Bid'ah-bid'ah Kelam yang Menyelimuti Syariat Adzan dan Iqomat
Bid'ah-bid'ah Kelam
yang
Menyelimuti Syariat Adzan dan iqomat
oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Adzan
dan iqomat adalah dua syariat suci yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- kepada para sahabat dan umatnya.
Dahulu
para sahabat dan as-salaf as-sholih dari kalangan para ulama tabi'in, dan
ulama-ulama setelahnya yang berjalan di atas sunnah, semuanya mengamalkan
syariat adzan dan iqomat ini sesuai petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Namun
setelah berjalannya waktu dan jauhnya umat dari zaman kenabian, maka lambat
laun mereka pun mulai melenceng dalam banyak hal dari urusan agama ini,
sehingga banyak kita jumpai amalan-amalan yang keluar dari rel syariat Islam.
Diantara
perkara-perkara yang melenceng tersebut, apa yang dilakukan oleh sebagian
masyarakat Islam berupa bid'ah-bid'ah seputar adzan dan iqomat. Berikut
beberapa gambaran dan realita yang kita jumpai di masyarakat :
&
Doa
Bid'ah Usai Iqomat
Usai
iqomat, ada sebagian orang yang melazimi dzikir atau doa yang tak pernah
diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya.
Doa-doa itu berbagai macam jenis dan warnanya.
Doa
merupakan ibadah yang harus dilandasi dengan dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah
tentang kaifiahnya. Jika tidak dilandasi oleh wahyu, maka itu adalah bid'ah
yang wajib dijauhi. Pelakunya tercela dan amalan doanya tersebut akan tertolak
dan tidak diberi pahala.
Diantara
doa-doa yang bid'ah tersebut, doa yang berbunyi:
اللَّهُمَّ
أَحْسِنْ وُقُوْفَنَا بَيْنَ يَدَيْكَ
"Ya Allah, perbaikilah berdiri
kami di hadapan-Mu".
Doa
ini diucapkan oleh sebagian orang saat usai iqomat. Doa ini tak memiliki
landasan dan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.
Lantaran,
itu Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin
-rahimahullah- berkata saat menjawab hukum doa ini, "Ucapan (doa),
اللَّهُمَّ
أَحْسِنْ وُقُوْفَنَا بَيْنَ يَدَيْكَ
"Ya Allah, perbaikilah berdiri
kami di hadapan-Mu".
Usai
adzan adalah perkara yang tak ada dasarnya!!"
[Sumber
Fatwa: Al-Bida' wa maa laa Ashla lahu
(hal. 200-201)]
Sejenis
doa bid'ah ini, doa yang masyhur dalam ajaran tarekat alias tashowwuf yang
bunyinya,
إِلهِيْ
أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ
"Wahai Tuhan-ku, Engkau-lah
tujuanku dan ridho-Mu adalah cita-citaku".
Doa
ini amat masyhur di kalangan kaum sufi-tarekat. Bahkan mereka
menganggapnya doa pamungkas dalam mencapai khusyu'. Sungguh ini adalah
kesalahan besar!!! Sebab, bagaimana mungkin sesuatu itu baik, sementara doa ini
tak disyariatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Demikianlah
kaum sufi mengada-adakan ajaran yang tidak digariskan oleh Allah dan Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam-.
Mereka
menciptakan doa bid'ah tersebut berdasarkan perasaan dan hawa nafsu mereka
belaka.
Doa "pamungkas"
mereka ini adalah doa yang tak ada contoh dan dasarnyanya dari Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam-.
Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ
"Barangsiapa yang melakukan
suatu amalan yang tak ada padanya urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu
tertolak". [HR. Muslim (no. 1718) (18)]
Beliau
juga bersabda,
وَشَرُّ
الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
"Seburuk-buruk urusan (dalam
agama) adalah yang diada-ada dan semua bid'ah (yakni, urusan agama yang tak ada
contohnya dalam agama,- pent.) adalah kesesatan". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no.
867) dari hadits Jabir -radhiyallahu anhu-]
Doa
ini mereka ucapkan usai iqomat sebagai pendahuluan bagi takbiratul ihram. Doa
ini adalah salah satu diantara bid'ah kaum tashowwuf-tarekat.
&
Bid'ahnya
Tukang Adzan Usai Adzan
Satu
lagi diantara bid'ah yang tersebar di masyarakat kita, ucapan tambahan
seorang tukang adzan usai ia ber-adzan, yang berbunyi,
الصَّلاةُ
وَالسَّلامُ عَلَيْكَ يَا أَوَّلَ خَلْقِ اللهِ وَخَاتَمَ رُسُلِهِ
Tambahan
lafazh ini pernah ditanyakan kedudukannya dalam syariat kepada sejumlah ulama
yang tergabung dalam Komisi Fatwa di Timur Tengah yang dikenal dengan Al-Lajnah
Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Iftaa' yang saat itu diketuai
oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah-.
Mereka
memberikan jawaban bersama,
"Kami
tak mengetahui dalil dari Al-Kitab dan Sunnah yang menunjukkan tentang
disyariatkannya doa ini usai adzan. Sedangkan kebaikan itu seluruhnya dalam
mengikuti petunjuk Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam- dan keburukan
seluruhnya dalam menyelisihi petunjuk beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Sungguh
telah tsabit (nyata) dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa
beliau bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ
عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ
"Barangsiapa yang melakukan
suatu amalan yang tak ada padanya urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu
tertolak". [HR. Muslim (no. 1718) (18)]
Akan
tetapi disyariatkan untuk bersholawat kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- bagi tukang adzan dan selainnya, lalu berdoa (dengan doa adzan),
اللَّهُمَّ
رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ
وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
Doa
ini berdasarkan hadits yang tsabit dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
bahwa beliau bersabda,
« إِذَا سَمِعْتُمُ
الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ، فَإِنَّهُ مَنْ
صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ
لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ
مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ
حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ »
"Jika kalian mendengar tukang
adzan, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian ber-sholawat-lah kepadaku.
Sebab, barangsiapa yang bersholawat kepadaku sekali saja, maka Allah akan
ber-sholawat kepadanya sebanyak 10 kali. Lalu mintakanlah untukku "al-wasilah".
Sesungguhnya ia adalah sebuah posisi dalam surga yang tak pantas, kecuali bagi
seorang hamba diantara hamba-hamba Allah. Aku berharap agar akulah hamba itu.
Barangsiapa yang memintakan bagiku "al-wasilah", maka pasti baginya
syafaatku". [HR. Muslim (384)]
Doa
yang mulia ini juga berdasarkan sabda beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-,
مَنْ
قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ
وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ
مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa yang berkata
(berdoa) saat ia mendengar adzan,
اللَّهُمَّ
رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ
وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
maka
telah pasti baginya syafaatku pada hari kiamat". [HR. Al-Bukhoriy (614)]".
[Sumber Fatwa: Fataawa Al-Lajnah Ad-Da'imah
(6/101-102/no. 1814)]
Inilah
doa sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
kepada para sahabatnya. Nah, tentunya inilah doa yang paling baik, bukan
doa-doa yang dikarang oleh sebagian orang.
&
Bid'ahnya
Tukang Adzan sebelum Adzan
Disana
ada sebuah bid'ah yang dilakukan oleh sebagian tukang adzan yang tidak memahami
agama dengan baik, yakni sebagian diantara mereka membaca potongan ayat dari Surah Al-Israa' berikut ini sebelum adzan,
وَقُلِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا [الإسراء : 111]
Perbuatan
ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Al-Utsaimin bahwa apakah ucapan
seperti ini adalah bid'ah?
Kemudian
beliau memberikan jawaban,
"Ya,
termasuk bid'ah, ucapan tukang adzan sebelum adzan,
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا [الإسراء
: 111]
[Sumber Fatwa:
Al-Bida' wa maa laa Ashla lahu (hal. 202)]
Inilah
beberapa bid'ah yang terjadi sebelum sholat. Hendaknya kita menjauhinya dan
tidak melakukannya, walaupun manusia di sekitar kita melakukannya.
Sebab,
sesuatu yang bid'ah merupakan perkara sia-sia dan pelakunya tak mendapatkan
pahala, dan hanya merasakan kelelahan.
Semoga
kita dijadikan sebagai hamba-hamba yang jauh dari bid'ah dan sebaliknya selalu
berusaha menapaki sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Komentar
Posting Komentar