Pesona Kemuliaan di Balik Dua Sifat yang Indah
Pesona Kemuliaan
di Balik Dua Sifat yang
Indah
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah -hafizhahullah-
Seorang
hamba yang mau meraih kemuliaan selayaknya memiliki dua sifat mulia: tidak
berharap-harap dan berkhayal mendapatkan sesuatu dari harta benda yang dimiliki
oleh manusia. Tapi ia merasa cukup dengan karunia dan pemberian Allah. Kedua, ia
menjadi seorang yang pemaaf bagi manusia jika muncul dari mereka sesuatu yang
tidak menyenangkan hatinya berupa kekeliruan, kekurangan dan khilaf yang muncul
dari manusia biasa selama tidak sengaja melanggar batasan syariat.
Al-Imam Ayyub As-Sikhtiyaniy
-rahimahullah- berkata,
لاَ
يَسْتَوِي الْعَبْدُ أَوْ لاَ يَسُوْدُ الْعَبْدُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ
الْيَأْسُ مِمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّغَافُلُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ
"Seorang
hamba tak akan sempurna atau mulia sampai ada dua perkara pada dirinya:
Berputus asa dari sesuatu yang ada di tangan manusia dan lalai dari sesuatu
yang muncul dari mereka". [Lihat
Hilyah Al-Awliya' (3/5) oleh Abu Nu'aim Al-Ashbahaniy]
Inilah
dua sifat dan perangai yang harus dijaga oleh seorang hamba agar ia dimuliakan
oleh Allah serta dicintai oleh manusia yang hidup di sekitarnya. Sebaliknya ia
akan dibenci dan dijauhi oleh manusia jika memiliki sifat serakah dan sifat
marah atau tidak sabar.
Seorang
di saat yakin terhadap taqdir Allah -Tabaroka wa
Ta'ala-, maka hatinya tak akan tergantung dengan sesuatu yang dimiliki oleh
orang lain. Ia tak akan mengemis, meminta-minta dan tidak pula hasad dan
cemburu dengan harta benda dan perhiasan yang dimiliki oleh orang lain.
Allah
-Azza wa Jalla- menerangkan hal itu di dalam Al-Qur'an,
وَمَا
مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ [هود : 6]
"Dan
tidak ada suatu binatang melata (yakni, makhluk) pun di bumi melainkan
Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu
dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh
mahfuzh)". (QS. Huud : 6)
Di
dalam ayat ini, Allah -Azza wa Jalla- menjelaskan bahwa rezqi semua makhluk
telah ditanggung oleh Allah -Azza wa Jalla-. Setiap makhluk telah ditetapkan
rezqinya masing-masing. Tak ada makhluk yang mendapatkan rezqi, kecuali
memang itu telah menjadi bagian dan nasibnya. Demikianlah rezqi makhluk
telah disempurnakan bagi setiap diantara mereka sampai mereka mati. Artinya,
tak ada makhluk yang mati, selain ia telah mendapatkan semua bagiannya berupa
rezqi.
Abul Fida Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
أخبر
تعالى أنه متكفل بأرزاق المخلوقات، من سائر دواب الأرض، صغيرها وكبيرها، بحريها،
وبريها، وأنه { يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا } أي: يعلم أين مُنتهى
سيرها في الأرض، وأين تأوي إليه من وكرها، وهو مستودعها.
"Allah
-Ta'ala- mengabarkan bahwa Dia-lah yang menanggung semua rezqi makhluk-makhluk
dari kalangan seluruh makhluk di bumi, yang kecil, maupun yang besar, yang di
laut, maupun di darat; dan bahwa Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya, yakni mengetahui dimana akhir perjalanan makhluk-makhluk
di bumi dan dimana ia kembali berupa sarang, yaitu tempat peraduannya". [Lihat Tafsir Ibni Katsir (4/305)]
Jika
seorang hamba meyakini perkara yang ada dalam ayat ini, maka ia akan meraih
sifat zuhud, tak akan mengemis dari para makhluk, tak akan
tertimpa sifat hasad yang tercela dan hatinya selalu lapang, sebab ia yakin bahwa
semua itu telah ditakdirkan oleh Allah -Azza wa Jalla-.
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,
فمن
حقق اليقين وثق بالله في أموره كلها ورضي بتدبيره له وانقطع عن التعلق بالمخلوقين
رجاء وخوفا ومنعه ذلك من طلب الدنيا بالأسباب المكروهة ومن كان كذلك كان زاهدا في
الدنيا حقيقة وكان من أغني الناس وإن لم يكن له شيء من الدنيا
"Barangsiapa
yang merealisasikan keyakinan, maka ia akan percaya kepada Allah dalam setiap
urusannya, ridho terhadap pengaturan-Nya, putus dari sikap ketergantungan kepada
para makhluk, baik dalam hal mengharap atau takut, dan hal itu mencegahnya dari
mencari dengan sebab-sebab (sarana) yang dibenci. Barangsiapa yang demikian,
maka ia adalah orang yang zuhud terhadap dunia pada hakikatnya dan ia adalah
manusia yang paling kaya, walaupun ia tak memiliki sesuatu apapun dari dunia
ini". [Lihat Jami' Al-Ulum wal Hikam
(hal. 290)]
Orang-orang
yang seperti ini akan senantiasa terjaga kehormatannya di hadapan manusia. Ia
akan dihargai oleh mereka, sebab ia tak pernah menampakkan kehinaannya
dengan meminta-minta dan mengemis kepada manusia. Jika ia selalu menjaga wibawa
dan kehormatannya, maka ia akan dicintai oleh sesama manusia
Demikian
pula ia akan semakin dicintai oleh manusia jika ia memiliki sifat pemaaf
terhadap kesalahan yang muncul dari sebagian manusia, yakni kesalahan yang
masih bisa ditolerir, kesalahan yang muncul dari kelalaian, dan kejahilan. Kesalahan
seperti ini tak akan luput dari manusia biasa.
Jika
ada orang yang bersalah dan zhalim kepada dirinya, maka ia maafkan mereka di
saat mereka meminta maaf kepadanya. Inilah ciri ketaqwaan yang diisyaratkan
oleh Allah dalam firman-Nya,
وَسَارِعُوا
إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ
وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ
يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [آل عمران : 133 ،
134]
"Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebajikan". (QS.
Ali Imraan : 133-134)
Disini
anda perhatikan, Allah sebutkan bahwa orang yang pemaaf tergolong orang yang
berbuat baik. Dengan perbuatan baiknya ia dicintai oleh Allah -Azza wa Jalla-
dan tentunya ia juga akan dicintai oleh makhluk!!
Jika
Allah mencintai seseorang, maka para malaikat dan semua makhluk akan mencintainya.
Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا
أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا
فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ
يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْض
"Apabila
Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril,
"Sesungguhnya Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia", lalu
Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berkumandang di kalangan penduduk
langit, "Sesungguhnya Allah telah mencintai fulan, maka cintailah
dia", lalu penduduk langit pun mencintainya, lalu ditetapkanlah bagi orang
itu penerimaan di kalangan penduduk bumi". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no.
6040) dan Muslim dalam Shohih-nya (2637)]
Ini
merupakan mutiara ilmu yang amat berharga bahwa seorang hamba bila ia dicintai
oleh Allah, maka ia pun akan dicintai oleh makhluk. Allah akan gerakkan hati
para makhluk untuk mencintainya. Nah, disini ada isyarat bahwa kecintaan
makhluk kepada seorang hamba merupakan tanda cintanya Allah -Azza wa Jalla-
kepada hamba itu. Apalagi yang mencintai hamba itu dari kalangan
orang-orang sholih lagi mukmin.
Al-Imam Badruddin Al-Ainiy Al-Hanafiy -rahimahullah-
berkata,
ويفهم
منه أن محبة قلوب الناس علامة محبة الله عز وجل
"Dipahami
darinya bahwa kecintaan hati para manusia merupakan tanda kecintaan Allah -Azza
wa Jalla- (kepada seorang hamba)". [Lihat
Umdah Al-Qori (32/223)]
Komentar
Posting Komentar