Kamis, 22 September 2016

Sekelumit tentang Ta'ziyah, Keutamaannya dan Sejumlah Kekeliruan yang Terjadi di Dalamnya

Hasil gambar untuk ‫اشكر كل من عزاني‬‎
Sekelumit tentang Ta'ziyah, Keutamaannya dan Sejumlah Kekeliruan yang Terjadi di Dalamnya

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-

edisi 19 Dzulhijjah 1437 H
Ta'ziyah (melayat) adalah semua perkara yang diucapkan atau perbuatan yang dilakukan oleh seseorang bagi keluarga yang meninggal dalam rangka menghiburnya dan meringankan kesedihan mereka. Ucapan-ucapan dan perbuatan itu harus berupa perkara yang dibenarkan oleh agama untuk dilakukan saat ta'ziyah (melayat jenazah), berupa doa dan ucapan belasungkawa yang menghibur hati dan meringankan kesedihan mereka. Jika berupa perbuatan, misalnya para tetangga dan handai taulan membuatkan makanan buat keluarga yang meninggal, sebab ketika itu tak ada lagi kesempatan untuk memperhatikan hal itu. Mereka sedang dirundung sedih dan galau.

Melakukan ta'ziyah banyak dilalaikan orang di zaman ini, karena banyaknya kesibukan. Bahkan kadang mereka tak tahu kematian tetangga atau saudaranya, kecuali beberapa saat kemudian.

Semua itu terjadi karena mereka super sibuk. Padahal melakukan ta'ziyah merupakan amalan besar di sisi Allah -Azza wa Jalla-.


Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلَّا كَسَاهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ حُلَلِ الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Tak ada seorang mukmin yang men-ta'ziyah (menghibur) saudaranya, karena suatu musibah, kecuali Allah akan memakaikannya diantara pakaian-pakaian kemuliaan pada hari kiamat". [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1601) dan Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (6081). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 195)]

Al-Imam Abul Hasan As-Sindiy -rahimahullah- berkata,
((أَيْ : مِنْ الْحُلل الدَّالَّة عَلَى الْكَرَامَة عِنْده أَوْ مِنْ حُلَل أَهْل الْكَرَامَة وَهِيَ حُلَل نُسِجَتْ مِنْ الْكَرَامَة وَهَذَا مَبْنِيّ عَلَى تَجْسِيم الْمَعَانِي وَهُوَ أَمْر لَا يَعْلَمهُ إِلَّا اللَّه تَعَالَى)) انظر : حاشية السندي على ابن ماجه - (3 / 374)
"Maksudnya, diantara pakaian-pakaian yang menunjukkan tentang kemuliaan di sisi-Nya, atau diantara pakaian-pakaian para pemilik kemuliaan. Itu adalah pakaian yang ditenun dari kemuliaan. Ini merupakan perkara yang berdasarkan pembentukan sesuatu yang abstrak, sedang itu adalah perkara yang tak diketahui, kecuali Allah -Ta'ala-". [Lihat Hasyiyah As-Sindiy ala Sunan Ibni Majah (3/374)]

Keutamaan ta'ziyah (melayat) ini akan semakin besar bila seseorang mengucapkan doa bagi yang meninggal dan keluarga yang ditinggal. Boleh bagi seseorang mengucapkan doa bagi saudaranya yang ditinggal mati oleh keluarganya dengan doa bebas yang mengandung kebaikan, misalnya,
أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَلْهَمَكَ صَبْرَكَ
"Semoga Allah memperbanyak pahalamu dan memberikan kesabaran untukmu".

Namun ucapan ta'ziyah yang terbaik tentunya adalah sesuatu yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya.

Dari sahabat Usamah bin Zaid -radhiyallahu anhu- berkata,
أرسلت ابنة النبي - صلى الله عليه وسلم - إليه، إن ابناً لي قُبض فأتنا ، فأرسل يُقرئ السلام، ويقول: (إنَّ للهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى، وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ)
"Putri Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengutus seseorang kepada beliau untuk (mengabarkan) bahwa "Sesungguhnya anakku telah meninggal. Karenanya, datangilah aku". Lalu beliau mengutus seorang utusan untuk menyampaikan salam seraya bersabda, "Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil dan Dia beri. Sedang segala sesuatu  di sisi-Nya berdasarkan waktu yang telah ditentukan. Karenanya, bersabarlah dan haraplah pahala (dari Allah)". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 1284) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 923)]

Hanya saja keutamaan ini jangan dilalaikan dan disia-siakan dengan melakukan berbagai macam pelanggaran, misalnya menyembelih hewan untuk si mayat atau meratapinya.

Hal ini perlu kami ingatkan, sebab masyarakat kami di Sulawesi Selatan memiliki kebiasaan buruk dengan menyembelih sapi atau kerbau bagi si mayat. Ini adalah kesyirikan dan kebiasaan kaum jahiliah.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
« لاَ عَقْرَ فِى الإِسْلاَمِ ». قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ كَانُوا يَعْقِرُونَ عِنْدَ الْقَبْرِ بَقَرَةً أَوْ شَاةً.
"Tak ada penyembelihan untuk mayat di dalam Islam".
Abdur Rozzaq (salah satu rawi hadits ini) berkata, "Dahulu mereka (kaum jahiliah) melakukan sembelihan sapi atau kambing di sisi kuburan". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (3222), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (1601) dan Ahmad dalam Al-Musnad (3/197). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Ash-Shohihah (2436)]

Kesalahan seperti ini sudah mendarah daging di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan, dan mungkin juga pada selain mereka.

Jelas ini adalah kemungkaran yang harus ditolak, karena bertentangan dengan ajaran agama, walaupun telah dilakukan turun temurun.

Kebanyakan masyarakat kita taqlid dan membebek saja, walaupun orang tua atau pendahulunya salah!!

Perkara lain yang mengurangi nilai dan keutamaan ta'ziyah, apa yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat berupa acara kumpul-kumpul melakukan tilawatul Qur'an dengan niat pahalanya untuk si mayat. Ada juga yang melakukan pengajian ta'ziyah di malam-malam tertentu usai penguburan.

Perkara-perkara ini jelas menyelisihi sunnah (petunjuk) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Sebab, beliau usai pemakaman, beliau tak adakan acara kumpul-kumpul. Semuanya kembali melakukan aktifitas masing –masing sebagaimana adanya.

Pembacaan dan penamatan Al-Qur'an atau ceramah ta'ziyah di malam-malam tertentu usai penguburan juga merupakan perkara bid'ah dan tergolong meratapi mayat. Sedang meratapi mayat adalah terlarang dalam Islam.

Sahabat Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy -radhiyallahu anhu- berkata,
كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَة
"Dahulu kami (yakni, para sahabat) menganggap kumpul-kumpul di rumah si mayat dan membuat makanan (dari tuan rumah) usai penguburan termasuk meratapi mayat". [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1612) dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/204). Syu'aib Al-Arna'uth menilai hadits ini shohih dalam Takhrij Al-Musand 6905)]

Jadi, para sahabat menganggap bahwa berkumpul di rumah mayat dan si tuan rumah yang berduka membuat makanan adalah termasuk niyahah (meratapi mayat). Sedang meratapi mayat adalah haram dan dosa.

Adapun para tetangga dan lainnya membuatkan makanan bagi si tuan rumah yang ditinggal mati, maka hal itu disunnahkan, dengan syarat tidak memanggil orang untuk kumpul-kumpul di rumah duka. Perkara kumpul-kumpul ini adalah terlarang dalam agama!!! Sebab, hal ini akan semakin menambah kesedihannya.

Dari Abdullah bin Ja'far  -radhiyallahu anhu- berkata,
لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اصْنَعُوا لأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا ، فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ.
"Tatkala berita kematian Ja'far, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, "Bikinlah makanan untuk keluarga Ja'far. Karena, sungguh telah mendatangi (menimpa) mereka sesuatu yang menyibukkan mereka". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (3132), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (998) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1610). Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ahkam Al-Jana'iz (hal. 167)]

Para pembaca yang budiman, inilah sekelumit tentang ta'ziyah dalam sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Adapun ta'ziyah dengan berkumpul di rumah mayat, atau melakukan acara makan-makan disana, penyembelihan hewan untuk si mati, membaca tahlilan, khataman Al-Qur'an di malam-malam kedukaan, atau mengadakan ceramah ta'ziyah, maka semua ini adalah bid'ah dan perkara yang terlarang walaupun banyak orang yang melakukannya akibat kejahilannya!!!!

Lebih parah lagi, jika hal itu ditambahi dan diiringi musik. Sebagian orang menyatakan tanpa ilmu, "Mengundang pemusik tujuannya adalah untuk menghibur si keluarga mayat. Bukankah ta'ziyah itu adalah hiburan bagi keluarga si mayat?!!"

Kami katakan bahwa men-ta'ziyah bukanlah demikian halnya yang dicontohkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat. Tapi dengan mendoakan mereka kebaikan dan kelapangan hati serta mengirimkan makanan buat mereka agar kesedihannya jadi ringan.

Adapun musik, maka musik itu adalah haram dalam agama. Dengarkan Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda saat mengharamkan musik,
لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنِ الْحِرَّ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
"Sesungguhnya akan ada beberapa kaum dari ummatku akan menghalalkan zina, kain sutra, minuman keras (khomer), dan musik". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya: Kitab Al-Asyribah (5590)]

Jelas sekali bahwa musik dan semua perkara yang disebutkan dalam hadits ini adalah hal-hal haram yang mulai dianggap halal oleh manusia!! Haramnya musik sudah masyhur di kalangan ulama Islam!!!

Ulama Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata, "Sesungguhnya para ulama dan fuqoha -diantaranya empat imam madzhab- sepakat mengharamkan alat-alat musik karena berteladan dengan hadits-hadits Nabi Shollallahu Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar Salaf".[Lihat Tahrim Alat Ath-Thorb (hal 105)]


Para pembaca yang budiman, ini ulasan ringkas seputar ta'ziyah dan tata caranya menurut sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar