Selasa, 13 September 2016

Menebar Salam dan Ucapan Doa Selamat di Dua Hari Raya : Idul Fithri dan Idul Adh-ha

Hasil gambar untuk ‫تقبل الله منا ومنكم‬‎

Menebar Salam dan Ucapan Doa Selamat
di Dua Hari Raya : Idul Fithri dan Idul Adh-ha
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-

Di hari raya kita disunnahkan untuk saling mengucapkan selamat dan doa bagi kaum muslimin yang lain saat kita berjumpa di hari itu atau setelahnya. Perkara ini perlu kami jelaskan, karena sebagian orang ada yang mengingkari hal ini dan ada juga yang memang jahil tentang sunnah ini, sehingga ia pun mengarang kata-kata dan ucapan selamat yang sering kali melanggar batasan agama.

Sejumlah atsar telah menunjukkan bahwa disunnahkan bagi seorang muslim mengucapkan kata selamat bagi saudaranya di hari raya (ied) demi melengkapi rasa gembira mereka pada hari tersebut.

Dari Shofwan bin Amer As-Saksakiy -rahimahullah- , ia berkata,
رأيت عبد الله بن بسر المازني وخالد بن معدان وراشد بن سعد وعبد الرحمن بن جبير بن نفير وعبد الرحمن بن عائذ وغيرهم من الأشياخ يقول بعضهم لبعض في العيد: تقبل الله منا ومنكم
"Aku pernah melihat Abdullah bin Busr Al-Maziniy, Kholid bin Ma'dan, Rosyid bin Sa'ad, Abdur Rahman bin Jubair bin Nufair, Abdur Rahman bin A'idz dan selain mereka dari kalangan para syaikh (guru), sebagian diantara mereka berkata kepada sebagian yang lain di hari ied,
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
"Semoga Allah menerima (segala amal sholih) dari kami dan kalian". [HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (24/154) dan Abul Qosim Al-Ashbahaniy dalam At-Targhib wa At-Tarhib (no. 381)]
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahumullah- berkata,
فيبعد أن يقول هو والتابعون المذكورون معه شيئا دون أن يتلقوه عن الصحابة فتكون الروايتان صحيحتين فالصحابة فعلوا ذلك فاتبعهم عليه التابعون المذكورون ، والله سبحانه وتعالى أعلم
"Amat jauh sekali kalau dia (sahabat Abdullah bin Busr) dan para tabi'in yang tersebut bersamanya mengucapkan sesuatu, tanpa menerimanya dari para sahabat. Jadi, kedua riwayat itu shohih. Para sahabat telah melakukan hal itu. Karenanya, para tabi'in tersebut mengikuti mereka dalam hal itu. Hanya Allah -Subhanahu wa Ta'ala- yang lebih tahu". [Lihat Tamam Al-Minnah (hal. 355)]

Ucapan selamat ini terus-menerus diabadikan oleh kaum muslimin terdahulu sampai hari ini. Di dua hari raya, para salaf mengucapkan kalimat di atas kepada orang-orang Islam yang mereka jumpai, sebab di dalamnya terdapat doa.

Habib bin Abi Habib Al-Jarmiy -rahimahullah- berkata,
شهدت خالد بن عبد الله القسري بواسط يوم الأضحى قال ضحوا تقبل الله منا ومنكم فإني مضح بجعد بن درهم زعم أن الله لم يتخذ إبراهيم خليلا ولم يكلم موسى تكليما تعالى الله عما يقول الجعد بن درهم علوا كبيرا ثم نزل فذبحه
"Aku telah menyaksikan Kholid bin Abdillah Al-Qosriy di negeri Wasith pada hari Iedul Adh-ha, ia berkata,
"Berkurbanlah!! Semoga Allah menerima (amal sholih) dari kami dan kalian. Sesungguhnya aku akan menyembelih Ja'ad bin Dirham. Ia telah mengklaim bahwa Allah tidaklah menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kekasih), Allah tidak berbicara dengan Musa. Maha tinggi Allah dari sesuatu yang dikatakan oleh Ja'ad bin Dirham dengan ketinggian yang besar. Kemudian Kholid Al-Qosriy turun dan menyembelihnya". [HR. Al-Bukhoriy dalam At-Tarikh Al-Kabir (no. 143), Ad-Darimiy dalam Ar-Rodd ala Al-Jahmiyyah (no. 13 & 387), Al-Khollal dalam As-Sunnah (no. 1690), Al-Ajurriy dalam Asy-Syari'ah (no. 2000), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (10/205), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (52/255). Atsar ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Mukhtashor Al-Uluw (hal. 75)]

Ucapan selamat ini juga diperkuat oleh atsar lain yang diriwayatkan oleh Asy-Syajariy dalam kitabnya Al-Amaliy Asy-Syajariyyah (1/287), dari Muhammad bin Harb Al-Himshiy berkata,
صلى إلى جنبي محمد بن زياد يوم عيد، فلما سلم الإمام قال تقبل الله منا ومنكم، وزكى أعمالنا وأعمالكم وجعلها في موازيننا، فقلت له يا أبا سفيان: كان السلف يفعل هذا؟ قال نعم، إذا صلى الإمام فعل ذلك، فقال تقبل الله منا ومنكم، فقلت أبو إمامة كان يفعل ذلك؟ قال: نعم.
Muhammad bin Ziyad pernah sholat di sampingku pada hari ied. Tatkala imam bersalam, maka ia (Muhammad bin Ziyad) berkata,
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَزَكَّى أَعْمَالَنَا وَأَعْمَالَكُمْ وَجَعَلَهَا فِيْ مَوَازِيْنِنَا
"Semoga Allah menerima (segala amal sholih) dari kami dan kalian, semoga Allah menyucikan amalan-amalan kami dan kalian dan menjadikannya dalam timbangan-timbangan kita".
Aku (Muhammad bin Harb) katakan kepadanya, "Wahai Abu Sufyan, "Apakah para salaf melakukan hal ini?" Ia (Muhammad bin Ziyad) berkata, "Ya, jika imam salam, maka ia lakukan hal itu seraya berkata, "Taqobbalallahu minna wa minkum".
Aku katakan, "Apakah Abu Umamah (sahabat) pernah melakukan hal itu?" Ia (Muhammad bin Ziyad) berkata, "Ya".

Imam Ahmad bin Hambal Asy-Syaibaniy -rahimahullah- berkata, "Sanadnya adalah sanad yang jayyid (baik)". [Lihat Al-Jawhar An-Naqiy (3/320) oleh Ibnu At-Turkumaniy, dan Tamam Al-Minnah (hal. 356) oleh Al-Albaniy]

Ketika Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi'iy Al-Asqolaniy -rahimahullah- menjelaskan sebuah hadits dalam Shohih Al-Bukhoriy, maka beliau membawakan sebuah atsar yang meniadakan ucapan selamat ini. Namun atsar-nya lemah.

Selanjutnya beliau mengisyaratkan sebuah hadits untuk menetapkan adanya syariat mengucapkan kata selamat dan doa kepada kaum muslimin di hari raya, seraya beliau berkata,
"Kami telah meriwayatkan dalam Al-Mahamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata,
"Dahulu para sahabat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- jika bertemu di hari ied, maka sebagian orang diantara mereka berkata kepada yang lainnya,
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
"Semoga Allah menerima (amal sholih) dari kami dan anda". [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (2/446)]

Inilah sejumlah atsar yang menetapkan sunnahnya mengucapkan ucapan selamat dan doa ini di hari raya kepada setiap muslim yang kita jumpai, sebuah ucapan yang mengandung doa bagi si pengucap dan orang yang dijumpainya pada hari raya.

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk para salaf. Karenanya, ikutilah cara mereka dalam mengucapkan kata selamat di hari ied (baik di hari raya Idul Fithri, atau pun di hari raya Idul Adh-ha).

Jadi, doa ini telah dilestarikan oleh para salaf. Karena, di dalamnya ada kebaikan berupa doa agar segala amalan kita yang telah berlalu diterima oleh Allah -Azza wa Jalla-.

Berbeda dengan ucapan-ucapan selamat yang tersebar di hari ini, hanya mengandung ucapan biasa saja, bahkan kadang maknanya tak dapat dimengerti. Mungkin dapat dimengerti, tapi oleh sebagian orang saja, dan disertai berbagai penafsiran yang berbeda menurut pemahaman atau keyakinan orang.

Lebih parah lagi, diantaranya hanya mengandung ucapan-ucapan iseng dan kosong dari kebaikan!!

Oleh karena itu, hendaknya kita ikut melestarikan ucapan selamat yang diamalkan oleh para sahabat. Doa dan ucapan selamat ini lebih baik dibandingkan ucapan selamat hari raya yang berbunyi,
((مِنَ العَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ))
"Dari orang-orang yang berhari raya dan beruntung".

Ucapan selamat yang masyhur ini tak mengandung doa. Ia hanya berupa ucapan yang samar dan susah dipahami maknanya. Apalagi di dalamnya terdapat unsur tazkiyah (penyucian diri).

Karena dengan doa ini, seseorang telah menganggap dirinya telah beruntung. Sedang orang yang beruntung, tentunya akan masuk surga. Padahal kesudahan diri dan ibadah kita semuanya kembali kepada Allah. Kita hanya bisa berharap, tapi tak boleh memastikan.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
فَلاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى  [النجم : 32]
"Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa". (QS. An-Najm : 32)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jaza'iriy hafizhahullah- berkata,
"Robb (Allah) -Ta'ala- melarang para hamba-Nya yang beriman dari menyucikan dirinya sendiri dengan mengklaim kesempurnaan dan kesucian; suatu perkara yang merupakan sikap sombong dan bangga diri. Bangga diri adalah pembatal amalan, seperti halnya riya' dan kesyirikan". [Lihat Aysar At-Tafasir (5/197)]

Para pembaca yang budiman, disana ada juga ucapan selamat yang beredar di masyarakat kaum muslimin di hari raya dengan bunyi berikut:
كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
"Setiap tahun datang, sedang anda berada dalam kebaikan".

Ucapan ini pun masih perlu diteliti dan diperhatikan. Karena ia hanya merupakan harapan, bukan doa. Jadi, sebaik-baik ucapan selamat adalah doa yang dilestarikan dan diamalkan oleh para salaf -radhiyallahu anhum- dengan bunyi,
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
"Semoga Allah menerima (segala amal sholih) dari kami dan kalian". [HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (24/154) dan Abul Qosim Al-Ashbahaniy dalam At-Targhib wa At-Tarhib (no. 381)]

Dari keterangan yang telah berlalu, maka kita sudah mengetahui tentang hukum mengucapkan kata selamat tersebut. Hal itu disunnahkan, karena dilakukan para sahabat dan tabi'in yang kita kenal dengan "Salaf" (pendahulu).







Tidak ada komentar:

Posting Komentar