Meraih Manisnya Akhlak
Meraih Manisnya Akhlak
oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
_hafizhohulloh_
Akhlaq
merupakan salah satu perkara yang dibawa dan didakwahkan oleh Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- di tengah umatnya.
Akhlak
banyak memberikan pengaruh kepada kaum musyrikin sampai banyak diantara mereka
yang masuk Islam karena melihat akhlaq Sang Nabi Pembawa Rahmat, Muhammad -Shallallahu
alaihi wa sallam-.
Masyarakat
Quraisy jahiliah adalah masyarakat yang menyembah makhluk, namun masih memiliki
akhlaq yang karimah (mulia) yang mereka warisi dari orang-orang sholih
sebelumnya.
Akhlaq
yang mereka pelihara dahulu, seperti: menjaga malu, amanah, melayani para tamu,
menjamu para jama'ah haji, menyambung silaturahmi, bersedekah, dan lainnya.
Ketika
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- datang menyelamatkan mereka dari
kubang kesyirikan, dan dari sebagian penyimpangan akhlak, maka Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- membawa risalah Islam berupa Al-Qur'an dan Sunnah yang
berisi akhlak yang amat sempurna lagi terpuji.
Dahulu
akhlak hanya dalam batasan sempit, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
memperluas cakupannya, sehingga mencakup akhlaq kepada Allah -Azza wa Jalla-
dan akhlak kepada makhluk.
Inilah
yang disinyalir oleh Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
إِنَّمَا
بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ
"Aku
hanyalah diutus untuk menyempurnakan makarimul akhlaq (akhlaq-akhlaq yang
mulia)". [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab
Al-Mufrod (273), Ahmad dalam Al-Musnad (2/381/no. 8939),
Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (10/191/no. 20571), Al-Hakim
dalam Al-Mustadrok alaa Ash Shohihain (4221). Hadits ini di-shohih-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (2349)]
Penampilan
seorang manusia ada dua macam :
(1) penampilan lahiriah dan
(2) penampilan batin.
Penampilan
lahiriah, seperti : ganteng, jelek, hitam,
putih, buta, melihat, dan lainnya.
Penampilan
batin, misalnya : malu, berani, pemurah,
dermawan, suka membantu, suka melayani hajat orang lain tanpa pamrih,
menyambung silaturahim.
Penampilan
batin inilah yang biasa disebut “AKHLAQ”.
Jadi,
akhlaq adalah penampilan batin yang dimiliki oleh seorang hamba dalam bermuamalah
dengan yang lain. Akhlaq biasa disebut dengan istilah "adab",
atau "suluk".
Al-Imam
Jamaluddin Al-Qosimiy -rahimahullah- menjelaskan
bahwa jika dari penampilan batin itu muncul perbuatan-perbuatan yang baik
menurut akal dan syari'at, maka penampilan itu disebut dengan "akhlaq
hasanah" (akhlaq yang baik) atau "akhlaq karimah"
(akhlaq yang mulia). [Lihat Jawami' Al-Adab fi Akhlaq
Al-Anjaab (hal. 138) yang dicetak dalam sebuah album kitab yang
berjudul "Rosa'il fil Akhlaq", cet. Dar Al-Bashiroh,
Mesir]
Allah
-Ta'ala- dan Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- ketika memuji
akhlaq di dalam Al-Qur'an dan hadits, maka yang dimaksud ialah AKHLAQ
KARIMAH.
Diantara
keutamaan akhlaq yang disebutkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa
sallam- :
1.
Akhlaq Karimah adalah Amalan Penduduk Surga
Kebaikan akhlaq seseorang merupakan
sebab ia dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Abu Hurairah -radhiyallahu
anhu- berkata,
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ ؟ فَقَالَ: تَقْوَى
اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
"Telah
ditanya Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- tentang kebanyakan sesuatu
yang memasukkan manusia ke dalam surga? Maka beliau bersabda, "Ketaqwaan
kepada Allah -Ta'ala-, dan kebaikan akhlaq". [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya
(2004), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4246). Hadits ini di-hasan-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 1723)]
Al-Imam Ath-Thibiy -rahimahullah-
berkata,
"Kebaikan akhlaq merupakan
isyarat kepada baiknya muamalah (pergaulan) dengan makhluk. Kedua perkara ini
(taqwa dan kebaikan akhlaq) merupakan dua sebab masuk surga". [Lihat Tuhfah
Al-Ahwadziy (6/132)]
2.
Akhlaq yang Baik adalah Sebab
yang Mendatangkan Cinta Allah Kepada Seorang Hamba.
Seorang yang ingin dicintai oleh
Allah, harus berusaha memperbaiki akhlaqnya.
Sebab semakin seorang berakhlaq,
maka berarti hati seorang hamba semakin baik, dan dekat kepada Allah -Ta'ala-.
Oleh karena itu, Nabi -shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
أَحَبُّ
عِبَادِاللهِ إِلَى اللهِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang
paling baik akhlaqnya diantara mereka". [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath
(471). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(no. 432)]
3. Akhlaq
yang Karimah adalah sebab Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-
Mencintai Seseorang
Jika akhlaq seseorang baik, maka ia bukan
hanya dicintai Allah, bahkan juga akan dicintai oleh Rasulullah -shallallahu
alaihi wa sallam-, dan menjadi orang yang terdekat kepada beliau.
Nabi -shallallahu alaihi wa
sallam- bersabda,
إِنَّ
مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرِبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ
أَخْلاَقًا
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai diantara kalian dan
paling dekat tempatnya kepadaku di hari kiamat adalah orang yang bagus
akhlaqnya". [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2018). Hadits ini di-shohih-kan
oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 791)]
Jadi, seorang yang ingin dekat
kepada Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam-, maka harus berusaha
memperbaiki akhlaqnya.
4.
Akhlaq yang Karimah
adalah Sesuatu yang Paling Berat Timbangannya pada Hari Kiamat
Akhlak karimah adalah bagian dari
amal sholeh yang dikerjakan oleh seorang hamba.
Akhlaq yang karimah akan diberikan
balasan yang banyak oleh Allah -Ta'ala-, karena ia terpancar dari
keimanan yang kuat.
Nabi Muhammad -shallallahu alaihi
wa sallam- mengabarkan hal itu dalam sabdanya,
مَا
مِنْ شيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
"Tidak ada sesuatu dalam mizan (timbangan) yang lebih berat
daripada akhlaq yang baik". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4799).
Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(no. 876)]
Jadi, akhlaq yang baik akan
mendapatkan balasan yang banyak bagi orang yang berhias diri dengan akhlaq
karimah.
Faedah :
Di dalam hadits ini terdapat dalil
yang menetapkan aqidah ahlus Sunnah bahwa mizan (timbangan) adalah
sesuatu yang memiliki hakikat dan bentuk.
Al-Allamah Syaikh Mar'iy Al-Karmiy -rahimahullah-
berkata, "Aqidah yang benar di sisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa yang
dimaksud dengan "mizan" (timbangan) adalah mizan yang hakiki
sebagaimana akan datang (penjelasannya)". [Lihat Tahqiq
Al-Burhan fi Itsbat Haqiqoh Al-Mizan (hal. 24)]
Pengingkaran terhadap keberadaan
mizan merupakan aqidah sekte sesat Jahmiyyah, Qodariyyah, suatu kaum dari
kalangan pendahulu sekte sesat Mu'tazilah yang biasa digelari dengan sekte “Al-Wazniyyah”.
5. Akhlaq
Karimah melipatgandakan pahala, dan balasan kebaikan.
Seseorang yang memiliki akhlaq
karimah akan mendapatkan keutamaan yang banyak di sisi Allah -Ta'ala- .
Diantara keutamaan itu, Allah akan
melipatgandakan pahalanya, sehingga ia bisa mengejar derajat orang yang suka
mengerjakan sholat malam, dan suka berpuasa di siang hari.
Nabi -shallallahu alaihi wa
sallam- bersabda,
إِنَّ
الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَّائِمِ النَّهَارِ
"Sesungguhnya seseorang -dengan kebaikan akhlaqnya- dapat
mengejar derajat orang yang mengerjakan sholat malam, dan puasa di siang
hari". [HR. Abu Dawud
dalam Sunan-nya (4798). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy
dalam Ash-Shohihah (795)]
Ulama Negeri India, Al-Imam Syamsul
Haqq Al-Azhim Abadi -rahimahullah- berkata,
"Pemilik akhlak yang baik
hanyalah diberi keutamaan agung seperti ini, karena orang yang berpuasa dan
yang sholat malam, keduanya menghadapi jiwanya dalam menyelisihi hawa nafsunya.
Adapun orang yang baik akhlaknya kepada manusia –di samping adanya perbedaan
tabiat dan akhlak mereka-, maka ia seakan-akan menghadapi jiwa yang banyak.
Lantaran itu, ia meraih sesuatu yang diraih oleh orang yang berpuasa lagi
melaksanakan sholat malam. Jadi, keduanya sama derajatnya, bahkan boleh jadi
orang yang baik akhlaqnya melebihinya".[Lihat Aunul Ma'bud (10/320)]
6.
Akhlak Karimah adalah
sebaik-sebaik Amalan Para Hamba
Akhlak Karimah merupakan
bekal yang terbaik, dan amalan yang tidak ada tandingannya di hadapan Allah –Azza
wa Jalla-.
Nabi -shallallahu alaihi wa
sallam- bersabda,
"Wahai Abu Dzarr, tidakkah
engkau mau aku tunjukkan kepadamu tentang dua sifat, keduanya lebih ringan di
punggung, dan lebih berat di Mizan (timbangan)".
Abu Dzarr berkata, "Aku mau,
wahai Rasulullah".
Beliau bersabda,
عَلَيْكَ
بِحُسْنِ الْخُلُقِ وَطُوْلِ الصَّمْتِ, فَوَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, مَا
عَمَلُ الْخَلاَئِقِ بِمِثْلِهِمَا
"Lazimilah akhlak yang baik, dan diam yang panjang. Demi
Allah Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidaklah ada amalan para makhluk
yang menandingi keduanya". [HR. Ibnu Abid Dunya dalam Kitab Ash-Shomti
(112 & 554). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(1938)]
Jadi, seorang yang ingin mendapatkan
kebaikan yang tiada tandingannya, maka hendaknya ia melazimi kedua hal itu :
* akhlak yang baik, dan
* diam yang panjang (banyak diam).
Semua ini tak mungkin akan terjadi,
kecuali karena kuatnya pengaruh iman yang bercokol dalam jiwa.
7.
Akhlak Karimah Menambah
Umur, dan Memperbaiki Negeri
Jika seorang ingin dipanjangkan
umurnya, dan diperbaiki negerinya oleh Allah -Ta'ala- , maka hendaknya
seorang memperbaiki akhlaknya.
Nabi -shallallahu alaihi wa
sallam- bersabda,
وَصِلَةُ
الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ وَيَزِيدَانِ
فِي الْأَعْمَارِ
"Silaturahim, akhlak yang baik
dan pertetanggaan yang baik akan memperbaiki negeri, dan menambah umur". [HR. Ahmad
dalam Al-Musnad (6/159). Hadits ini di-shohih-kan oleh
Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 519)]
Seorang yang baik akhlaknya,
negerinya akan diperbaiki, dan umurnya akan ditambah oleh Allah -Ta'ala-.
Karena dengan kebaikan akhlak,
orang akan mencintai kita, membantu kita, dan mendo'akan kebaikan bagi kita.
Semoga Allah -Azza wa Jalla-
menjadikan kita sebagai orang-orang yang berakhlaq baik kepada Allah dan
makhluk-Nya sehingga kita tercatat di sisi-Nya sebagai hamba-hamba yang
bertaqwa dan berakhlaq karimah; hamba yang mendapatkan derajat yang tinggi di
sisi-Nya, dan dikumpulkan bersama Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam-
dan orang-orang sholih.

Komentar
Posting Komentar