Hadits-hadits Lemah yang Mewarnai Pelaksanaan Ibadah Qurban
Hadits-hadits Lemah yang
Mewarnai
Pelaksanaan Ibadah Qurban
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
Sebuah
perkara yang miris, sebagian dari dai-dai saat menerangkan keutamaan ibadah
qurban, mereka membawakan sejumlah hadits lemah atau palsu dalam menguatkan
perkara yang ia utarakan. Padahal
sebenarnya seorang dai tidak butuh kepada hadits-hadits lemah yang disandarkan
kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Apalagi
menyandarkan hadits-hadits lemah kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
adalah perkara yang diharamkan dalam agama, sebab ia termasuk bentuk kedustaan
atas nama beliau dan memasukkan dalam agama ini sesuatu yang bukan bagian
darinya.
Adanya
realita seperti ini, memanggil kami untuk sedikit menjelaskan hadits-hadits
lemah yang sering kali digunakan oleh sebagian dai saat menjelaskan keutamaan
qurban.
Hadits Pertama
|
((مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى
اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ
بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا ، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ
اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا))
"Tidak
anak cucuk Adam melakukan suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah -Azza wa
Jalla- pada Hari Nahar (Hari Qurban) dibandingkan mengalirkan darah (yakni,
darah qurban,-pent.).
Sesungguhnya
ia (hewan-hewan qurban itu) benar-benar akan datang pada hari kiamat dengan
membawa tanduk-tanduk, bulu-bulu dan kuku-kukunya dan bahwa darahnya akan jatuh
(tumpah) di depan Allah pada suatu tempat, sebelum darah itu jatuh ke tanah.
Karenanya, relakanlah jiwa kalian padanya." [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no.
1493) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3126)]
Hadits
ini adalah dho'if (lemah), karena pada sanadnya, terdapat seorang rawi bernama
Abul Mutsanna (nama aslinya adalah Sulaiman bin Yazid Al-Ka'biy Al-Khuza'iy)[1].
Dengannya,
Syaikh Al-Albaniy melemahkan hadits ini di dalam Adh-Dho'ifah
(no. 526).
Ibnul Jauziy -rahimahullah-
berkata, "Ini adalah hadits yang tidak shohih." [Lihat Al-'Ilal
Al-Mutanahiyah (2/570/no. 936)]
Hadits Kedua
|
Dari
Zaid bin Arqom ia berkata, "Aku katakan, atau mereka berkata,
يَا رَسُولَ اللهِ مَا هَذِهِ الأَضَاحِيُّ ؟
قَالَ : سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ . قَالُوا : مَا لَنَا مِنْهَا ؟ قَالَ :
بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ . قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ فَالصُّوفُ ؟ قَالَ :
بِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنَ الصُّوفِ حَسَنَةٌ
"Wahai
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, "Sembelihan-sembelihan apakah
ini?"
Beliau
bersabda, "(Sembelihan ini) adalah sunnah kakek kalian Ibrahim."
Mereka
berkata, "Apa yang akan kami dapatkan pada sembelihan-sembelihan (qurban)
itu, wahai Rasulullah?"
Beliau
jawab, (Kalian akan mendapatkan) pada setiap sehelai bulu, satu kebaikan."
Mereka
bertanya lagi, "Kalau shuuf (domba), wahai Rasulullah?
Beliau
jawab, "(Kalian akan mendapatkan) pada setiap sehelai bulu dari domba,
satu kebaikan." [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/368),
Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 3127) dan lainnya]
Hadits
ini dinyatakan dho'if jiddan (lemah sekali) oleh Al-Arna'uth dalam Takhrij
Al-Musnad (19283), karena rawinya yang bernama A'idzullah Al-Mujasyi'iy (dho'if alias
lemah), dan Abu Dawud
Nufai' Ibnul Harits Al-A'maa (matruk).
Adapun
Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah-, maka beliau lebih condong dalam
menghukumi hadits ini sebagai hadits maudhu' (palsu), karena Abu Dawud
Al-A'maa dihukumi oleh sebagian ahli hadits sebagain rawi yang tertuduh dusta
yang biasa meriwayatkan hadits-hadits palsu, seperti yang dijelaskan Al-Hafizh
Adz-Dzahabiy dan Ibnu Hibban Al-Bustiy.
Hadits Ketiga
|
Dari Imron bin Hushoin -radhiyallahu
anhu- bahwa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
يَا
فَاطِمَةُ قَوْمِي إِلَى أُضْحِيَّتِكَ فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّهُ يُغْفَرُ لَكِ
عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلْتِيهِ وَقُولِي
: إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَالَ
عِمْرَانُ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، هَذَا لَكَ وَلِأَهْلِ بَيْتِكِ
خَاصَّةً فَأَهْلُ ذَاكَ أَنْتُمْ أَمْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً ؟ قَالَ : لاَ
بَلْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً.
"Wahai
Fathimah, bangkitlah menuju sembelihan (qurban)mu, lalu saksikanlah. Karena,
akan diampuni bagimu -pada setiap tetesan yang menetes dari darahnya- semua dosa
yang kamu lakukan dan ucapkan,
'Sesungguhnya
sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku untuk Allah Pemilik alam semesta.
Tiada sekutu bagi-Nya. Dengan itulah aku diperintah, sedang aku termasuk
orang-orang muslim.'
Imron
berkata, 'Aku katakan, "Wahai Rasulullah, apakah (sembelihan qurban) ini
hanya untukmu dan penghuni rumahmu (keluargamu) secara khusus? Apakah yang
berhak terhadap perkara itu, ataukah bagi kaum muslimin secara umum."
Beliau
menjawab, "Bahkan hal itu bagi kaum muslimin secara umum." [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (4/222/
no. 7524)]
Hadits
ini adalah dho'if jiddan (lemah sekali),
karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abu Hamzah Tsabit bin Abi Shofiyyah Ats-Tsimaliy. Dia adalah seorang Syi'ah-Rofidhoh yang lemah, karena
sering melakukan kesalahan dalam meriwayatkan hadits.
Hadits ini dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy sebagai "hadits munkar"!! [Lihat Adh-Dho'ifah (528)]
Hadits ini dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy sebagai "hadits munkar"!! [Lihat Adh-Dho'ifah (528)]
Hadits Keempat
|
Diantara hadits masyhur di lisan manusia, dalam perkara qurban, hadits berikut :
عَظِّمُوا
ضَحَايَاكُمْ؛ فَإِنَّهَا عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ
"Besarkanlah
sembelihan-sembelihan (qurban) kalian. Karena, ia merupakan tunggangan kalian
di atas Shiroth."
Hadits
ini adalah hadits palsu yang tidak diketahui asal-muasalnya siapa yang
meriwayatkannya. Ia hanya masyhur pada lisan manusia.
Al-Hafizh Ibnu Hajar
berkata,
لَمْ
أَرَهُ
"Aku
belum pernah melihatnya."
[Lihat At-Talkhish Al-Habir (4/341)]
Al-Hafizh Ibnush Sholah -rahimahullah-
berkata,
إِنَّ
هَذَا الْحَدِيثَ غَيْرُ مَعْرُوفٍ وَلَا ثَابِتٌ فِيمَا عَلِمْنَاهُ
"Sesungguhnya
hadits ini tidak dikenal, dan tidak pula tsabit (tidak shohih) sebagaimana yang
kami ketahui." [Lihat Al-Maqoshid Al-Hasanah
(hlm. 114)]
Hadits
ini dihukumi oleh Syaikh Al-Albaniy sebagai hadits "Laa ashla lahu" (tidak
ada asalnya).[2][Lihat
Adh-Dho'ifah (no. 74)]
Hadits Kelima
|
Dari Al-Hasan bin Ali bin Tholib -radhiyallahu anhu- berkata, "Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ
ضَحَّى طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ ، مُحْتَسِبًا لأُضْحِيَّتِهِ ، كَانَتْ لَهُ
حِجَابًا مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa
yang berqurban dalam keadaan jiwanya senang dengannya, lagi mengharapkan pahala
pada qurbannya, maka ia (qurbannya) akan menjadi hijab (pelindung) baginya dari
neraka." [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam
Al-Kabir (no. 2736)]
Hadits
ini adalah hadits maudhu' (palsu), karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang
bernama Sulaiman bin Amer, yang lebih dikenal dengan "Abu Dawud An-Nakho'iy".
Orang
ini adalah seorang kadzdzab (tukang dusta), biasa memalsukan hadits.
Al-Imam Sirojuddin Ibnul Mulaqqin Al-Mishriy -rahimahullah- berkata,
وَأَبُو
دَاوُد هَذَا كَذَّاب ، قَالَ أَحْمد : كَانَ يضع الحَدِيث .
"Abu
Dawud ini adalah kadzdzab (tukang dusta). Imam Ahmad berkata, "Ia biasa
memalsukan hadits." [Lihat
Al-Badr Al-Munir (9/276)]
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- (ulama hadits dari Yordania)
menilai palsunya hadits ini di dalam Dho'if At-Targhib wa At-Tarhib
(no. 677).
Hadits Keenam
|
إِنَّ
اللهَ - تَعَالَى - يُعْتِقُ بِكُل عُضْوٍ من الضحية عُضْوًا مِنَ الْمُضَحِّيْ
"Sesungguhnya
Allah -Ta'ala- akan membebaskan satu anggota tubuh orang yang berkurban dengan
sebab setiap anggota tubuh hewan qurban."
Hadits
ini adalah hadits palsu yang tidak diketahui asalnya.
Hadits ini hanya disebutkan oleh sebagian ulama dalam-dalam kitab fiqih tanpa sanad, seperti Ar-Rofi'iy dalam Asy-Syarh Al-Kabir. [Lihat At-Talkhish Al-Kabir (4/343)]
Hadits ini hanya disebutkan oleh sebagian ulama dalam-dalam kitab fiqih tanpa sanad, seperti Ar-Rofi'iy dalam Asy-Syarh Al-Kabir. [Lihat At-Talkhish Al-Kabir (4/343)]
Al-Imam
Abu Amer Ibnush Sholah -rahimahullah-
berkata saat mengomentari kitab Al-Wasith, karya
Al-Ghozaliy,
إِنَّه
حَدِيث غير مَعْرُوف وَإنَّهُ لم يجد لَهُ سندًا يثبت بِهِ
""Sesungguhnya
hadits ini adalah hadits yang tidak dikenal, dan sesungguhnya ia (Al-Ghozaliy)
tidak menemukan sanadnya yang tsabit (nyata)." [Lihat Al-Badr Al-Munir (9/276) oleh Ibnul Mulaqqin]
Hadits Ketujuh
|
Dari
Ali -radhiyallahu anhu-, dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
يا
أيها الناس ضحوا واحتسبوا بدمائها فإن الدم وإن وقع في الأرض فإنه يقع في حرز الله
جل وعز
"Wahai
manusia, berkurbanlah dan haraplah pahala pada darahnya. Karena, darahnya
–kalau ia jatuh (menetes) di tanah, maka sesungguhnya ia akan jatuh dalam
penjagaan Allah -Azza wa Jalla-." [HR. Ath-Thobroniy
dalam Al-Mu'jam Al-Ausath (8/176)]
Di
dalam sanadnya, ada rawi yang bernama Amer bin Al-Hushoin Al-'Uqoiliy.
Dia adalah seorang rawi yang matruk (ditinggalkan), karena telah meriwayatkan hadits-hadits palsu.
Dia adalah seorang rawi yang matruk (ditinggalkan), karena telah meriwayatkan hadits-hadits palsu.
Abu Hatim Ar-Roziy -rahimahullah-
berkata,
أخرج
بعد لابن علاثة أحاديث موضوعة فأفسد علينا ما كتبنا عنه فتركنا حديثه
"Dia
(Amer Al-Uqoiliy) mengeluarkan setelah itu bagi Ibnu Alatsah hadits-hadits
palsu. Lantaran itu, ia pun merusak apa yang telah kami tulis darinya. Karenanya, kami pun meninggalkan haditsnya."
[Lihat Al-Jarh wa At-Ta'dil (6/229)]
Ibnu Adi -rahimahullah- berkata,
حدث
عن غير الثقات بغير ما حديث منكر وهو مظلم الحديث
"Ia
(Amer) menceritakan dari orang-orang yang tidak tsiqoh (terpercaya), yang bukan
cuma satu hadits munkar saja. Dia adalah orang yang gelap haditsnya." [Lihat Tahdzib At-Tahdzib (24/21) oleh
Ibnu Hajar]
Dengan
sebab rawi inilah, Syaikh Albaniy menghukumi hadits di atas sebagai hadits yang palsu di
dalam kitabnya Adh-Dho'ifah (no. 530) dan Dho'if At-Targhib
(no. 676).
Hadits Kedelapan
|
Dari
Ibnu Abbas -radhiyallahu ta'ala anhuma- berkata, "Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَا
أُنْفِقَتِ الْوَرِقُ فِي شَيْءٍ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ نَحيرٍ يُنْحَرُ فِي
يَوْمِ عِيدٍ.
"Tidaklah
perak (dirham) diinfakkan dalam suatu hal yang lebih dicintai oleh Allah
dibandingkan sembelihan (qurban) yang disembelih pada hari raya." [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam Al-Kabir
(no. 10894), Ad-Daruquthniy dalam Sunan-nya (no. 4752),
Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (9/260), ]
Di
dalam sanadnya, terdapat rawi bermasalah yang bernama Ibrahim bin Yazid Al-Khuziy.
Al-Imam Al-Bukhoriy -rahimahullah-
berkata dalam menilai orang ini,
إبراهيم
بن يزيد أبو إسماعيل الخوزي مكي سكتوا عنه
"Ibrahim
bin Yazid Abu Isma'il Al-Khuziy seorang dari Makkah. Mereka diam darinya."
[Lihat At-Tarikh Al-Kabir
(1/336/no. 1057)]
Ungkapan
Al-Imam Al-Bukhoriy -rahimahullah- dalam menilai rawi tersebut merupakan
celaan keras baginya.
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir
-rahimahullah- berkata,
إذا
قال، في الرجل: " سكتوا عنه " ، أو " فيه نظر " ، فإنه يكون
في أدنى المنازل وأردئها عنده، لكنه لطيف العبارة في التجريح، فليعلم ذلك.
"Kalau
beliau (Al-Bukhoriy) berkata tentang seseorang, "Mereka diam darinya,"
atau "Perlu ditinjau," maka orang itu berada pada tingkatan paling
rendah dan paling buruk di sisi beliau. Hanya beliau adalah seorang yang lembut
ungkapannya dalam men-jarh. Jadi, hendaknya hal itu dimengerti." [Lihat Al-Ba'its Al-Hatsits Ikhtishor Ulum
Al-Hadits (hlm. 101)]
Al-Hafizh Adz-Dzahabiy -rahimahullah-
berkata,
أما
قولُ البخاري: (سكتوا عنه)، فظاهِرُها أنهم ما تعرَّضوا له بجَرْح ولا تعديل، وعَلِمنا
مقصدَه بها بالا ستقراء: أنها بمعنى تركوه.
"Ucapan
Al-Bukhoriy, "Mereka diam darinya," lahiriahnya bahwa
mereka tidak menyinggung bagi rawi itu dengan celaan atau pujian. Namun kita
mengetahui maksudnya dari kalimat itu berdasarkan penelitian bahwa kalimat itu
maknanya adalah mereka (ahli hadits) meninggalkannya." [Lihat Al-Muqizhoh (hlm. 83)]
Saat
menjelaskan dua ungkapan dan istilah Al-Imam Al-Bukhoriy yang disebutkan oleh
Ibnu Katsir dalam ucapannya di atas, Al-Hafizh As-Sakhowiy -rahimahullah-
berkata,
وَكَثِيرًا
مَا يُعَبِّرُ الْبُخَارِيُّ بِهَاتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ فِيمَنْ تَرَكُوا
حَدِيثَهُ
"Seringkali
Al-Bukhoriy mengungkapkan dengan kalimat terakhir bagi orang ditinggalkan
haditsnya oleh mereka (yakni, ahli hadits)." [Lihat Fathul Mughits bi Syarh Alfiyyah Al-Hadits (2/126)]
Hadits Kesembilan
|
Dari
Ibnu Abbas, ia berkata, "Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda pada hari Idul Adh-ha,
مَا
عَمِلَ ابْنُ آدَمَ فِي هَذَا الْيَوْمِ، أَفْضَلَ مِنْ دَمٍ يُهَرَاقُ، إِلا أَنْ
يَكُونَ رَحِمًا مَقْطُوعَةً تُوصَلُ
"Tidak
ada suatu amalan apapun di hari ini yang lebih utama dibandingkan darah yang
dialirkan, kecuali sesuatu itu berupa silaturahim yang terputus
disambung." [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam
Al-Kabir (no. 10948)]
Hadits
ini adalah dho'if (lemah), karena ada dua rawi bermasalah:
a.
Isma'il bin Ayyasy
Al-Himshiy Asy-Syamiy.
Al-Imam Al-Bukhoriy -rahimahullah- berkata,
إذا
حدث عن أهل بلده فصحيح وإذا حدث عن غير أهل بلده ففيه نظر
"Kalau
ia (Isma'il) menceritakan dari penduduk negerinya, maka haditsnya shohih. Bila
ia menceritakan dari selain penduduk negerinya (yakni, negeri Syam), maka perlu
ditinjau." [Lihat Tarikh Baghdad (6/224)]
Sementara Isma'il di dalam hadits di atas, ia meriwayatkan dari Al-Laits bin Abi Sulaim Al-Qurosyiy yang berasal dari Kufah.
b. Al-Laits bin Abi Sulaim Al-Qurosyiy Al-Kufiy adalah seorang yang dho'if.
Dengan keadaan dua rawi yang seperti ini, serta berbagai perbincangan pada diri Al-Hasan bin Yahya Al-Khusyaniy, maka Syaikh Al-Albaniy menyatakan hadits ini dho'if (lemah) di dalam kitab Dho'if Al-Jami' Ash-Shoghir (no. 5113)
Hadits Kesepuluh
|
Satu
lagi hadits lemah dalam hal qurban, hadits berikut :
فِي
الأُضْحِيَّةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ
"Pada
hewan qurban, pemiliknya akan mendapatkan satu kebaikan pada setiap helai
bulunya."
Hadits
ini lemah karena ia diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dalam Sunan-nya
(3/135) dengan shighoh mu'allaq[3],
tanpa sanad. Ini termasuk golongan hadits lemah.
Hadits
ini dihukumi sebagai hadits maudhu' (palsu) oleh Syaikh Al-Albaniy dalam
Adh-Dho'ifah (1050).
Hadits Kesebelas
|
Konon
kabarnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَا
مِنْ مُحْرِمٍ يَضْحَى ِللهِ يَوْمَهُ ، يُلَبِّي حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ ،
إِلاَّ غَابَتْ بِذُنُوبِهِ ، فَعَادَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
"Tidak
seorang yang ber-ihram pun yang berqurban karena Allah, pada harinya ia
ber-talbiyah sampai matahari tenggelam, melainkan matahari itu akan tenggelam
membawa dosa-dosanya. Lalu ia pun kembali sebagaimana ia dilahirkan oleh
ibunya." [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya
(2925)]
Hadits
ini dho'if (lemah), karena di dalamnya ada rawi yang bernama Ashim bin Umar Al-Umariy
(dho'if alias lemah), dan Ashim bin
Ubaidillah Al-Umariy (juga dho'if alias lemah).
Karenanya, Syaikh Al-Albaniy menilai hadits ini sebagai hadits lemah lagi munkar
di dalam Dho'if At-Targhib (717).
Hadits Kedua Belas
|
Dari
Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
اسْتَفْرِهُوا
ضَحَايَاكُمْ فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ
"Pilihlah
yang terbaik dari sembelihan-sembelihan (qurban) kalian. Karena, ia merupakan
tunggangan-tunggangan kalian di atas Shirat." [HR. Ad-Dailamiy
dalam Al-Firdaus (no. 268), dan Abdul Karim Ar-Rofi'iy dalam At-Tadwin
fi Akhbar Qozwin (3/219)]
Hadits
ini dho'if jiddan (lemah sekali), karena pada sanadnya terdapat rawi yang bernama Yahya bin Ubaidillah,
orang matruk (ditinggalkan haditsnya), bahkan ia dituduh dusta oleh
Al-Hakim. [Lihat Adh-Dho'ifah (2687)]
Hadits Ketiga Belas
|
Konon
kabarnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
ثَلاَثٌ
كُتِبَتْ عَلَيَّ وَلَمْ تُكْتَبْ عَلَيْكُمْ : السِّوَاكُ وَالْوِتْرُ
وَالْأُضْحِيَّةُ
"Tiga
perkara yang diwajibkan atasku, namun tidak diwajibkan atas kalian : bersiwak,
sholat witir, dan berqurban."
Hadits
ini palsu, karena laa ashla lahu (tidak diketahui asalnya).
Al-Hafizh Ibnu Hajar
berkata,
لَمْ
أَجِدْهُ هَكَذَا
"Aku
tidak menemukannya demikian." [Lihat
At-Talkhish Al-Habir (3/259)]
Hadits Kelima Belas
|
إِنَّ
أَفْضَلَ الضَّحَايَا أَغْلاَهَا ، وَأَسْمَنُهَا
"Sesungguhnya
qurban yang paling afdhol (utama) adalah qurban yang termahal dan
tergemuk." [HR. Ahmad dalam Al-Musnad
(3/424), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (7561)]
Hadits
ini lemah, karena pada sanadnya terdapat Utsman bin Zufar Al-Juhani Ad-Dimasyqiy
(majhul alias tidak dikenal), Abul Asyadd As-Sulamiy (majhul),
dan bapaknya juga majhul.
Syaikh
Al-Albaniy -rahimahullah- menilai hadits ini sebagai hadits dho'if (lemah)
dalam As-Silsilah Adh-Dho'ifah (no. 1678)
Hadits Keenam Belas
|
Konon
kabarnya, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
عَجِبَ
رَبُّكُمْ مِنْ ذَبْحِكُمُ الضَّأْنَ فِي يَوْمِ عِيدِكُمْ هَذَا
"Robb
(Tuhan) kalian takjub karena kalian menyembelih domba di Hari Raya kalian ini."
[HR. Al-Baihaqiy dalam Syu'abul
Iman (7335) dan Abu Nu'aim dalam Tarikh Ashbahan (2/204)]
Hadits
ini adalah maudhu' (palsu), karena rawinya yang bernama Sulaiman bin Dawud Al-Minqoriy
yang lebih dikenal dengan Asy-Syadzakuniy!! Dia adalah seorang yang biasa dusta dan memalsukan
hadits!!!
Karenanya,
Muhaddits Negeri Syam, Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah-
menyatakan hadits ini maudhu' (palsu) di dalam Silsilah Al-Ahadits
Ash-Shohihah (no. 2261)!!
Hadits Ketuju Belas
|
Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
نَسَخَ
الأَضْحَى كُلَّ ذَبْحٍ
"Qurban
menghapus semua sembelihan." [HR. Ad-Daruquthniy
dalam Sunan-nya (4747), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro
(9/261) dari sahabat Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu-]
Hadits
ini adalah dho'if jiddan (lemah sekali), karena rawinya yang bernama Al-Musayyib bin Syarik,
seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya)!! [Lihat Adh-Dho'ifah
(904)]
Saat
menjelaskan dua rawi hadits (Al-Haitsam bin Sahl dan Al-Musayyib bin Wadhih)
yang meriwayatkan dari Al-Musayyib bin Syarik, Al-Imam Ad-Daruquthniy -rahimahullah-
berkata,
وَكِلاَهُمَا
ضَعِيفَانِ وَالْمُسَيَّبُ بْنُ شَرِيكٍ مَتْرُوكٌ
"Kedua
orang ini lemah, sedang Al-Musayyib bin Syarik adalah matruk." [Lihat Sunan Ad-Daruquthniy (5/506)]
Al-Imam Abu Bakar Al-Baihaqiy
-rahimahullah- berkata,
والذي
روي عن علي مرفوعاً : نسخ الأضحى كل ذبح إسناده ضعيف بمرة.
"(Hadits)
yang diriwayatkan dari Ali (yakni, hadits di atas) secara marfu', 'Qurban
menghapus semua sembelihan,' : sanadnya adalah dho'if (lemah) sekali." [Lihat Ma'rifah As-Sunan wa Al-Atsar
(7/200) karya Al-Baihaqiy]
Hadits Kedelapan
Belas
|
Dari
Abu Sa'id Al-Khudriy -radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda kepada Fatimah –alaihash sholatu was
salam-,
قَوْمِي
إِلَى أُضْحِيَّتِكَ فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّ لَكِ بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ
دَمِهَا يُغْفَرُ لَكِ مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبُكَ
قَالَتْ
: يَا رَسُولَ اللهِ ، هَذَا لَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ خَاصَّةً أَوْ لَنَا
وَلِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً ؟
قَالَ
: بَلْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً.
"Bangkitlah
menuju qurbanmu. Saksikanlah, karena kamu akan mendapatkan pada awal tetesan
dari darahnya yang menetes; akan diampuni bagimu dosa-dosa yang telah
berlalu."
Dia
(Fathimah) berkata, "Wahai Rasulullah, apakah hal ini untuk kita ahlul
bait secara khusus atau untuk kita dan kaum muslimin secara umum?"
Beliau
bersabda, "Bahkan untuk kita dan untuk kaum muslimin secara umum." [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (7525),
dan lainnya]
Hadits
ini adalah lemah (dho'if), karena rawinya yang bernama Dawud bin Abdil Hamid, dan Athiyyah Al-Aufiy yang
merupakan golongan orang-orang dho'if (lemah). Karenanya, Syaikh
Al-Albaniy -rahimahullah- melemahkan hadits ini di dalam Adh-Dho'ifah
(6828).
Demikianlah beberapa hadits palsu dan lemah yang seringkali dijadikan dalil oleh sebagian orang saat menjelaskan keutamaan qurban. Padahal hadits palsu dan lemah tidak boleh dijadikan dasar dan dalil dalam agama. Cukuplah bagi kita dalam menunjukkan keutamaan QURBAN dengan ayat-ayat dan hadits-hadits shohih (benar datangnya dari Rasulullah -alaihis sholatu was salam-) yang menjelaskan keutamaan qurban dan agungnya ibadah qurban tersebut.
Demikianlah beberapa hadits palsu dan lemah yang seringkali dijadikan dalil oleh sebagian orang saat menjelaskan keutamaan qurban. Padahal hadits palsu dan lemah tidak boleh dijadikan dasar dan dalil dalam agama. Cukuplah bagi kita dalam menunjukkan keutamaan QURBAN dengan ayat-ayat dan hadits-hadits shohih (benar datangnya dari Rasulullah -alaihis sholatu was salam-) yang menjelaskan keutamaan qurban dan agungnya ibadah qurban tersebut.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين وصلى الله على نبينا وآله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
تم تنسيقه وكتابته يوم السبت, 8 من شهر الله الحرام ذي الحجة 1437 اهـ
Komentar
Posting Komentar