Warisan Berharga yang Sepantasnya Kita Perebutkan
Warisan Berharga yang
Sepantasnya Kita Perebutkan
oleh :
Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
edisi 17 Dzulhijjah 1437 H
Sudah menjadi tabiat, manusia pada umumnya senang dengan
warisan. Apalagi warisan itu bisa dipandang dengan kasat mata dan memiliki
nilai dan kedudukan yang amat berharga. Banyak diantara kita yang lekas dan
berusaha mengurus warisan sepeninggal keluarga mereka demi mendapatkan
bagian dari harta warisan itu dan memang itu adalah hak mereka dalam Islam.
Namun satu fenomena yang kita sayangkan di hari ini,
banyak diantara kita saat ia tak memiliki modal ilmu dan fakir tentang agama,
ia malah bersantai ria dan acuh-tak acuh dengan ilmu wahyu yang terdapat dalam
Al-Qur'an dan Sunnah. Padahal ilmu agama alias ilmu wahyu merupakan
kebutuhan mendasar pada diri setiap manusia.
Ia bagaikan bahan bakar bagi lokomotif. Manusia tak tak
akan mampu mengarungi Samudra kehidupan ini tanpa ilmu yang berisi bimbingan
dari Allah dan Rasul-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Tanpa ilmu, manusia akan terombang-ambing dengan lajunya
ombak dan derasnya terpaan angin kehidupan yang dipenuhi dengan marabahaya.
Disinilah akan tampak pentingnya ilmu agama sebagai
benteng bagi manusia dari segala macam terpaan pengaruh kesesatan, maksiat,
kekafiran, bid'ah dan berbagai macam penyimpangan.
Tapi jika ilmu itu banyak, maka kemungkinan untuk meraih
pahala karena mengamalkannya, akan jauh lebih besar.
Seorang ulama tabi'in, Yahya bin Abi Katsir Al-Yamamiy
-rahimahullah- berkata,
مِيْرَاثُ الْعِلْمِ
خَيْرٌ مِنْ مِيْرَاثِ الذَّهَبِ
"Warisan
ilmu agama lebih baik dibandingkan warisan emas". [HR. Abu Nu'aim dalam Hilyah
Al-Awliya' (3/66-67), Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan Al-Ilm wa
Fadhlih (no. 365), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (4/215), Al-Khothib dalam Muwadhdhih
Awham Al-Jam'i wa At-Tafriq (2/532), Al-Mizzi dalam Tahdzib
Al-Kamal (16/293)]
Di
dalam atsar ini terdapat isyarat bahwa ilmu bagaikan penyambung hidup dan
penopang bagi manusia di dalam kehidupan dunia ini. Sebab, ilmu memang
merupakan pengumpul kebaikan. Sedang kebaikan ini akan menjadi tabungan dan
balasan yang akan dirasakan oleh pemiliknya kelak di akhirat.
Namun
tentunya yang dimaksud dengan "ilmu" disini adalah ilmu agama yang diamalkan
oleh pemiliknya. Adapun bila ilmu itu hanya sebagai penghias diri dan kebanggaan,
bahkan tidak diamalkan dan sebaliknya dilanggar, maka ia laksana senjata makan
tua.
Di
akhirat, ilmu yang tidak diamalkan ini, tak
akan menjadi tumpuan harapan kita, bahkan ia berubah menjadi sesuatu yang
menakutkan bagi pemiliknya, sebab ilmu akan memberikan kesaksian yang
memberatkan kasus dan masalah kita di akhirat. Inilah ilmu agama yang tidak
bermanfaat bagi seseorang.
Lantaran
itu, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah berdoa agar
dilindungi dan dijauhkan dari ilmu yang tak bermanfaat.
Di
dalam sebuah riwayat, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- berdoa,
اللَّهُمَّ
إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ
نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
"Ya Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak
khusyu', jiwa yang tak pernah kenyang (puas) dan dari doa yang tidak
dikabulkan". [HR. Muslim dalam Shohih-nya
(2722)]
Al-Imam Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata memaknai doa ini,
"Maksudnya,
ilmu agama yang tidak aku amalkan dan tidak pula aku ajarkan kepada manusia
serta tidak pula ilmu memperbaiki akhlak, ucapan dan perbuatanku; atau ilmu
yang tidak dibutuhkan atau tak ada izin dari syariat untuk
mempelajarinya". [Lihat Tuhfah
Al-Ahwadzi (9/319)]
Namun
sebuah realita yang miris dan menyedihkan kita, banyaknya kaum muslimin yang
lari dari ilmu agama ini. Ia tak
ingin belajar ilmu wahyu. Ia
lebih bersemangat mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu dunia dibandingkan menggali ilmu agama yang membahas
kemaslahatan dunia dan akhiratnya serta memperbaiki dirinya!!
Demikian
pula para orang tua didik dan wali mereka, turut andil dalam menghalangi
anak-anak mereka untuk duduk di depan para ulama dan para ustadz demi menimba
ilmu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Mereka
gengsi dan canggung ketika melihat anak-anaknya belajar di pesantren, apalagi
jika pesantrennya amat sederhana dari sisi fisik dan bangunan. Mereka lebih bangga saat menyaksikan anak-anak mereka
berlomba-lomba belajar ke negara-negara kafir (seperti, Amerika,
Kanada, Belanda, Jerman, Perancis ,
Australia dan
lainnya).
Padahal
disana mereka akan menghadapi berbagai hal yang akan mengikis akhlak dan aqidah
mereka. Bagaimana tidak demikian, mereka belajar kepada musuh-musuh Islam dari
kalangan orientalis barat yang notabenenya adalah penganut agama Kristen.
Adakah
musuh mengasihi musuh!! Tak heran
bila anak-anak itu kemudian pulang ke negeri kita dengan berjasad pribumi, namun
berpemikiran ala orientalis sebagai hasil cuci otak dan perang
pemikiran yang dilancarkan guru-guru kafir mereka!!!
Pesantren
layaknya sebagai tempat pendidikan dan pengajaran anak-anak Islam. Di dalamnya
ditanamkan aqidah (keyakinan) yang kuat, akhlak karimah dan ibadah yang sunnah.
Kini pesantren
berubah menjadi laksana "lahan
pembuangan" dan "bengkel motor-motor rusak" serta "gudang
barang rongsokan".
Kenapa
jadi demikian?! Karena, banyak diantara orang tua dan wali didik yang tak mau
memasukkan anak-anaknya, kecuali
jika anak-anaknya tergolong dalam dua model dan tipe anak didik saja :
(1)
anak
yang tidak cerdas dan anak yang nakal lagi berandal, entah ia memang nakal dari
rumah,
(2)
ataukah
ia nakal karena pergaulan buruk di sekolah sebelumnya.
Pesantren selanjutnya menjadi PILIHAN TERPAKSA (bukan
pilihan prioritas), di saat munculnya kendala pada anak didik!!
Bagaimana
caranya pesantren bisa maju seperti sekolah-sekolah formal lainnya jika yang
dikirim ke pesantren adalah bibit-bibit yang kerdil lagi sakit!!! Walaupun
secara syar'i tak ada salahnya pesantren menerima mereka, sebab mereka juga
tetap harus diperhatikan sebagai umat Islam.
Cuma
realita ini sengaja kami angkat ke permukaan demi membuka mata kita bahwa ilmu
agama dan wadahnya berupa pesantren, kini
amat dipandang sebelah mata dan diacuhkan oleh
banyak pihak.
Orang
tua didik tidak mengerti bahwa di pesantren pun kini anak-anak mereka diberikan
pelajaran umum, walaupun sederahana demi mengenal sekelumit dunia luar. Jadi, alasan meninggalkan pesantren sebenarnya tak ada.
Di
sebagian negeri-negeri Islam, ilmu agama amat ditekan dan berusaha dihapus di sekolah-sekolah formal dengan
berbagai cara. Kalaupun ada, maka ia diberikan porsi jam yang amat minim dan
tidak sewajarnya dalam sepekan.
Ilmu
agama yang merupakan warisan leluhur kita, yakni Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- dan para sabahatnya, kini ditinggalkan dan diacuhkan.
Suatu
saat nanti mereka akan mengerti bahwa ilmu agama adalah warisan yang paling berharga
dan tiada taranya di sisi Allah.
Ilmu
yang membimbing dunia dan akhirat kita. Tak
ada kemaslahatan dan kebaikan yang kita butuhkan di dunia dan di akhirat, kecuali ilmu wahyu alias ilmu agama yang tercantum dalam
Kitabullah dan Sunnah, pasti telah menjelaskannya.
Warisan
ilmu dari para nabi dan rasul ini senantiasa menjadi warisan yang diburu dan
dikejar oleh orang-orang yang mencintai kebaikan dirinya. Dia adalah pencinta
akhirat, bukan budak dunia yang siang-malam mengejarnya dan mempertuhankannya.
Tak
ada di mata sang pencinta kebaikan ini, kecuali ia berusaha meraih warisan ilmu
sebanyak-banyaknya demi kebahagiaan yang hakiki.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
وَإِنَّ
اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا, وَرَّثُوْا
الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Sesungguhnya para nabi
tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Tapi mereka hanya mewariskan ilmu (agama).
Jadi, barang siapa yang mengambilnya, maka sungguh ia telah mengambil bagian
yang banyak". [HR. Al-Bukhoriy secara mu'allaq
dalam Kitabul Ilmi (1/37), Abu Dawud dalam dalam Sunan-nya
: Kitab Al-Ilmi (3641), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya
(2682), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 223). Lihat Shohih
Al-Jami' (6297)]
Sebenarnya
kalau orang-orang yang menjauhi ilmu agama itu disodorkan dan ditawarkan
kepadanya emas dan perak yang menggunung, lalu dijadikan warisan untuknya, maka
pasti mereka akan berlomba-lomba menuju kepada harta benda yang fana itu!! Padahal
harta benda itu tak ada nilainya jika dibandingkan nilai ilmu agama yang akan
menjamin keselamatan dunia dan akhirat, insya Allah.
Seorang tabi'in, Abdullah Ar-Rumiy –rahimahullah-
berkata,
مَرَّ
أَبُو هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - بِسُوقِ الْمَدِينَةِ , فَوَقَفَ عَلَيْهَا
فَقَالَ : يَا أَهْلَ السُّوقِ , مَا أَعْجَزَكُمْ !قَالُوا : وَمَا ذَاكَ يَا
أَبَا هُرَيْرَةَ ؟ , قَالَ : ذَاكَ مِيرَاثُ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه
وسلم - يُقْسَمُ , وَأَنْتُمْ هَاهُنَا لَا تَذْهَبُونَ فَتَأَخُذُونَ نَصِيبَكُمْ
مِنْهُ ؟ , قَالُوا : وَأَيْنَ هُوَ ؟ , قَالَ : فِي الْمَسْجِدِ , فَخَرَجُوا
سِرَاعًا إِلَى الْمَسْجِدِ , وَوَقَفَ أَبُو هُرَيْرَةَ لَهُمْ حَتَّى رَجَعُوا ,
فَقَالَ لَهُمْ : مَا لَكُمْ ؟ , قَالُوا : يَا أَبَا هُرَيْرَةَ , قَدْ أَتَيْنَا
الْمَسْجِدَ فَدَخَلْنَا , فَلَمْ نَرَ فِيهِ شَيْئًا يُقْسَمُ قَالَ : أَمَا
رَأَيْتُمْ فِي الْمَسْجِدِ أَحَدًا ؟ , قَالُوا : بَلَى , رَأَيْنَا قَوْمًا
يُصَلُّونَ , وَقَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ , وَقَوْمًا يَتَذَاكَرُونَ
الْحَلالَ وَالْحَرَامَ فَقَالَ لَهُمْ أَبُو هُرَيْرَةَ : وَيْحَكُمْ , فَذَاكَ
مِيرَاثُ مُحَمَّدٍ - صلى الله عليه وسلم –
"Abu Hurairah -radhiyallahu
anhu- pernah lewat di pasar Madinah. Beliau pun berdiri di pasar seraya
berkata, "Alangkah ruginya kalian!" Mereka berkata, "Apa itu
wahai Abu Hurairah?" Beliau menjawab, "Itu warisan Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- sedang dibagi, sementara kalian masih disini. Kalian tak
pergi mengambil bagian kalian darinya". Mereka bertanya, "Mana dia?"
Beliau menjawab, "Ada
di masjid". Mereka pun keluar dalam keadaan bergegas menuju masjid, dan
Abu Hurairah tetap berdiri menunggu mereka sampai mereka kembali. Beliau
berkata kepada mereka, "Kenapakah kalian?" Mereka menjawab,
"Wahai Abu Hurairah, sungguh kami telah mendatangi masjid dan memasukinya.
Namun kami tak melihat sesuatu apapun di dalamnya sedang dibagi". Beliau
menjawab, "Tidakkah kalian melihat seorang pun di dalam masjid?"
Mereka menjawab, "Ya, ada. Kami telah melihat suatu kaum yang sedang
sholat dan kaum lain yang membaca Al-Qur'an serta kaum yang membicarakan halal
dan haram". Akhirnya, Abu Hurairah berkata kepada mereka, "Celaka
kalian. Nah, itulah warisan Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-". [HR. Abul Qosim Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam
Al-Awsath (no. 1429). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy
dalam Shohih At-Targhib (no. 83)]
Komentar
Posting Komentar