Senin, 26 Desember 2016

Kerusakan Paham Liberalisme


Kerusakan Paham Liberalisme

oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir dan berbuat bagi setiap individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.

Sejalan dengan perkembangan liberalisme, akhirnya menjadi sistem dan bentuk pemerintahan serta sistem perekonomian yang tertuang dalam bentuk sistem demokrasi dan sistem kapitalisme.

Paham liberalisme mengusung persamaan hak diantara manusia, sehingga manusia bebas menuangkan ide dan perbuatannya, tanpa ada ikatan dan aturan dari agama.

Jika mereka berselisih dalam suatu hak dan kepentingan, maka liberalisme menyelesaikannya dengan cara diskusi.

Jika pendapat mayoritas orang menyatakan sesuatu, maka yang lain harus ikut menyetujui hal itu, tanpa memandang apakah hal itu benar atau batil menurut sisi pandang agama, sehingga pemerintah dalam hal ini tidak memiliki hak dalam memutuskan suatu perkara, tanpa persetujuan rakyat.

Pemerintah dalam pandangan liberalisme hanyalah alat yang digunakan untuk melindungi dan mempertahankan hak dan kepentingan rakyatnya. Demi mengatur semua itu, para pengusung liberalisme harus membuat patokan yang dikenal dengan "undang-undang" yang dirumuskan oleh akal pendek mereka.


Inilah sekilas paham liberalisme yang dijelaskan oleh para pengusungnya dari kalangan kaum kafir barat, semisal John Locke, Martin Luther, Hobbes, Adam Smith serta para pendahulu dan pengekornya.

Jujur saja bahwa paham liberalisme muncul di saat masyarakat terkungkung oleh segala peraturan batil dan menyusahkan yang muncul dari para gerejawan.

Akibatnya, muncullah serangkaian protes pedas dari kalangan bangsawan dan penguasa Jerman terhadap kekuasaan Gereja Katolik Roma.

Saat itu, dominasi dan dogma-dogma buatan gereja amat mengekang kebebasan individu, sekalipun dalam berkreasi dan berinovasi dalam pengetahuan, sehingga tak ada kemajuan duniawi di kalangan masyarakat barat kala itu.

Masyarakat barat waktu itu, memandang adanya penyimpangan di kalangan gerejawan Katolik Roma berupa adanya komersialisasi agama dan ketergantungan kepada para pemuka agama Katolik Roma, sehingga manusia tidak berkembang secara meluas.

Akhirnya, pada puncaknya timbullah sebuah "reformasi gereja", pada tahun 1517 M, yang menyulut kebebasan individu yang tadinya terkekang!! Nah, saat itu lahirlah paham liberalisme!!!

Para pembaca yang budiman, inilah sejarah dan latar belakang munculnya paham liberalisme sebagai bentuk protes keras terhadap segala macam tekanan kaum gerejawan berupa dogma-dogma buatan yang justru mengekang masyarakat dari berkreasi dalam hal dunianya.

Jika kita menilik sejarah liberalisme seperti yang kami utarakan, maka paham liberalisme tidak relevan dan tidak sejalan dengan kaum muslimin.

Sebab, ajaran liberalisme ini mengajak kita keluar dari aturan-aturan (syariat) Islam yang terkadang dianggap oleh kaum liberalis sebagai pengekang. Padahal sebenarnya bukan demikian!! Mereka ingin menyamakan syariat Islam dengan dogma-dogma gereja yang mengekang masyarakat barat dahulu. Padahal jelas tidak sama. Islam adalah agama yang lurus dan mudah.

Dengan adanya aturan syariat Islam, masyarakat akan terkontrol, sehingga masyarakat tidak bebas dengan sebebas-bebasnya, dan tidak pula dikekang secara total.

Islam adalah agama yang memberikan kebebasan bagi pemeluknya untuk berkreasi dan berpikir. Tetapi tentunya kebebasan itu ada batasannya. Jadi, kebebasan mutlak dalam Islam, tak ada wujudnya. Kebebasan mutlak hanyalah berlaku dalam dunia hewan dan orang gila.

Islam tidaklah mengekang kebebasan manusia dalam berkreasi dalam perkara dunia, sepanjang kreasi dan penemuan itu halal dan tidak mendatangkan kerusakan dunia dan akhirat. [Lihat Haqiqoh Ad-Dimuqrathiyyah (hal. 23) karya Al-Jamiy -rahimahullah-]

Liberalisme adalah ideologi dan keyakinan yang keluar dari asas dan prinsip Islam. Karena, dari defenisinya saja, maka liberalisme menolak aturan agama (termasuk Islam).

Kaum muslimin tidaklah butuh kepada ajaran dan ideologi liberalisme, sebab mereka telah memiliki agama yang melebihi idelogi liberalisme.

Allah -Ta'ala- berfirman,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19) فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (20) [آل عمران : 19 ، 20]
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan Katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang buta huruf (kaum musyrikin): "Apakah kamu (mau) masuk Islam".
Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya". (QS. Ali Imraan : 19-20)

Kaum Liberalis mengajak kaum muslimin untuk mengikuti ideologi liberalisme yang mengajak kepada kebebasan dan keterlepasan dari aturan (syariat) Islam.

Tentu ini adalah sebuah kekafiran. Justru merekalah yang harus masuk dan tunduk kepada Islam yang mengatur segala kebebasan dengan pengaturan yang maha hebat lagi sempurna, serta tidak menzhalimi siapapun!!

Paham liberalisme merupakan paham kekafiran dan kemurtadan, sebab paham ini mengajak manusia untuk lepas dari agama Allah, agama Islam, sehingga manusia bebas berbuat semaunya, walaupun melanggar syariat.

Ketahuilah bahwa liberalisme adalah ideologi dan agama baru. Seorang muslim haram mengikuti dan meyakininya. Barangsiapa yang meyakininya, maka ia terkena firman Allah,
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ  [آل عمران : 85]
"Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS. Ali Imraan : 85)

Paham liberalisme mengajari pengikutnya agar ia lepas dan bebas dari agamanya, lalu mengarahkan untuk memilih agama baru yang bernama "liberalisme"!!!

Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- berkata,
وليس لأحد الخروج عن ذلك , ليس لأحد أن يقول أنا أتبع التوراة أو الإنجيل , وفلانا أو فلانا . بل يجب على الجميع اتباع شريعة محمد صلى الله عليه وسلم , ومن زعم أنه يجوز لأحد الخروج عنها فهو كافر ضال بإجماع المسلمين ." اهـ من مجموع فتاوى ابن باز- (9 / 67)
"Tak boleh seseorang keluar dari hal itu (yakni, Al-Qur'an dan Sunnah); tak boleh seseorang berkata, "Aku akan mengikuti Taurat atau Injil, fulan dan fulan. Bahkan wajib bagi semua orang untuk mengikuti Syari'at Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Barangsiapa yang menyangka bahwa boleh bagi seseorang keluar dari syariat beliau, maka ia kafir lagi sesat berdasarkan ijma' (kesepakatan) kaum muslimin". [Lihat Majmu Fatawa wa Rosaa'il Mutanawwi'ah (9/67)]
Para pembaca yang budiman, Liberalisme menganggap persamaan hak bagi seluruh manusia, antara pria dan wanita, antara kafir dan muslim, antara orang merdeka dan budak atau yang lainnya.

Sementara Islam tidaklah menyamakan hak setiap orang. Islam membedakan pria dan wanita, muslim dan kafir atau orang merdeka dan budak.

Kemudian kebebasan mendapatkan dan menyalurkan hak dalam Islam tidaklah sebebasnya dengan kebebasan mutlak, tanpa aturan syariat.

Allah menurunkan wahyu agar menjadi syariat dan aturan bagi manusia sehingga dalam kebebasannya tidaklah serampangan, tapi berada dalam batasan syariat Islam.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ (49) أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (50)  [المائدة : 49 ، 50]
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut (wahyu) yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian (wahyu) yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.  Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?". (QS. Al-Ma'idah : 49-50)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata menjelaskan kalimat yang kami tebalkan,
أي: لا تنصرف عن الحق الذي أمرك الله به إلى أهواء هؤلاء من الجهلة الأشقياء." اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة - (3 / 128)
"Maksudnya, janganlah engkau berpaling dari kebenaran yang Allah perintahkan kepadamu menuju hawa nafsu mereka dari kalangan orang-orang jahil lagi celaka". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/128)]

Disini Allah menyatakan bahwa semua ketetapan kaum kafir yang keluar dari tuntunan wahyu dan agama adalah hawa nafsu, karena memang lahir dari hawa nafsu dan selera mereka, termasuk diantaranya paham liberalisme!! Disitulah letak kejahilan dan kerusakan mereka!!!

Salah satu prinsip yang mereka pegangi dan dibangun di atas hawa nafsu dan pemikiran semata yang keluar dari bimbingan wahyu, PRINSIP DEMOKRASI.

Allah -Tabaroka wa Ta'ala- telah meruntuhkan prinsip demokrasi yang diusung oleh kaum Liberal, melalui firman-Nya,
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ  [الأنعام : 116]
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (QS. Al-An'am : 116)


Jadi, Allah -Azza wa Jalla- menetapkan bahwa kebanyakan manusia sesat dan menyesatkan. Sementara pejuang demokrasi menyatakan bahwa suara terbanyak adalah sama kedudukannya dengan "suara tuhan" yang harus didengar dan ditaati, bahkan lebih tinggi lagi, karena ternyata wahyu Al-Qur'an mereka mampu singkirkan melalui alat yang bernama "demokrasi". Laa haula walaa quwwata illa billah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar