Rabu, 28 Desember 2016

Poligami, Sejak Dulu Ada



Poligami, Sejak Dulu Ada

oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-

Sebagian penentang poligami (تعددُ الزوجاتِ) dari kalangan kaum kafir dan pengekornya (kaum munafiq dan jahil), menyangka bahwa poligami adalah syariat zholim yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Mereka menggambarkan bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah lelaki yang haus perempuan; tak ada dalam pikirannya, kecuali perempuan!!

Subhanallah, sungguh ini adalah tuduhan busuk pada diri Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan syariat agama beliau, sebab poligami adalah syariat dalam agama yang beliau bawa.

Mereka tak tahu bahwa poligami sejak dahulu kala telah ada dalam syariat Islam yang dibawa oleh sebagian nabi dan rasul.

Poligami bukanlah syariat yang mendatangkan keburukan dan kerusakan di tengah masyarakat, bahkan ia adalah solusi jitu dalam membenahi buruk dan rusaknya akhlak dan pergaulan manusia.

Poligami merupakan syariat yang mengandung unsur tolong-menolong (التَّعَاوُنُ) di atas kebajikan dan ketaqwaan. Ia lahir dari rasa prikemanusiaan dan kepedualian yang tinggi kepada kaum yang lemah.

Para penentang ini tak tahu sejarah perjalanan kehidupan manusia. Sejarah telah mencatat bahwa seorang Nabi dan Rasul Allah yang mulia bernama Sulaiman bin Dawudalaihimas salam- telah melakukan poligami.

Allah bolehkan beliau untuk berpoligami dan menikahi puluhan orang wanita.  Poligami ini bukanlah celaan dan aib bagi Nabi Sulaiman bin Dawud –alaihimash sholatu was salam-, bahkan poligami merupakan lambang kemuliaan, keperkasaan, kedermawan, kepedulian, dan kasih sayang beliau kepada umat manusia, secara khusus wanita sebagai makhluk lemah yang selalu butuh kepada penopang, payung dan pelindung baginya dari hal yang membahayakan diri dan kehormatannya.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
قَالَ سُلَيْمَانُ لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى تِسْعِينَ امْرَأَةً كُلٌّ تَلِدُ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ قَالَ سُفْيَانُ يَعْنِي الْمَلَكَ قُلْ إِنْ شَاءَ اللهُ فَنَسِيَ فَطَافَ بِهِنَّ فَلَمْ تَأْتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ بِوَلَدٍ إِلَّا وَاحِدَةٌ بِشِقِّ غُلاَمٍ
"Nabi Sulaiman berkata, "Sungguh aku akan mengelilingi (menggauli) 90 orang istriku di malam ini. Setiap istri akan melahirkan seorang anak lelaki yang akan berperang di jalan Allah. Lalu temannya (yakni, malaikat) berkata kepadanya, "Katakanlah, "Insya Allah" (Jika Allah menghendakinya)". Tapi ia lupa. Kemudian beliau pun mengelilingi mereka, namun tak ada diantara para istri itu yang mendatangkan (melahirkan), kecuali seorang istri saja yang melahirkan setengah manusia". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Kaffaroot Al-Aiman (no. 6720) dan Muslim dalam Kitab Al-Aiman (no. 1754)]

Demikian dalam syariat Nabi Sulaiman –alahis salam-, Allah bolehkan beliau untuk menikahi 90 orang wanita, berdasarkan ilmu, hikmah dan keadilan Allah.

Nabi Sulaiman adalah salah seorang nabi dari kalangan Bani Isra'il yang dimuliakan oleh Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani. Bahkan sebelum Nabi Sulaiman, nenek moyang Bani Isra'il (Yahudi dan Nashrani), yakni Nabi Ya'qub juga telah berpoligami. [Lihat Zaadul Masir (3/402)]

Namun sebuah keanehan yang amat besar, munculnya pengingkaran terhadap poligami justru muncul dari orang-orang yang menyangka dirinya mencintai dan memuliakan Nabi Ya'qub dan Sulaiman –alaihimas salam-.

Pengingkaran poligami berhembus dari kalangan Yahudi dan Nashrani. Akibatnya, mereka pun melecehkan Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- dengan mengangkat masalah poligami, lalu digambarkan oleh mereka bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah lelaki haus perempuan!!

Dengan pelecehan seperti ini, mereka tidak menyadari bahwa mereka otomatis telah melecehkan Nabi Sulaiman dan Nabi Ya'qub–alaihimas salam-.

Para penista dan peleceh ini, tidak mengenal sejarah bahwa ternyata poligami ada sejak Nabi Ibrahim, Ya'qub, dan Sulaimanalaihimus salam-.

Mereka jahil atau pura-pura jahil tentang sejarah. Begitulah hati dan mata mereka dibutakan dari hakikat sejarah, disebabkan dosa-dosa dan kekafiran mereka!!!

Dibolehkannya Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- dan Nabi Sulaiman –alaihis salam- untuk berpoligami dengan jumlah banyak, bukanlah aib dan keburukan bagi mereka.

Keduanya melakukan hal seperti itu, sebab hal itu dibolehkan dalam syariat mereka, berdasarkan wahyu yang turun kepada mereka dari Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Tidaklah para nabi dan rasul itu berpoligami, kecuali mereka diperintahkan dan dibolehkan untuk melakukannya.

Sudah menjadi qaedah (aturan umum) bahwa apapun yang Allah perintahkan, maka pasti di dalamnya terdapat mashlahat dan kebaikan bagi para hamba.

Sebaliknya, apapun yang dilarang oleh Allah -Azza wa Jalla-, maka pasti di dalamnya terdapat madhorot dan kerusakan bagi para hamba.

Seorang Ahli Ushul dari Jazirah Arab, Al-Allamah Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
"Allah tidaklah memerintahkan sesuatu, kecuali di dalamnya terdapat banyak mashlahat yang tak mampu digambarkan. Allah tidaklah melarang sesuatu, kecuali di dalamnya pasti terdapat banyak mafsadah (kerusakan) yang tak mampu dilukiskan". [Lihat Risalah fi Al-Qowa'id Al-Fiqhiyyah (hal. 15), karya As-Sa'diy, cet. Maktabah Al-Wa'yil Islamiy, 1415 H]

Para nabi dan rasul telah diciptakan dan dibentuk oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam bentuk seorang lelaki perkasa dan sempurna jasad dan rohnya, jiwa dan raganya. Mereka diberi kekuatan fisik melebihi manusia pada umumnya.

Ketika Musa sampai di Madyan, beliau melihat dua orang perempuan yang mengembala kambing. Keduanya berdiri di sumber mata air yang tertutup oleh batu besar yang tak mampu diangkat, kecuali oleh 10 orang lelaki.

Dengan perasaan kasihan, ia bangkit mengangkat dan menyingkirkan batu itu dari sumber mata air.

Karena melihat kekuatan Nabi Musa yang amat hebat itu, maka wanita itu mengusulkan agar Musa dijadikan orang sewaan yang bekerja sebagai pengembala mereka.

Allah berfirman dalam mengisahkan ucapan wanita itu,
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ  [القصص : 26]
"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. Al-Qoshosh : 26)

Ayat ini menjelaskan keistimewaan yang dimiliki oleh Nabi Musa -Shallallahu alaihi wa sallam- berupa sifat kuat dan amanah beliau.

Al-Hafizh Abul Fadhl Ahmad bin Ali Al-Asqolaniy yang dikenal dengan "Ibnu Hajar" berkata saat mengomentari hadits tentang Nabi Sulaiman di atas,
"وفيه ما خص به الأنبياء من القوة على الجماع الدال ذلك على صحة البنية وقوة الفحولية وكمال الرجولية مع ما هم فيه من الاشتغال بالعبادة والعلوم. وقد وقع للنبي صلى الله عليه وسلم من ذلك أبلغ المعجزة لأنه مع اشتغاله بعبادة ربه وعلومه ومعالجة الخلق كان متقللا من المآكل والمشارب المقتضية لضعف البدن على كثرة الجماع، ومع ذلك فكان يطوف على نسائه في ليلة بغسل واحد وهن إحدى عشرة امرأة، وقد تقدم في كتاب الغسل، ويقال إن كل من كان أتقى لله فشهوته أشد لأن الذي لا يتقي يتفرج بالنظر ونحوه." اهـ من فتح الباري- تعليق ابن باز - (6 / 462)
"Di dalamnya terdapat keterangan tentang sesuatu yang diberikan secara khusus kepada para nabi berupa kekuatan untuk berjimak, yang menunjukkan tentang sehatnya raga mereka, kuatnya kejantanan mereka, dan sempurnanya keperkasaan mereka.
Padahal mereka sibuk dengan ibadah dan ilmu. Sungguh hal itu terjadi pada diri Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang merupakan mukjizat yang amat hebat.
Karena, walaupun beliau sibuk dengan ibadah kepada Robb-nya, sibuk dengan ilmu  dan menghadapi masyarakat, tapi beliau ternyata sedikit makan dan minumnya yang tentunya akan menyebabkan lemahnya badan untuk berjimak.
Walaupun demikian halnya, beliau mengelilingi (menggauli) semua istrinya dalam semalam dengan sekali mandi. Sedang mereka jumlahnya 11 orang istri.
Hal itu sudah berlalu dalam Kitab Al-Ghusl.
Sebagian orang bilang, "Sesungguhnya siapa saja yang lebih bertaqwa kepada Allah, maka syahwatnya lebih kuat. Karena, orang yang tidak bertaqwa, akan bebas memandang (yakni, memandangi perempuan dan sesuatu yang haram) dan sejenisnya". [Lihat Fathul Bari (6/462), cet. Dar Al-Fikr]

Banyaknya istri bagi Nabi Sulaiman, bukanlah perkara tercela, bahkan sebuah keutamaan baginya. Sebab, dengan adanya istri yang banyak, maka akan menjadi jalan bagi lahirnya anak keturunan yang akan menjayakan dan menyokong Islam.

Perhatikan ucapan Sulaiman dalam hadits di atas,

"Setiap istri akan melahirkan seorang anak lelaki yang akan berperang di jalan Allah."

Ini menunjukkan kelurusan niat beliau. Sebab, beliau berpoligami demi memperbanyak anak keturunan dan dengan anak keturunan itulah diharapkan Islam menjadi jaya.

Dari sini ada sebuah faedah bagi para pencinta dan peyokong poligami bahwa hendaknya seorang yang berpoligami meluruskan niatnya dalam berpoligami. Seorang berpoligami harus meniatkan agar keturunannya menjadi pejuang Islam, bukan sekedar memperbanyak anak seperti halnya binatang, tanpa tujuan mulia. Bahkan ia memiliki tujuan indah untuk mengangkat dan menjayakan agama Allah -Azza wa Jalla-.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi'iy -rahimahullah- berkata,
"وأن كثيرا_من المباح والملاذ يصير مستحبا بالنية والقصد." اهـ من فتح الباري- تعليق ابن باز - (6 / 461_462)
"Sesungguhnya kebanyakan perkara mubah dan menyenangkan berubah menjadi mustahab (hukumnya sunnah) dengan sebab niat dan maksud (yang baik)". [Lihat Syarah Shohih Al-Bukhoriy (6/462)]

Para pembaca yang budiman, jadi sejarah telah membuktikan bahwa poligami telah ada dalam syariat Nabi Sulaiman. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa poligami telah ada di dalam syariat Ibrahim, bapak para nabi dan rasul.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
هَاجَرَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام بِسَارَةَ فَدَخَلَ بِهَا قَرْيَةً فِيهَا مَلِكٌ مِنْ الْمُلُوكِ أَوْ جَبَّارٌ مِنْ الْجَبَابِرَةِ فَقِيلَ دَخَلَ إِبْرَاهِيمُ بِامْرَأَةٍ هِيَ مِنْ أَحْسَنِ النِّسَاءِ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ مَنْ هَذِهِ الَّتِي مَعَكَ قَالَ أُخْتِي ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهَا فَقَالَ لَا تُكَذِّبِي حَدِيثِي فَإِنِّي أَخْبَرْتُهُمْ أَنَّكِ أُخْتِي وَاللَّهِ إِنْ عَلَى الْأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرُكِ فَأَرْسَلَ بِهَا إِلَيْهِ فَقَامَ إِلَيْهَا فَقَامَتْ تَوَضَّأُ وَتُصَلِّي فَقَالَتْ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ آمَنْتُ بِكَ وَبِرَسُولِكَ وَأَحْصَنْتُ فَرْجِي إِلَّا عَلَى زَوْجِي فَلَا تُسَلِّطْ عَلَيَّ الْكَافِرَ فَغُطَّ حَتَّى رَكَضَ بِرِجْلِهِ) في رواية: فَأَعْطَاهَا هَاجَرَ
"Ibrahim –alaihis salam- telah berhijrah bersama Sarah. Beliau masuk bersamanya ke suatu negeri yang di dalamnya terdapat seorang raja diantara para raja atau seorang yang lalim. Kemudian dikatakan (diserbarkan berita) bahwa Ibrahim telah memasuki negeri bersama seorang wanita yang paling cantik. Sang raja mengirim pesan, "Wahai Ibrahim, siapakah wanita yang bersamamu?" Ibrahim menjawab, "Saudariku". Kemudian Ibrahim pun kembali ke Sarah seraya berkata, "Janganlah engkau mendustakan ucapanku, karena aku telah mengabari mereka bahwa engkau adalah saudariku. Demi Allah, tak ada di permukaan bumi ini seorang mukmin selainku dan selainmu". Lalu Ibrahim mengirim Sarah kepada sang raja. Si raja pun bangkit menuju kepadanya, lalu Sarah bangkit berwudhu' dan sholat. Dia berdoa, "Ya Allah, jika memang aku telah beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, serta menjaga kemaluanku –kecuali bagi suamiku-, maka janganlah Engkau menguasakan orang kafir ini atas diriku. Akhirnya, sang raja terbanting sampai ia menggerak-gerakkan kakinya". Dalam riwayat lain, "Lalu ia (Saroh) memberikan Hajar kepada Ibrahim". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Buyu' (no. 2217)]
Hadits

Al-Bukhoriy -rahimahullah- berkata membuatkan judul bab bagi hadits ini,
"Bab: Mengambil Istri Simpanan dan Orang yang Membebaskan Budak Wanitanya, lalu Mengawininya".

Jadi, Al-Bukhoriy berpendapat bahwa Hajar adalah istri resmi yang ia merdekakan, lalu dinikahi oleh Nabi Ibrahim –alaihish sholatu was salam-.

Para pembaca yang budiman, setelah anda mengetahui tentang adanya syariat POLIGAMI dalam syariat para nabi dan rasul tersebut, maka tampaklah kekeliruan para penista poligami yang menyangka bahwa POLIGAMI hanya ada dalam syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Poligami adalah syariat suci yang membawa kemuliaan, keutamaaan dan kesucian bagi manusia (khususnya, bagi mereka yang memiliki kemampuan lahir & batin dalam hal itu).

Poligami merupakan kemuliaan dan keutamaan bagi seorang hamba beriman, sebab dengan poligami, seorang hamba akan membantu seorang makhluk lemah (wanita) beserta anak-anaknya, melindungi, menafkahi dan mendidik mereka.

Poligami adalah kesucian bagi seorang hamba. Karena, dengannya, seorang hamba akan semakin mampu mengekang hawa nafsu, kemaluan dan pandangannya dari sesuatu yang haram. Kesucian tersebut akan meliputi sang suami dan istrinya.

Inilah hikmahnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan para pemuda untuk segera menikah. Karena, nikah itu adalah penjamin bagi kesucian pandangan dan kemaluan.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
"Wahai para pemuda, siapa saja (diantara kalian) yang memiliki kemampuan, maka hendaknya ia menikah. Karena, ia (nikah) itu lebih menundukkan pandangan, dan dan lebih menjaga kemaluan. Siapa saja yang belum memiliki kemampuan, maka hendaknya ia melazimi puasa. Karena, ia (puasa) itu adalah pengekang baginya." [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 5066), dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 1400)]


Setiap kali seorang hamba menikah (dan paling banyaknya empat kali), maka semakin terjaga pula kemaluan dan pandangannya dari hal-hal yang haram baginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar