Adab-adab Indah nan Agung dalam Berhari Raya

Adab-adab Indah nan Agung dalam Berhari Raya
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
edisi : 9 Dzulhijjah 1437 H
Hari Ied "lebaran"
merupakan hari berbahagia dan bersuka cita bagi kaum muslimin di seluruh penjuru
dunia. Kegembiraan ini nampak di wajah,tindak-tanduk dan kesibukan mereka.
Orang yang dulunya berselisih dan saling benci,
pada hari itu saling mema'afkan. Ibu-ibu rumah tangga sibuk membuat berbagai
macam kue, ketupat, makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang akan
berdatangan pada hari ied. Bapak-bapak sibuk belanja baju baru buat anak dan
keluarganya.
Para pekerja dan penuntut ilmu yang ada
diperantauan nun jauh di negeri orang sibuk menghubungi keluarga mereka, entah
lewat surat
atau telepon.
Di balik kesibukan dan kegembiraan ini,
terkadang mengantarkan sebagian manusia
lalai untuk mempersiapkan apa yang mereka harus kerjakan di hari Ied.
Diantaranya, seperti berikut ini :
q
Dianjurkan Mandi sebelum Berangkat
ke Musholla (Lapangan)
Seorang
di hari ied disunnahkan untuk bersuci dan membersihkan diri agar bau tak sedap
tidak mengganggu saudara kita yang lain ketika sholat dan bertemu.
Ini berdasarkan atsar dari Ali bin Abi Tholib -radhilallahu anhu- pernah ditanya tentang mandi, maka beliau menjawab,
Ini berdasarkan atsar dari Ali bin Abi Tholib -radhilallahu anhu- pernah ditanya tentang mandi, maka beliau menjawab,
يَوْمَ
الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ
"(Mandi seyogyanya dilakukan) di hari Jum'at, hari Arafah
(wuquf), hari Iedul Adh-ha, dan hari Iedul Fitri". [HR.Asy-Syafi'i dalam Al-Musnad
(114), dan Al-Baihaqy (5919)]
q
Memakai Pakaian yang Bagus dan
Berhias dengannya
Diantara bentuk kegembiraan seorang muslim, dia mempersiapkan dan memakai pakaian baru di hari raya iedul Fitri dan iedul Adhha.
Ketahuilah, Sunnah ini diambil dari hadits
أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ
تُبَاعُ فِيْ السُّوْقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى
رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُولَ اللهِ اِبْتَعْ
هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ
" Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di pasar.
Diapun mengambilnya lalu dibawa kepada Rasulullah r seraya berkata: ["
Ya Rasulullah, Belilah ini agar engkau bisa berhias dengannya untuk hari ied
dan para utusan …"] "[HR.Al-Bukhory dalam Shohih-nya
(906), Muslim dalam Shohih-nya (2068)]
Al-Allamah
Asy-Syaukani
-rahimahullah- berkata dalam Nail Al-Author (3/349),"
Segi pengambilan dalil dari hadits ini tentang disyari'atkannya berhias di hari
ied adalah adanya taqrir Nabi r bagi Umar atas dasar
bolehnya berhias di hari ied, dan terpokusnya pengingkaran beliau atas orang
yang memakai sejenis pakaian tersebut, karena ia dari sutera".
q
Di hari Iedul Fithri, Disunnahkan
Makan Sebelum ke Musholla (Lapangan)
Sebelum berangkat ke musholla
(lapangan), maka dianjurkan makan –utamanya kurma- sebagaimana ini dilakukan
oleh Nabi kita Muhammad r pada hari iedul fitri.
Adapun iedul Adhha, maka sebaliknya seseorang dianjurkan makan setelah sholat
ied agar nantinya bisa mencicipi hewan kurbannya.
Buraidah -radhiyallahu anhu-
berkata:
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ لَا يَخْرُجُ حَتَّى
يَطْعَمَ وَيَوْمَ النَّحْرِ لَا يَطْعَمُ حَتَّى يَرْجِعَ
"Nabi r tidaklah keluar di hari
iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada hari iedul Adh-ha beliau tak makan
sampai beliau kembali". HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan (1756).
Di-hasan-kan oleh Syu'aib Al-Arna'uth dalam Takhrij Al-Musnad (5/352/no.23033)
Al-Muhallab bin
Abi Shofroh
-Rahimahullah- berkata,”Hikmahnya
makan sebelum sholat ied adalah agar orang tidak menyangka wajibnya puasa
sampai usai sholat ied. Seakan Nabi r hendak menepis
persangkaan itu".
[Lihat Fath Al-Bari (2/447)]
Diantara
hikmahnya agar masih ada waktu mengeluarkan shodaqoh di waktu-waktu yang cocok
dan sangat dibutuhkannya oleh para faqir-miskin.
Ibnul Munayyir –Rahimahullah-
berkata: "Nabi r makan di dua hari ied
pada waktu yang masyru' (disyari'atkan) agar bisa mengeluarkan shodaqoh khusus
bagi ied tersebut. Maka waktu mengeluarkan shodaqoh ied fithri sebelum
berangkat (ke musholla), dan waktu mengeluarkan shodaqoh kurban setelah
disembelih. Jadi, keduanya bersatu pada satu sisi, dan berbeda pada sisi yang
lain.".
[Lihat Fath Al-Bari (2/448)]
q
Bertakbir Menuju Lapangan
Mengumandangkan takbiran
saat menuju musholla merupakan sunnah yang dilakukan pada dua hari raya kaum
muslimin. Sunnah ini dilakukan bukan Cuma saat keluar dari rumah, bahkan terus
dilakukan dengan suara keras sampai tiba di lapangan. Setelah tiba di lapangan,
tetap bertakbir sampai imam datang memimpin sholat ied. Inilah sunnahnya !
Dalam riwayat lain, Ibnu Umar -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِيْ الْعِيْدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ
وَعَبْدِاللهِ وَالْعَبَّاسِ وَعَلِيٍ وَجَعْفَرٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَزَيْدٍ
بْنِ حَارِثَةَ وَأَيْمَنَ بْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيْلِ
وَالتَّكْبِيْرِ
"Nabi r keluar di dua hari raya
bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali, Ja'far, Al-Hasan,Al-
Husain , Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil
mengangkat suaranya bertahlil dan bertakbir".[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan
Al-Kubro (3/279) dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa' (3/123)
Jadi, disyari'atkan di hari
ied saat hendak keluar ke lapangan untuk mengumandangkan takbir dengan suara
keras berdasarkan kesepakatan empat Imam madzhab. Tapi tidak dilakukan secara
berjama'ah.[Lihat Majmu' Al-Fatawa 24/220]
Muhaddits Negeri Syam, Muhammad
Nashiruddin Al-Albany -rahimahullah- berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah
(1/281) ketika mengomentari hadits pertama di atas,"
وفي الحديث دليلٌ على مشروعيّةِ ما جرى
عليه عملُ المسلمين من التكبير جهراً في الطريق إلى المصلى، وإنْ كان كثير منهم
بدؤوا يتساهلون بهذه السنَّة حتى كادت تصبح في خبر كان..
Dalam hadits ini
terdapat dalil disyari'atkannya sesuatu yang telah dilakukan oleh kaum muslimin
berupa adanya takbir dengan suara keras di jalan-jalan menuju musholla.
Sekalipun kebanyakan di antara mereka sudah mulai meremehkan sunnah ini
sehingga hampir menjadi tinggal cerita belaka. Itu disebabkan lemahnya dasar
agama mereka serta canggungnya mereka menampakkan sunnah".
ý
Faidah :
Tentang lafazh takbir,
tak ada yang shohih datangnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Akan tetapi disana ada beberapa atsar yang shohih datangnya dari para sahabat
Radhiyallahu anhum ajma'in.
&
Dari sahabat Ibnu Mas'ud, beliau mengucapkan:
اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَاإِلَهَ إِلَّااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
[HR.Ibnu Abi Syaibah
dalam Al-Mushonnaf (2/168) dengan sanad yang shohih
&
Ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhu-,
beliau mengucapkan:
اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ
اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
[HR.Al-Baihaqy dalam
As-Sunan Al-Kubro (3/315) dengan sanad yang shohih.]
&
Salman Al-Farisy, beliau mengucapkan :"Bertakbirlah
:
اَللهُ
أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُكَبِيْرًا
[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/316)
dengan sanad yang shohih.]
Adapun tambahan yang
diberikan oleh orang-orang di zaman kita pada lafazh takbir, maka semua itu
merupakan buatan orang-orang belakangan, tak ada dasarnya.
Al-Hafizh Ibnu
Hajar Asy-Syafi'i
-rahimahullah-berkata dalam Al-Fath
(2/536), "Di zaman ini telah diciptakan semacam tambahan pada masalah
(lafazh takbir) itu yang tak ada dasarnya".
ý
Faedah :
Waktu takbiran di hari
raya iedul Adhha mulai waktu fajar hari Arafah (tanggal 9
Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah). Inilah
madzhab Jumhur salaf dan ahli fiqh dari kalangan sahabat dan lainnya. [Lihat Majmu'
Al-Fatawa (24/220)]
Sebagian orang
mengkhususkannya takbiran sehabis sholat. Tapi ini tak ada dalilnya. Yang
benar, seseorang disunnahkan bertakbir dalam semua waktu dari hari-hari
tersebut (mulai Hari Arofah sampai hari terakhir dari hari-hari Tasyriq).
Ini dikuatkan dengan
sebuah atsar :"Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu
–tasyriq,pen-, seusai sholat, di atas tempat tidur, dalam tenda, majlis, dan
waktu berjalan pada semua hari-hari tersebut ". [HR.Al-Bukhory dalam
Ash-Shohih (1/330)]
Adapun di hari raya Idul
Fithri, maka disunnahkan bertakbir pada hari raya sampai imam selesai sholat.
q
Disyari'atkan Wanita dan Anak
Kecil Ikut ke Lapangan
Di hari ied wanita -walaupun
ia haid- dan anak-anak kecil disyari'atkan untuk keluar menyaksikan sholat dan
doanya kaum muslimin.
Ummu Athiyyah -radhiyallahu anha-
berkata,
أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ
وَالْحُيَّضَ وَ ذَوَاتِ الْخُدُوْرِ . فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُوْنُ
لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
"Rasulullah r memerintahkan kami
mengeluarkan para wanita gadis, haidh, dan pingitan. Adapun yang haidh , maka
mereka menjauhi sholat, dan menyaksikan kebaikan dan dakwah/doanya kaum
muslimin.Aku berkata: " Ya Rasulullah, seorang di antara kami ada yang tak
punya jilbab". Beliau menjawab: "Hendaknya saudaranya memakaikan
(meminjamkan) jilbabnya kepada saudaranya". [Al-Bukhory dalam Ash-Shohih
(971) dan Muslim dalam Ash-Shohih (890)]
Al-Hafizh Ibnu
Hajar Asy-Syafi'i
-rahimahullah- berkata dalam Fath Al-Bari (2/470),
"Di dalamnya terdapat anjuran keluarnya para wanita untuk menyaksikan
dua hari raya, baik dia itu gadis, ataupun bukan; baik dia itu wanita pingitan
ataupun bukan".
Bahkan sebagian ulama
mewajibkan membawa serta para wanita dan anak-anak kecil ke lapangan ied.
q
Mencari Jalan lain Ketika Pulang
ke Rumah
Disunnahkan mencari
jalan lain ketika selesai melaksanakan sholat ied. Artinya ketika ia pergi ke
musholla mengambil suatu jalan, dan ketika pulang ke rumah di mencari jalan lain
dalam rangka mencontoh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- .
Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ إِلىَ الْعِيْدِ رَجَعَ
فِيْ غَيْرِ الطَّرِيْقِ الَّذِيْ خَرَجَ فِيْهِ
"Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam- jika keluar ied,
beliau kembali pada selain jalan yang beliau tempati keluar".[HR.Ibnu Majah dalam As-Sunan
(1301). Lihat Shohih Ibnu Majah (1076) karya Al-Albaniy]
q
Berjalan Menuju dan Kembali dari
Musholla
Pada hari ied di sunnahkan
berjalan menuju musholla untuk melaksanakan sholat ied. Demikian pula ketika
kembali ke rumah. Tapi ini jika mushollanya dekat sehingga orang tak berat
jalan menuju musholla. Adapun jika jauh atau perlu sekali, maka tak masalah.
Ali bin Abi
Tholib -radhiyallahu
anhu- berkata,
مِنَ
السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيْدِ مَاشِيًا
"Diantara sunnah, kamu keluar menuju ied sambil jalan". [HR.At-Tirmidzy dalam As-Sunan
(2/410) ; di-hasan-kan Al-Albany dalam
Shohih Sunan At-Tirmidzy (530)]
Abu 'Isa
At-Tirmidzy
-rahimahullah- berkata dalam Sunan
At-Tirmidzy (2/410),
"Hadits ini di
amalkan di sisi para ahli ilmu. Mereka menganjurkan seseorang keluar menuju ied
sambil jalan".
q
Bersegera & Cepat Berangkat
Melaksanakan Sholat Ied
Demikian pula bersegera
berangkat menuju musholla untuk menunaikan sholat ied. Perkara ini dianjurkan
agar setiap orang mengambil tempat dan banyak mengumandangkan takbir sampai
keluarnya memimpin sholat ied.
ý
Faedah:
Setelah tiba di musholla
(lapangan), seseorang tidak dianjurkan sholat sebelum dan setelah sholat ied;
juga tidak disunnahkan melakukan adzan
dan iqomat, karena Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam- kita tak pernah
melakukan hal itu, kecuali jika sholat
iednya di masjid (karena hujan atau udzur lain), maka ia harus sholat
dua raka'at tahiyyatul masjid.
Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ
لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا
"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melaksanakan sholat
iedul fithri sebanyak dua raka'at, namun beliau tidak sholat sebelum dan
sesudahnya".
[HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (989)]
Al-Hafizh Ibnu
Hajar
–rahimahullah- berkata,
"Walhasil, sholat
ied tidak terbukti memiliki sholat sunnah sebelum dan setelahnya, berbeda
dengan orang yang meng-qiyas-kannya dengan sholat jum'at". [Lihat Fath
Al-Bari (2/476)]
Jabir bin
Samurah
-radhiyallahu 'anhu- berkata,
صَلًَّيْتُ
مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ
وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ
“Aku telah melaksanakan sholat bersama Rasulullah r -bukan Cuma sekali dua
kali saja- tanpa adzan dan iqomat”.
Al-Allamah Ibnu
Qoyyim Al-Jauziyyah –rahimahullah-
berkata, "Nabi r jika tiba di musholla,
beliau memulai sholat, tanpa ada adzan dan iqomah; tidak pula ucapan, "Ash-Sholatu
jami'ah". Sunnahnya, tidak dilakukan semua itu". [Lihat Zaadul Ma'ad
(1/441)]
Komentar
Posting Komentar