Sabtu, 24 Desember 2016

Susupan Misi Kristenisasi di Balik Tokoh Natal 'Sinterklas'


Susupan Misi Kristenisasi
di Balik Tokoh Natal 'Sinterklas'

oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, lc. -hafizhahullah-

Di bulan Desember, mata kita pasti melihat seorang Tokoh Natal yang dikenal dengan Sinterklas, seorang bapak tua yang berjenggot putih lagi lebat, serta berpakaian merah dengan topi merah. Disinilah pentingnya kaum muslimin jeli dan waspada kepada tokoh ini.

Siapakah ia sehingga harus diwaspadai?!

þ Sejarah dan Hakikat Sinterklas

Sinterklas (dalam bahasa lain juga dikenal dengan nama Santa Claus, Santo Nikolas, Santo Nick, Bapak Natal, Kris Kringle, Santy, atau Santa) adalah tokoh dalam agama Kristen (Nasrani). Ia dikenal sebagai seorang yang memberikan hadiah kepada anak-anak, khususnya pada Hari Natal.

Santa berasal dari tokoh dalam cerita rakyat di Eropa yang berasal dari tokoh Nikolas dari Myra, adalah orang Yunani kelahiran Asia Minor, pada abad ketiga masehi di kota Patara (Lycia et Pamphylia), kota pelabuhan di Laut Mediterania, dan tinggal di Myra, Lycia (sekarang bagian dari Demre, Turki).

Ia adalah anak tunggal dari keluarga Kristen yang berkecukupan bernama Epiphanius (πιφάνιος) dan Johanna (ωάννα) atau Theophanes (Θεοφάνης) dan Nonna (Νόννα) menurut versi lain. Nikolas adalah seorang uskup yang memberikan hadiah kepada orang-orang miskin.

Tokoh Santa kemudian menjadi bagian penting dari tradisi Natal di dunia barat dan juga di Amerika Latin, Jepang dan bagian lain di Asia Timur. Hari Sinterklas dirayakan di seluruh dunia setiap tanggal 6 Desember.

Santo Nikolas dari Myra adalah inspirasi utama untuk figur orang Kristen tentang Sinterklas. Dia adalah uskup Myra, di Lycia pada abad ke 4.

Nikolas terkenal untuk kebaikannya memberi hadiah kepada orang miskin. Dia sangat religius dari awal umurnya dan mencurahkan hidupnya untuk Kristen.

Di Eropa (lebih tepatnya di Belanda, Belgia, Austria dan Jerman), dia digambarkan sebagai uskup yang berjanggut dengan jubah resmi.

Relik dari Santo Nikolas dikirim ke Bari, di Italia selatan oleh beberapa pedagang Italia; sebuah basilika dibangun tahun 1087 untuk memberi mereka rumah dan menjadi daerah ziarah.

Konon kabarnya, Sinterklas selalu berusaha apabila ia memberi sesuatu, agar tidak dilihat maupun diketahui oleh si penerima, sesuai dengan ajaran dari Alkitab.

Pada suatu hari ia berusaha untuk membantu seseorang dari sebuah atap rumah dengan menjatuhkan sekantung uang melalui cerobong asap. Kebetulan uang tersebut jatuh ke dalam kaos kaki yang sedang digantungkan oleh anak si pemilik rumah untuk dikeringkan di dekat api pemanas. Hal ini rupanya diketahui oleh si pemilik rumah.

Sejak saat itu, timbul kepercayaan bahwa Sinterklas selalu datang melalui cerobong asap, di waktu tengah malam, dan memberi hadiah untuk anak-anak di kaos kaki atau kantong di dekat ranjang atau di bawah pohon Natal.

Kaus kaki Natal adalah kaus kaki besar atau kantong kain berbentuk kaus kaki yang digantung anak-anak pada malam Natal. Anak-anak berharap Sinterklas akan datang berkunjung dan mengisinya dengan mainan, permen, buah-buahan, uang logam, atau hadiah-hadiah kecil lainnya.

Kaus kaki Natal telah menjadi salah satu hiasan Natal dan kerajinan tangan yang populer. Kaus kaki Natal berukuran besar dan dibuat dalam warna-warni mencolok, sehingga tidak bisa dipakai sebagai kaus kaki sehari-hari. Nama anggota keluarga sering dicantumkan pada kaus kaki Natal agar Sinterklas tidak salah meletakkan hadiah.

Pada zaman dulu, anak-anak menggantungkan stoking atau kaus kaki besar di atas perapian agar mudah dilihat Sinterklas yang turun dari cerobong asap. Di rumah zaman sekarang, yang tidak memiliki perapian, kaus kaki Natal bisa diletakkan di mana saja.

Dalam beberapa cerita Natal, Sinterklas meletakkan hadiah untuk anak-anak di dalam kaus kaki Natal.

Kisah lain mengatakan Sinterklas meletakkan kado Natal yang dibungkus di bawah pohon Natal.

Menurut tradisi kebudayaan Barat, anak-anak yang tidak berkelakuan manis hanya akan menerima sebuah batu bara.

Kisah-kisah tersebut menjadi asal usul tradisi menggantung kaus kaki Natal yang dimulai anak-anak di Eropa. Kaus kaki yang digantung, mulanya kaus kaki biasa, namun lambat laun diganti dengan kaus kaki Natal yang khusus dibuat untuk menerima hadiah

Cerita lain dari Sinterklas alias Santa Claus, ia digambarkan memiliki sekawanan rusa kutub yang dipakai  oleh Sinterklas untuk menarik kereta salju berisi hadiah-hadiah Natal untuk anak-anak.

Tim rusa kutub Sinterklas terdiri dari Dasher dan Dancer, Prancer dan Vixen, Comet dan Cupid, serta Donder dan Blitzen.[1]

Nama-nama kedelapan ekor rusa tersebut sering disebut orang setelah ditulis dalam puisi A Visit from St. Nicholas terbitan tahun 1823.

Dalam puisi A Visit from St. Nicholas, Sinterklas menaiki "kereta salju berukuran miniatur, dan delapan rusa kutub kecil" serta rusa kutub yang "lebih cepat daripada elang".

Puisi tersebut tidak menjelaskan tugas masing-masing rusa, namun menyebutkan bahwa mereka bisa terbang.

Demikian yang dijelaskan oleh sebagian sumber tentang perihal kehidupan dan asal-usul kakek tua yang berjanggut ini.

Kisah hidupnya memiliki banyak versi sebagaimana halnya dengan nama yang disematkan kepadanya.

Intinya, ia adalah seorang tokoh Kristiani yang disucikan oleh kebanyakan Umat Kristiani.

Terlepas dari benar tidaknya berita kehidupan Sinterklas alias Santo Nikolas, ia sudah menjadi simbol dan syiar bagi umat Kristiani (Kristen alias Nasrani), sampai Sinterklas dianggap sebagai "Bapak Natal".

Tak heran bila Hari Natal menjelang, maka gambar dan miniatur serta aksesori yang berhubungan dengan Sinterklas mulai muncul dan terpajang di toko-toko, jalan-jalan, dan tempat-tempat umum.

Semua ini tentunya propaganda yang berisi pesan-pesan dan misi kristenisasi yang sering tak disadari oleh kaum muslimin.

Ini adalah secuil usaha yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen dalam mendekatkan agama Kristen kepada masyarakat Islam Indonesia yang mayoritasnya adalah kaum muslimin.

Langkah awal ini mereka lakukan demi membiasakan masyarakat dengan simbol-simbol dan syiar Kristiani agar terbiasa akrab dengannya. Mereka lebih perhalus lagi melalui iklan-iklan berbau bisnis, namun hakikatnya adalah kristenisasi terselubung.

Lantaran itu, kaum muslimin harus waspada dan tegas dalam menyikapi mereka. Dalam bekerja di bawah pimpinan mereka, kaum muslimin harus tegas dan punya prinsip!!

Jika bekerja dalam perkara dunia yang dihalalkan, maka kita lakukan. Adapun jika bekerja pada mereka dengan mengorbankan agama dan merendahkannya, maka kita harus tegas!!!

Bila mereka mengajak kita bekerja sambil menyebarkan agamanya (misalnya, dengan memakai topi sinterklas), maka harus kita tolak demi keyakinan dan agama kita, Islam.

Nah, salah satu diantara makar mereka, kaum Kristiani memaksa dan mengharuskan kaum muslimin yang bekerja pada mereka agar menggunakan simbol dan syiar Kristiani, seperti menggunakan Topi Sinterklas!!

Para pekerja muslim harus menolak hal ini, jangan pakai topi itu!!! Kalian punya hak asasi di sisi pemerintah untuk menolak hal itu, demi menjaga agama kalian yang suci, Islam!!!!

