Petuah Bermakna agar tidak Ikut-ikutan Bernatal
Petuah Bermakna agar tidak Ikut-ikutan Bernatal
oleh
: Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
Hari Natal tahun ini kita "sambut"
dengan kritikan dan petuah serta nasihat bagi kaum muslimin agar tidak
terpengaruh merayakannya bersama dengan kaum Nashara alias Kristen.
Sebab, ada fenomena bergampangan yang
muncul ke permukaan dengan adanya sebagian manusia lemah iman, hadir dalam Hari
Natal, bahkan
kadang ikut jadi panitia hari raya mereka.
Fenomena seperti ini timbul dengan berbagai
macam faktor dan sebab, mulai dari sebab kejahilan, duniawi, politik, bisnis,
dan sebagainya. Padahal kebiasaan seperti ini amatlah buruk di sisi Allah -Azza
wa Jalla-.
Merayakan hari Natal adalah kebiasaan kaum Nashrani alias
Kristen.
Mereka merayakannya pada hari yang mereka klaim sebagai hari kelahiran Isa bin
Maryam, yaitu tangal 25 Desember pada setiap tahunnya.
Walaupun penanggalan natal itu sendiri sebuah
polemik di kalangan para sejarawan. Bahkan banyak diantara mereka menyatakan
bahwa kelahiran Isa bukanlah tanggal 25 Desember.
Dalam menghadapi Natal , mereka banyak menyalakan lilin
dimana-dimana dan menghiasi gereja-gereja, rumah, jalanan, toko dan lainnya.
Mereka menggunakan berbagai macam warna lilin
dan perhiasan yang tak pernah dilakukan oleh para pendahulu mereka : Nabi Isa –alaihis
salam- dan pengikutnya yang setia.
Itu hanyalah buatan dan inovasi
mereka, bukan ajaran Nabi Isa!!!
Mereka merayakan Hari Natal ini secara bersama dan resmi serta
menganggapnya hari libur resmi di semua negara-negara yang beragama Kristen. Bahkan
lebih aneh lagi, di sebagian negeri-negeri Islam dianggap hari itu adalah
hari libur nasional!!
Perayaan hari lahir (diesnatalis) Al-Masih Isa
bin Maryam merupakan perkara yang diada-ada lagi bid'ah dalam agama mereka
sendiri. Sebab,
perayaan ini nanti muncul setelah para kaum Hawariyyin (pengikut dan penolong
setia Nabi Isa) meninggal dunia. Jadi, perayaan natal tak dikenal di zaman Nabi
Isa dan para Hawariyyin. [Lihat Al-Jawab Ash-Shohih (2/230) dan Al-Majmu'
(28/611) karya Ibnu Taimiyyah]
Namun aneh sungguh aneh, masih ada saja diantara
kaum muslimin yang ikut memperingati Hari Natal.
Padahal sudah menjadi
prinsip kokoh dalam Islam bahwa seorang muslim dilarang keras ikut bergembira
dengan hari raya kaum kafir!!!!
Karena, kegembiraan saat terjadinya kekafiran
merupakan perkara yang tidak di-ridhai oleh -Azza wa Jalla-. Nah,
satu diantara syiar kekafiran adalah merayakan hari Natal Isa –alaihis salam-. Di dalamnya
dihidupkan syiar kekafiran, pengkultusan Nabi Isa dan menghidupkan segala paham
kafir yang diyakini oleh kaum Nashrani alias Kristen. Walapun Nabi mereka
sebenarnya tidak pernah mencontohkan semua itu!!!
Allah -Ta'ala- berfirman,
إِنْ
تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ
وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ [الزمر/7]
"Jika
kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak
meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia
meridhai bagimu kesyukuranmu itu". (QS. Az-Zumar : 07)
Di dalam acara Natal, banyak dihiasi kemungkaran
dan hawa nafsu berupa campur baurnya kaum lelaki dan wanita –dan hal itu memang
biasa bagi mereka-, meminum khomer, makan babi atau anjing, joget (disko) dan
berbagai macam perkara yang mungkin malu kita sebutkan!!!
Di zaman ini ada sebuah virus yang menjangkiti
sebagian kaum muslimin yang lemah iman. Virus ini disebut dengan "taklid
buta".
Virus taklid ini menyeret mereka untuk mengikuti
langkah setan dan pengikutnya dari kalangan kaum kafir. Akhirnya, muslim yang
terjangkiti dengan virus berbahaya ini sehingga ikut-ikutan merayakan Hari
Natal dengan sangkaan batil bahwa itu –katanya- gaya hidup
moderen dan gaya
hidup maju.
Ikut Natalan dianggapnya kemajuan dan
perkembangan. Subhanallah, aneh betul!!! Anggaplah kemajuan dan perkembangan!!!!
Akan tetapi kemajuan dan perkembangan dalam kekafiran!!!!!
Disana ada virus lain yang tak kalah bahayanya
dari virus taklid, yaitu virus kedua yang kita kenal dengan "toleransi".
Virus Toleransi ini banyak menyeret bani Adam ke
dalam kubang kekafiran dengan beralasan, "Itukan toleransi".
Ketika ikut Natalan, maka ia berdalih dengan "toleransi".
Padahal seorang muslim tak boleh
bertoleransi dalam hal agama –termasuk diantaranya ikut bernatal-.
Allah -Tabaroka wa Ta'ala- menegaskan
dalam firman-Nya,
قُلْ
يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلاَ أَنْتُمْ
عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلاَ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلاَ
أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6) [الكافرون/1-6]
"Katakanlah:
"Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian
sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan
yang aku sembah. Dan aku tidak pernah
menjadi penyembah apa yang kalian sembah.
Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
(QS. Al-Kafirun : 1-6)
Ahli Tafsir Negeri Yaman, Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata,
وَسَبَبُ نُزُولِ
هَذِهِ السُّورَةِ أَنَّ الْكُفَّارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَعْبُدَ آلِهَتَهُمْ سَنَةً وَيَعْبُدُوا إِلَهَهُ
سَنَةً، فَأَمَرَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لَا أَعْبُدُ مَا
تَعْبُدُونَ أَيْ: لَا أَفْعَلُ مَا تَطْلُبُونَ مِنِّي مِنْ عِبَادَةِ مَا
تَعْبُدُونَ مِنَ الأصنام، اهـ من فتح القدير للشوكاني - (5 / 619)
"Sebab
turunnya ayat ini bahwa orang-orang kafir meminta kepada Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- agar beliau menyembah sesembahan mereka selama
setahun dan sebaliknya mereka akan menyembah sembahan beliau (yakni, Allah)
selama setahun. Lantaran itu, Allah memerintahkan beliau untuk menyatakan
kepada mereka, "Aku tak akan menyembah apa yang kalian sembah".
Maksudnya, aku tak akan melakukan sesuatu yang kalian tuntut dariku berupa
penyembahan kepada sesuatu yang kalian sembah berupa arca-arca". [Lihat Faidhul Qodir (5/619)]
Dari sini kita mengetahui kesalahan sikap para pejuang
toleransi yang amat keterlaluan dalam bertoleransi, sampai dalam urusan
prinsip agama pun mereka tetap menyuarakan toleransi!! Sungguh keji toleransi seperti ini!!!
Orang-orang dangkal agama seperti ini amat terpukau
dengan kaum kafir sehingga ia pun taklid buta kepada mereka dan menganggapnya
sebagai bentuk kemajuan dan modernisasi.
Mereka memandang bahwa keikutsertaan bersama orang-orang
Kristen dalam Natal
merupakan sikap maju dan moderen.
Lantaran itu, anda akan melihatnya
bergegas mendatangi acara Natal, seraya memberikan ucapan selamat kepada kaum
Nashrani-Kristen.
Ini semua timbul karena lemahnya benteng agama. Mereka
muslim dalam KTP, tapi perbuatan dan sikapnya bukan Islam!! Karena, di dalam
perbuatan mereka tersebut terdapat penyelisihan -secara khusus- terhadap
larangan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dari menyerupai orang-orang
kafir, dan menyalahi larangan beliau –secara umum- dari maksiat-maksiat yang
dilakukan pada acara Natal!! [Lihat Al-Bida' Al-Hawliyyah (hal.
384)]
Adanya Natal, seorang harus marah karena di dalamnya
Allah dipersekutukan dengan Isa bin Maryam –alaihis salam- dan agama Islam yang
dibawa oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- diingkari oleh mereka serta
berbagai maksiat yang mereka lakukan disana, berupa kekafiran, bid'ah, dosa
(besar, maupun kecil).
Dengarkanlah ayat di bawah ini!!
Ayat yang menggambarkan betapa besarnya kemarahan Allah terhadap orang-orang
Kristen yang menyatakan bahwa Allah
menjadikan Isa (Yesus) sebagai anak-Nya!!
Allah -Ta'ala- berfirman,
وَقَالُوا اتَّخَذَ
الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ
السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ
هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ
أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93) [مريم : 88 - 93]
"Dan
mereka berkata: "Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai)
anak". Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat
mungkar. Hampir-hampir langit pecah
karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka menda'wakan Allah yang Maha
Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak
bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi,
kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba". (QS. Maryam : 88-93)
Ulama Negeri Syam, Al-Imam Al-Hafizh
Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,
"لما
قرر تعالى في هذه السورة الشريفة عبودية عيسى، عليه السلام، وذكر خلقه من مريم بلا
أب، شرع في مقام الإنكار على من زعم أن له ولدا -تعالى وتقدّس وتنزه عن ذلك علوًّا
كبيرًا-" اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة - (5 / 265)
"Tatkala
Allah sudah menetapkan status Isa –alaihis salam- sebagai hamba, dan
menyebutkan penciptaan Isa dari Maryam tanpa bapak, maka Allah mulai
pengingkaran-Nya atas orang-orang yang mengklaim bahwa Allah memiliki anak.
Maha Tinggi Allah lagi Maha Suci dari semua itu dengan ketinggian yang besar". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (5/265), cet.
Dar Thoybah, 1420 H]
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
الْحَمْدُ لِلَّهِ
الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (1)
قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ
الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2) مَاكِثِينَ
فِيهِ أَبَدًا (3) وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ
عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ
يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا (5) [الكهف :1-5]
"Segala
puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan
dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya sebagai bimbingan yang lurus,
untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi
berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh,
bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk
selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata:
"Allah mengambil seorang anak." Mereka sekali-kali tidak
mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah
buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan
(sesuatu), kecuali dusta". (QS.
Al-Kahfi : 1-5)
Allah -Azza wa Jalla- menjelaskan bahwa segala
sesuatu di alam semesta adalah milik dan ciptaan-Nya (termasuk diantaranya,
Nabi Isa yang dipertuhankan kaum Nashrani-Kristen).
Allah -Tabaroka wa Ta'ala- berfirman,
وَقَالُوا اتَّخَذَ
اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ
لَهُ قَانِتُونَ (116) بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا
فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُون [البقرة : 116 ، 117]
"Mereka
(orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci
Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua
tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi. Dan bila Dia berkehendak
(untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya:
"Jadilah!", lalu jadilah ia". (QS. Al-Baqoroh : 116-117)
Allah -Tabaroka wa Ta'ala- berfirman,
وَقَالُوا اتَّخَذَ
الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ (26) لَا يَسْبِقُونَهُ
بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ (27) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ
مُشْفِقُونَ (28) وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ
نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ (29) [الأنبياء : 26 - 29]
Dan mereka berkata: "Tuhan
Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak". Maha Suci Allah.
Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan
perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala
sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan
mereka tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan
mereka itu selalu berhati-hati Karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di
antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain
daripada Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam.
Demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim". (QS. Al-Anbiyaa' : 26-29)
Wahai para pembaca yang budiman, perhatikanlah betapa besar kemurkaan Allah
terhadap kaum Kristen dan semisalnya yang menyatakan bahwa Allah memiliki
seorang anak!!
Lantas kenapa kita berani mendekati orang-orang seperti ini
dan selalu berlemah lembut dengan mereka dalam perkara agama.
Kenapa kita tak pernah tegas dan gamblang menyatakan
agama kita, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi
wa sallam-. Agama yang membenci dan memberantas semua bentuk kesyirikan,
termasuk diantaranya mengangkat makhluk sebagai anak Allah. Semua keyakinan ini harus diingkari dan diberantas!
Kenapakah kita terlalu menampakkan kemesraan dan
kecintaan kepada kaum Nashrani-Kristen yang menentang Allah dan Nabi Muhammad -Shallallahu
alaihi wa sallam-!!
Padahal Allah secara tegas mengajari kita agar jangan
mencintai mereka, apalagi menjadikan mereka orang-orang kepercayaan kita.
Allah -Ta'ala- berfirman,
لَا تَجِدُ قَوْمًا
يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ
أَوْ عَشِيرَتَهُمْ [المجادلة : 22]
"Kamu tak
akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,
sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara
ataupun keluarga mereka". (QS.
Al-Mujadilah : 22)
Tak diragukan lagi bahwa kehadiran seseorang dalam acara Natal dan memberikan
hadiah kepada mereka di hari itu termasuk bentuk kecintaan kepada musuh-musuh
Allah dan Rasul-Nya Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Pertanyaan besar akan muncul ke
permukaan, "Mungkin nggak Nabi Isa
–alaihis salam- menyatakan bahwa dirinya adalah anak Allah atau tuhan itu
sendiri?"
Jawabnya, tak
mungkin. Sebab, tak mungkin beliau menyalahi ayat di atas yang berisi ancaman
bagi orang yang mengaku dirinya sebagai "tuhan" dan sekutu dari
selain Allah.
Oleh karena itu, Nabi Isa –alaihis salam- di hari
kiamat nanti akan menyatakan pengingkarannya atas orang-orang Kristen yang
telah mempertuhankannya.
Allah -Ta'ala- berfirman dalam mengabadikannya
dalam Al-Kitab Al-Aziz,
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ
إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ
مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي
نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
(116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ
رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا
تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
شَهِيدٌ (117) [المائدة : 116 ، 117]
"Dan
(Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu
mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku sebagai dua orang tuhan
selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah
patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku
pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku
dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau
Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau
perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan
Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku
berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang
Mengawasi mereka dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu". (QS. Al-Maa'idah : 116-117)
Al-Imam Al-Hafizh Abul Fidaa' Isma'il bin Umar
bin Katsir Al-Qurosyiy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-
berkata,
"هذا
أيضًا مما يخاطب الله تعالى به عبده ورسوله عيسى ابن مريم، عليه السلام، قائلا له
يوم القيامة بحضرة من اتخذه وأمه إلهين من دون الله: { وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا
عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ
إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ } ؟ وهذا تهديد للنصارى وتوبيخ وتقريع على رؤوس
الأشهاد." اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة - (3 / 232)
"Ini juga
merupakan perkara yang Allah bicarakan bersama hamba dan Rasul-Nya, Isa bin
Maryam –alaihis salam- seraya berkata kepadanya pada hari kiamat di depan
orang-orang yang menjadikan beliau dan ibunya sebagai dua tuhan dari selain
Allah, "Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera
Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku
sebagai dua orang tuhan dari selain Allah?". Ini merupakan ancaman,
kecaman dan teguran bagi kaum Nashrani (Kristen) di depan
makhluk-makhluk". [Lihat Tafsir
Ibni Katsir (3/232)]
Ketahuilah bahwa para nabi dan rasul itu satu di atas
sebuah agama, yaitu Islam. Yang
membedakan mereka adalah syariat dan metode mereka dalam beribadah.
Adapun kaum Yahudi dan Nashrani-Kristen, maka mereka
telah murtad dari Islam yang
dibawa oleh Nabi Isa –alaihis salam- dengan sebab
mereka mengangkat tuhan selain Allah, yaitu Uzair dan Isa bin Maryam atau yang
lainnya.
Agama yang mereka anut
sepeninggal Nabi Isa adalah agama kekafiran yang mengajak
manusia menduakan Allah -Azza wa Jalla-, bukan agama Nabi Isa!!
Agama yang dibawa dan diserukan oleh Isa –alaihis
salam- adalah Islam.
Allah -Azza wa Jalla- menjelaskan hal itu dalam
firman-Nya,
وَوَصَّى بِهَا
إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ
الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132) أَمْ كُنْتُمْ
شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ
مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133)
[البقرة : 132 ، 133]
"Dan
Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub
(berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini
bagi kalian. Maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama
Islam".
Adakah kamu hadir ketika Ya'qub
kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa
yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan
menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan
yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqoroh : 132-133)
Perhatikan ucapan Ibrahim dan Ya'qub (Israel ), "Hai anak-anakku!
Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati
kecuali dalam memeluk agama Islam".
Sebuah pertanyaan : "Siapakah diantara
anak cucu Ibrahim dan Ya'qub yang diwasiati agar jangan mati, kecuali
dalam keadaan beragama Islam?"
Jawabnya, Nabi
Isa termasuk diantara anak cucu Ibrahim dan Ya'qub yang diajak dan diingatkan
agar ber-Islam dan mati di atasnya.
Nabi Ibrahim, Ya'qub serta anak cucunya semua berada di
atas Islam!! Bukan berada di atas agama Yahudi
dan Nashrani-Kristen.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
مَا كَانَ
إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا
وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (67) إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ
لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ
الْمُؤْمِنِينَ (68) [آل عمران : 67 - 68]
"Ibrahim
bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia
adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah), dan sekali-kali
bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang
paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi Ini
(Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad). Dan Allah
adalah pelindung semua orang-orang yang beriman". (QS. Ali Imraan : 67-68)
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
أَمْ تَقُولُونَ
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ
كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ
أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ
عَمَّا تَعْمَلُونَ [البقرة : 140]
"Ataukah
kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il,
Ishaq, Ya'qub dan asbath (anak cucunya), adalah penganut agama Yahudi atau
Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kalian lebih mengetahui ataukah Allah,
dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada
lengah dari apa yang kalian kerjakan".
(QS. Al-Baqoroh : 140)
"Syahadah dari Allah" ialah persaksian Allah yang tersebut dalam Taurat dan
Injil bahwa Nabi Ibrahim dan anak
cucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani
dan bahwa Allah akan mengutus Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-
sebagai rasul yang akan membenarkan risalah sebelumnya dan menghapus semua
syariat yang ada!!
Seorang ulama tabi'in, Al-Imam Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini,
كَانَتْ شَهَادَةُ
اللَّهِ الَّذِي كَتَمُوا أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْرَءُونَ فِي كِتَابِ اللَّهِ
الَّذِي أَتَاهُمْ إنَّ الدِّينَ الإِسْلامُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ،
وَأَنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطَ
كَانُوا بُرَّاءً مِنَ الْيَهُودِيَّةِ وَالنَّصْرَانِيَّةِ. فَشَهِدُوا لِلَّهِ
بِذَلِكَ، وَأَقَرُّوا بِهِ عَلَى أَنْفُسِهِمْ لِلَّهِ فَكَتَمُوا شَهَادَةَ
اللَّهِ: عِنْدَهُمْ مِنْ ذَلِكَ. فَذَلِكَ مَا كَتَمُوا مِنْ شَهَادَةِ اللَّهِ
وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ." اهـ من تفسير ابن أبي حاتم -
محققا - (1 / 246)
"Syahadah
(persaksian) Allah yang mereka sembunyikan adalah
bahwasanya mereka dulu telah membaca dalam Kitab-kitab Allah yang datang
(turun) kepada mereka, "Sesungguhnya agama (yang ada di sisi Allah)
adalah Islam, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah serta bahwasanya
Nabi Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan asbath (anak keturunan Ya'qub)
berlepas diri dari agama Yahudi dan Nashrani (Kristen)".
Mereka (Ahlul Kitab) pun
mempersaksikan hal itu dan mengakui hal itu kepada Allah atas diri mereka. Tapi
mereka menyembunyikan persaksian Allah tersebut atas hal tadi di sisi mereka!!
Itulah yang mereka sembunyikan diantara persaksian Allah.
Namun Allah tidak akan lalai dari
apa yang kalian kerjakan".
[Lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim (1/246), Tafsir
Ath-Thobariy (2134) dan Tafsir Ibnu Katsir (1/451)]
Para pemuka agama Kristen –seperti, Paulus- tahu bahwa
agama Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa dan asbath (anak cucu Ya'qub) adalah
manusia-manusia yang beragama Islam!!
Tapi kebencian terhadap agama Nabi Isa (yaitu, Islam)
membuat Paulus beserta pengikutnya dan kerajaan Konstantinopel berusaha
keras untuk mengubur Islam.
Pasalnya, Paulus itu beragama Yahudi yang jelas-jelas mengajak
kepada kesyirikan (menduakan Allah). Apalagi kerajaan Konstantinopel waktu itu
juga berlatar belakang agama penyembah berhala (paganis).
Walaupun keduanya sudah masuk dalam agama Nabi Isa –menurut
mereka-, hanya saja kebiasaan syirik Paulus dan Raja Konstantinopel belum
bisa ia tinggalkan.
Akhirnya, mereka berdua membuat
format agama baru yang mempertuhankan Nabi Isa!! Na'udzu billahi
min dzalika!!!
Padahal mereka tahu dengan jelas dan pasti bahwa Nabi Isa
tak pernah mengangkat dirinya sebagai tuhan!!!
Mereka telah memutarbalikkan fakta dan realita dengan
silat lidah mereka yang lihai sampai banyak diantara manusia menjadi
domba-domba yang disesatkan oleh Paulus dan para pengekornya.
Mereka inilah yang disinggung oleh Allah -Tabaroka wa
Ta'ala- dalam firman-Nya,
وَإِنَّ مِنْهُمْ
لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ
وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ
مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
(78) مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ
ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ
كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ
تَدْرُسُونَ (79) وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ
وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ (80) [آل عمران : 78 - 80]
"Sesungguhnya
diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab,
supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia
bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang)
dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta
terhadap Allah sedang mereka mengetahui. Tidak wajar bagi seseorang manusia
yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata
kepada manusia: "Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku, bukan
penyembah Allah". Akan tetapi hendaknya (ia berkata): "Hendaklah
kamu menjadi orang-orang rabbani (sempurna ilmu dan taqwanya), karena kamu selalu
mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu
menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia
menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?".
Kita katakan kepada Paulus dan
pengekornya, "Apakah mungkin Nabi Isa
mengajarkan manusia untuk mempertuhankan diri beliau??!"
Jawabnya,
tidak mungkin beliau melakukan hal itu, sebab itu adalah kekafiran yang
menyalahi ajaran Islam yang beliau bawa.
Semoga penjelasan ini menyadarkan kita tentang kebatilan
agama Yahudi dan Kristen sehingga kita pun tidak kebablasan dalam bertoleransi
dan mencintai mereka.
Semoga kaum muslimin tidak lagi turut dan larut dalam
acara batil mereka!! Amiin ya Robbal alamin…

Komentar
Posting Komentar