Menyibak Kabut Kelabu Perihal Kehidupan Dajjal
Menyibak Kabut Kelabu Perihal
Kehidupan Dajjal
oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
Mungkin
setiap orang diantara kita sering mendengar nama "DAJJAL", tapi
boleh jadi banyak orang yang tidak mengenal siapakah Dajjal?
Dijelaskan
dalam sebagian riwayat bahwa salah satu diantara tanda kiamat, keluarnya Dajjal
yang akan menyesatkan banyak manusia di akhir zaman.
Dia adalah manusia aneh yang telah diciptakan oleh Allah -Azza wa
Jalla- sejak dahulu kala.
Di
akhir zaman ia akan keluar mengaku sebagai tuhan. Barangsiapa yang menolaknya,
maka ia akan menyiksanya habis-habisan.
Kali
ini kami akan mengajak anda menikmati kisah di bawah ini yang menyingkap
sedikit perihal kehidupan manusia misteri ini.
Dajjal
merupakan manusia misteri yang telah ada dan hidup di zaman Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam-. Siapakah dia, dari manakah ia muncul, dan apa saja
tanda-tanda yang mendahului kemunculannya?
Nah,
silakan ikuti kisahnya dalam nukilan hadits shohih berikut ini, sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam kitab Shohih-nya.
Dari
Fathimah bintu Qois -radhiyallahu anha-, ia berkata,
صَلَّيْتُ
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ فِي صَفِّ النِّسَاءِ
الَّتِي تَلِي ظُهُورَ الْقَوْمِ،
فَلَمَّا
قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ
وَهُوَ يَضْحَكُ، فَقَالَ : ((لِيَلْزَمْ كُلُّ إِنْسَانٍ مُصَلَّاهُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ
لِمَ جَمَعْتُكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا
جَمَعْتُكُمْ لِرَغْبَةٍ وَلَا لِرَهْبَةٍ وَلَكِنْ جَمَعْتُكُمْ لِأَنَّ تَمِيمًا
الدَّارِيَّ كَانَ رَجُلًا نَصْرَانِيًّا فَجَاءَ فَبَايَعَ وَأَسْلَمَ وَحَدَّثَنِي
حَدِيثًا وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ مَسِيحِ الدَّجَّالِ
حَدَّثَنِي
أَنَّهُ رَكِبَ فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ مَعَ ثَلَاثِينَ رَجُلًا مِنْ لَخْمٍ وَجُذَامَ
فَلَعِبَ بِهِمْ الْمَوْجُ شَهْرًا فِي الْبَحْرِ ثُمَّ أَرْفَئُوا إِلَى جَزِيرَةٍ
فِي الْبَحْرِ حَتَّى مَغْرِبِ الشَّمْسِ فَجَلَسُوا فِي أَقْرُبْ السَّفِينَةِ فَدَخَلُوا
الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْهُمْ دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعَرِ لَا يَدْرُونَ مَا
قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقَالُوا وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ
أَنَا الْجَسَّاسَةُ قَالُوا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ أَيُّهَا الْقَوْمُ انْطَلِقُوا
إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ قَالَ
لَمَّا سَمَّتْ لَنَا رَجُلًا فَرِقْنَا مِنْهَا أَنْ تَكُونَ شَيْطَانَةً قَالَ فَانْطَلَقْنَا
سِرَاعًا حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ
قَطُّ خَلْقًا وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا مَجْمُوعَةٌ يَدَاهُ إِلَى عُنُقِهِ مَا بَيْنَ
رُكْبَتَيْهِ إِلَى كَعْبَيْهِ بِالْحَدِيدِ قُلْنَا وَيْلَكَ مَا أَنْتَ قَالَ قَدْ
قَدَرْتُمْ عَلَى خَبَرِي فَأَخْبِرُونِي مَا أَنْتُمْ قَالُوا نَحْنُ أُنَاسٌ مِنْ
الْعَرَبِ رَكِبْنَا فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ فَصَادَفْنَا الْبَحْرَ حِينَ اغْتَلَمَ
فَلَعِبَ بِنَا الْمَوْجُ شَهْرًا ثُمَّ أَرْفَأْنَا إِلَى جَزِيرَتِكَ هَذِهِ فَجَلَسْنَا
فِي أَقْرُبِهَا فَدَخَلْنَا الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْنَا دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ
الشَّعَرِ لَا يُدْرَى مَا قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقُلْنَا
وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ قُلْنَا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ
اعْمِدُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ
فَأَقْبَلْنَا إِلَيْكَ سِرَاعًا وَفَزِعْنَا مِنْهَا وَلَمْ نَأْمَنْ أَنْ تَكُونَ
شَيْطَانَةً فَقَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ نَخْلِ بَيْسَانَ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا
تَسْتَخْبِرُ قَالَ أَسْأَلُكُمْ عَنْ نَخْلِهَا هَلْ يُثْمِرُ قُلْنَا لَهُ نَعَمْ
قَالَ أَمَا إِنَّهُ يُوشِكُ أَنْ لَا تُثْمِرَ قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ بُحَيْرَةِ
الطَّبَرِيَّةِ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ هَلْ فِيهَا مَاءٌ
قَالُوا هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ قَالَ أَمَا إِنَّ مَاءَهَا يُوشِكُ أَنْ يَذْهَبَ
قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ عَيْنِ زُغَرَ قَالُوا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ
قَالَ هَلْ فِي الْعَيْنِ مَاءٌ وَهَلْ يَزْرَعُ أَهْلُهَا بِمَاءِ الْعَيْنِ قُلْنَا
لَهُ نَعَمْ هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ وَأَهْلُهَا يَزْرَعُونَ مِنْ مَائِهَا قَالَ
أَخْبِرُونِي عَنْ نَبِيِّ الْأُمِّيِّينَ مَا فَعَلَ قَالُوا قَدْ خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ
وَنَزَلَ يَثْرِبَ قَالَ أَقَاتَلَهُ الْعَرَبُ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ كَيْفَ صَنَعَ
بِهِمْ فَأَخْبَرْنَاهُ أَنَّهُ قَدْ ظَهَرَ عَلَى مَنْ يَلِيهِ مِنْ الْعَرَبِ وَأَطَاعُوهُ
قَالَ لَهُمْ قَدْ كَانَ ذَلِكَ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّ ذَاكَ خَيْرٌ لَهُمْ
أَنْ يُطِيعُوهُ وَإِنِّي مُخْبِرُكُمْ عَنِّي إِنِّي أَنَا الْمَسِيحُ وَإِنِّي أُوشِكُ
أَنْ يُؤْذَنَ لِي فِي الْخُرُوجِ فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِي الْأَرْضِ فَلَا أَدَعَ
قَرْيَةً إِلَّا هَبَطْتُهَا فِي أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا
مُحَرَّمَتَانِ عَلَيَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ
وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِي مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِي عَنْهَا
وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَائِكَةً يَحْرُسُونَهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَعَنَ بِمِخْصَرَتِهِ فِي الْمِنْبَرِ
هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ أَلَا هَلْ
كُنْتُ حَدَّثْتُكُمْ ذَلِكَ فَقَالَ النَّاسُ نَعَمْ
"Aku pernah sholat bersama
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Aku berada di shaff wanita yang
berada dekat dengan punggung kaum lelaki.
Tatkala
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menyelesaikan sholatnya, maka
beliau duduk di atas mimbar sambil tertawa.
Kemudian
beliau bersabda, "Hendaknya setiap orang melazimi tempatnya",
lalu bersabda lagi, "Tahukah kalian kenapa aku kumpulkan kalian?"
"Hanya
Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu", kata mereka.
Beliau
bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku tidaklah mengumpulkan kalian
karena keinginan (dalam membagi ghonimah, --pent.) dan tidak pula karena takut
(terhadap musuh, --pent.). Akan tetapi aku kumpulkan kalian, karena Tamim
Ad-Dariy dahulu seorang yang beragama Nasrani.
Kemudian
ia datang berbai'at dan masuk Islam. Dia telah menceritakan kepadaku sebuah
kisah yang sesuai dengan kisah yang pernah aku ceritakan kepada kalian tentang
Al-Masih Ad-Dajjal.
Dia
telah menceritakan kepadaku bahwa telah berlayar dalam sebuah perahu besar
bersama 30 orang lelaki dari Suku Lakhm dan Judzam. Mereka dipermainkan oleh
ombak selama sebulan di lautan.
Kemudian
mereka berlabuh pada sebuah pulau di tengah lautan ketika terbenamnya matahari.
Mereka pun duduk di perahu kecil, lalu memasuki pulau itu.
Mereka
dijumpai oleh binatang yang lebat bulunya; mereka tak tahu mana depan dan
belakangnya karena banyak bulunya. Mereka berkata (kepada binatang itu),
"Celaka engkau, siapakah engkau?" Binatang itu menjawab, "Aku
adalah Jassasah (tukang cari berita)". Mereka bilang, "Apa itu
Jassasah?" Binatang itu berkata, "Wahai kaum, pergilah engkau
kepada laki-laki ini di dalam biara itu. Karena ia amat rindu dengan berita
kalian".
Dia
(Tamim) berkata, "Tatkala ia (si binatang) menyebutkan seorang
lelaki kepada kami, maka kami khawatir jangan sampai binatang itu adalah setan
perempuan".
Tamim
berkata, "Kami pun pergi dengan
cepat sampai kami memasuki istana tersebut. Tiba-tiba di dalamnya
terdapat orang yang paling besar kami lihat dan paling kuat ikatannya dalam keadaan
kedua tangannya terbelenggu ke lehernya antara kedua lututnya sampai kedua mata
kakinya dengan besi".
Kami
katakan, "Celaka engkau, siapakah engkau?"
Dia
(Dajjal) menjawab, "Sungguh kalian telah tahu beritaku. Kabarkanlah
kepadaku siapakah kalian?"
Mereka
menjawab, "Kami adalah orang-orang Arab. Kami telah berlayar dalam sebuah
perahu besar. Kami pun mengarungi lautan saat berombak besar.
Akhirnya,
ombak mempermainkan kami selama sebulan. Kemudian kami berlabuh di pulau anda
ini. Kami pun duduk-duduk di perahu kecil, lalu masuk pulau.
Tiba-tiba
kami dijumpai oleh binatang yang lebat bulunya; mereka tak tahu mana depan dan
belakangnya karena banyak bulunya. kami berkata (kepada binatang itu),
"Celaka engkau, siapakah engkau?" Binatang itu menjawab, "Aku
adalah Jassasah (tukang cari berita)".
Kami
bilang, "Apa itu Jassasah?" Binatang itu berkata, "Pergilah
engkau kepada laki-laki ini di dalam biara itu. Karena ia amat rindu dengan berita
kalian". Lalu kami menghadap kepadamu dengan cepat, kami takut kepadanya
dan tak merasa aman jika ia adalah setan perempuan".
Dia
(Dajjal) berkata, "Kabarilah aku tentang pohon-pohon korma Baisan (nama
tempat di Yordania, --pent.)!!".
Kami
bertanya, "Engkau tanya tentang apanya?".
Dajjal
berkata, "Aku tanyakan kepada kalian tentang pohon-pohon kurmanya, apakah
masih berbuah?".
Kami
jawab, "Ya". Dajjal berkata, "Ingatlah bahwa hampir-hampir ia
tak akan berbuah lagi".
Dajjal
berkata, "Kabarilah aku tentang Danau Thobariyyah!!".
Kami
katakan, "Apanya yang kau tanyakan?" Dajjal berkata, "Apakah di
dalamnya masih ada air?"
Mereka
menjawab, "Danau itu masih banyak airnya". Dajjal berkata,
"Ingatlah, sesungguhnya airnya hampir-hampir akan habis".
Dajjal
bertanya lagi, "Kabarilah aku tentang mata air Zughor!!" Mereka
bertanya, "Apanya yang kau tanyakan?" Dajjal berkata, "Apakah di
dalam mata air itu masih ada air? Apakah penduduknya masih menanam dengan
memakai air dari mata air itu?"
Kami
jawab, "Ya, mata air itu masih banyak airnya dan penduduknya masih
bercocok tanam dari airnya".
Dajjal
berkata lagi, "Kabarilah aku tentang Nabinya orang-orang Ummi (ummi :
buta huruf, yakni orang-orang Quraisy), apa yang ia lakukan?
Mereka
berkata, "Dia telah keluar dari Kota
Makah dan bertempat tinggal di Yatsrib (Madinah)".
Dajjal
bertanya, "Apakah ia diperangi oleh orang-orang Arab?"
Kami
katakan, "Ya". Dajjal bertanya, "Apa yang ia lakukan pada
mereka?"
Lalu kami kabari Dajjal bahwa sungguh ia (Nabi itu, yakni Nabi Muhammad -Shallallahu
alaihi wa sallam-) telah berkuasa atas orang-orang yang ada di sekitarnya dari
kalangan Arab dan mereka menaatinya".
Dajjal
berkata kepada mereka, "Apakah hal itu sudah terjadi?" Kami jawab,
"Ya".
"Dajjal
berkata, "Ingatlah bahwa hal itu lebih baik bagi mereka untuk menaatinya. Sekarang
aku kabari kalian bahwa aku adalah Al-Masih (yakni, Al-Masih Ad-Dajjal).
Sungguh aku hampir diberi izin untuk keluar. Aku akan keluar, lalu berjalan di
bumi. Aku tak akan membiarkan suatu negeri, kecuali aku injak dalam waktu 40
malam, selain Makkah dan Thoibah (nama lain bagi kota Madinah, --pent.). Kedua kota ini diharamkan
bagiku.
Setiap
kali aku hendak memasuki salah satunya diantaranya, maka aku dihadang oleh
seorang malaikat, di tangannya terdapat pedang terhunus yang akan menghalangiku
darinya. Sesungguhnya pada setiap jalan-jalan masuk padanya ada
malaikat-malaikat yang menjaganya"
Dia
(Fathimah bintu Qois) berkata, "Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda seraya menusuk-nusukkan tongkatnya pada mimbar, "Inilah Thoibah,
Inilah Thoibah, Inilah Thoibah, yakni kota
Madinah. Ingatlah, apakah aku telah menceritakan hal itu kepada kalian?" Orang-orang
pun berkata, "Ya".
[HR.
Muslim dalam Kitab Asyroot As-Saa'ah, bab : Qishshoh
Al-Jassasah (no. 2942), Abu Dawud dalam Kitab Al-Malaahim
(4326), At-Tirmidziy dalam Kitab Al-Fitan (2253) dan Ibnu Majah Kitab
Al-Fitan (4074)]
Ibrah dan Renungan
Di
dalam hadits mulia ini terdapat banyak ibrah dan renungan bagi kaum beriman:
1.
"Di
dalam hadits ini terdapat dalil tentang bolehnya seorang penasihat (ustadz)
memberikan nasihatnya kepada manusia dalam keadaan ia duduk di atas mimbar. Adapun
khutbah pada hari jumat, maka seorang khothib harus berkhutbah dalam posisi
berdiri". [Lihat Awnul Ma'bud (11/316) dan Tuhfah
al-Ahwadziy (6/436)]
2.
Dianjurkannya
mengumpulkan manusia untuk memberikan nasihat dan khutbah bagi
kemaslahatan mereka, walaupun bukan di hari Jum'at.
3.
Disunnahkan
bagi seorang da'i untuk menyampaikan peringatan tentang adanya bahaya,
seperti bahaya munculnya Dajjal di akhir zaman.
4.
"Perkara
yang sudah dimaklumi bahwa setan-setan dapat menjelma dalam bentuk manusia
sebagaimana halnya mereka datang dalam bentuk ular. Demikian pula para malaikat,
terjadi pada mereka penjelmaan dalam bentuk manusia. Jadi, malaikat datang
dalam rupa manusia". [Simak kaset Syarah Sunan Abi Dawud,
(saat men-syarah hadits Jassasah) oleh Syaikh Abdul Muhsin
Al-Abbad]
5.
Diantara
tanda-tanda dekatnya waktu keluarnya Dajjal, berikut dekatnya kiamat: buah
pepohonan korma negeri Baisan akan habis dan tak lagi berbuah, danau Thobariyyah
akan meresap habis, dan mata air Zughor akan menjadi kering kerontang,
serta munculnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagai Rasul dari
kalangan kaum ummi (buta huruf), yakni Quraisy untuk menyampaikan agama
kepada manusia seluruhnya.
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy -rahimahullah- berkata, "Diantara perkara yang
menunjukkan bahwa terutusnya Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-
termasuk tanda kiamat bahwa beliau kabarkan tentang Dajjal dalam hadits
Jassasah". [Lihat Al-Hikam Al-Jadiroh bil Idza'ah (hal.
4)]
6.
Hadits
ini mengabarkan bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- akan mendapatkan
perlawanan dari kaumnya dan akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan
dari Allah dengan adanya bantuan kaum Anshor.
7.
Di
akhir zaman Dajjal akan muncul dengan keluarbiasaan yang Allah berikan padanya
sebagai fitnah (ujian) keimanan bagi manusia. Diantara keluarbiasaannya,
ia mampu mengelilingi semua negeri, kecuali Makkah dan Madinah dalam waktu 40
hari. Tujuannya untuk memurtadkan manusia!! Maka berlindunglah kepada Allah
dari fitnah Dajjal. Allahumma na'udzu bika min fitnatid dajjal.
8.
Al-Imam
Abu Zakariyya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata, “Di dalam hadits ini
terdapat keutamaan kota Madinah, keutamaan
mendiaminya serta terjaganya kota
Madinah dari thoo’uun (pes) dan Dajjal”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (9/155)]

ما شاء الله
BalasHapus