Jadi, kaum muslimin harus tegas, "Agamaku untukku, agamamu untukmu", artinya aku punya agama yang aku yakini dan amalkan, dan kalian pun punya agama yang kalian yakini dan amalkan, jangan dicampur-baur dan dipaksakan kepada pihak lain!!

Sekali Islam, tetap Islam!!! Ini yang dilupakan oleh mayoritas kaum muslimin pada hari ini. Mereka tak lagi bangga dengan agamanya dan sebaliknya tidak lagi benci dengan kekafiran, hanya karena faktor dan alasan dunia dan pekerjaan. Bumi Allah itu luas. Na'udzu billahi min dzalik.

Padahal salah satu diantara makna Islam, seorang berlepas diri dari kekafiran atau kesyirikan  dan pemeluknya!!!

Ini yang harus kita pegang dan camkan dalam hati kita sebagai muslim sejati!!

Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fauzan -hafizhahullah- berkata dalam menjelaskan hakikat Islam,
والإسلام هو الاستسلام لله بالتّوحيد، والانقياد له بالطاعة، والخلوص من الشرك وأهله، هذا هو الإسلام، وهذا دين جميع الرسل- عليهم الصلاة والسلام
"Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid (mengesakan Allah), tunduk kepada-Nya dengan taat (kepada-Nya) dan bersih (berlepas diri) dari kesyirikan dan pelakunya. Inilah agama semua rasul –alaihimush sholatu was salam-". [Lihat I'anatul Mustafid (1/166) karya Syaikh Al-Fauzan, cet. Mu'assasah Ar-Risalah, 1423 H]

Anda lihat bahwa agama Islam yang pernah dibawa oleh para rasul mengandung tiga pilar utama:

Pertama, mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya, tanpa mengangkat tuhan lain yang diibadahi dari selain Allah -Azza wa Jalla-.

Kedua, senantiasa taat kepada Allah -Ta'ala- dengan mengikuti segala tuntunan Allah, baik itu masuk akal atau tidak; sesuai perasaan atau tidak!!

Ketiga, berlepas diri dari perkara yang mengantarkan kepada kesyirikan. Kita membenci segala syiar dan ajakan kepada kesyirikan dan kekafiran, termasuk diantaranya simbol Natal 'Sinterklas' atau Natal itu sendiri.

Karena, semua itu mengajak manusia kepada kesyirikan dan kekafiran kepada Allah dan agama-Nya, yaitu Islam!!!

Sinterklas, seorang tokoh Natal yang harus kita benci. Karena, ia merupakan lambang dan syiar yang mengajak kepada kekafiran!!

Allah -Ta'ala- berfirman dalam memerintahkan kita untuk membenci kekafiran dan segala hal yang mengajak kepadanya,
وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (8)
"Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana". (QS. Al-Hujuraat : 7-8)

Ini merupakan dalil yang menerangkan wajibnya seorang muslim membenci segala perkara yang mengajak kekafiran atau kemusyrikan, sekaligus perintah untuk mencintai Islam dan segala kebaikan yang diperintahkannya.

Jika seseorang mencintai keimanan kepada agama Islam, maka mereka itu akan diberi taufiq.

Sebaliknya, jika mereka justru lebih memilih dan mencintai kekafiran, maka Allah akan sesatkan hatinya!!

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Al-Imam Al-Allamah Ibnu Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan kalimat yang bergaris bawah dari ayat suci di atas,
أي: الذين صلحت علومهم وأعمالهم، واستقاموا على الدين القويم، والصراط المستقيم.
وضدهم الغاوون، الذين حبب إليهم الكفر والفسوق والعصيان، وكره إليهم الإيمان، والذنب ذنبهم، فإنهم لما فسقوا طبع الله على قلوبهم." اهـ من تيسير الكريم الرحمن - (ص / 800)
"Maksudnya, orang-orang baik ilmu dan amalnya serta istiqomah di atas agama dan jalan yang lurus. Sedang lawan mereka, adalah orang-orang sesat yang diberikan kecintaan kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan serta diberikan kebencian kepada keimanan. Yah, dosanya adalah dosa mereka. Sebab, tatkala mereka berbuat kefasikan (keluar dari tuntunan Allah), maka Allah tutup hati mereka". [Lihat Taisir A-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan (hal. 800)]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar