Kerusakan Paham Liberalisme
Kerusakan Paham Liberalisme
oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-
Liberalisme
adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat dan tradisi politik yang didasarkan
pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang
utama.
Secara
umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh
kebebasan berpikir dan berbuat bagi setiap individu. Paham liberalisme menolak adanya
pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.
Sejalan
dengan perkembangan liberalisme, akhirnya menjadi sistem dan bentuk
pemerintahan serta sistem perekonomian yang tertuang dalam bentuk sistem
demokrasi dan sistem kapitalisme.
Paham
liberalisme mengusung persamaan hak diantara manusia, sehingga manusia bebas
menuangkan ide dan perbuatannya, tanpa ada ikatan dan aturan dari agama.
Jika
mereka berselisih dalam suatu hak dan kepentingan, maka liberalisme
menyelesaikannya dengan cara diskusi.
Jika
pendapat mayoritas orang menyatakan sesuatu, maka yang lain harus ikut menyetujui
hal itu, tanpa memandang apakah hal itu benar atau batil menurut sisi pandang
agama, sehingga pemerintah dalam hal ini tidak memiliki hak dalam memutuskan
suatu perkara, tanpa persetujuan rakyat.
Pemerintah
dalam pandangan liberalisme hanyalah alat yang digunakan untuk melindungi dan
mempertahankan hak dan kepentingan rakyatnya. Demi mengatur semua itu, para
pengusung liberalisme harus membuat patokan yang dikenal dengan
"undang-undang" yang dirumuskan oleh akal pendek mereka.
Inilah
sekilas paham liberalisme yang dijelaskan oleh para pengusungnya dari kalangan
kaum kafir barat, semisal John Locke, Martin Luther, Hobbes, Adam Smith serta para pendahulu dan pengekornya.
Jujur
saja bahwa paham liberalisme muncul di saat masyarakat terkungkung oleh segala
peraturan batil dan menyusahkan yang muncul dari para gerejawan.
Akibatnya, muncullah serangkaian protes pedas dari kalangan
bangsawan dan penguasa Jerman terhadap kekuasaan Gereja
Katolik Roma.
Saat
itu, dominasi dan dogma-dogma buatan gereja amat mengekang kebebasan individu,
sekalipun dalam berkreasi dan berinovasi dalam pengetahuan, sehingga tak ada kemajuan
duniawi di kalangan masyarakat barat kala itu.
Masyarakat
barat waktu itu, memandang adanya penyimpangan di kalangan gerejawan Katolik
Roma berupa adanya komersialisasi agama
dan ketergantungan kepada para pemuka agama Katolik Roma, sehingga manusia
tidak berkembang secara meluas.
Akhirnya,
pada puncaknya timbullah sebuah "reformasi gereja", pada tahun 1517 M, yang menyulut kebebasan
individu yang tadinya terkekang!! Nah, saat itu lahirlah paham liberalisme!!!
Para
pembaca yang budiman, inilah sejarah dan latar belakang munculnya paham
liberalisme sebagai bentuk protes keras terhadap segala macam tekanan kaum gerejawan berupa
dogma-dogma buatan yang justru mengekang masyarakat
dari berkreasi dalam hal dunianya.
Jika
kita menilik sejarah liberalisme seperti yang kami utarakan, maka paham liberalisme tidak relevan dan tidak sejalan dengan kaum muslimin.
Sebab,
ajaran liberalisme ini mengajak kita keluar dari aturan-aturan (syariat) Islam
yang terkadang dianggap oleh kaum liberalis sebagai pengekang. Padahal
sebenarnya bukan demikian!! Mereka ingin menyamakan syariat Islam dengan
dogma-dogma gereja yang mengekang masyarakat barat dahulu. Padahal jelas tidak
sama. Islam adalah agama yang lurus dan mudah.
Dengan
adanya aturan syariat Islam, masyarakat akan terkontrol, sehingga masyarakat
tidak bebas dengan sebebas-bebasnya, dan tidak pula dikekang secara total.
Islam
adalah agama yang memberikan kebebasan bagi pemeluknya untuk berkreasi dan
berpikir. Tetapi tentunya kebebasan itu ada
batasannya. Jadi, kebebasan mutlak dalam Islam, tak ada wujudnya. Kebebasan
mutlak hanyalah berlaku dalam dunia hewan dan orang gila.
Islam
tidaklah mengekang kebebasan manusia dalam berkreasi dalam perkara dunia, sepanjang
kreasi dan penemuan itu halal dan tidak mendatangkan kerusakan dunia dan
akhirat. [Lihat Haqiqoh Ad-Dimuqrathiyyah (hal. 23) karya
Al-Jamiy -rahimahullah-]
Liberalisme
adalah ideologi dan keyakinan yang keluar dari asas dan prinsip Islam. Karena,
dari defenisinya saja, maka liberalisme menolak aturan agama (termasuk Islam).
Kaum
muslimin tidaklah butuh kepada ajaran dan ideologi liberalisme, sebab mereka
telah memiliki agama yang melebihi idelogi
liberalisme.
Allah
-Ta'ala- berfirman,
إِنَّ
الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ
اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19) فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ
وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ
أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا
عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (20) [آل عمران : 19 ، 20]
"Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih
orang-orang yang telah diberi Al Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan
kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang
kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
Kemudian
jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada
Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan Katakanlah
kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang buta
huruf (kaum musyrikin): "Apakah kamu (mau) masuk Islam".
Jika
mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika
mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah).
Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya". (QS. Ali Imraan : 19-20)
Kaum
Liberalis mengajak kaum muslimin untuk mengikuti ideologi liberalisme
yang mengajak kepada kebebasan dan keterlepasan dari aturan (syariat) Islam.
Tentu
ini adalah sebuah kekafiran. Justru merekalah yang harus masuk dan tunduk
kepada Islam yang mengatur segala kebebasan dengan pengaturan yang maha hebat lagi
sempurna, serta tidak menzhalimi siapapun!!
Paham
liberalisme merupakan paham kekafiran dan kemurtadan, sebab paham ini mengajak
manusia untuk lepas dari agama Allah, agama Islam, sehingga manusia bebas
berbuat semaunya, walaupun melanggar syariat.
Ketahuilah bahwa liberalisme adalah ideologi dan agama
baru. Seorang muslim haram mengikuti dan
meyakininya. Barangsiapa yang meyakininya, maka ia terkena firman Allah,
وَمَنْ
يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ
مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران : 85]
"Barangsiapa
mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS. Ali Imraan : 85)
Paham
liberalisme mengajari pengikutnya agar ia lepas
dan bebas dari agamanya, lalu mengarahkan untuk memilih agama baru yang bernama
"liberalisme"!!!
Al-Allamah
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
-rahimahullah- berkata,
وليس
لأحد الخروج عن ذلك , ليس لأحد أن يقول أنا أتبع التوراة أو الإنجيل , وفلانا أو فلانا
. بل يجب على الجميع اتباع شريعة محمد صلى الله عليه وسلم , ومن زعم أنه يجوز لأحد
الخروج عنها فهو كافر ضال بإجماع المسلمين ." اهـ من مجموع فتاوى ابن باز- (9
/ 67)
"Tak
boleh seseorang keluar dari hal itu (yakni, Al-Qur'an dan Sunnah); tak boleh
seseorang berkata, "Aku akan mengikuti Taurat atau Injil, fulan dan fulan.
Bahkan wajib bagi semua orang untuk mengikuti Syari'at Nabi Muhammad
-Shallallahu alaihi wa sallam-.
Barangsiapa
yang menyangka bahwa boleh bagi seseorang keluar dari syariat beliau, maka ia
kafir lagi sesat berdasarkan ijma' (kesepakatan) kaum muslimin". [Lihat Majmu Fatawa wa Rosaa'il Mutanawwi'ah
(9/67)]
Para
pembaca yang budiman, Liberalisme menganggap persamaan hak bagi seluruh manusia, antara
pria dan wanita, antara kafir dan muslim, antara orang merdeka dan budak atau
yang lainnya.
Sementara
Islam tidaklah menyamakan hak setiap orang. Islam membedakan pria dan wanita,
muslim dan kafir atau orang merdeka dan budak.
Kemudian
kebebasan mendapatkan dan menyalurkan hak dalam Islam tidaklah sebebasnya
dengan kebebasan mutlak, tanpa aturan syariat.
Allah
menurunkan wahyu agar menjadi syariat dan aturan bagi manusia sehingga dalam
kebebasannya tidaklah serampangan, tapi berada dalam batasan syariat Islam.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
وَأَنِ
احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ
أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ
أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا
مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ (49) أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ
مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (50)
[المائدة : 49 ، 50]
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara
di antara mereka menurut (wahyu) yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka,
supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian (wahyu) yang telah
diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah
diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan
Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki,
dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang
yang yakin ?". (QS.
Al-Ma'idah : 49-50)
Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata menjelaskan kalimat yang
kami tebalkan,
أي: لا تنصرف عن الحق
الذي أمرك الله به إلى أهواء هؤلاء من الجهلة الأشقياء." اهـ من تفسير ابن كثير
/ دار طيبة - (3 / 128)
"Maksudnya, janganlah engkau berpaling
dari kebenaran yang Allah perintahkan kepadamu menuju hawa nafsu mereka dari
kalangan orang-orang jahil lagi celaka". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/128)]
Disini Allah menyatakan bahwa semua
ketetapan kaum kafir yang keluar dari tuntunan wahyu dan agama adalah hawa
nafsu, karena memang lahir dari hawa nafsu dan selera mereka, termasuk
diantaranya paham liberalisme!! Disitulah letak kejahilan dan kerusakan mereka!!!
Salah satu prinsip yang mereka
pegangi dan dibangun di atas hawa nafsu dan pemikiran semata yang keluar dari
bimbingan wahyu, PRINSIP DEMOKRASI.
Allah -Tabaroka wa Ta'ala-
telah meruntuhkan prinsip demokrasi yang diusung oleh kaum Liberal, melalui
firman-Nya,
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ
مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ [الأنعام
: 116]
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan
orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan
Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka
tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (QS. Al-An'am : 116)
Jadi, Allah -Azza wa Jalla-
menetapkan bahwa kebanyakan manusia sesat dan menyesatkan. Sementara pejuang demokrasi menyatakan bahwa suara terbanyak adalah sama
kedudukannya dengan "suara tuhan" yang harus didengar dan ditaati, bahkan lebih
tinggi lagi, karena ternyata wahyu Al-Qur'an mereka mampu singkirkan melalui
alat yang bernama "demokrasi". Laa haula walaa quwwata illa billah!

Komentar
Posting Komentar