَمَنْ يَحُوْلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ
؟ اِنْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا , فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُوْنَ
اللهَ, فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ, فَإِنَّهَا أَرْضُ
سُوْءٍ, فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيْقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ, فَاخْتَصَمَتْ
فِيْهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ, فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ
الرَّحْمَةِ : جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ, وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ
الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ, فَأَتَاهُ مَلَكٌ فِيْ صُوْرَةِ
آدَمِيٍّ, فَجَعَلُوْهُ حَكَمًا بَيْنَهُمْ, فَقَالَ: قِيْسُوْا مَا بَيْنَ اْلأَرْضَيْنِ
, فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ, فَقَاسُوْهُ فَوَجَدُوْهُ أَدْنَى
إِلَى اْلأَرْضِ الَّتِيْ أَرَادَ, فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ
"Dahulu
ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 nyawa. Dia bertanya
tentang orang yang paling berilmu di atas permukaan bumi.
Lalu
ditunjukkanlah seorang rahib (ahli ibadah). Kemudian ia pun datang kepada sang
rahib seraya mengatakan bahwa dirinya telah membunuh 99 nyawa. Apakah masih ada taubat baginya?
"Tidak
ada!!", tukas si rahib.
Akhirnya,
orang itu membunuh si rahib dan menyempurnakan (bilangan 99) dengan membunuh si
rahib menjadi 100 nyawa.
Kemudian
ia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu di atas pemukaan bumi. Lalu
ditunjukkan seorang yang berilmu (ulama'),
seraya menyatakan bahwa dirinya telah membunuh 100 nyawa, apakah masih ada tobat
baginya?
Orang
yang berilmu itu menyatakan bahwa siapakah yang menghalangi antara dirinya dengan
tobat?
"Berangkatlah
engkau ke negeri demikian dan demikian, karena disana ada sekelompok manusia
yang menyembah Allah -Ta'ala- . Sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah
engkau kembali lagi ke kampung halamanmu, karena ia adalah kampung yang jelek",
kata orang yang beilmu itu.
Orang
itu pun berangkat sampai di tengah perjalanan, ia didatangi oleh kematian. Kemudian
para malaikat rahmat, dan malaikat adzab (siksa) pun bertengkar tentang orang
itu.
Malaikat
rahmat berkata, "Dia (bekas pembunuh) ini telah datang dalam keadaan
bertaubat lagi menghadapkan hatinya kepada Allah -Ta'ala-".
Malaikat
adzab berkata, "Orang ini sama sekali belum mengamalkan suatu
kebaikan".
Lalu
mereka (para malaikat itu) pun didatangi oleh seorang malaikat dalam bentuk
seorang manusia. Mereka (para malaikat) pun menjadikannya sebagai hakim.
Malaikat
(yang menjadi hakim) berkata, "Ukurlah antara dua tempat itu; kemana saja
laki-laki lebih itu dekat, maka berarti ia kesitu". Mereka mengukurnya;
ternyata laki-laki itu lebih dekat ke negeri yang ia inginkan. Akhirnya
malaikat rahmat menggenggam (ruh)nya". [HR.
Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Anbiyaa', bab: Am Hasibta anna
Ashhaba Kahfi war Roqim (3283), Muslim dalam Kitab At-Taubah,
bab: Qobul Taubah Al-Qotil Wa in Katsuro qotluh (2766), Ibnu Majah dalam
Kitab Ad-Diyat, bab: Hal li Qotil Al-Mu'min Taubah (2622)]
Hadits ini adalah hadits yang shohih dari Nabi -Shallallahu
'alaihi wa sallam- ketika beliau menceritakan sebagian diantara
berita-berita gaib orang-orang Bani Isra'il.
Berita ini beliau terima melalui wahyu dari Allah –azza wa
jalla, bukan dari kitab Taurat, atau Injil.
Hadits ini banyak mengandung mutiara hikmah yang
terpancar dari wahyu Allah -Ta'ala- . Para ulama' telah mengeluarkan
hikmah, dan faedah-faedahnya dalam kitab-kitab hadits.
Di dalam hadits ini terdapat bimbingan bagi kita agar
seorang ketika ingin bertobat, maka hendaknya ia segera bertobat dan
meninggalkan kampung halamannya yang penuh dengan maksiat atau kekafiran,
karena dikhawatirkan ia akan kembali kepada kebiasaannya berupa maksiat atau
kekafiran yang pernah ia lakukan dahulu sebelum tobat.
Selain itu,
teman juga punya pengaruh besar dalam mengembalikan seseorang ke lembah
maksiat. Berapa banyak manusia yang dahulu mau bertaubat, bahkan sudah
bertaubat dari kebiasaannya, seperti zina, khomer, dan lainnya. Namun beberapa
saat kemudian ia kembali lagi kepada kebiasaannya yang buruk tersebut.
Oleh karena itu Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda,
الرَّجُلُ
عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ, فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
"Seorang
itu berada di atas jalan hidup (kebiasaan) temannya. Lantaran itu, hendaknya
seseorang diantara kalian memeperhatikan orang yang ia temani". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4833), dan
At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2378). Hadits ini di-hasan-kan oleh
Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Silsilah Al-Ahadits
Ash-Shohihah (927)]
Abu Hamid
-rahimahullah- berkata, "Menemani orang yang bersemangat akan membangkitkan
semangat. Menemani orang yang zuhud akan membuat kita zuhud terhadap dunia,
karena tabiat manusia tercipta untuk selalu menyerupai dan meneladani orang".
[Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy bi Syarh Jami' At-Tirmidziy (7/42),
cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah]
Jadi, seorang yang mau bertobat, atau sudah bertobat,
namun ia masih tetap bergaul dan bersahabat dengan teman-teman lamanya dari
kalangan ahli maksiat, maka yakin bahwa orang itu tak bisa bertobat dengan
benar. Kalaupun ia bisa bertobat, maka tobatnya tak akan nashuha (murni).
Al-Hafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata ketika mengomentari hadits
pembunuh 100 nyawa di atas, "Di dalam hadits ini terdapat keutamaan
berpindah dari kampung yang ia bermaksiat di dalamnya, karena sesuai dengan
pengalaman, orang seperti ini akan terkalahkan (terpengaruh), entah karena ia
teringat dengan perbuatan-perbuatannya yang lalu sebelum ia taubat, dan
terpengaruh dengannya, atau entah karena ada orang yang menolongnya kepada
maksiat, dan mendorongnya kepada hal itu. Oleh karena ini, pada akhir hadits
beliau bersabda, "…dan janganlah engkau kembali ke kampungmu, karena ia
adalah kampung yang jelek". Jadi, di dalamnya terdapat isyarat bahwa
seorang yang mau bertaubat seyogyanya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamanya
yang telah biasa ia lakukan dahulu di masa ia bermaksiat, dan berpindah darinya
seluruhnya". [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (6/517),
cet. Darul Ma'rifah]
Inilah jalan bagi orang yang mau bertobat. Seorang yang
mau taubat nasuha, ia harus meninggalkan maksiat, menyesali maksiatnya,
dan bertekad kuat untuk tidak kembali lagi kepadanya. Jika ia ada kaitan dengan
hak manusia, maka ia kembalikan, dan meminta maaf kepadanya. [Lihat Riyadhus
Sholihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin (hal. 17), karya
An-Nawawiy -rahimahullah-]
Taubat nashuha
(tobat yang murni dan sungguh-sungguh) tak mungkin akan tercapai dan
berkelanjutan, kecuali jika seseorang mau meninggalkan lingkungannya yang
rusak, lalu mencari lingkungan yang jauh dari perkara-perkara yang mendorong
dirinya terjatuh dalam maksiat.
Oleh karena itu, seorang dianjurkan untuk berangkat
mencari lingkungan orang-orang beriman, dan beramal sholeh yang terhiasi oleh
cahaya ilmu. Disana, ia bisa mendapatkan teman dari kalangan orang sholeh, dan
berilmu yang membantu dirinya untuk selalu taat, dan tegar dalam meninggalkan
maksiat.
"(Di
dalam hadits ini terkandung beberapa faedah, di antaranya,) disyari'atkan
berpindah dari kampung yang ia bermaksiat kepada Allah di dalamnya menuju
kepada negeri yang Allah tidak dimaksiati di dalamnya, atau penduduknya lebih
sedikit kejelekannya dibandingkan yang pertama. Seyogyanya bagi orang yang
bertaubat agar ia meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang ia biasa kerjakan di
masa ia senang bermaksiat, dan berubah, serta menyibukkan diri dengan selainnya.
Menemani orang yang berilmu agama, bertaqwa, dan sholeh akan sangat membantu untuk
taat kepada Allah, dan mengekang setan. Bersabarnya seseorang dalam usaha
mencari orang-orang yang sholeh merupakan dalil (tanda) yang menunjukkan tentang
benarnya kemauan seseorang dalam bertaubat kepada Allah". [Lihat Bahjah An-Nazhirin (1/62), cet. Dar
Ibnul Jauziy, 1422 H]
Jadi, seseorang yang tulus tobatnya akan tampak pada
dirinya tanda-tanda perubahan, dan usaha untuk berubah.
Oleh karena itu, seorang tak mungkin akan dikatakan jujur
dan tulus dalam bertobat, jika ia masih dalam kebiasaannya bermaksiat, dan
tidak ada usaha pada dirinya untuk meninggalkan teman-temannya lamanya yang
menjerumuskan dirinya dalam lembah maksiat.
Seorang tak cukup hanya mengucapkan, "Astaghfirullah"
(Aku memohon ampunan dosa kepada), lalu tak ada perubahan pada dirinya
untuk baik, dan tak mau meninggalkan teman-teman lamanya.
Terakhir, kami nasihatkan dengan firman Allah -Ta'ala-
,
{وَتُوبُوا
إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [النور:
31]
"Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung". (QS. An-Nuur:
31).

Komentar
Posting Komentar