Murtadnya Orang yang Melebihkan Seseorang atas Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-
Murtadnya
Orang yang Melebihkan Seseorang
atas
Nabi Muhammad
–shallallahu
alaihi wa sallam-
Penulis
:
Abdul
Qodir Abu Fa’izah, Lc. _hafizhahullah_
Belakangan ini, kaum muslimin Indonesia terusik
dan tersakiti untuk kedua kalinya, karena ucapan Sukmawati Soekarnoputri, anak dari
Bung Karno ‘Sang Proklamator’.
Pasalnya, Sukmawati dengan pongahnya
membandingkan Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-. Coba baca dengan
teliti ucapan Sukmawati berikut :
"Sekarang saya mau
tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir
Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab
berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini," tanya
Sukmawati
Forum pun hening, karena mungkin mereka yang
hadir bingung mau jawab apa.
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya itu. Lalu dengan
lancangnya, ia pun melontarkan kembali pertanyaan itu kepada forum yang
dihadiri sejumlah mahasiswa :
"Di abad 20, yang
berjuang untuk kemerdekaan Indonesia itu Nabi Yang Mulia Muhammad atau Ir
Sukarno? Tolong jawab, silakan anak-anak muda, saya mau tahu jawabannya, ayo
jawab, nggak ada yang berani? Saya mau yang laki-laki, kan radikalis banyaknya
laki-laki," lanjutnya.
Kalau kita mencermati ucapan Sukmawati, maka
jelas bahwa ucapannya mengandung pelecehan terhadap Nabi –shallallahu alaihi wa
sallam-.
Karena, ia melontarkan pertanyaan yang jawabannya
hanya mengandung dua opsi dan jawaban :
1. Nabi
Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah yang paling berjasa di abad
ke-20 dalam kemerdekaan Indonesia daripada Soekarno.
2. Di
abad 20 ini, Soekarno adalah yang lebih berjasa dalam kemerdekaan Indonesia
daripada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.
Opsi yang pertama, jelas akan ditolak
mentah-mentah oleh Sukmawati. Sebab, ketika itu ia ingin menampakkan keutamaan dan
perjuangan ayahnya dalam kemerdekaan Indonesia.
Opsi yang kedua, pasti menjadi pilihan Sukmawati,
karena itulah yang ia inginkan dalam rangka menampakkan jasa ayahnya dalam
mengantarkan negeri ini dalam mencapai kemerdekannya, walaupun Sukmawati harus
melecehkan Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-, dengan melebihkan
ayahnya atas Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dalam hal kemerdekaan
Indonesia.
Para pembaca yang budiman, merendahkan seorang
nabi, lalu lebih mengutakamakan manusia yang bukan nabi merupakan penyimpangan
besar, dan kekafiran yang nyata. Sebab, ini merupakan pelecehan yang menyalahi
petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah yang shohih dari Nabi –shallallahu alaihi wa
sallam-.
Jika pelakuknya tidak tobat, maka ia murtad dan keluar dari Islam. Namun jika ia tobat, maka tobatnya diterima dan harus ia iringi dengan penyesalan dan menutupi masa lalunya dengan kebaikan.
Di zaman terdahulu, ada seorang yang menyimpang,
karena ia memandang bahwa boleh jadi ada manusia yang bisa menyamai Nabi
Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-, dan ada lagi yang berkata bahwa ada
manusia biasa lebih utama daripada Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa
sallam-.
Ketika mendengarkan dua pernyataan ini, ulama
besar Andalusia, Al-Imam Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata dalam menanggapinya,
"وَهَذِه الْأَقْوَال كفر مُجَرّد لَا
تردد فِيهِ وحاشا لله تَعَالَى من أَن يكون أحد عمر عمر الدَّهْر يلْحق فضل صَاحب
فَكيف فضل رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم أَو نَبِي من الْأَنْبِيَاء
عَلَيْهِم السَّلَام فَكيف أَن يكون أفضل من رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم
هَذَا مَالا تقبله نفس مُسلم كَأَنَّهُمْ مَا سمعُوا قَول الله عز وَجل {لَا
يَسْتَوِي مِنْكُم من أنْفق من قبل الْفَتْح وَقَاتل أُولَئِكَ أعظم دَرَجَة من
الَّذين أَنْفقُوا من بعد وقاتلوا} وَقَول النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم دعوا
لي أَصْحَابِي فَلَو كَانَ لأحدكم مثل أحد ذَهَبا فأنفقه فِي سَبِيل الله مَا بلغ
مد أحدهم وَلَا نصيفه." اهـ من الْفِصَلِ في الملل والأهواء والنحل (5/ 15)
“Pernyataan-pernyataan ini adalah
kekafiran yang murni, sama sekali tidak kebimbangan di dalamnya!
Mustahil bagi Allah –ta’ala- jika ada
orang yang dipanjangkan umur sepanjang masa bisa mengejar keutamaan seorang
sahabat, lalu bagaimana dengan keutamaan Rasulullah –shallallahu alaihi wa
sallam-, atau seorang nabi di antara para nabi –alaihimus salam-.
Bagaimana mungkin orang itu lebih
utama daripada Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-. Pernyataan ini tidak
akan diterima oleh jiwa muslim.
Seakan-akan mereka ini (yakni,
orang-orang menyatakan hal itu) tidak pernah mendengar firman Allah –azza wa
jalla-,
{لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ
وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ
وَقَاتَلُوا} [الحديد: 10]
"Tidak sama di antara kamu orang
yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka
lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan
berperang sesudah itu." (QS. Al-Hadid: 10)
(Seakan-akan mereka juga tidak
mendengar) sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-,
دعوا لي أَصْحَابِي فَلَو كَانَ لأحدكم مثل أحد ذَهَبا
فأنفقه فِي سَبِيل الله مَا بلغ مد أحدهم وَلَا نصيفه
“Biarkanlah untukku sahabatku (yakni,
jangan kalian mencelanya). Sebab, andaikata salah seorang di antara kalian
memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu ia infakkan di jalan Allah, maka hal
itu tidak akan mencapai satu mudd (yang diinfakkan) oleh salah seorang di
antara mereka, dan tidak pula setengahnya.” [1]”. [Al-Fishol fi Al-Milal wa Al-Ahwa’ wa An-Nihal (5/15)]
-selesai ucapan
Ibnu Hazm-
Jasa-jasa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dan
para sahabat beliau dalam menyebarkan kebenaran agar manusia selamat dunia dan
akhirat merupakan sesuatu yang tidak dapat ditakar dan ditimbang dengan dunia,
serta tidak dapat diperbandingkan dengan jasa dan perjuangan siapapun, termasuk
Soekarno!
Bahkan Soekarno yang menyatakan diri sebagai
muslim dan pengikut Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- tidak akan mendapatkan
spirit dan api semangat perjuangan tanpa ada teladan yang bernama “Muhammad bin
Abdillah” yang telah mengajarkan Islam yang berisi spirit dan api semangat yang
mengobarkan jiwa para pahlawan dalam berjihad melawan penjajah yang telah
merenggut dan menginjak-injak hak asasi bangsa Indonesia ratusan tahun lamanya.
Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah
seorang rasul yang termulia dan terbesar jasanya atas bangsa manusia. Beliau
yang mengajarkan kepada kita tauhid yang berisi perintah untuk selalu meminta
pertolongan kepada Allah dalam segala hal (termasuk, dalam berjuang), agar
pertolongan itu datang.
Melalui ajaran Nabi –shallallahu alaihi wa
sallam-, maka Soekarno dan seluruh pejuang atau pahlawan muslim di negeri ini, mereka
semua mendapatkan spirit dan semangat juang dari prinsip agung yang bernama “jihad”
yang dengannya Allah disembah, diagungkan dan dibesarkan.
Nah, dari sinilah lahir pekikan takbir “Allahu
Akbar” yang dikumandang oleh para pahlawan muslim negeri ini. Anda ingatkan dengan “Arek-arek
Soeroboyo” yang dipimpin oleh Bung Tomo yang selalu memekikkan takbir.
Juga lahir dari prinsip jihad ini, slogan dan
jargon para pahlawan melalui ungkapan “Merdeka atau mati!”, artinya : Merdeka dari
para penjajah zalim dan bengis agar bebas beribadah dan beraktifitas, atau mati
syahid di jalan Allah dalam rangka menjaga agama Allah, kehormatan, darah dan
harta benda!
