Golongan Manusia-manusia Tertipu
Golongan Manusia-manusia Tertipu
.........................................
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah -hafizhahullah-
.........................................
Seorang
pemuda berjalan dengan santai dan tenang menuju sebuah diskotik. Di dalam
diskotik, ia melakukan berbagai macam maksiat, mulai dari menenggak khomer
(minuman keras), berdisko (padahal musik itu haram dan maksiat), bahkan terkadang
ia berzina dengan seorang wanita pelacur yang dulu disebut WTS (Wanita Tuna Susila) dan kini
disebut dengan "PSK". Sesekali ia bergumam dalam hati, "Ah, nantilah
bertobat kalo sudah tua". Sungguh tertipu! Adakah jaminan baginya
untuk menghirup udara di esok hari!! Tak ada jaminan sedikitpun!!!
Di
sudut sana , ada seorang pejabat yang bertampan jujur dan amanah. Di kantor, ia
kelihatan baik, disiplin, dan ulet bekerja. Tapi yang bernama dunia, hijau
dipandang mata.
Sebagian
orang yang punya kepentingan dalam suatu urusan, datang kepada si pejabat itu
dengan membawa hijaunya dunia (baca :uang). Bukan hanya sekali-dua kali, hal
seperti ini sudah menjadi kebiasaan yang ia anggap remeh.
Padahal
hati kecilnya risih dan tak enak rasanya mengambil uang suap. Apalagi ia sudah
diberi gaji oleh pemerintah. Namun setan membisikinya bahwa waktu masih panjang
dan Tuhan itu Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.
Kini kita beralih ke artis dan penyanyi tersohor. Tak ada waktu
baginya, kecuali sibuk dengan urusan musik, tur, konser dan kontrak perusahaan
musik.
Hari-harinya
ia lalui dengan kehidupan yang glamour dan penuh hura-hura. Semua orang
memberikan pujian dan sanjungan kepadanya yang hakikatnya adalah jurang
kehancuran dan kehinaan baginya.
Musik
yang ia geluti adalah perkara haram dalam Islam berdasarkan ayat dan hadits
dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Jika ia dinasihati, ia hanya
senyum dan berlalu.
Ia
menganggap dirinya selama ini aman-aman saja. Ia mengira bahwa makar Allah dan
hukumannya tak akan menimpa dirinya!!
Menimbang
dan menakar barang sudah menjadi "rahasia umum" di
masyarakat, sehingga anda akan sukar mencari timbangan dan literan yang benar
menurut standar, kecuali milik seorang mukmin yang jujur. Namun jumlah si jujur
ini amat langka, selangka burung gagak yang kini hampir punah.
Padahal
mereka tahu bahwa perdagangan model seperti ini, akan mendatangkan murka Allah
sebagaimana yang dialami kaum Nabi Syu'aib –alaihis salam- di Negeri Madyan.
Tapi
para pedagang ini terlena dan tertipu karena selama ini hidup mereka tenang dan
tentram saja. Jasad mereka juga sehat wal afiat. Tak ada masalah menurut
mereka.
Fenomena
terakhir yang perlu kita angkat, yaitu adanya sejumlah wanita-wanita muslimah
yang "berani" pamer dan "buka" aurat di depan kaum pria yang bukan mahramnya.
Mereka
enggan berjilbab. Kalau pun berjilbab, yah jilbanya asal-asalan dan tidak
memenuhi syarat: tebal, longgar, menutupi semua tubuh mereka, tidak menyerupai
pakaian wanita kafir, bukan dijadikan perhiasan yang memancing hasrat lelaki,
dan pakaian itu bukanlah pakaian ketenaran.
Perlu
kita pahami juga bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, mulai dari kepala
sampai kaki. Ini yang tidak dipahami oleh sebagian wanita muslimah. Terkadang mereka menyangka bahwa rambut atau kaki –misalnya-
bukan aurat!! Padahal itu aurat!!!
Gerakan
pamer aurat dan buka-bukaan ini semakin parah di zaman ini, karena dipelopori
oleh para wanita-wanita cantik dari kalangan selebriti, artis, foto model dan
lainnya.
Di
tambah parah lagi, mereka dibantu oleh teknologi informasi dan telekomunikasi
yang canggih, berupa tv, koran, majalah, internet dengan berbagai paketnya
(mulai dari Facebook, Twitter, Youtube, WhatsApp, Telegram,
Instagram, LINE dan lainnya).
Akhirnya,
mereka mendapatkan jalan dan ladang mengais rezki melalui jalan pamer aurat. Laa
haula walaa quwwata illa billah. Hanya kepada Allah kita mengadukan
kerusakan mereka!!
Mereka
pun terus di atas maksiat ini, karena setan membisiki mereka dengan berbagai
janji dan iming-iming semu.
Pujian
dan sanjungan datang membanjiri mereka bak ombak yang menerpa daratan; susah ia
bendung, bahkan ia terbawa dan laraut bersama dengan ombak pujian itu. Padahal
ia tak mengerti ombak itu akan mencampakkan dirinya dan menghempaskannya dalam
lembah kehinaan di hadapan manusia dan Tuhan-nya.
Inilah
beberapa gambaran dan fenomena manusia-manusia yang tertipu dengan makar Allah.
Mereka tak sadar bahwa Allah akan merendahkan dan menghinakannya, walaupun ia memiliki
kedudukan tinggi dan reputasi hebat di mata manusia.
Allah
-Subhanahu wa Ta'ala- berfirman,
أَفَأَمِنُوا
مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ [
الأعراف : 99 ]
"Maka
apakah mereka merasa aman dari adzab (siksa) Allah (yang tidak terduga-duga)?
Tiada yang merasa aman dan adzab (siksa) Allah, kecuali orang-orang yang
merugi". (QS. Al-A'raaf : 99)
Ahli
Tafsir Negeri Syam, Al-Imam Jamaluddin
Al-Qosimiy -rahimahullah- berkata,
((الأمن من مكر الله كبيرة عند الشافعية، وهو الاسترسال في
المعاصي، اتكالا على عفو الله)) اهـ من تفسير القاسمي = محاسن التأويل -
(5 / 159)
"Merasa
aman dari makar Allah merupakan dosa besar di sisi ulama Syafi'iyyah. Dia
(sikap aman) itu adalah keterlenaan dalam maksiat-maksiat karena bertumpu pada
ampunan Allah". [Lihat Mahasin At-Ta'wil
(5/159) oleh Al-Qosimiy]
Merasa
aman dari makar Allah tergolong dosa besar.
Karena, seorang hamba yang merasa aman dari makar Allah, akan berpaling dari
agama, lalai dari kebesaran Tuhan-nya dan tidak memenuhi hak-hak Tuhan-nya
serta ia meremehkannya. Akhirnya, ia pun akan terus teledor menunaikan
kewajiban-kewajiban dirinya dan bergumul dalam maksiat. [Lihat Al-Qoul
As-Sadid (hal. 125-126) oleh As-Sa'diy]
Abdullah bin Mas'ud Al-Hudzaliy
-radhiyallahu anhu- berkata,
أَكْبَرُ
الْكَبَائِرِ: الإشْرَاكُ بِاللهِ، وَاْلأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ، وَالْقُنُوْطُ
مِنْ رَحْمَةِ اللهِ وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ
"Dosa
yang terbesar adalah syirik (menyekutukan) Allah (dalam ibadah), merasa aman
dari makar Allah, berputus asa dari rahmat Allah dan pupus harapan dari
nikmat Allah". [HR. Abdur Rozzaq Ash-Shon'aniy
dalam Al-Mushonnaf (10/459/ no. 19701) dan Ath-Thobroniy dalam
Al-Mu'jam Al-Kabir (no. 8784) dan Al-Baihaqiy dalam Syu'abul
Iman (no. 1050)]
Ini
merupakan dalil yang berisi ancaman bagi orang-orang yang terlena dalam
maksiat. Ia digolongkan sebagai pelaku dosa
yang akan mendapatkan dosa dan siksaan yang setimpal.
Lebih
tragis lagi, jika seorang hamba yang senang beribadah, namun ia jahil tentang
agama. Ia tidak memiliki ilmu yang cukup untuk memahami urusan agama dan
ibadahnya. Ia hanya memiliki semangat yang
tinggi dalam beramal dan beribadah.
Seringkali
anda menjumpai orang seperti ini; jahil, namun ia
sok tahu. Jika ia dinasihati, maka ia congkak
dan bangga diri dengan ibadah yang selama ini dilakukannya.
Jika
dikritik ibadahnya yang salah, ia berkilah,
"Ah, kalian itu hanya pandai bicara, kurang ibadah!! Kalian itu banyak
ilmu, tapi kurang amal!!!"
Padahal
belum tentu ia lebih banyak ibadahnya dibandingkan orang yang mengeritiknya.
Kalaupun ibadahnya banyak, maka ibadahnya kosong pahala dan tak bernilai.
Penyakit
ujub (takjub) dan bangga diri seperti ini, anda akan jumpai di kalangan
kaum tashowwuf (sufi). Mereka amat sombong dan bangga diri
dengan amal dan ibadah yang begitu banyak ia lakukan dalam kehidupannya.
Apalagi jika ia dari kalangan habib alias syarif yang mengaku
sebagai keturunan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Dengan
ini, ia pun memandang dirinya sebagai "orang
suci" dari dosa dan memiliki kedudukan
tinggi di sisi Allah.
Akhirnya,
ia merasa aman dari makar Allah -Azza wa Jalla- dan ia terlalu
mengandalkan dirinya yang penuh kelemahan dan kehinaan. Dari arah inilah, ia
dihinakan oleh Allah dan dihalangi dari hidayah. Sebab, ia sendirilah yang
berbuat aniaya atas dirinya. [Lihat Al-Qoul As-Sadid (hal. 126)]
Orang-orang
seperti ini akan berani menyuburkan bid'ah, kesyirikan dan kekafiran!!
Merekalah yang menjadi juru kunci dan pemain utama pada kuburan orang yang
dianggap "sholih" atau "wali".
Ia memimpin doa disana. Ia berdoa dan meminta dengan penuh harap dan cemas
kepada penghuni kubur, bukan kepada Allah!!
Sayang, walau ia telah berbuat syirik dan kafir, ia masih
membanggakan garis nasabnya yang terhubung dengan Nabi -Shallallahu alaihi
wa sallam-. Sungguh orang ini telah tertipu dan takjub bangga diri. Padahal
itu hanyalah makar Allah.
Ia tak
tahu bahwa kedua orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, paman
beliau (Abu Tholib) dan keluarga beliau lainnya yang kafir dan musyrik,
semuanya akan masuk neraka. Masihkah kalian bangga dan tertipu dengan nasab?!
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
وَمَنْ
بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
"Barangsiapa
yang dilambatkan oleh amalnya, maka nasabnya tak dapat mempercepatnya". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 2699)]
Seorang
ulama Mesir, Syaikh Muhammad Fu'ad
Abdul Baqi -rahimahullah- berkata,
"Maknanya,
barangsiapa yang yang amalnya kurang, maka amalnya tak akan menggolongkannya ke
dalam tingkatan para pemilik amal. Lantaran itu, sepantasnya ia tak berpangku
pada kemuliaan nasab dan keutamaan nenek moyang serta tak teledor dalam
beramal". [Lihat Shohih Muslim
(4/2074), cet. Dar Ihya' At-Turots Al-Arobiy]
Nasab
tidaklah bermanfaat bagi seseorang jika ia bermaksiat kepada Allah. Karena itu, hendaknya setiap orang mengusahakan kebaikan
bagi dirinya, jangan mengandalkan nasab dan keturunan.
Jika
anda tergolong orang yang selama ini bermaksiat (karena mengandalkan nasab),
maka hendaklah segera bertobat sebelum Allah anda terkena makar Allah.
Al-Imam Al-Hasan Ibnu Abil Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,
المؤمِنُ
يَعْمَلُ بِالطَّاعَاتِ وَهُوَ مُشْفِقٌ وَجِلٌ خَائِفٌ، وَالْفَاجِرُ يَعْمَلُ بِالْمَعَاصِيْ
وَهُوَ آمِنٌ.
"Seorang
mukmin akan melakukan berbagai ketaatan, sedang ia mengharap, takut dan
khawatir. Orang yang fajir akan melakukan berbagai maksiat, sedang ia merasa
aman (dari makar Allah)".
[Lihat Tafsir Ibni Katsir (3/451), cet. Dar Thoybah, 1420 H]
Inilah
golongan manusia-manusia yang tertipu dengan jabatan, profesi, kedudukan, waktu,
kesehatan, kecerdasan, dunia, kecantikan atau ketampanan, serta nasab. Tidak
ada yang ia peroleh di akhirat, melainkan penyesalan dan siksa neraka. Karena,
semua yang ia dapatkan di dunia dari hal-hal tersebut, tidak ia gunakan dalam ketaatan,
bahkan ia gunakan dalam maksiat dan pelanggaran.
Komentar
Posting Komentar