Tafakkur tentang Akhir Sebuah Kehidupan yang Fana

Tafakkur tentang Akhir Sebuah
Kehidupan yang Fana
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah -hafizhahullah-
Kehidupan
dunia ini hanyalah sebentar saja. Jika seorang hamba tahu bahwa kehidupan dunia
hanya sebentar saja, dan selanjutnya akan sirna, maka selayaknya ia takut
dengan hari tersebut.
Ia
harus takut jangan sampai berpulang kesana tanpa bekal berupa amal sholih yang
akan diberi ganjaran. Perjalanan menuju akhirat memang panjang, namun
hakikatnya tidaklah demikian.
Sepantasnya
orang yang melakukan perjalanan panjang mempersiapkan bekal yang dapat
melegakan dan melonggarkan perjalanannya.
Al-Imam Ibnul Jawziy Ad-Dimasyqiy
-rahimahullah- berkata,
من
تفكر في عواقب الدنيا، أخذ الحذر، ومن أيقن بطول الطريق، تأهب للسفر
"Barangsiapa yang merenung
tentang kesudahan dari dunia ini, maka ia akan berhati-hati. Barangsiapa yang
meyakini panjangnya perjalanan (menuju Allah), maka ia akan melakukan persiapan
untuk safar (perjalanan panjang)".
[Lihat Shoidul Khothir (1/26), cet. Dar Al-Qolam, 1425 H]
Demikianlah
seorang yang cerdik, ia selalu memikirkan kesudahan dirinya di hari sana , sebelum ia
menghadiri pengadilan dan hisab yang lama dan mengerikan. Inilah tafakkur (renungan)
yang berguna bagi dirinya saat-saat ia hidup di dunia.
Adapun di kampung akhirat, maka tafakkur tiada lagi bermanfaat. Tak ada lagi yang
ia dapat lakukan, selain penyesalan yang menjadi-jadi pada dirinya, di saat ia
melihat kesudahan dirinya yang menghinakan dan membuatnya tersungkur malu di
hadapan seluruh makhluk, bahkan di depan Al-Khaliq Allah -Azza wa Jalla-.
Na'udzu billah min dzalik.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ
لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُون [الأنعام : 32]
"Dan tiadalah kehidupan dunia
ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat
itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka Tidakkah kalian
memahaminya?" (QS. Al-An'aam :
32)
Dalam
menafsirkan ayat ini, para ulama kita menjelaskan bahwa kehidupan dunia dalam
hal keterputusan dan pendeknya umur, dunia amat cepat. Dunia
ibarat sesuatu yang dipermainkan.
Sebagian
ahli tafsir ada yang menerangkan bahwa tidaklah urusan dunia dan usaha
untuknya, melainkan permainan dan senda gurau saja.
Adapun
amalan kebaikan, maka ia termasuk amalan
akhirat, bukan amalan dunia.
Sebagian
ulama ada juga yang menyatakan bahwa tidaklah pencinta dunia, kecuali ia
pencinta permainan dan senda gurau, karena tersibukkan dari sesuatu yang
diperintahkan kepadanya. Sedang bermain-main tidaklah mendatangkan manfaat.
[Lihat Zaadul Masir (2/321)]
Seorang
hamba dalam kehidupan ini harus selalu berpikir tentang perbuatan yang ia
kerjakan di dunia; apakah perbuatan dan amalan itu membuahkan pahala baginya di
akhirat. Jika suatu perbuatan tidaklah
demikian, maka hendaknya ia tinggalkan!!
Jika
ia tidak meninggalkannya, maka hal itu akan menjadi penyesalan baginya di
akhirat. Sebagai contoh, makan adalah perbuatan yang mungkin mendatangkan
pahala atau tidak, ataukah malah mendatangkan dosa.
Jika
seseorang makan demi menegakkan dan menyehatkan badannya agar ia kuat dalam beribadah, maka makan yang seperti ini akan diganjari pahala
kebaikan.
Bila
seseorang makan hanya demi menghilangkan rasa
lapar, bukan demi menguatkan jasad dalam
beribadah, maka makan yang seperti ini tak akan diberi pahala bagi pelakunya.
Ia hanya makan layaknya binatang. Makan seperti ini adalah makan yang tidak
diberi ganjaran pahala baginya.
Disana ada yang lebih parah,
segolongan manusia ada yang makan demi menguatkan jasadnya dalam berbuat
maksiat dan dosa. Orang yang seperti ini tak akan mendapatkan kebaikan, bahkan
ia mendapatkan dosa.
Disinilah
pentingnya seorang mukmin memperhatikan segala gerak-geriknya. Segala kesenangan dan kenikmatan dunia ia
peruntukkan bagi akhiratnya. Semuanya ia
gunakan sebagai sarana dalam mendatangkan kebaikan baginya di alam sana .
Kenikmatan
dan kesenangan dunia tidaklah melalaikan dirinya, karena ia sadar bahwa
kehidupan dunia ini tak akan bermanfaat baginya jika ia tidak gunakan untuk
akhiratnya.
Ia
sadar bahwa kehidupan dunia baginya akan sia-sia, bila tidak ia lakukan dan
gunakan untuk akhirat. Ia
yakin bahwa kehidupan dunia hanyalah sebentar, berkisar antara hari kelahirannya sampai ajal
menjemputnya. Ada
yang diberi waktu 20 tahun, 30 tahun, 50 tahun, bahkan lebih atau kurang
darinya.
Allah
–Azza wa Jalla- berfirman,
إِنَّمَا
مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ
بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّى إِذَا
أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ
قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا
حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ (24) وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (25) [يونس : 24 ، 25]
"Sesungguhnya
perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan
dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya. Karena air itu, tanam-tanaman
bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak, hingga apabila
bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan
pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba
datanglah kepadanya azab (siksa) Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami
jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan
tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir. Allah menyeru
(manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada
jalan yang lurus (Islam)". (QS.
Yunus : 24-25)
Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-
berkata,
"Allah
-Tabaroka wa Ta'ala- membuat perumpamaan bagi bunga kehidupan dunia ini,
keindahannya, lekasnya ia hancur dan punah, dengan tetumbuhan yang Allah
keluarkan dari bumi dengan sebab air hujan yang Allah turunkan berupa sesuatu
yang dimakan oleh manusia, baik itu tanaman, maupun buah-buahan dengan berbagai
macam dan ragamnya". [Lihat Tafsir
Ibnu Katsir (4/260)]
Ini
merupakan perumpamaan yang amat tepat bagi dunia. Ia memang indah dalam sesaat. Namun bila tiba saatnya, maka ia akan punah, sirna, buruk
dan mengerikan. Bagaikan seorang wanita
yang amat cantik dan jelita di masa gadisnya.
Namun jika sudah beranjak lebih dewasa lagi, maka mulailah ia akan menampakkan
keriput, lemahnya tenaga, rambut beruban. Badannya yang dahulu lurus, kini
menjadi bungkuk. Mata yang dulu jelita, kini berubah buruk dan mengerikan.
Itulah
kecantikan sesaat baginya sebagaimana halnya dunia yang memukau akan mencapai saatnya,
ia akan mengerikan, menakutkan dan membuat pencintanya berubah benci kepadanya.
Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Ibnu Nashir As-Sa'diy -rahimahullah-
berkata,
"Perumpamaan
ini termasuk perumpamaan yang paling bagus. Perumpamaan ini amat tepat bagi
kondisi dunia, karena kelezatan dunia, kesenangan, kedudukannya dan sejenis
itu. Semua itu akan berkilau bagi pemiliknya, walaupun ia hanya berkilau dalam
waktu yang singkat. Jika ia telah sempurna dan lengkap, maka ia akan hancur,
dan akan sirna dari pemiliknya, ataukah pemiliknya yang akan binasa. Akhirnya, tangannya
hampa dari semua itu dan hatinya akan dipenuhi gundah gulana, sedih dan
penyesalan". [Lihat Taisir Al-Karim
Ar-Rahman (hal. 361)]
Perumpamaan
yang Allah sebutkan dalam ayat itu, juga disebutkan dalam ayat yang lain,
seraya mengingatkan bahwa yang abadi dan kekal di sisi Allah kebaikan yang akan
dirasakan oleh pelakunya di sisi Allah -Azza wa Jalla-, sehingga
selayaknya seorang mukmin mengejar dan mengusahakan segala amal sholih demi
meraih kebaikan dan pahala di akhirat. Seorang hamba jangan justru lebih
semangat meraih kebaikan dunia berupa barang-barang dunia dan perhiasannya
dibandingkan kebaikan dan pahala yang dengannya ia masuk surga yang penuh
kenikmatan abadi!!!
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
وَاضْرِبْ
لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ
فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ
وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا (45) الْمَالُ وَالْبَنُونَ
زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ
رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا (46) [الكهف :45- 46]
"Dan
berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan
yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di
muka bumi. Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh
angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan
kehidupan dunia. Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih
baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan". (QS. Al-Kahfi : 45-46)
Dunia hanyalah surga bagi si kafir yang tidak meyakini
adanya hari pembalasan. Ia amat gemar, rakus dan mengutamakan kehidupan dunia
yang semu dan penuh kesenangan serta hura-hura dibandingkan kehidupan akhirat. Ia pun larut dalam perbuatan-perbuatan yang
membuat Allah murka. Kehidupannya berlumuran dosa-dosa
dan hal sia-sia yang tidak menghasilkan pahala.
Allah -Tabaroka wa Ta'ala- berfirman saat
menyifati kaum kafir,
الَّذِينَ
يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ
اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ [إبراهيم : 3]
"(yaitu)
orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat,
dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan
Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh". (QS. Ibrahim : 3)
Penghulu ahli tafsir, Abdullah bin Abbas -radhiyallahu anhu- berkata,
يأخذون ما تعجل لهم
منها تهاونا بأمر الآخرة
"Mereka
(kaum kafir) mengambil sesuatu disegerakan bagi mereka dari kehidupan dunia,
karena sikap peremehan mereka terhadap urusan akhirat". [Lihat Zadul Masir (4/345), oleh Ibnul
Jawziy, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1404 H]
Kaum
kafir di dunia ini tak ingin melakukan sesuatu berupa amal sholih, kecuali ia
harus mendapatkan keuntungan duniawi. Kita lihat –sebagai contoh-, mereka membudayakan senyum, bukan untuk meraih
pahala di akhirat, tapi untuk meraih keuntungan dalam perdagangan dan usaha
dunia mereka!!
Adapun
orang-orang yang beriman dan cerdik, maka ia penuhi kehidupan dan segala
perbuatannya dengan kebaikan. Tak ada sesuatu yang ia lakukan, melainkan di
dalamnya ada pahala dan kebaikan untuknya di akhirat.
Di balik senyum saja, orang
beriman mendapatkan pahala. Sebab senyum yang dilakukan demi membuat hati
seorang mukmin senang dan gembira, akan mendapatkan ganjaran pahala. Itulah senyum karena Allah.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
تَبَسُّمُكَ
فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
"Senyumanmu di depan saudaramu
adalah sedekah bagimu". [HR.
At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 1956). Syaikh Al-Albaniy
menilai hadits ini shohih dalam Ash-Shohihah (no. 572)]
Ini salah satu contoh bagi kita bahwa seorang
mukmin hendaknya senantiasa memperhatikan gerak-geriknya di dunia. Apakah hal
itu mendatangkan kebaikan baginya di akhirat atau tidak. Jika ya,
maka itulah kebaikan yang ia akan raih di sisi Allah. Jika tidak, maka
janganlah ia mencela, selain dirinya sendiri kelak saat berjumpa dengan Allah
dalam keadaan penuh penyesalan. Sebab, ia telah melalaikan kesempatan dan
umurnya tanpa sesuatu yang bermanfaat baginya di negeri akhirat.
Komentar
Posting Komentar