Pacaran, Racun Berbalut Madu
Pacaran, Racun Berbalut Madu
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah,
Lc. -hafizhahullah-
Panjangnya
zaman yang menyelai antara masa kenabian dengan masa sekarang, membuat
kebanyakan orang diantara mereka yang melupakan sebagian hukum-hukum syariat
sehingga sesuatu yang haram kini berubah menjadi "halal" dalam
penilaian mereka.
Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati bila kebanyakan diantara
kita sudah melupakan batasan dan aturan agamanya.
Semua
itu dilatari oleh malasnya kaum muslimin mempelajari Kitabullah dan
hadits-hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- serta petunjuk dan
jalan hidup para sahabat dalam beragama. Manusia hari ini banyak dilalaikan
dari hal itu oleh pengaruh-pengaruh serta jerat-jerat setan dan bala
tentaranya.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
وَلاَ
تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً [الإسراء/32]
"Dan janganlah kalian mendekati
zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan
suatu jalan yang buruk". (QS.
Al-Israa' : 32)
Ini
merupakan dalil gamblang yang mengharamkan pacaran. Sebab ia merupakan sarana
yang mendekatkan seseorang kepada dosa zina.
Alangkah
banyaknya orang-orang yang terjerumus dalam zina pada hari ini melalui pintu
dan jalan yang kita kenal dengan "pacaran"!!!
Kita
saksikan para pemuda kita yang bergampangan dalam berpacaran akhirnya kumpul
kebo, selingkuh, berzina, berhubungan intim sebelum nikah.
Bercinta
ala pacaran adalah cinta yang diharamkan dalam agama, kecuali antara suami
dengan istri yang telah sah dengan ikatan nikah.
Pacaran ialah sebuah langkah setan dalam menjerumuskan anak cucu
Adam dalam dosa zina.
Itulah
sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang keras salah satu
trik pacaran yang kita kenal dengan "berdua-duaan" alias "bersunyi-sunyian".
Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
وَلاَ
يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ ؛ فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
"Janganlah seorang lelaki
berduaan dengan seorang perempuan, karena pihak ketiganya adalah setan". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (177). Di-shohih-kan
oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shahihah (430)]
Keindahan dan keceriaan saat berduaan adalah ibarat racun berbalut
madu. Sebuah keindahan dan keceriaan yang
akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kehinaan dan kenistaan.
Sungguh
muraqabatullah (penjagaan diri karena merasa selalu diawasi oleh Allah)
telah hilang dari diri seseorang bila ia berduaan dengan pacarnya!!
Akibatnya
setan pun beraksi, lalu disambut oleh orang yang digodanya. Tak ada lagi
penghalang di saat berdua. Kini setan bebas memerintahkan keduanya untuk
berbuat mesum!!!
Ia pun
menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap sudut kamar, lalu mengunci semua pintu
dan jendela. Selanjutnya ia melakukan percakapan tentang perkara-perkara yang
malu untuk disebutkan di halaman ini.
Dia
mengira mengira bahwa Allah tidak mengetahui, dan melihatmu!!! Demi Allah,
tidaklah demikian!!!! Allah mendengar dan melihatnya!!!!
Lebih
celaka lagi, media ikut "menghalalkan" pacaran dan zina dengan
menampilkan berbagai informasi, kisah, lagu, berita dan lainnya yang
menggambarkan kehidupan romantis dan lika-liku para pelaku pacaran dari
kalangan para selebriti, baik muslim, maupun kafir.
Semua
ini memperkuat usaha mereka dalam menghalalkan sesuatu asalnya adalah haram!!
Semua dibungkus dengan rapi dan cantik. Pacaran dikesankan adalah sebuah
kemajuan, keindahan, seni, peradaban manusia moderen, dan sederet hiasan lainnya!!!
Sementara
itu hidup suci, tanpa berpacaran digambarkan dengan konotasi dan gambaran
buruk, sehingga para pemuda pun merasa malu dan risih bila hidup bersendirian
dan suci dari dosa pacaran.
Akibat
dari semua itu muncul istilah "jomblo" yang mengandung konotasi buruk bahwa orang yang sendiri
tanpa pacar adalah seorang yang lugu, bodoh, kurang kreatif, terbelakang,
kurang jantan, tidak hebat, pasif, dan makna-makna buruk lainnya.
Subhanallah, sungguh ini adalah makar setan dalam menjerumuskan
manusia dalam perbuatan keji (yakni, zina)!!!
Hendaknya
seorang mukmin menjauhi istilah jomblo ini, karena akan membuat saudara kita terdorong kepada
pacaran yang merupakan pintu terbesar yang menjerumuskan seseorang kepada ZINA.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ
الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ
بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ
مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ
وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [النور : 21]
"Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa
yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh
mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah
karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian sekalian, niscaya tidak
seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu)
selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah
Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. An-Nuur : 21)
Al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
((فالمعاصي
التي هي خطوات الشيطان، لا تخرج عن ذلك، فنهي الله عنها للعباد، نعمة منه عليهم أن
يشكروه ويذكروه، لأن ذلك صيانة لهم عن التدنس بالرذائل والقبائح، فمن إحسانه
عليهم، أن نهاهم عنها، كما نهاهم عن أكل السموم القاتلة ونحوها)) تفسير
السعدي - (1 / 563)
"Maksiat-maksiat
merupakan langkah-langkah setan; tak akan keluar dari hal itu. Jadi, larangan
Allah bagi para hamba dari berbagai maksiat merupakan nikmat dari Allah yang
wajib bagi mereka syukuri dan sebut-sebut. Karena, larangan itu adalah
perlindungan bagi mereka dari terkotori oleh perbuatan-perbuatan rendah dan
buruk. Nah, diantara kebaikan Allah kepada mereka, Allah mencegah mereka dari
dosa-dosa sebagaimana halnya Dia mencegah mereka dari meminum racun-racun yang
mematikan dan sejenisnya".
[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 563)]
Sungguh pacaran dan zina adalah dua dosa yang mengotori
hati, bahkan mematikannya. Dosa ini telah menjamur di masyarakat Indonesia
dan lainnya; mereka mengira pacaran sebagai dosa ringan di mata Allah!!!
Dosa ini tak kalah dahsyatnya dibandingkan racun yang
memabukkan dan mematikan pelakunya.
Itulah hikmahnya Allah melarang kita berpacaran dalam ayat
32 dari Surah Al-Israa' tersebut di atas, demi melindungi kita dari lumuran
dosa dan maksiat yang akan mematikan jiwa, bahkan mungkin raga kita, wahai
saudaraku!!!!
Coba bayangkan!! Bagaimana kira-kira kehidupan kita di
zaman moderen ini bila Allah tak pernah menurunkan wahyu (Al-Qur'an) sejak 15
abad yang lalu. Pasti kehidupan kita persis dengan bahimah (hewan
ternak)!!!
Kalau Allah tidak melarang semua maksiat dalam Al-Qur'an,
maka pasti kita akan hidup bebas tanpa aturan yang benar dan kokoh. Tapi
syukurlah ada larangan pacaran Al-Qur'an!!
Namun realita yang membuat kita risau, kaum muslimin tidak mengindahkan larang ini. Malah mereka
mengikuti langkah-langkah setan dan bala tentaranya dari kalangan Ahlul Kitab
dan orang-orang kafir lainnya yang giat menyemarakkan pacaran, untuk
selanjutnya menjerumuskan dalam dosa zina.
Inilah keadaan umat Islam hari ini yang pernah diisyaratkan
oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ
مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ أَنَّ
أَحَدَهُمْ دَخَلَ حُجْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ ، وَحَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ جَامِعَ
امْرَأَتَهُ بِالطَّرِيقِ لَفَعَلْتُمُوهُ
"Sungguh
kalian akan mengikuti jejak-jejak umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal,
dan sedepa demi sedepa sampai pun andai seorang diantara mereka memasuki lubang
biawak, niscaya kalian pun akan memasukinya; sampai pun andai seorang diantara
mereka berjimak dengan ibunya di jalan, maka kalian pun ikut
melakukannya". [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok
(8404). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(1348)]
Ketahuilah, tidak mungkin akan
bersatu dua cinta dalam sebuah hati : cinta kepada ketaatan dan cinta kepada
maksiat.
Siapa yang menikmati cinta terlarang (pacaran), maka
Allah -Tabaroka wa Ta'ala- akan mencabut dari hatinya manisnya iman dan
ketaatan kepada Allah. Nas'alullahal afiyah was salamah.

Komentar
Posting Komentar