Rabu, 21 September 2016

Bolehkah Mengadakan Acara Peresmian Masjid?!

Hasil gambar
Bolehkah Mengadakan Acara Peresmian Masjid?!

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-

Seakan menjadi perkara yang lumrah di masyarakat, setiap kali ada sebuah masjid yang sudah rampung pembangunannya, maka para pengurus dan panitia masjid serta-merta mengadakan "Acara Peresmian Masjid".

Mereka melakukan hal ini sebagai rasa syukur kepada Allah -Azza wa Jalla-. Tapi apakah acara seperti ini disyariatkan saat meresmikan masjid?

Pertanyaan ini telah dijawab oleh para ulama Timur Tengah yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da'imah dengan jawaban berikut,

افتتاح المساجد يكون بالصلاة فيها وعمارتها بذكر الله ، من تلاوة قرآن والتسبيح والتحميد والتهليل وتعليم العلوم الشرعية ووسائلها ونحو ذلك مما فيه رفع شأنها ، قال الله تعالى { فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ . رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ .لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ } . بهذا ونحوه من النصائح والمواعظ والمشورة كان يعمرها رسول الله صلى الله عليه وسلم . وتبعه في هذا الخلفاء الراشدون وسائر صحابته وأئمة الهدى من بعده رضي الله عنهم ورحمهم ، والخير كل الخير في الاهتداء بهديهم في الوقوف عندما قاموا به في افتتاح المساجد ، وعمارتها بما عمروها به من العبادات ومافي معناها من شعائر الإسلام ، ولم يثبت عنه صلى الله عليه وسلم ، ولا عمّن اتبعه من أئمة الهدى أنهم افتتحوا مسجداً بالاحتفال وبالدعوة إلى مثل ما يدعو إليه الناس اليوم ، من الاجتماع من البلاد عند تمام بنائه للإشادة به ، ولو كان ذلك مما يُحمد لكان رسول الله صلى الله عليه وسلم أسبق الناس إليه ولسنَّه لأمته ولتبعه عليه خلفاؤه الراشدون وأئمة الهدى من بعده ، ولو حصل ذلك لنُقل.
وعلى هذا فلا ينبغي مثل هذه الاحتفالات ، ولا يُستجاب للدعوة إليها ولا يُتعاون على إقامتها بدفع مالٍ أو غيره ، فإن الخير في اتباع من سلَف ، والشر في ابتداع من خلف ، وليس في دعوة بعض الصحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم ، إلى بيته ليصلي في مكانٍ منه ركعتين كي يتخذ صاحبه مصلى يصلي فيه ما قدر له من النوافل دليل على ما عُرف اليوم من الاحتفالات لافتتاح المسجد ، فإنه لم يَدْعُه إلى احتفال ، بل لصلاة ، ولم يسافر لأجل تلك الصلاة ، ثم السفر إلى ذلك الاحتفال أو للصلاة في ذلك المسجد داخل في عموم النهي عن شدِّ الرِّحال إلى غير المساجد الثلاثة المعروفة ؛ فينبغي العدول عن تلك العادة المُحْدثة ، والاكتفاء في شؤون المساجد وغيرها بما كان عليه العمل في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وأتباعه أئمة الهدى رحمهم الله ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
"Pembukaan (peresmian) masjid adalah dengan melakukan sholat di dalamnya dan memakmurkannya dengan dzikrullah berupa membaca Al-Qur'an, bertasbih, bertahmid dan ber-tahlil (mengucapkan kalimat "Laa ilaaha illallah) serta pengajaran ilmu-ilmu syar'iy, sarana-sarananya dan sejenis itu diantara perkara yang mengangkat kedudukan masjid.
Allah -Ta'ala- berfirman,
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ (36) رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ (37) لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (38) [النور/36- 38]
"Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, yaitu laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sholat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik daripada sesuatu yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas". (QS. An-Nuur : 36-38)
Dengan perbuatan seperti inilah dan sejenisnya berupa nasihat, wejangan dan musyawarah, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dahulu memakmurkan masjid. Dalam hal ini, beliau diikuti oleh para Al-Khulafa' Ar-Rosyidin, seluruh sahabat dan para imam (ulama) pemberi petunjuk setelahnya. Semoga Allah meridhoi dan merahmati mereka.
Sungguh segala kebaikan adalah dalam mengambil petunjuk mereka dalam diam (menahan diri) saat mereka melakukan sikap diam itu dalam membuka masjid-masjid serta memakmurkan masjid-masjid dengan sesuatu yang mereka lakukan berupa ibadah-ibadah dan yang semaknanya berupa syiar-syiar Islam.
Tak sah dari beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- dan tidak pula orang-orang yang mengikuti beliau dari kalangan imam-imam (ulama) pemberi petunjuk bahwa mereka membuka (meresmikan) suatu masjid dengan acara dan undangan yang diadakan oleh manusia  pada hari ini berupa adanya acara kumpul-kumpul dari berbagai daerah saat usai pembangunan masjid dalam rangka memperkenalkannya.
Andaikan hal itu termasuk perkara yang terpuji, maka sungguh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah orang yang paling terdahulu kepada hal itu, dan beliau juga akan menyunnahkannya bagi umatnya serta beliau juga akan diikuti oleh para Al-Khulafa' Ar-Rosyidin dan imam-imam (ulama) pemberi petunjuk setelahnya. Andaikan hal itu pernah terjadi, niscaya hal itu akan dinukil.
Berdasarkan hal ini, tak sepantasnya (mengadakan) acara-acara seperti ini. Tidak boleh dipenuhi undangan kepadanya dan tak boleh tolong-menolong dalam melakukannya dengan memberi (bantuan) harta atau selainnya. Karena, kebaikan itu hanyalah dalam mengikuti para salaf (pendahulu kita dari kalangan sahabat, tabi'in dan ulama-ulama yang mengikuti jalan mereka), sedang keburukan itu ada pada sikap mengada-adanya orang-orang belakangan.
Dalam hal sebagian sahabat mengundang Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- ke rumahnya agar beliau sholat pada suatu tempat dari rumah itu sebanyak dua rakaat supaya tuan rumahnya menjadikan tempat itu sebagai tempat sholat sunnah sesuai yang ditentukan baginya, di dalamnya tak ada dalil bagi sesuatu yang dikenal pada hari ini dengan "Acara Peresmian Masjid". Karena, sahabat itu tidaklah mengundang beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- untuk acara, bahkan untuk sholat. Beliau juga tak bersafar demi sholat itu.
Kemudian bersafar menuju ke acara itu atau untuk sholat di masjid itu, masuk dalam keumuman larangan dari melakukan safar menuju kepada selain tiga masjid yang terkenal (yakni, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsho).
Jadi, sepantasnya berpaling dari kebiasaan yang diada-adakan itu serta mencukupkan diri dalam urusan-urusan masjid dengan sesuatu yang dipijaki oleh amalan di zaman Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan pengikutnya, yaitu imam-imam (ulama) pemberi petunjuk -rahimahumullah-.
Wa shollallahu ala Nabiyyina wa alihi wa shohbihi wa sallam".
[Sumber Fatwa: Fatawa Islamiyyah (1/18) dan Al-Bida' wa Al-Muhdatsat wa maa laa Ashla Lahu (hal. 233-234), Dar Ibni Khuzaimah, 1419 H]

Jadi, selayaknya seseorang tidak melakukan apapun dalam membuka dan meresmikan masjid sebagaimana halnya dahulu para sahabat tak melakukan apapun. Saat Masjid Nabawi dipakai awal kalinya, para sahabat tidak melakukan apapun, selain menegakkan sholat berjamaah bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Semoga dengan fatwa ini kita mengerti duduk permasalahan dan hukum dari acara peresmian masjid. Hal ini sengaja kami angkat, karena banyak diantara kita yang masih menganggap hal itu boleh-boleh saja.

Kesimpulannya bahwa masjid saat usai dari pembangunannya, tak perlu diresmikan dengan acara dan seremonial yang sering kita saksikan, dengan mengundang berbagai kalangan, mulai dari masyarakat yang dekat, maupun yang jauh sampai kepada pemerintah. Di dalam acara itu diadakan berbagai hal yang tak jarang menghabiskan dana yang banyak. Sementara panitia dan pengurus masjid kadang masih tekor dan menanggung utang pada sebagian pihak, karena kurangnya dana pembangunan. Anggaplah tak ada utang dan beban, bukankah dana itu bisa dialokasikan ke tempat-tempat yang lebih bermanfaat?!


Jadi, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat. Mereka tidaklah takalluf (memaksakan diri) dalam melakukan sesuatu. Jika masjid sudah selesai dan rampung pembangunannya, maka mereka langsung gunakan, tanpa ada peresmian-peresmian seperti yang masyhur di zaman ini!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar