Menebar Salam dan Ucapan Doa Selamat di Dua Hari Raya : Idul Fithri dan Idul Adh-ha
Menebar Salam dan
Ucapan Doa Selamat
di Dua Hari Raya : Idul
Fithri dan Idul Adh-ha
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-
Di
hari raya kita disunnahkan untuk saling mengucapkan selamat dan doa bagi kaum
muslimin yang lain saat kita berjumpa di hari itu atau setelahnya. Perkara
ini perlu kami jelaskan, karena sebagian orang ada yang mengingkari hal ini dan
ada juga yang memang jahil tentang sunnah ini, sehingga ia pun mengarang
kata-kata dan ucapan selamat yang sering kali melanggar batasan agama.
Sejumlah
atsar telah menunjukkan bahwa disunnahkan bagi seorang muslim mengucapkan kata
selamat bagi saudaranya di hari raya (ied) demi melengkapi rasa gembira mereka
pada hari tersebut.
Dari Shofwan bin Amer As-Saksakiy -rahimahullah-
, ia berkata,
رأيت
عبد الله بن بسر المازني وخالد بن معدان وراشد بن سعد وعبد الرحمن بن جبير بن نفير
وعبد الرحمن بن عائذ وغيرهم من الأشياخ يقول بعضهم لبعض في العيد: تقبل الله منا
ومنكم
"Aku pernah melihat Abdullah
bin Busr Al-Maziniy, Kholid bin Ma'dan, Rosyid bin Sa'ad, Abdur Rahman bin
Jubair bin Nufair, Abdur Rahman bin A'idz dan selain mereka dari kalangan para
syaikh (guru), sebagian diantara mereka berkata kepada sebagian yang lain di
hari ied,
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
"Semoga Allah menerima (segala
amal sholih) dari kami dan kalian". [HR.
Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (24/154) dan Abul Qosim
Al-Ashbahaniy dalam At-Targhib wa At-Tarhib (no. 381)]
Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahumullah-
berkata,
فيبعد
أن يقول هو والتابعون المذكورون معه شيئا دون أن يتلقوه عن الصحابة فتكون الروايتان
صحيحتين فالصحابة فعلوا ذلك فاتبعهم عليه التابعون المذكورون ، والله سبحانه
وتعالى أعلم
"Amat jauh sekali kalau dia
(sahabat Abdullah bin Busr) dan para tabi'in yang tersebut bersamanya
mengucapkan sesuatu, tanpa menerimanya dari para sahabat. Jadi, kedua riwayat
itu shohih. Para sahabat telah melakukan hal
itu. Karenanya, para tabi'in tersebut mengikuti mereka dalam hal itu. Hanya
Allah -Subhanahu wa Ta'ala- yang lebih tahu". [Lihat Tamam Al-Minnah (hal. 355)]
Ucapan
selamat ini terus-menerus diabadikan oleh kaum muslimin terdahulu sampai hari
ini. Di dua hari raya, para salaf mengucapkan kalimat di atas kepada
orang-orang Islam yang mereka jumpai, sebab di dalamnya terdapat doa.
Habib bin Abi Habib Al-Jarmiy
-rahimahullah- berkata,
شهدت
خالد بن عبد الله القسري بواسط يوم الأضحى قال ضحوا تقبل الله منا ومنكم فإني مضح
بجعد بن درهم زعم أن الله لم يتخذ إبراهيم خليلا ولم يكلم موسى تكليما تعالى الله
عما يقول الجعد بن درهم علوا كبيرا ثم نزل فذبحه
"Aku telah menyaksikan Kholid
bin Abdillah Al-Qosriy di negeri Wasith pada hari Iedul Adh-ha, ia berkata,
"Berkurbanlah!!
Semoga Allah menerima (amal sholih) dari kami dan kalian. Sesungguhnya aku akan
menyembelih Ja'ad bin Dirham. Ia telah mengklaim bahwa Allah tidaklah
menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kekasih), Allah tidak berbicara dengan Musa.
Maha tinggi Allah dari sesuatu yang dikatakan oleh Ja'ad bin Dirham dengan
ketinggian yang besar. Kemudian Kholid Al-Qosriy turun dan
menyembelihnya". [HR. Al-Bukhoriy dalam At-Tarikh
Al-Kabir (no. 143), Ad-Darimiy dalam Ar-Rodd ala Al-Jahmiyyah
(no. 13 & 387), Al-Khollal dalam As-Sunnah (no. 1690),
Al-Ajurriy dalam Asy-Syari'ah (no. 2000), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan
Al-Kubro (10/205), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (52/255).
Atsar ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Mukhtashor
Al-Uluw (hal. 75)]
Ucapan
selamat ini juga diperkuat oleh atsar lain yang diriwayatkan oleh Asy-Syajariy
dalam kitabnya Al-Amaliy Asy-Syajariyyah (1/287), dari Muhammad
bin Harb Al-Himshiy berkata,
صلى
إلى جنبي محمد بن زياد يوم عيد، فلما سلم الإمام قال تقبل الله منا ومنكم، وزكى
أعمالنا وأعمالكم وجعلها في موازيننا، فقلت له يا أبا سفيان: كان السلف يفعل هذا؟
قال نعم، إذا صلى الإمام فعل ذلك، فقال تقبل الله منا ومنكم، فقلت أبو إمامة كان
يفعل ذلك؟ قال: نعم.
Muhammad
bin Ziyad pernah sholat di sampingku pada hari ied. Tatkala imam bersalam, maka
ia (Muhammad bin Ziyad) berkata,
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَزَكَّى أَعْمَالَنَا
وَأَعْمَالَكُمْ وَجَعَلَهَا فِيْ مَوَازِيْنِنَا
"Semoga Allah menerima (segala
amal sholih) dari kami dan kalian, semoga Allah menyucikan amalan-amalan kami
dan kalian dan menjadikannya dalam timbangan-timbangan kita".
Aku
(Muhammad bin Harb) katakan kepadanya, "Wahai Abu Sufyan, "Apakah
para salaf melakukan hal ini?" Ia (Muhammad bin Ziyad) berkata, "Ya,
jika imam salam, maka ia lakukan hal itu seraya berkata, "Taqobbalallahu
minna wa minkum".
Aku
katakan, "Apakah Abu Umamah (sahabat) pernah melakukan hal itu?" Ia
(Muhammad bin Ziyad) berkata, "Ya".
Imam Ahmad bin Hambal
Asy-Syaibaniy
-rahimahullah- berkata, "Sanadnya adalah sanad yang jayyid
(baik)". [Lihat Al-Jawhar An-Naqiy (3/320) oleh Ibnu
At-Turkumaniy, dan Tamam Al-Minnah (hal. 356) oleh Al-Albaniy]
Ketika
Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi'iy Al-Asqolaniy -rahimahullah- menjelaskan sebuah hadits dalam Shohih
Al-Bukhoriy, maka beliau membawakan sebuah atsar yang meniadakan
ucapan selamat ini. Namun atsar-nya lemah.
Selanjutnya
beliau mengisyaratkan sebuah hadits untuk menetapkan adanya syariat mengucapkan
kata selamat dan doa kepada kaum muslimin di hari raya, seraya beliau berkata,
"Kami
telah meriwayatkan dalam Al-Mahamiliyyat
dengan sanad yang hasan dari Jubair
bin Nufair, ia berkata,
"Dahulu
para sahabat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- jika bertemu di hari
ied, maka sebagian orang diantara mereka berkata kepada yang lainnya,
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
"Semoga Allah menerima (amal
sholih) dari kami dan anda". [Lihat
Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (2/446)]
Inilah
sejumlah atsar yang menetapkan sunnahnya mengucapkan ucapan selamat dan doa ini
di hari raya kepada setiap muslim yang kita jumpai, sebuah ucapan yang
mengandung doa bagi si pengucap dan orang yang dijumpainya pada hari raya.
Sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk para salaf.
Karenanya, ikutilah cara mereka dalam mengucapkan kata selamat di hari ied
(baik di hari raya Idul Fithri, atau pun di hari raya Idul Adh-ha).
Jadi,
doa ini telah dilestarikan oleh para salaf. Karena, di dalamnya ada kebaikan
berupa doa agar segala amalan kita yang telah berlalu diterima oleh Allah -Azza
wa Jalla-.
Berbeda
dengan ucapan-ucapan selamat yang tersebar di hari ini, hanya mengandung ucapan
biasa saja, bahkan kadang maknanya tak dapat dimengerti. Mungkin dapat
dimengerti, tapi oleh sebagian orang saja, dan disertai berbagai penafsiran
yang berbeda menurut pemahaman atau keyakinan orang.
Lebih
parah lagi, diantaranya hanya mengandung
ucapan-ucapan iseng dan kosong dari kebaikan!!
Oleh
karena itu, hendaknya kita ikut melestarikan ucapan selamat yang diamalkan oleh
para sahabat. Doa dan ucapan selamat ini lebih baik dibandingkan ucapan selamat
hari raya yang berbunyi,
((مِنَ
العَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ))
"Dari orang-orang yang berhari
raya dan beruntung".
Ucapan
selamat yang masyhur ini tak mengandung doa. Ia hanya berupa ucapan yang samar
dan susah dipahami maknanya. Apalagi di dalamnya terdapat unsur tazkiyah
(penyucian diri).
Karena
dengan doa ini, seseorang telah menganggap dirinya
telah beruntung. Sedang orang yang beruntung, tentunya akan masuk surga. Padahal
kesudahan diri dan ibadah kita semuanya kembali kepada Allah. Kita hanya bisa
berharap, tapi tak boleh memastikan.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
فَلاَ
تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى [النجم : 32]
"Maka
janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah Yang paling mengetahui tentang
orang yang bertakwa". (QS.
An-Najm : 32)
Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jaza'iriy –hafizhahullah-
berkata,
"Robb (Allah) -Ta'ala- melarang
para hamba-Nya yang beriman dari menyucikan dirinya sendiri dengan mengklaim
kesempurnaan dan kesucian; suatu perkara yang merupakan sikap sombong dan
bangga diri. Bangga diri adalah pembatal amalan, seperti halnya riya' dan
kesyirikan". [Lihat Aysar At-Tafasir
(5/197)]
كُلُّ عَامٍ
وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
"Setiap
tahun datang, sedang anda berada dalam kebaikan".
Ucapan ini pun masih perlu diteliti dan diperhatikan.
Karena ia hanya merupakan harapan, bukan doa. Jadi, sebaik-baik ucapan selamat
adalah doa yang dilestarikan dan diamalkan oleh para salaf -radhiyallahu
anhum- dengan bunyi,
تَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
"Semoga Allah menerima (segala
amal sholih) dari kami dan kalian". [HR.
Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (24/154) dan Abul Qosim
Al-Ashbahaniy dalam At-Targhib wa At-Tarhib (no. 381)]
Dari
keterangan yang telah berlalu, maka kita sudah mengetahui tentang hukum
mengucapkan kata selamat tersebut. Hal itu disunnahkan, karena dilakukan para
sahabat dan tabi'in yang kita kenal dengan "Salaf" (pendahulu).
Komentar
Posting Komentar