Kamis, 08 Desember 2016

Bid'ah-bid'ah Kelam yang Menyelimuti Syariat Adzan dan Iqomat



Bid'ah-bid'ah Kelam
yang Menyelimuti Syariat Adzan dan iqomat

oleh : 
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. 
-hafizhahullah-

Adzan dan iqomat adalah dua syariat suci yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabat dan umatnya.

Dahulu para sahabat dan as-salaf as-sholih dari kalangan para ulama tabi'in, dan ulama-ulama setelahnya yang berjalan di atas sunnah, semuanya mengamalkan syariat adzan dan iqomat ini sesuai petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Namun setelah berjalannya waktu dan jauhnya umat dari zaman kenabian, maka lambat laun mereka pun mulai melenceng dalam banyak hal dari urusan agama ini, sehingga banyak kita jumpai amalan-amalan yang keluar dari rel syariat Islam.

Diantara perkara-perkara yang melenceng tersebut, apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Islam berupa bid'ah-bid'ah seputar adzan dan iqomat. Berikut beberapa gambaran dan realita yang kita jumpai di masyarakat :

&           Doa Bid'ah Usai Iqomat
Usai iqomat, ada sebagian orang yang melazimi dzikir atau doa yang tak pernah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Doa-doa itu berbagai macam jenis dan warnanya.

Doa merupakan ibadah yang harus dilandasi dengan dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah tentang kaifiahnya. Jika tidak dilandasi oleh wahyu, maka itu adalah bid'ah yang wajib dijauhi. Pelakunya tercela dan amalan doanya tersebut akan tertolak dan tidak diberi pahala.

Diantara doa-doa yang bid'ah tersebut, doa yang berbunyi:
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ وُقُوْفَنَا بَيْنَ يَدَيْكَ
"Ya Allah, perbaikilah berdiri kami di hadapan-Mu".

Doa ini diucapkan oleh sebagian orang saat usai iqomat. Doa ini tak memiliki landasan dan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.

Lantaran, itu Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata saat menjawab hukum doa ini, "Ucapan (doa),
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ وُقُوْفَنَا بَيْنَ يَدَيْكَ
"Ya Allah, perbaikilah berdiri kami di hadapan-Mu".
Usai adzan adalah perkara yang tak ada dasarnya!!"
[Sumber Fatwa: Al-Bida' wa maa laa Ashla lahu (hal. 200-201)]

Sejenis doa bid'ah ini, doa yang masyhur dalam ajaran tarekat alias tashowwuf yang bunyinya,
إِلهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ
"Wahai Tuhan-ku, Engkau-lah tujuanku dan ridho-Mu adalah cita-citaku".

Doa ini amat masyhur di kalangan kaum sufi-tarekat. Bahkan mereka menganggapnya doa pamungkas dalam mencapai khusyu'. Sungguh ini adalah kesalahan besar!!! Sebab, bagaimana mungkin sesuatu itu baik, sementara doa ini tak disyariatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Demikianlah kaum sufi mengada-adakan ajaran yang tidak digariskan oleh Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Mereka menciptakan doa bid'ah tersebut berdasarkan perasaan dan hawa nafsu mereka belaka.

Doa "pamungkas" mereka ini adalah doa yang tak ada contoh dan dasarnyanya dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ
"Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tak ada padanya urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu tertolak". [HR. Muslim (no. 1718) (18)]

Beliau juga bersabda,
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
"Seburuk-buruk urusan (dalam agama) adalah yang diada-ada dan semua bid'ah (yakni, urusan agama yang tak ada contohnya dalam agama,- pent.) adalah kesesatan". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 867) dari hadits Jabir -radhiyallahu anhu-]

Doa ini mereka ucapkan usai iqomat sebagai pendahuluan bagi takbiratul ihram. Doa ini adalah salah satu diantara bid'ah kaum tashowwuf-tarekat.

&           Bid'ahnya Tukang Adzan Usai Adzan

Satu lagi diantara bid'ah yang tersebar di masyarakat kita, ucapan tambahan seorang tukang adzan usai ia ber-adzan, yang berbunyi,
الصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَيْكَ يَا أَوَّلَ خَلْقِ اللهِ وَخَاتَمَ رُسُلِهِ

Tambahan lafazh ini pernah ditanyakan kedudukannya dalam syariat kepada sejumlah ulama yang tergabung dalam Komisi Fatwa di Timur Tengah yang dikenal dengan Al-Lajnah Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Iftaa' yang saat itu diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah-.

Mereka memberikan jawaban bersama,
"Kami tak mengetahui dalil dari Al-Kitab dan Sunnah yang menunjukkan tentang disyariatkannya doa ini usai adzan. Sedangkan kebaikan itu seluruhnya dalam mengikuti petunjuk Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam- dan keburukan seluruhnya dalam menyelisihi petunjuk beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Sungguh telah tsabit (nyata) dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ
"Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tak ada padanya urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu tertolak". [HR. Muslim (no. 1718) (18)]

Akan tetapi disyariatkan untuk bersholawat kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bagi tukang adzan dan selainnya, lalu berdoa (dengan doa adzan),
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Doa ini berdasarkan hadits yang tsabit dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
« إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ »
"Jika kalian mendengar tukang adzan, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian ber-sholawat-lah kepadaku. Sebab, barangsiapa yang bersholawat kepadaku sekali saja, maka Allah akan ber-sholawat kepadanya sebanyak 10 kali. Lalu mintakanlah untukku "al-wasilah". Sesungguhnya ia adalah sebuah posisi dalam surga yang tak pantas, kecuali bagi seorang hamba diantara hamba-hamba Allah. Aku berharap agar akulah hamba itu. Barangsiapa yang memintakan bagiku "al-wasilah", maka pasti baginya syafaatku". [HR. Muslim (384)]

Doa yang mulia ini juga berdasarkan sabda beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-,
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa yang berkata (berdoa) saat ia mendengar adzan,
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
maka telah pasti baginya syafaatku pada hari kiamat". [HR. Al-Bukhoriy (614)]".

[Sumber Fatwa: Fataawa Al-Lajnah Ad-Da'imah (6/101-102/no. 1814)]

Inilah doa sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya. Nah, tentunya inilah doa yang paling baik, bukan doa-doa yang dikarang oleh sebagian orang.

&           Bid'ahnya Tukang Adzan sebelum Adzan

Disana ada sebuah bid'ah yang dilakukan oleh sebagian tukang adzan yang tidak memahami agama dengan baik, yakni sebagian diantara mereka membaca potongan ayat dari Surah Al-Israa' berikut ini sebelum adzan,
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا [الإسراء : 111]

Perbuatan ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Al-Utsaimin bahwa apakah ucapan seperti ini adalah bid'ah?

Kemudian beliau memberikan jawaban,
"Ya, termasuk bid'ah, ucapan tukang adzan sebelum adzan,
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا [الإسراء : 111]

[Sumber Fatwa: Al-Bida' wa maa laa Ashla lahu (hal. 202)]

Inilah beberapa bid'ah yang terjadi sebelum sholat. Hendaknya kita menjauhinya dan tidak melakukannya, walaupun manusia di sekitar kita melakukannya.

Sebab, sesuatu yang bid'ah merupakan perkara sia-sia dan pelakunya tak mendapatkan pahala, dan hanya merasakan kelelahan.

Semoga kita dijadikan sebagai hamba-hamba yang jauh dari bid'ah dan sebaliknya selalu berusaha menapaki sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar