Perbedaan antara Negeri Islam dan Negeri Kafir
Perbedaan antara Negeri Islam dan Negeri Kafir
(Sanggahan atas
Sebagian Kaum yang Mengafirkan Negeri-negeri yang Dikuasai oleh Kaum Muslimin)
Penulis :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Sebagian pemuda menyebarkan sebuah tulisan yang
melahirkan kebingungan di antara kaum muslimin. Mereka menetapkan di dalamnya
bahwa mayoritas negeri-negeri yang diperintah dan dikuasai oleh kaum muslimin pada hari ini adalah negeri-negeri kafir.
Mereka mendasari pemikiran ini atas kesalahan dalam
memahami fatwa sebagian ulama atau karena sempitnya wawasan mereka tentang apa
yang mereka yakini tersebut.
Dalam rangka menepis kerancuan itu, maka kami turunkan
sebuah tulisan ringkas agar menjadi pencerah dan pembimbing di tengah
kebingungan.
Para pembaca yang budiman, di bawah ini kami bawakan
beberapa nukilan dari para ulama umat agar kita di atas bashiroh dalam perkara
ini.
Abu Bakr
Al-Isma'iliy -rahimahullah- berkata,
"ويرون الدار دار الإسلام لا دار الكفر
كما رأته المعتزلة، ما دام النداء بالصلاة والإقامة ظاهرين وأهلها ممكنين منها
آمنين." اهـ
"Mereka
(para salaf) memandang suatu negeri sebagai negeri Islam, bukan negeri kafir
sebagaimana pandangan kaum Mu'tazilah, selama adzan sholat dan iqomat tampak,
dan penduduknya diberi kebebasan untuk melakukannya serta merasa aman."
[Lihat I'tiqod A'immatil Hadits (hlm. 76)]
Abu Bakr
As-Sarokhsiy Al-Hanafiy dalam Syarh As-Siyar Al-Kabir (hlm. 1253),
"إِنَّ دَارَ الْإِسْلَامِ اسْمٌ
لِلْمَوْضِعِ الَّذِي يَكُونُ تَحْتَ يَدِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَلَامَةُ ذَلِكَ
أَنْ يَأْمَنَ فِيهِ الْمُسْلِمُونَ." اهـ
"Sesungguhnya
negeri Islam adalah nama bagi tempat yang berada di bawah kekuasaan kaum
muslimin, sedang tandanya hal itu adalah kaum muslimin merasakan keamanan di
dalamnya."
Ibnu Abdil
Barr rahimahullah berkata dalam Al-Istidzkar (1/371),
"وَلَا أَعْلَمُ خِلَافًا فِي وُجُوبِ
الْأَذَانِ جُمْلَةً عَلَى أَهْلِ الْأَمْصَارِ لِأَنَّهُ مِنَ الْعَلَامَةِ
الدَّالَّةِ الْمُفَرِّقَةِ بَيْنَ دَارِ الْإِسْلَامِ وَدَارِ الْكُفْرِ."
اهـ
"Aku
tidak mengetahui adanya khilaf tentang wajibnya adzan secara global atas
penduduk kota, karena adzan termasuk tanda yang menunjukkan lagi membedakan
antara negeri Islam dan negeri kafir."
Ibnu Abdil
Barr dalam kitabnya yang lain berkata,
"وَمِنَ الْفَرْقِ بَيْنَ دَارِ
الْكُفْرِ وَدَارِ الْإِسْلَامِ لِمَنْ لَمْ يَعْرِفْهَا الْأَذَانُ الدَّالُّ
عَلَى الدَّارِ وَكُلُّ قَرْيَةٍ أَوْ مِصْرٍ لَا يُؤَذَّنُ فِيهِ بِالصَّلَاةِ
فَأَهْلُهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عُصَاةٌ." اهـ
"Di
antara pembeda antara negeri kafir dan negeri Islam bagi orang yang tidak
mengenalnya adalah adzan yang menunjukkan tentang suatu negeri. Setiap kampung
atau kota yang tidak dikumandangkan padanya adzan sholat, maka penduduknya
adalah orang-orang durhaka kepada Allah." [Lihat At-Tamhid
(13/280)]
Ibnu Hazm
Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,
"الدَّارَ إنَّمَا تُنْسَبُ لِلْغَالِبِ
عَلَيْهَا، وَالْحَاكِمُ فِيهَا، وَالْمَالِكُ لَهَا." اهـ
"Suatu
negeri hanyalah dinisbahkan kepada yang dominan atasnya, berkuasa atasnya, dan
pemilik baginya." [Lihat Al-Muhalla bil Atsar (12/126)]
Ibnu
Taimiyyah rahimahullah berkata dalam An-Nubuwwat (2/760),
"ومن الدلائل: الشعائر؛ مثل شعائر
الإسلام الظاهرة، التي تدلّ على أن الدار دار الإسلام؛ كالأذان، والجُمَع، والأعياد."
اهـ
"Di
antara dalil-dalil adalah syiar-syiar, seperti : syiar-syiar Islam yang tampak,
yang menunjukkan bahwa suatu negeri adalah negeri Islam, misalnya : adzan,
sholat-sholat Jumat, dan sholat id."
Ibnu Rojab
Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,
" ومنها - وهو المقصود بهذا الباب -:
أنه - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كان يجعل الأذان فرق ما بين دار الكفر
ودار الإسلام."
"Di
antaranya, dan itulah yang dimaksudkan pada bab ini bahwa Nabi -shallallahu
alaihi wa sallam- dahulu menjadikan adzan sebagai ;pembeda antara negeri kafir
dan negeri Islam. [Fathul Bari (5/232)]
Syaikh
Al-Albaniy –rahimahullah- berkata,
" دار الإسلام هي الدار التي يسكنها
ويقطنها المسلمون أي: أكثرهم! ودار الكفر على العكس من ذلك، أي: يكون سكانها
كفارا وإن كان فيهم بعض المسلمين...
لو غزا الاستعمارُ الكافر بعضَ البلاد
الإسلامية وحكموا بدينهم الكفري فيها لا تصير بلاد المسلمين بلاد كفر! وحكم المستعمر لا يجعلها بلادا غير إسلامية".
“Negeri
Islam adalah negeri yang ditempati dan ditinggali oleh kaum muslimin, yakni
kebanyakannya. Negeri kafir adalah sebaliknya. Maksudnya, penduduknya adalah
kaum kafir, sekalipun di tengan mereka ada sebagian kaum muslimin…
Andaikan penjajah kafir memerangi sebagian negeri Islam,
dan berhukum dengan agama mereka di dalamnya, maka negeri kaum muslimin itu
tidaklah berubah menjadi negeri kafir! Berkuasanya penjajah tidak menjadikannya
sebagai negeri yang bukan Islam.”[1]
Syaikh
Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata,
"ودار الإسلام هي التي تُعْلَن فيها
شعائر الإسلام، كالأذان وصلاة الجماعة وصلاة الجمعة وما أشبه ذلك، ويكون أهلها
ينتمون إلى الإسلام مطبِّقون لشرائعه.
وأما الحكم بغير ما أنزل الله- عز وجل-
فهذا قد يؤدى إلى الكفر، وقد يؤدى إلى ما دون الكفر، كما ذكر الله في سورة
المائدة: الكافرون، والظالمون، والفاسقون، حسب ما تقتضيه حال هذا الذي حَكَمَ بغير
ما أنزل الله، وإذا قدر أنه وصل إلى درجة الكفر فإنه لا يغير دار الإسلام ما دام
أهلها مسلمون كارهين لما عليه هذا الحاكم."
"Negeri
Islam adalah negeri yang ditampakkan padanya syiar-syiar Islam, seperti :
adzan, sholat jamaah, sholat Jumat, dan semisalnya, serta penduduknya
menisbahkan diri kepada Islam lagi menerapkan syariat-syariatnya.
Adapun
berhukum kepada selain apa yang Allah -azza wa jalla- turunkan, maka hal ini
terkadang mengantarkan kepada ke kekafiran, dan terkadang pula mengantarkan
kepada sesuatu di bawah kekafiran (yakni, dosa besar), sebagaimana yang Allah
sebutkan dalam Suroh Al-Ma'idah : kafir, zholim, dan fasiq, sesuai yang
dituntut oleh keadaan orang yang berhukum kepada selain apa yang Allah
turunkan.
Jika
dianggap bahwa hal itu sampai pada tingkatan kafir, maka hal itu tidaklah
mengubah negeri Islam (menjadi negeri kafir,- pen.) selama penduduknya adalah
muslimin yang benci terhadap sesuatu yang dijalani si penguasa ini."
[Lihat Majmu'
Fatawa wa Rosa'il Fadhilatusy-Syaikh Muhammad Ibni Sholih Al-Utsaimin
(25/391)]

Komentar
Posting Komentar