Susupan Misi Kristenisasi di Balik Tokoh Natal 'Sinterklas'
di Balik Tokoh Natal
'Sinterklas'
oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah,
lc. -hafizhahullah-
Di
bulan Desember, mata kita pasti melihat seorang Tokoh Natal yang dikenal dengan
Sinterklas,
seorang bapak tua yang berjenggot putih lagi lebat, serta berpakaian merah
dengan topi merah. Disinilah pentingnya kaum muslimin jeli dan waspada kepada
tokoh ini.
Siapakah
ia sehingga harus diwaspadai?!
Sinterklas (dalam bahasa lain juga dikenal dengan nama Santa
Claus, Santo Nikolas, Santo Nick, Bapak
Natal, Kris Kringle, Santy, atau Santa)
adalah tokoh dalam agama Kristen (Nasrani). Ia dikenal sebagai seorang yang
memberikan hadiah kepada anak-anak, khususnya pada Hari
Natal.
Santa
berasal dari tokoh dalam cerita rakyat di Eropa yang berasal dari tokoh Nikolas
dari Myra, adalah
orang Yunani kelahiran Asia Minor, pada abad ketiga masehi di kota Patara
(Lycia et Pamphylia), kota pelabuhan di Laut Mediterania, dan tinggal di Myra,
Lycia (sekarang bagian dari Demre, Turki).
Ia
adalah anak tunggal dari keluarga Kristen yang berkecukupan bernama Epiphanius
(Ἐπιφάνιος) dan
Johanna (Ἰωάννα) atau Theophanes (Θεοφάνης) dan Nonna (Νόννα) menurut versi lain. Nikolas adalah seorang uskup yang
memberikan hadiah kepada orang-orang miskin.
Tokoh
Santa kemudian menjadi bagian penting dari tradisi Natal di dunia
barat dan juga di Amerika Latin, Jepang dan bagian
lain di Asia
Timur. Hari Sinterklas dirayakan di seluruh dunia setiap
tanggal 6
Desember.
Santo Nikolas dari
Myra adalah inspirasi utama untuk figur orang Kristen
tentang Sinterklas. Dia adalah uskup Myra, di Lycia pada abad
ke 4.
Nikolas
terkenal untuk kebaikannya memberi hadiah kepada orang miskin. Dia sangat
religius dari awal umurnya dan mencurahkan hidupnya untuk Kristen.
Di
Eropa
(lebih tepatnya di Belanda, Belgia, Austria
dan Jerman),
dia digambarkan sebagai uskup yang berjanggut dengan jubah resmi.
Relik dari Santo
Nikolas dikirim ke Bari,
di Italia
selatan oleh beberapa pedagang Italia; sebuah basilika
dibangun tahun 1087 untuk memberi mereka rumah dan menjadi daerah ziarah.
Konon
kabarnya, Sinterklas selalu berusaha apabila ia memberi sesuatu, agar tidak
dilihat maupun diketahui oleh si penerima, sesuai dengan ajaran dari Alkitab.
Pada
suatu hari ia berusaha untuk membantu seseorang dari sebuah atap rumah dengan
menjatuhkan sekantung uang melalui cerobong asap. Kebetulan uang tersebut jatuh
ke dalam kaos kaki yang sedang digantungkan oleh anak si pemilik rumah untuk
dikeringkan di dekat api pemanas. Hal ini rupanya diketahui oleh si pemilik
rumah.
Sejak
saat itu, timbul kepercayaan bahwa Sinterklas selalu datang melalui cerobong
asap, di waktu tengah malam, dan memberi hadiah untuk anak-anak di kaos kaki
atau kantong di dekat ranjang atau di bawah pohon Natal.
Kaus kaki
Natal adalah kaus
kaki besar atau kantong kain
berbentuk kaus kaki yang digantung anak-anak pada malam
Natal. Anak-anak berharap Sinterklas
akan datang berkunjung dan mengisinya dengan mainan, permen, buah-buahan,
uang
logam, atau hadiah-hadiah kecil lainnya.
Kaus
kaki Natal telah menjadi salah satu hiasan Natal dan kerajinan tangan
yang populer. Kaus kaki Natal berukuran besar dan dibuat dalam warna-warni
mencolok, sehingga tidak bisa dipakai sebagai kaus kaki sehari-hari. Nama
anggota keluarga sering dicantumkan pada kaus kaki Natal agar Sinterklas tidak salah meletakkan hadiah.
Pada
zaman dulu, anak-anak menggantungkan stoking atau kaus kaki besar di atas perapian agar
mudah dilihat Sinterklas
yang turun dari cerobong asap. Di
rumah zaman sekarang, yang tidak memiliki perapian, kaus kaki Natal bisa
diletakkan di mana saja.
Dalam
beberapa cerita Natal, Sinterklas
meletakkan hadiah untuk anak-anak di dalam kaus kaki Natal.
Kisah
lain mengatakan Sinterklas meletakkan kado Natal yang dibungkus di bawah pohon
Natal.
Menurut
tradisi kebudayaan Barat,
anak-anak yang tidak berkelakuan manis hanya akan menerima sebuah batu
bara.
Kisah-kisah
tersebut menjadi asal usul tradisi menggantung kaus kaki Natal yang dimulai
anak-anak di Eropa. Kaus kaki yang digantung, mulanya kaus kaki biasa, namun
lambat laun diganti dengan kaus kaki Natal yang khusus dibuat untuk menerima
hadiah
Cerita
lain dari Sinterklas alias Santa Claus, ia digambarkan memiliki
sekawanan rusa kutub yang dipakai oleh
Sinterklas
untuk menarik kereta
salju berisi hadiah-hadiah Natal untuk
anak-anak.
Tim
rusa kutub Sinterklas terdiri dari Dasher dan Dancer, Prancer
dan Vixen, Comet dan Cupid, serta Donder dan Blitzen.[1]
Nama-nama
kedelapan ekor rusa tersebut sering disebut orang setelah ditulis dalam puisi A
Visit from St. Nicholas
terbitan tahun 1823.
Dalam
puisi A Visit from St. Nicholas, Sinterklas menaiki "kereta
salju berukuran miniatur, dan delapan rusa kutub kecil" serta rusa
kutub yang "lebih cepat daripada elang".
Puisi
tersebut tidak menjelaskan tugas masing-masing rusa, namun menyebutkan bahwa
mereka bisa terbang.
Demikian
yang dijelaskan oleh sebagian sumber tentang perihal kehidupan dan asal-usul
kakek tua yang berjanggut ini.
Kisah
hidupnya memiliki banyak versi sebagaimana halnya dengan nama yang disematkan
kepadanya.
Intinya,
ia adalah seorang tokoh Kristiani yang disucikan oleh kebanyakan Umat
Kristiani.
Terlepas
dari benar tidaknya berita kehidupan Sinterklas alias Santo Nikolas, ia sudah menjadi simbol dan syiar
bagi umat Kristiani (Kristen alias Nasrani), sampai
Sinterklas dianggap sebagai "Bapak
Natal".
Tak
heran bila Hari Natal menjelang, maka gambar dan miniatur serta aksesori yang
berhubungan dengan Sinterklas mulai muncul dan terpajang di toko-toko,
jalan-jalan, dan tempat-tempat umum.
Semua
ini tentunya propaganda yang berisi pesan-pesan dan misi
kristenisasi yang sering tak disadari oleh kaum muslimin.
Ini
adalah secuil usaha yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen dalam mendekatkan
agama Kristen kepada masyarakat Islam Indonesia yang mayoritasnya adalah kaum
muslimin.
Langkah
awal ini mereka lakukan demi membiasakan
masyarakat dengan simbol-simbol dan syiar Kristiani agar terbiasa akrab
dengannya. Mereka lebih perhalus lagi melalui
iklan-iklan berbau bisnis, namun hakikatnya adalah kristenisasi terselubung.
Lantaran
itu, kaum muslimin harus waspada dan tegas dalam menyikapi mereka. Dalam bekerja di bawah
pimpinan mereka, kaum muslimin harus tegas dan punya prinsip!!
Jika
bekerja dalam perkara dunia yang dihalalkan, maka kita lakukan. Adapun jika
bekerja pada mereka dengan mengorbankan agama dan merendahkannya, maka kita
harus tegas!!!
Bila
mereka mengajak kita bekerja sambil menyebarkan agamanya (misalnya, dengan memakai topi sinterklas), maka harus kita tolak demi keyakinan dan agama kita,
Islam.
Nah,
salah satu diantara makar mereka, kaum Kristiani memaksa dan mengharuskan kaum
muslimin yang bekerja pada mereka agar menggunakan simbol dan syiar Kristiani,
seperti menggunakan Topi Sinterklas!!
Para
pekerja muslim harus menolak hal ini, jangan pakai topi itu!!! Kalian punya hak
asasi di sisi pemerintah untuk menolak hal itu, demi menjaga agama kalian yang
suci, Islam!!!!
Jadi,
kaum muslimin harus tegas, "Agamaku
untukku, agamamu untukmu",
artinya aku punya agama yang aku yakini dan amalkan, dan kalian pun punya agama
yang kalian yakini dan amalkan, jangan dicampur-baur dan dipaksakan kepada
pihak lain!!
Sekali
Islam, tetap Islam!!! Ini yang dilupakan oleh mayoritas
kaum muslimin pada hari ini. Mereka tak lagi bangga dengan agamanya dan
sebaliknya tidak lagi benci dengan kekafiran, hanya karena faktor dan alasan
dunia dan pekerjaan. Bumi Allah itu luas. Na'udzu billahi min dzalik.
Padahal
salah satu diantara makna Islam, seorang
berlepas diri dari kekafiran atau kesyirikan
dan pemeluknya!!!
Ini
yang harus kita pegang dan camkan dalam hati kita sebagai muslim sejati!!
Syaikh Sholih
bin Abdillah Al-Fauzan -hafizhahullah- berkata dalam
menjelaskan hakikat Islam,
والإسلام
هو الاستسلام لله بالتّوحيد، والانقياد له بالطاعة، والخلوص من الشرك وأهله، هذا هو
الإسلام، وهذا دين جميع الرسل- عليهم الصلاة والسلام
"Islam
adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid (mengesakan Allah), tunduk
kepada-Nya dengan taat (kepada-Nya) dan bersih (berlepas diri) dari kesyirikan
dan pelakunya. Inilah agama semua rasul –alaihimush sholatu was salam-". [Lihat I'anatul Mustafid (1/166) karya
Syaikh Al-Fauzan, cet. Mu'assasah Ar-Risalah, 1423 H]
Anda
lihat bahwa agama Islam yang pernah dibawa oleh para rasul mengandung tiga
pilar utama:
Pertama, mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya, tanpa
mengangkat tuhan lain yang diibadahi dari selain Allah -Azza wa Jalla-.
Kedua, senantiasa taat kepada Allah -Ta'ala- dengan mengikuti
segala tuntunan Allah, baik itu masuk akal atau tidak; sesuai perasaan atau
tidak!!
Ketiga, berlepas diri dari perkara yang mengantarkan kepada
kesyirikan. Kita membenci segala syiar dan ajakan kepada kesyirikan dan
kekafiran, termasuk diantaranya simbol Natal 'Sinterklas'
atau Natal itu sendiri.
Karena,
semua itu mengajak manusia kepada kesyirikan dan kekafiran kepada Allah dan
agama-Nya, yaitu Islam!!!
Sinterklas, seorang tokoh Natal yang harus
kita benci. Karena, ia merupakan lambang dan syiar yang mengajak kepada
kekafiran!!
Allah
-Ta'ala- berfirman dalam memerintahkan kita untuk membenci kekafiran dan
segala hal yang mengajak kepadanya,
وَلَكِنَّ
اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ
الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلًا
مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (8)
"Akan tetapi Allah menjadikan kamu
cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu, serta
menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka
itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan
nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana". (QS. Al-Hujuraat : 7-8)
Ini merupakan dalil yang menerangkan
wajibnya seorang muslim membenci
segala perkara yang mengajak kekafiran atau kemusyrikan, sekaligus perintah untuk mencintai Islam dan segala
kebaikan yang diperintahkannya.
Jika seseorang mencintai keimanan
kepada agama Islam, maka mereka itu akan diberi taufiq.
Sebaliknya, jika mereka justru lebih
memilih dan mencintai kekafiran, maka Allah akan sesatkan hatinya!!
Ahli Tafsir Jazirah Arab, Al-Imam Al-Allamah Ibnu Nashir As-Sa'diy
-rahimahullah- berkata saat
menafsirkan kalimat yang bergaris bawah dari ayat suci di atas,
أي: الذين صلحت علومهم وأعمالهم، واستقاموا
على الدين القويم، والصراط المستقيم.
وضدهم الغاوون، الذين حبب إليهم الكفر والفسوق
والعصيان، وكره إليهم الإيمان، والذنب ذنبهم، فإنهم لما فسقوا طبع الله على قلوبهم."
اهـ من تيسير الكريم الرحمن - (ص / 800)
"Maksudnya, orang-orang baik ilmu dan
amalnya serta istiqomah di atas agama dan jalan yang lurus. Sedang lawan
mereka, adalah orang-orang sesat yang diberikan kecintaan kepada
kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan serta diberikan kebencian kepada keimanan.
Yah, dosanya adalah dosa mereka. Sebab, tatkala mereka berbuat kefasikan
(keluar dari tuntunan Allah), maka Allah tutup hati mereka". [Lihat Taisir A-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalamil
Mannan (hal. 800)]

Komentar
Posting Komentar