Bolehkah Mengadakan Acara Peresmian Masjid?!
Bolehkah Mengadakan Acara Peresmian
Masjid?!
|
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah -hafizhahullah-
|
Seakan
menjadi perkara yang lumrah di masyarakat, setiap kali ada sebuah masjid yang
sudah rampung pembangunannya, maka para pengurus dan panitia masjid serta-merta
mengadakan "Acara Peresmian Masjid".
Mereka
melakukan hal ini sebagai rasa syukur kepada Allah -Azza wa Jalla-. Tapi apakah
acara seperti ini disyariatkan saat meresmikan masjid?
Pertanyaan
ini telah dijawab oleh para ulama Timur Tengah yang tergabung dalam Al-Lajnah
Ad-Da'imah dengan jawaban berikut,
افتتاح
المساجد يكون بالصلاة فيها وعمارتها بذكر الله ، من تلاوة قرآن والتسبيح والتحميد
والتهليل وتعليم العلوم الشرعية ووسائلها ونحو ذلك مما فيه رفع شأنها ، قال الله
تعالى { فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ
يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ . رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ
تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ
الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ
وَالْأَبْصَارُ .لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ
فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ } . بهذا ونحوه من
النصائح والمواعظ والمشورة كان يعمرها رسول الله صلى الله عليه وسلم . وتبعه في
هذا الخلفاء الراشدون وسائر صحابته وأئمة الهدى من بعده رضي الله عنهم ورحمهم ،
والخير كل الخير في الاهتداء بهديهم في الوقوف عندما قاموا به في افتتاح المساجد ،
وعمارتها بما عمروها به من العبادات ومافي معناها من شعائر الإسلام ، ولم يثبت عنه
صلى الله عليه وسلم ، ولا عمّن اتبعه من أئمة الهدى أنهم افتتحوا مسجداً بالاحتفال
وبالدعوة إلى مثل ما يدعو إليه الناس اليوم ، من الاجتماع من البلاد عند تمام
بنائه للإشادة به ، ولو كان ذلك مما يُحمد لكان رسول الله صلى الله عليه وسلم أسبق
الناس إليه ولسنَّه لأمته ولتبعه عليه خلفاؤه الراشدون وأئمة الهدى من بعده ، ولو
حصل ذلك لنُقل.
وعلى
هذا فلا ينبغي مثل هذه الاحتفالات ، ولا يُستجاب للدعوة إليها ولا يُتعاون على
إقامتها بدفع مالٍ أو غيره ، فإن الخير في اتباع من سلَف ، والشر في ابتداع من خلف
، وليس في دعوة بعض الصحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم ، إلى بيته ليصلي في
مكانٍ منه ركعتين كي يتخذ صاحبه مصلى يصلي فيه ما قدر له من النوافل دليل على ما
عُرف اليوم من الاحتفالات لافتتاح المسجد ، فإنه لم يَدْعُه إلى احتفال ، بل لصلاة
، ولم يسافر لأجل تلك الصلاة ، ثم السفر إلى ذلك الاحتفال أو للصلاة في ذلك المسجد
داخل في عموم النهي عن شدِّ الرِّحال إلى غير المساجد الثلاثة المعروفة ؛ فينبغي
العدول عن تلك العادة المُحْدثة ، والاكتفاء في شؤون المساجد وغيرها بما كان عليه
العمل في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وأتباعه أئمة الهدى رحمهم الله ،
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
"Pembukaan (peresmian) masjid
adalah dengan melakukan sholat di dalamnya dan memakmurkannya dengan dzikrullah
berupa membaca Al-Qur'an, bertasbih, bertahmid dan ber-tahlil (mengucapkan
kalimat "Laa ilaaha illallah) serta pengajaran ilmu-ilmu syar'iy,
sarana-sarananya dan sejenis itu diantara perkara yang mengangkat kedudukan
masjid.
Allah
-Ta'ala- berfirman,
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا
اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ (36) رِجَالٌ لَا
تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ
وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ
وَالْأَبْصَارُ (37) لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ
مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (38) [النور/36-
38]
"Bertasbih kepada Allah di
masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di
dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, yaitu laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati
Allah, dan (dari) mendirikan sholat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut
kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.
(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada
mereka (dengan balasan) yang lebih baik daripada sesuatu yang telah mereka
kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah
memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas". (QS.
An-Nuur : 36-38)
Dengan
perbuatan seperti inilah dan sejenisnya berupa nasihat, wejangan dan
musyawarah, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dahulu memakmurkan
masjid. Dalam hal ini, beliau diikuti oleh para Al-Khulafa' Ar-Rosyidin,
seluruh sahabat dan para imam (ulama) pemberi petunjuk setelahnya. Semoga Allah
meridhoi dan merahmati mereka.
Sungguh
segala kebaikan adalah dalam mengambil petunjuk mereka dalam diam (menahan
diri) saat mereka melakukan sikap diam itu dalam membuka masjid-masjid serta
memakmurkan masjid-masjid dengan sesuatu yang mereka lakukan berupa
ibadah-ibadah dan yang semaknanya berupa syiar-syiar Islam.
Tak
sah dari beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- dan tidak pula orang-orang yang
mengikuti beliau dari kalangan imam-imam (ulama) pemberi petunjuk bahwa mereka
membuka (meresmikan) suatu masjid dengan acara dan undangan yang diadakan oleh manusia pada hari
ini berupa adanya acara kumpul-kumpul dari berbagai daerah saat usai
pembangunan masjid dalam rangka memperkenalkannya.
Andaikan
hal itu termasuk perkara yang terpuji, maka sungguh Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- adalah orang yang paling terdahulu kepada hal itu, dan beliau
juga akan menyunnahkannya bagi umatnya serta beliau juga akan diikuti oleh para
Al-Khulafa' Ar-Rosyidin dan imam-imam (ulama) pemberi petunjuk setelahnya. Andaikan
hal itu pernah terjadi, niscaya hal itu akan dinukil.
Berdasarkan
hal ini, tak sepantasnya (mengadakan) acara-acara seperti ini. Tidak boleh
dipenuhi undangan kepadanya dan tak boleh tolong-menolong dalam melakukannya
dengan memberi (bantuan) harta atau selainnya. Karena, kebaikan itu hanyalah
dalam mengikuti para salaf (pendahulu kita dari kalangan sahabat, tabi'in dan
ulama-ulama yang mengikuti jalan mereka), sedang keburukan itu ada pada sikap
mengada-adanya orang-orang belakangan.
Dalam
hal sebagian sahabat mengundang Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- ke
rumahnya agar beliau sholat pada suatu tempat dari rumah itu sebanyak dua
rakaat supaya tuan rumahnya menjadikan tempat itu sebagai tempat sholat sunnah
sesuai yang ditentukan baginya, di dalamnya tak ada dalil bagi sesuatu yang
dikenal pada hari ini dengan "Acara Peresmian Masjid". Karena,
sahabat itu tidaklah mengundang beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- untuk acara,
bahkan untuk sholat. Beliau juga tak bersafar demi sholat itu.
Kemudian
bersafar menuju ke acara itu atau untuk sholat di masjid itu, masuk dalam
keumuman larangan dari melakukan safar menuju kepada selain tiga masjid yang
terkenal (yakni, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsho).
Jadi,
sepantasnya berpaling dari kebiasaan yang diada-adakan itu serta mencukupkan
diri dalam urusan-urusan masjid dengan sesuatu yang dipijaki oleh amalan di
zaman Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan pengikutnya, yaitu
imam-imam (ulama) pemberi petunjuk -rahimahumullah-.
Wa
shollallahu ala Nabiyyina wa alihi wa shohbihi wa sallam".
[Sumber
Fatwa: Fatawa Islamiyyah (1/18) dan Al-Bida' wa
Al-Muhdatsat wa maa laa Ashla Lahu (hal. 233-234), Dar Ibni Khuzaimah,
1419 H]
Jadi, selayaknya seseorang
tidak melakukan apapun dalam membuka dan meresmikan masjid sebagaimana halnya
dahulu para sahabat tak melakukan apapun. Saat Masjid Nabawi dipakai awal
kalinya, para sahabat tidak melakukan apapun, selain menegakkan sholat
berjamaah bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Semoga
dengan fatwa ini kita mengerti duduk permasalahan dan hukum dari acara
peresmian masjid. Hal ini sengaja kami angkat, karena banyak diantara kita
yang masih menganggap hal itu boleh-boleh saja.
Kesimpulannya bahwa masjid saat usai dari pembangunannya, tak perlu
diresmikan dengan acara dan seremonial yang sering kita saksikan, dengan
mengundang berbagai kalangan, mulai dari masyarakat yang dekat, maupun yang
jauh sampai kepada pemerintah. Di dalam acara itu diadakan berbagai hal yang
tak jarang menghabiskan dana yang banyak. Sementara panitia dan pengurus masjid
kadang masih tekor dan menanggung utang pada sebagian pihak, karena kurangnya
dana pembangunan. Anggaplah tak ada utang dan beban, bukankah dana itu bisa
dialokasikan ke tempat-tempat yang lebih bermanfaat?!
Jadi, sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat. Mereka
tidaklah takalluf (memaksakan diri) dalam melakukan sesuatu. Jika masjid
sudah selesai dan rampung pembangunannya, maka mereka langsung gunakan, tanpa
ada peresmian-peresmian seperti yang masyhur di zaman ini!!!
Komentar
Posting Komentar