“Merah Putih” sebagai bendera negara pun lahir
dari spirit jihad. Sebab, “merah” adalah lambang keberanian dalam berjihad
melawan penjajah kafir, sedang “putih” melambangkan kesucian jiwa dalam
berjuang, semata-mata karena ingin ridho dan rahmat Allah.
Selain itu, Sukmawati juga harus mengingat bahwa
perjuangan dan kemerdekaan Indonesia bukanlah murni perjuangan ayah anda
‘Soekarno’, tapi itu adalah hasil perjuangan dan jihad para pahlawan
berkat rahmat dan pertolongan Allah –azza wa jalla-, sehingga bangsa ini
meraih kemerdekaannya.
Andaikata Soekarno bisa hidup kembali, kami yakin
beliau akan murka dengan pernyataan Sukmawati ini, pernyataan berlebihan yang
amat merendahkan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-!
Kemudian, ada sebuah hakikat yang perlu dicermati
oleh Sukmawati bahwa keberadaan dan posisi Soekarno di tengah para pahlawan dan
pejuang kemerdekaan di kala itu, tidaklah membuat Soekarno kemudian menjadi
manusia paling berjasa dalam kemerdekaan Indonesia melebihi jasanya Nabi –shallallahu
alaihi wa sallam-. Namun cukuplah ajaran beliau bernama “Islam” yang sampai ke
negeri tercinta ini, saat itu menjadi penyemangat bagi para pahlawan, dan Bung
Karno, dkk.
Demikian pula kita katakan bahwa kehadiran
Soekarno dalam momen bersejarah tersebut tidaklah kemudian membuatnya lebih
berjasa dan lebih hebat daripada para pahlawan yang tidak sempat hadir karena
berguguran di jalan Allah. Tapi cukuplah perjuangan dan jihad mereka
menjadi pemantik semangat dan gelora perjuangan Soekarno dan semua yang terlibat
dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini.
Terakhir, kami ingatkan kepada Ibu Sukmawati
dengan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah-,
"وَمَنْ
فَضَّلَ أَحَدًا مِنْ " الْمَشَايِخِ " عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ اعْتَقَدَ أَنَّ أَحَدًا يَسْتَغْنِي عَنْ طَاعَةِ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُسْتُتِيبَ. فَإِنْ تَابَ وَإِلَّا
ضُرِبَتْ عُنُقُهُ." اهـ من مجموع الفتاوى (3/ 422)
“Barangsiapa yang melebihkan seorang
syaikh (guru) atas Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-, atau ia meyakini bahwa
seseorang tidak perlu taat kepada Rasulullah–shallallahu alaihi wa sallam-,
maka orang ini harus dimintai tobat (karena kemurtadannya). Jika ia tobat, (maka
itulah yang diharapkan), namun jika tidak bertobat, maka leher orang ini harus ditebas!”
[Majmu’ Al-Fatawa (3/422)]
Bertobatlah –wahai Sukma- sebelum
ajal menjemputmu dan sesalilah semua kelakukan burukmu dalam melecehkan Nabi
–shallallahu alaihi wa sallam- dan syariat beliau.
Ucapanmu yang telah melecehkan cadar dan adzan
telah melukai hati setiap kaum beriman. Kala itu, engkau meminta maaf atas
kecerobohan fatalmu itu, sampai engkau menangis. Semoga tangisanmu murni lahir
dari tobat dan penyesalan, bukan air mata buaya.
Kali, ini engkau melukai perasaan seluruh kaum
beriman di seluruh dunia. Semua orang melaknat dan mengecammu. Hati-hatilah
engkau dari doa-doa yang terpanjatkan akibat kelakuan burukmu itu!
Demikian tulisan dan nasihat ini, kami tulis dengan
cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Gowa, 21 November 2019
Wassalam.
[1] HR. Al-Bukhoriy, Muslim, Ahmad, dan
Al-Bazzar, serta yang lainnya. Sedang ini adalah lafazh Al-Bazzar.

Komentar
Posting Komentar