Berlindung dari Lima Tipe Manusia Berbahaya

Berlindung dari Lima Tipe
Manusia Berbahaya
oleh : Al-Ustadz
Abdul Qodir Abu Fa'izah
-hafizhahullah-
|
edisi
18 Dzulhijjah 1437 H
Manusia
dalam pergaulan dunia ini memiliki banyak tipe. Ada yang menyenangkan dan membawa berkah atau
kebaikan, dan ada yang menyusahkan dan memberikan keburukan kepada yang lain.
Lantaran itu, selayaknya seorang mukmin
berhati-hati dalam bersahabat, memilih tetangga,
mendidik anak, mencari pasangan hidup dan mengusahakan harta benda duniawi.
Jika
seseorang salah langkah dalam memilih dan mencari hal-hal tersebut, maka ia
akan mendapatkan kesusahan hidup dan kesengsaraan di dunia dan boleh jadi di
akhirat. Tetangga yang buruk akan banyak menimbulkan masalah dan keburukan bagi
saudaranya yang lain. Tetangga buruk merupakan beban berat yang melebihi
beratnya batu besar dan besi berat!!
Konon
kabarnya, Luqman Al-Hakim -rahimahullah- pernah berpesan kepada anaknya,
يَا
بُنَيَّ حَمَلْتُ الْجَنْدَلَ وَالْحَدِيدَ وَكُلَّ شَيْءٍ ثَقِيلٍ، فَلَمْ أَجِدْ
شَيْئًا هُوَ أَثْقَلَ مِنْ جَارِ السَّوْءِ
"Wahai
anakku, aku telah memikul batu besar dan
besi serta segala sesuatu yang berat. Namun aku tak pernah memikul sesuatu yang
lebih berat dibandingkan tetangga yang buruk." [Atsar Riwayat Ibnu Mubarok dalam Az-Zuhd (no.
991), Ahmad dalam Az-Zuhd (hlm. 105), Al-Marwaziy dalam Al-Birr wa
Ash-Shilah (no. 225 & 261), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf
(no. 34296), Ibnu Abid-Dun-ya dalam Makarim Al-Aklahq (no. 351),
dan Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (no. 4891)]
Istri yang buruk perangai akan sering menimbulkan kesusahan bagi suaminya akibat kedurhakaan dan pembangkangannya, sehingga membuat pikiran suaminya jadi berat dan ia
berubah jadi beruban sebelum waktunya, lantaran memikirkan segala hal yang
muncul dari sikap buruk istrinya.
Anak
durhaka tak kalah masalahnya. Ia akan membebani dan memperlakukan kedua orang
tuanya layaknya budak sahaya yang hina. Padahal orang tua, apalagi di masa
tuanya, seorang anak harus memuliakannya. Tapi dasar anak durhaka, ia
menghinakan orang tuanya!!
Harta
yang tidak berkah, akibat tak dihasilkan dari sesuatu yang halal atau
dibelanjakan dalam sesuatu yang haram dan tak berguna.
Kadang
juga harta benda itu disimpan oleh pemiliknya, tanpa dikeluarkan zakatnya.
Harta yang seperti ini akan menjadi adzab (siksaan) bagi pemiliknya kelak di
dunia, dan boleh jadi di akhirat.
Berapa
banyak orang yang hidup dengan harta benda yang melimpah, justru harta itu
malah menjadi siksaan baginya. Siang-malam ia pikirkan sampai ia tak bisa
tidur. Harta benda menjadikan sebagian orang hancur.
Rumah tangganya rusak akibat anak-anak hidup mewah,
tanpa ia didik agar ia gunakan di jalan kebaikan dan ketaatan.
Fakta
lain menunjukkan bahwa banyak orang yang punya harta yang berlebihan, namun
mereka tak dapat menikmatinya, karena ia hidup boros. Punya income
(pendapatan) yang banyak namun tak terasa habis, tanpa dinyana. Ini merupakan tanda tercabutnya berkah dari harta itu dan
pemiliknya.
Itulah
rahasianya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah berlindung
kepada Allah agar dilindungi dari lima
golongan makhluk yang harus diwaspadai, ditakuti dan dijauhi!!!
Abu Hurairah Ad-Dausiy -radhiyallahu anhu- berkata,
كَانَ
مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ
مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ
يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ
مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا
وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
"Diantara
doa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-,
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ
الْمَشِيبِ وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ
عَذَابًا وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي إِنْ
رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
"Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dari
istri yang membuatku beruban sebelum masa beruban, dari anak yang menjadi tuan
bagiku, dari harta yang menjadi siksaan atasku dan dari kawan yang berbuat
makar; matanya memandangiku, sedang hatinya mengawasiku. Jika ia melihat
kebaikan, maka ia tanam (sembunyikan) dan jika melihat keburukan, maka ia menyebarkannya". [HR. Hannad dalam Az-Zuhd (no. 1038) dan
Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam Al-Awsath (no. 1339). Hadits ini
dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3137)]
Hadits
ini merupakan lautan faedah yang memendam banyak mutiara hikmah yang dapat kita
gali. Itulah lentera wahyu yang memancarkan cahaya melalui lisan Rasul dan
manusia terbaik, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Di
dalam hadits ini Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengingatkan
kita tentang lima golongan makhluk yang harus diwaspadai, jangan sampai menjerumuskan kita
ke dalam lembah kebinasaan.
Ini
merupakan bukti bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah
nabi yang amat sayang kepada manusia.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
لَقَدْ
جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ
عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
[التوبة/128]
"Sungguh telah datang kepada kalian
seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu,
sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang mukmin". (QS. At-Taubah : 128)
Al-Imam Al-Mufassir
Muhammad Al-Amin Al-Janakiy Asy-Syinqithiy
-rahimahullah- berkata,
هَذِهِ الْآيَةُ
الْكَرِيمَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ بَعْثَ هَذَا الرَّسُولِ الَّذِي هُوَ مِنْ
أَنْفُسِنَا الَّذِي هُوَ مُتَّصِفٌ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ الْمُشْعِرَةِ بِغَايَةِ
الْكَمَالِ ، وَغَايَةِ شَفَقَتِهِ عَلَيْنَا - هُوَ أَعْظَمُ مِنَنِ اللَّهِ
تَعَالَى ، وَأَجْزَلُ نِعَمِهِ عَلَيْنَا ، وَقَدْ بَيَّنَ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ
أُخَرَ (أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن - (2 / 149))
"Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa
pengutusan Rasul (yakni, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) yang
berasal dari bangsa kita sendiri (yakni, bangsa manusia). Beliau adalah orang
yang tersifati dengan sifat-sifat yang menggambarkan puncak kesempurnaan dan
puncak kasih sayang kepada kita. Semua ini merupakan karunia terbesar dari
Allah -Ta'ala- dan nikmat yang teragung bagi kita. Sungguh Allah telah
menjelaskan hal itu dalam beberapa tempat yang lain". [Lihat Adhwa' Al-Bayan (2/149), karya
Asy-Syinqithiy, cet. Dar Al-Fikr ,
Lebanon , 1415 H]
Diantara puncak kasih beliau atas manusia, beliau
mengingatkan kita dari berbagai bahaya dan keburukan yang akan menyusahkan kita
dalam kehidupan dunia atau mungkin juga di akhirat sebagaimana yang ada dalam
hadits di atas. Nas'alullahal afiyah was salamah min syarri dzalik.
Faedah dan Ibrah dari Hadits di Atas
|
Diantara faedah dan ibrah yang dapat dipetik dari hadits
yang mulia ini,
1.
Hendaknya
seorang muslim senantiasa berdoa dan berlindung kepada Allah, bukan kepada
makhluk. Sebab, permohonan dan doa seperti ini adalah ibadah yang harus
dipersembahkan kepada Allah saja!!
2.
Hadits
ini merupakan isyarat tentang semangat para sahabat yang kuat dalam
menyampaikan ilmu dengan meriwayatkan hadits-hadits yang berisi perilaku dan
sabda-sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Andaikan bukan jasa mereka
dalam meriwayatkan sunnah dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka
generasi setelahnya tak akan mengenal Islam.
3.
Selayaknya
seseorang memilih tetangga yang baik dan berdoa agar dihindarkan dari
keburukannya. Tetangga yang buruk seringkali menyeret kepada keburukan, sedang
tetangga yang baik akan mengajak dan membimbing kita kepada jalan-jalan
kebaikan.
4.
Seseorang
yang ingin mencari pasangan hidup hendaknya berlindung kepada Allah agar ia
dihindarkan dari istri yang buruk perangainya. Saking buruknya, ia telah
membuat suaminya beruban dan tua, akibat ulah sang istri yang amat memberatkan
pikiran dan jasmani suaminya.
5.
Diantara
bentuk kedurhakaan seorang anak, ia memperlakukan orang tuanya laksana budak
yang hina.
6.
Harta
yang tidak digunakan di jalan kebaikan akan menjadi senjata dan siksaan yang
akan menyengsarakan pemiliknya.
7.
Waspadailah
dan jauhilah sahabat buruk yang suka memata-matai temannya, lalu menyebarkan
aibnya dan mengubur segala kebaikan temannya.
8.
Diantara
bentuk baiknya persahabatan, seseorang menyebutkan kebaikan sahabatnya dan
menyembunyikan aibnya.
Komentar
Posting Komentar