Minggu, 18 September 2016

Warisan Berharga yang Sepantasnya Kita Perebutkan

Hasil gambar untuk ‫ميراث الأنبياء‬‎

Warisan Berharga yang Sepantasnya Kita Perebutkan
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-

edisi 17 Dzulhijjah 1437 H
Sudah menjadi tabiat, manusia pada umumnya senang dengan warisan. Apalagi warisan itu bisa dipandang dengan kasat mata dan memiliki nilai dan kedudukan yang amat berharga. Banyak diantara kita yang lekas dan berusaha mengurus warisan sepeninggal keluarga mereka demi mendapatkan bagian dari harta warisan itu dan memang itu adalah hak mereka dalam Islam.

Namun satu fenomena yang kita sayangkan di hari ini, banyak diantara kita saat ia tak memiliki modal ilmu dan fakir tentang agama, ia malah bersantai ria dan acuh-tak acuh dengan ilmu wahyu yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Padahal ilmu agama alias ilmu wahyu merupakan kebutuhan mendasar pada diri setiap manusia.

Ia bagaikan bahan bakar bagi lokomotif. Manusia tak tak akan mampu mengarungi Samudra kehidupan ini tanpa ilmu yang berisi bimbingan dari Allah dan Rasul-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Tanpa ilmu, manusia akan terombang-ambing dengan lajunya ombak dan derasnya terpaan angin kehidupan yang dipenuhi dengan marabahaya.

Disinilah akan tampak pentingnya ilmu agama sebagai benteng bagi manusia dari segala macam terpaan pengaruh kesesatan, maksiat, kekafiran, bid'ah dan berbagai macam penyimpangan.

Para pembaca yang budiman, jika manusia di dunia ini mencari harta benda berupa emas dan perak demi kehidupan dunia yang fana, maka mencari ilmu agama masih jauh lebih baik. Sebab, ilmu agama ini untuk persiapan menuju kehidupan yang abadi. Tanpa ilmu, maka seorang bakal memiliki persiapan yang sedikit.

Tapi jika ilmu itu banyak, maka kemungkinan untuk meraih pahala karena mengamalkannya, akan jauh lebih besar.

Seorang ulama tabi'in, Yahya bin Abi Katsir Al-Yamamiy -rahimahullah- berkata,
مِيْرَاثُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ مِيْرَاثِ الذَّهَبِ

"Warisan ilmu agama lebih baik dibandingkan warisan emas". [HR. Abu Nu'aim dalam Hilyah Al-Awliya' (3/66-67), Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan Al-Ilm wa Fadhlih (no. 365), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (4/215), Al-Khothib dalam Muwadhdhih Awham Al-Jam'i wa At-Tafriq (2/532), Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal (16/293)]

Di dalam atsar ini terdapat isyarat bahwa ilmu bagaikan penyambung hidup dan penopang bagi manusia di dalam kehidupan dunia ini. Sebab, ilmu memang merupakan pengumpul kebaikan. Sedang kebaikan ini akan menjadi tabungan dan balasan yang akan dirasakan oleh pemiliknya kelak di akhirat.

Namun tentunya yang dimaksud dengan "ilmu" disini adalah ilmu agama yang diamalkan oleh pemiliknya. Adapun bila ilmu itu hanya sebagai penghias diri dan kebanggaan, bahkan tidak diamalkan dan sebaliknya dilanggar, maka ia laksana senjata makan tua.

Di akhirat, ilmu yang tidak diamalkan  ini, tak akan menjadi tumpuan harapan kita, bahkan ia berubah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi pemiliknya, sebab ilmu akan memberikan kesaksian yang memberatkan kasus dan masalah kita di akhirat. Inilah ilmu agama yang tidak bermanfaat bagi seseorang.

Lantaran itu, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah berdoa agar dilindungi dan dijauhkan dari ilmu yang tak bermanfaat.

Di dalam sebuah riwayat, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu', jiwa yang tak pernah kenyang (puas) dan dari doa yang tidak dikabulkan". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2722)]

Al-Imam Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata memaknai doa ini,
"Maksudnya, ilmu agama yang tidak aku amalkan dan tidak pula aku ajarkan kepada manusia serta tidak pula ilmu memperbaiki akhlak, ucapan dan perbuatanku; atau ilmu yang tidak dibutuhkan atau tak ada izin dari syariat untuk mempelajarinya". [Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi (9/319)]

Para pembaca yang budiman, andaikan kita tahu tentang keutamaan ilmu agama, maka kita akan pasti mengumpulkan ilmu agama itu dengan sungguh-sungguh, walaupun ia tapaki dan lalui dengan penuh penderitaan yang menuntut kesabaran yang tinggi.

Namun sebuah realita yang miris dan menyedihkan kita, banyaknya kaum muslimin yang lari dari ilmu agama ini. Ia tak ingin belajar ilmu wahyu. Ia lebih bersemangat mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu dunia dibandingkan menggali ilmu agama yang membahas kemaslahatan dunia dan akhiratnya serta memperbaiki dirinya!!

Demikian pula para orang tua didik dan wali mereka, turut andil dalam menghalangi anak-anak mereka untuk duduk di depan para ulama dan para ustadz demi menimba ilmu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Mereka gengsi dan canggung ketika melihat anak-anaknya belajar di pesantren, apalagi jika pesantrennya amat sederhana dari sisi fisik dan bangunan. Mereka lebih bangga saat menyaksikan anak-anak mereka berlomba-lomba belajar ke negara-negara kafir (seperti, Amerika, Kanada, Belanda, Jerman, Perancis, Australia dan lainnya).

Padahal disana mereka akan menghadapi berbagai hal yang akan mengikis akhlak dan aqidah mereka. Bagaimana tidak demikian, mereka belajar kepada musuh-musuh Islam dari kalangan orientalis barat yang notabenenya adalah penganut agama Kristen.

Adakah musuh mengasihi musuh!! Tak heran bila anak-anak itu kemudian pulang ke negeri kita dengan berjasad pribumi, namun berpemikiran ala orientalis sebagai hasil cuci otak dan perang pemikiran yang dilancarkan guru-guru kafir mereka!!!

Pesantren layaknya sebagai tempat pendidikan dan pengajaran anak-anak Islam. Di dalamnya ditanamkan aqidah (keyakinan) yang kuat, akhlak karimah dan ibadah yang sunnah.

Kini pesantren berubah menjadi laksana "lahan pembuangan" dan "bengkel motor-motor rusak" serta "gudang barang rongsokan".

Kenapa jadi demikian?! Karena, banyak diantara orang tua dan wali didik yang tak mau memasukkan anak-anaknya, kecuali jika anak-anaknya tergolong dalam dua model dan tipe anak didik saja :
(1)     anak yang tidak cerdas dan anak yang nakal lagi berandal, entah ia memang nakal dari rumah,
(2)     ataukah ia nakal karena pergaulan buruk di sekolah sebelumnya.

Pesantren selanjutnya menjadi PILIHAN TERPAKSA (bukan pilihan prioritas), di saat munculnya kendala pada anak didik!!

Bagaimana caranya pesantren bisa maju seperti sekolah-sekolah formal lainnya jika yang dikirim ke pesantren adalah bibit-bibit yang kerdil lagi sakit!!! Walaupun secara syar'i tak ada salahnya pesantren menerima mereka, sebab mereka juga tetap harus diperhatikan sebagai umat Islam.

Cuma realita ini sengaja kami angkat ke permukaan demi membuka mata kita bahwa ilmu agama dan wadahnya berupa pesantren, kini amat dipandang sebelah mata dan diacuhkan oleh banyak pihak.

Orang tua didik tidak mengerti bahwa di pesantren pun kini anak-anak mereka diberikan pelajaran umum, walaupun sederahana demi mengenal sekelumit dunia luar. Jadi, alasan meninggalkan pesantren sebenarnya tak ada.

Di sebagian negeri-negeri Islam, ilmu agama amat ditekan dan berusaha dihapus di sekolah-sekolah formal dengan berbagai cara. Kalaupun ada, maka ia diberikan porsi jam yang amat minim dan tidak sewajarnya dalam sepekan.

Ilmu agama yang merupakan warisan leluhur kita, yakni Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sabahatnya, kini ditinggalkan dan diacuhkan.

Suatu saat nanti mereka akan mengerti bahwa ilmu agama adalah warisan yang paling berharga dan tiada taranya di sisi Allah.

Ilmu yang membimbing dunia dan akhirat kita. Tak ada kemaslahatan dan kebaikan yang kita butuhkan di dunia dan di akhirat, kecuali ilmu wahyu alias ilmu agama yang tercantum dalam Kitabullah dan Sunnah, pasti telah menjelaskannya.

Warisan ilmu dari para nabi dan rasul ini senantiasa menjadi warisan yang diburu dan dikejar oleh orang-orang yang mencintai kebaikan dirinya. Dia adalah pencinta akhirat, bukan budak dunia yang siang-malam mengejarnya dan mempertuhankannya.

Tak ada di mata sang pencinta kebaikan ini, kecuali ia berusaha meraih warisan ilmu sebanyak-banyaknya demi kebahagiaan yang hakiki.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا, وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Tapi mereka hanya mewariskan ilmu (agama). Jadi, barang siapa yang mengambilnya, maka sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak". [HR. Al-Bukhoriy secara mu'allaq dalam Kitabul Ilmi (1/37), Abu Dawud dalam dalam Sunan-nya : Kitab Al-Ilmi (3641), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2682), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 223). Lihat Shohih Al-Jami' (6297)]

Sebenarnya kalau orang-orang yang menjauhi ilmu agama itu disodorkan dan ditawarkan kepadanya emas dan perak yang menggunung, lalu dijadikan warisan untuknya, maka pasti mereka akan berlomba-lomba menuju kepada harta benda yang fana itu!! Padahal harta benda itu tak ada nilainya jika dibandingkan nilai ilmu agama yang akan menjamin keselamatan dunia dan akhirat, insya Allah.

Seorang tabi'in, Abdullah Ar-Rumiy rahimahullah- berkata,
مَرَّ أَبُو هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - بِسُوقِ الْمَدِينَةِ , فَوَقَفَ عَلَيْهَا فَقَالَ : يَا أَهْلَ السُّوقِ , مَا أَعْجَزَكُمْ !قَالُوا : وَمَا ذَاكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ؟ , قَالَ : ذَاكَ مِيرَاثُ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُقْسَمُ , وَأَنْتُمْ هَاهُنَا لَا تَذْهَبُونَ فَتَأَخُذُونَ نَصِيبَكُمْ مِنْهُ ؟ , قَالُوا : وَأَيْنَ هُوَ ؟ , قَالَ : فِي الْمَسْجِدِ , فَخَرَجُوا سِرَاعًا إِلَى الْمَسْجِدِ , وَوَقَفَ أَبُو هُرَيْرَةَ لَهُمْ حَتَّى رَجَعُوا , فَقَالَ لَهُمْ : مَا لَكُمْ ؟ , قَالُوا : يَا أَبَا هُرَيْرَةَ , قَدْ أَتَيْنَا الْمَسْجِدَ فَدَخَلْنَا , فَلَمْ نَرَ فِيهِ شَيْئًا يُقْسَمُ قَالَ : أَمَا رَأَيْتُمْ فِي الْمَسْجِدِ أَحَدًا ؟ , قَالُوا : بَلَى , رَأَيْنَا قَوْمًا يُصَلُّونَ , وَقَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ , وَقَوْمًا يَتَذَاكَرُونَ الْحَلالَ وَالْحَرَامَ فَقَالَ لَهُمْ أَبُو هُرَيْرَةَ : وَيْحَكُمْ , فَذَاكَ مِيرَاثُ مُحَمَّدٍ - صلى الله عليه وسلم –
"Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- pernah lewat di pasar Madinah. Beliau pun berdiri di pasar seraya berkata, "Alangkah ruginya kalian!" Mereka berkata, "Apa itu wahai Abu Hurairah?" Beliau menjawab, "Itu warisan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sedang dibagi, sementara kalian masih disini. Kalian tak pergi mengambil bagian kalian darinya". Mereka bertanya, "Mana dia?" Beliau menjawab, "Ada di masjid". Mereka pun keluar dalam keadaan bergegas menuju masjid, dan Abu Hurairah tetap berdiri menunggu mereka sampai mereka kembali. Beliau berkata kepada mereka, "Kenapakah kalian?" Mereka menjawab, "Wahai Abu Hurairah, sungguh kami telah mendatangi masjid dan memasukinya. Namun kami tak melihat sesuatu apapun di dalamnya sedang dibagi". Beliau menjawab, "Tidakkah kalian melihat seorang pun di dalam masjid?" Mereka menjawab, "Ya, ada. Kami telah melihat suatu kaum yang sedang sholat dan kaum lain yang membaca Al-Qur'an serta kaum yang membicarakan halal dan haram". Akhirnya, Abu Hurairah berkata kepada mereka, "Celaka kalian. Nah, itulah warisan Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-". [HR. Abul Qosim Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam Al-Awsath (no. 1429). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 83)]  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar