Kisah Heroik Para Sahabat 'Singa-singa Padang Pasir'
Kisah Heroik Para Sahabat
'Singa-singa
Padang Pasir'
oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-
Kisah heroik
para sahabat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengisi
lembaran-lembaran sejarah indah Islam. Para sahabat memiliki keberanian luar
biasa dalam menghadapi musuh, laksana singa-singa padang pasir yang tidak gentar kepada musuh
apapun. Mereka adalah kaum yang mencari syahadah (kedudukan mati syahid)
di jalan Allah demi mengangkat martabat agama Allah.
Tak
ada dalam kamus hidup mereka, melainkan Mati Syahid, atau Hidup Mulia
di atas Islam, yang kemudian disederhanakan oleh kaum muslimin Indonesia dengan
semboyan "Merdeka atau
Mati", yakni merdeka di atas Islam atau
mati syahid di tangan musuh kafir Belanda dengan ganjaran surga di sisi Allah -Tabaroka
wa Ta'ala-.
Cerita
indah dari kehidupan para pahlawan dan pembawa panji Islam telah menghiasi
lukisan sejarah manusia.
Mereka
telah melakukan perubahan dalam segala sisi,
mulai dari akhlaq manusia, ilmu, ibadah dan lainnya. Semua berkat perjuangan
para sahabat -radhiyallahu anhum-.
Al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- dalam kitabnya yang berjudul "Al-Bidayah wa an-Nihayah" (9/621-623)
seputar Perang Qodasiyyah:
Di
zaman itu, kaum muslimin melakukan penyerangan terhadap kerajaan Majusi (Persia ) yang
kala itu dipimpim oleh Raja Yazdajir.
Sang
Raja mengirim seorang panglima perang mereka yang bernama Rustum.
Adapun
kaum muslimin saat itu dipimpin oleh Amirul Mukminin Umar bin Al-Khoththob
-radhiyallahu anhu-. Beliau saat itu mengirim bala tentara yang dipimpin
oleh Sa'ad bin Abi Waqqosh, salah seorang calon penghuni surga -radhiyallahu
anhu-.
Sekarang mari kita dengarkan kisah selengkapnya:
Tatkala
dua pasukan akan berhadapan, maka Rustum mengirim pesan kepada Sa'ad -radhiyallahu
anhu-,
"Tolong kirim seorang yang
cerdik kepadaku karena ada suatu hal yang aku akan tanyakan kepadanya". Akhirnya, Sa'ad mengutus Al-Mughiroh bin Syu'bah
-radhiyallahu anhu-.
Ketika
Al-Mughiroh datang kepadanya, mulailah Rustum berkata kepadanya, "Sesungguhnya
kalian adalah tetangga kami. Kami telah berbuat baik kepada kalian dan menahan
gangguan dari kalian. Karenanya, kembalilah ke negeri kalian. Kami tak akan
menghalangi para pedagang kalian dari memasuki negeri kami".
Sahabat
Al-Mughiroh bin Syu'bah
Ats-Tasqofiy -radhiyallahu anhu-
menjawab,
Ų„ِŁَّŲ§
ŁَŁْŲ³َ Ų·َŁَŲØُŁَŲ§ Ų§ŁŲÆُّŁْŁَŲ§، ŁَŲ„ِŁَّŁ
َŲ§ ŁَŁ
ُّŁَŲ§ ŁَŲ·َŁَŲØُŁَŲ§ Ų§ŁْŲ¢Ų®ِŲ±َŲ©ُ، ŁَŁَŲÆْ
ŲØَŲ¹َŲ«َ Ų§ŁŁَّŁُ Ų„ِŁَŁْŁَŲ§ Ų±َŲ³ُŁŁًŲ§ ŁَŲ§Łَ ŁَŁُ: Ų„ِŁِّŁ ŁَŲÆْ Ų³َŁَّŲ·ْŲŖُ ŁَŲ°ِŁِ Ų§ŁŲ·َّŲ§Ų¦ِŁَŲ©َ
Ų¹َŁَŁ Ł
َŁْ ŁَŁ
ْ ŁَŲÆِŁْ ŲØِŲÆِŁŁِŁ، ŁَŲ£َŁَŲ§ Ł
ُŁْŲŖَŁِŁ
ٌ ŲØِŁِŁ
ْ Ł
ِŁْŁُŁ
ْ، ŁَŲ£َŲ¬ْŲ¹َŁُ
ŁَŁُŁ
ُ Ų§ŁْŲŗَŁَŲØَŲ©َ Ł
َŲ§ ŲÆَŲ§Ł
ُŁŲ§ Ł
ُŁِŲ±ِّŁŁَ ŲØِŁِ، ŁَŁُŁَ ŲÆِŁŁُ Ų§ŁْŲَŁِّ ŁَŲ§ ŁَŲ±ْŲŗَŲØُ
Ų¹َŁْŁُ Ų£َŲَŲÆٌ Ų„ِŁَّŲ§ Ų°َŁَّ، ŁَŁَŲ§ ŁَŲ¹ْŲŖَŲµِŁ
ُ ŲØِŁِ Ų„ِŁَّŲ§ Ų¹َŲ²َّ.
"Sesungguh bukanlah tujuan kami
adalah dunia!! Hanyalah tujuan dan cita-cita kami adalah akhirat!!! Sungguh
Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul; Allah berpesan kepadanya,
"Sungguh Aku telah kuasakan (tolong) kelompok ini (yakni, kaum muslimin)
atas orang-orang yang tak mau menganut agama-Ku. Akulah yang akan menghukum
mereka dengan perantaraan kaum muslimin dan akan Aku berikan kemenangan bagi
mereka selama mereka mengakui agama ini, yaitu agama kebenaran; tak ada yang
benci kepadanya kecuali ia akan terhina dan tak ada yang berlindung dengannya,
kecuali ia akan mulia".
Rustum
bertanya, "Agama apa itu?"
Al-Mughiroh bin Syu'bah -radhiyallahu
anhu- menjawab,
Ų£َŁ
َّŲ§ Ų¹َŁ
ُŁŲÆُŁُ Ų§ŁَّŲ°ِŁ ŁَŲ§ ŁَŲµْŁُŲُ
Ų“َŁْŲ”ٌ Ł
ِŁْŁُ Ų„ِŁَّŲ§ ŲØِŁِ، ŁَŲ“َŁَŲ§ŲÆَŲ©ُ Ų£َŁْ ŁَŲ§ Ų„ِŁَŁَ Ų„ِŁَّŲ§ Ų§ŁŁَّŁُ ŁَŲ£َŁَّ Ł
ُŲَŁ
َّŲÆًŲ§
Ų±َŲ³ُŁŁُ Ų§ŁŁَّŁِ، ŁَŲ§ŁْŲ„ِŁْŲ±َŲ§Ų±ُ ŲØِŁ
َŲ§ Ų¬َŲ§Ų”َ Ł
ِŁْ Ų¹ِŁْŲÆِ Ų§ŁŁَّŁِ
"Adapun pilar-pilarnya yang tak
akan baik sesuatu dari agama ini, kecuali dengannya, maka ia adalah persaksian
bahwa tak ada sembahan yang haq, melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah
Rasul (utusan) Allah serta mengakui semua yang datang dari sisi Allah!!"
"Oh,
alangkah indahnya agama ini! Apalagi selain itu?", tanya Rustum
Al-Mughiroh -radhiyallahu
anhu- menjawab,
ŁَŲ„ِŲ®ْŲ±َŲ§Ų¬ُ
Ų§ŁْŲ¹ِŲØَŲ§ŲÆِ Ł
ِŁْ Ų¹ِŲØَŲ§ŲÆَŲ©ِ Ų§ŁْŲ¹ِŲØَŲ§ŲÆِ Ų„ِŁَŁ Ų¹ِŲØَŲ§ŲÆَŲ©ِ Ų§ŁŁَّŁِ
"Mengeluarkan para hamba dari
penyembahan terhadap hamba menuju penyembahan kepada Allah".
"Ini
juga bagus", tutur Rustum seraya berkata, "Bagaimana
menurut kalian jika kami masuk ke dalam agama kalian, apakah kalian akan pulang
(pergi) dari negeri kami?"
Al-Mughiroh
menjawab, "Demi Allah, ya kami tak akan mendekati negeri kalian,
kecuali untuk dagang dan suatu hajat".
"Ini
juga bagus", tegas Rustum.
Tatkala
Al-Mughiroh -radhiyallahu anhu- keluar dari sisinya, maka Rustum
mengajak para pemimpin kaumnya untuk berunding tentang Islam.
Mereka
amat benci hal itu dan enggan masuk Islam.
Akhirnya, Allah memberikan keburukan dan kehinaan kepada mereka dan sungguh
Allah telah melakukan hal itu.
Beberapa
saat kemudian, Sa'ad -radhiyallahu anhu- mengutus lagi utusan lain
karena permintaan Rustum, yaitu sahabat Rib'iy
bin Amir.
Utusan
ini pun masuk menemui Rustum. Sementara itu mereka telah menghiasi majelis
Rustum dengan bantal-bantal berhias emas dan permadani sutra.
Dia
juga menampakkan permata yaquth, mutiara-mutiara berharga dan perhiasan yang
hebat. Rustum mengenakan mahkota dan perlengkapan yang berharga. Waktu itu, ia
duduk di tahta emas.
Kemudian
masuklah sahabat Rib'iy -radhiyallahu anhu- dengan mengenakan pakaian
yang kasar bersamanya pedang, perisai dengan menunggangi seekor kuda yang
pendek.
Dia
terus mengendarai kudanya sampai ia menginjakkan kudanya pada ujung permadani. Lalu ia turun dari kendaraannya dan menambatnya pada
sebagian bantal-bantal tersebut.
Rib'iy
menghadap sambil menyandang pedang, baju besi dan topi baja pada kepalanya.
Mereka
(pasukan Persia )
berkata, "Ayo letakkan senjatamu!!".
"Sebenarnya
aku tak mau datang kepada kalian. Hanya saja aku datang saat kalian
mengundangku. Jika kalian membiarkan aku demikian, maka aku akan masuk. Tapi
jika tidak, maka aku akan kembali!!"
Rustum
berkata, "Mendekatlah kepadanya".
Lalu
menghadaplah Rib'iy -radhiyallahu anhu- sambil bertelekan pada
tombaknya di atas permadani sehingga robeklah permadani itu.
Mereka
bertanya, "Apa yang menyebabkanmu datang?"
Rib'iy bin Amir menjawab,
Ų§ŁŁَّŁُ
Ų§ŲØْŲŖَŲ¹َŲ«ْŁَŲ§ ŁِŁُŲ®ْŲ±ِŲ¬َ Ł
َŁْ Ų“َŲ§Ų”َ Ł
ِŁْ Ų¹ِŲØَŲ§ŲÆَŲ©ِ Ų§ŁْŲ¹ِŲØَŲ§ŲÆِ Ų„ِŁَŁ Ų¹ِŲØَŲ§ŲÆَŲ©ِ Ų§ŁŁَّŁِ،
ŁَŁ
ِŁْ Ų¶ِŁŁِ Ų§ŁŲÆُّŁْŁَŲ§ Ų„ِŁَŁ Ų³ِŲ¹َŲŖِŁَŲ§، ŁَŁ
ِŁْ Ų¬َŁْŲ±ِ Ų§ŁْŲ£َŲÆْŁَŲ§Łِ Ų„ِŁَŁ Ų¹َŲÆْŁِ
Ų§ŁْŲ„ِŲ³ْŁَŲ§Ł
ِ،
ŁَŲ£َŲ±ْŲ³َŁَŁَŲ§
ŲØِŲÆِŁŁِŁِ Ų„ِŁَŁ Ų®َŁْŁِŁِ ŁِŁَŲÆْŲ¹ُŁَŁُŁ
ْ Ų„ِŁَŁْŁِ، ŁَŁ
َŁْ ŁَŲØِŁَ Ų°َŁِŁَ ŁَŲØِŁْŁَŲ§
Ł
ِŁْŁُ ŁَŲ±َŲ¬َŲ¹ْŁَŲ§ Ų¹َŁْŁُ، ŁَŁ
َŁْ Ų£َŲØَŁ ŁَŲ§ŲŖَŁْŁَŲ§Łُ Ų£َŲØَŲÆًŲ§ ŲَŲŖَّŁ ŁُŁْŲ¶ِŁَ Ų„ِŁَŁ
Ł
َŁْŲ¹ُŁŲÆِ Ų§ŁŁَّŁِ
"Allah telah mengutus kami
untuk mengeluarkan orang-orang Allah kehendaki dari penyembahan kepada hamba,
menuju penyembahan kepada Allah, dan dari kesempitan dunia menuju
kelapangannya, dari kelaliman agama-agama menuju keadilan Islam.
Jadi,
Allah mengirim kami dengan membawa agama-Nya kepada seluruh makhluk agar kami
mengajak mereka kepadanya.
Barangsiapa
yang menerimanya, maka kamipun menerima hal itu darinya dan kami akan pulang
(pergi) darinya.
Barangsiapa
yang enggan (tak mau menerimanya), maka maka kami akan memeranginya
selama-lamanya sampai kami tiba pada sesuatu yang Allah janjikan!!"
"Apa
yang Allah janjikan?" tanya mereka.
Rib'iy
menjawab, "yaitu surga bagi orang yang
mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi orang-orang yang masih tetap hidup".
Rustum
berkata, "Aku telah mendengarkan komentar kalian. Apakah kalian bisa
menangguhkan perang ini sampai kami memikirkannya dan kalian pun
berpikir?"
Rib'iy
berkata, "Ya, boleh. Berapa waktu yang kalian inginkan? Sehari atau dua
hari?!"
"Bukan,
bahkan biarkan kami menyurati dulu para pemikir dan pemimpin kaum kami", kata Rustum.
"Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- tak pernah mencontohkan bagi kami untuk memberi
penangguhan kepada musuh ketika sudah bertemu dalam waktu lebih dari tiga hari.
Ayo,
pikirkan urusanmu dan urusan mereka dan pilihlah salah satu dari tiga perkara
setelah penangguhan itu", tegas
Rib'iy -radhiyallahu anhu-.
Rustum
bertanya, "Apakah engkau adalah pimpinan mereka?"
Rib'iy
menjawab, "Bukan, tapi kaum muslimin ibarat sebuah jasad, orang
rendah diantara mereka memberikan perlindungan bagi orang-orang yang tinggi
diantara mereka".
Kemudian
Rustum rapat bersama dengan para pemimpin kaumnya seraya berkata, "Apakah
kalian pernah melihat yang lebih hebat dan lebih kuat dibanding ucapan lelaki
ini?"
Mereka
menjawab, "Na'udzu billah, kalau
sampai engkau condong kepadanya dan engkau pun mau meninggalkan agamamu
lantaran si anjing ini!! Tidakkah engkau lihat bajunya?!"
"Celaka
kalian, jangan perhatikan pakaian mereka, tapi perhatikanlah pikiran, ucapan
dan jalan hidupnya!! Sesungguhnya orang-orang Arab tidak terlalu memperhatikan
soal pakaian dan makanan, namun mereka amat menjaga harkat dan martabat!!",
tegas Rustum
Inilah
percapakan dari para pahlawan Islam yang menunjukkan tentang kehebatan dan
keperkasaan mereka.
Jumlah
mereka kala itu hanya berkisar tujuh sampai delapan ribu orang, sementara
pasukan Persia
30 ribu orang.
Namun
karena pertolongan Allah dan semangat mereka yang pantang menyerah. Akhirnya,
berhasil menumbangkan pasukan Persia di Perang Qodisiyyah dan setelah itu berhasil
merebut Persia .
Alhamdulillah ala ni'matil Islam.
|
Ibrah dan Renungan dari Balik
Kisah ini:
|
&
Di
dalamnya terdapat keterangan tentang keberanian para sahabat, khususnya
utusan yang datang dengan seorang diri.
&
Para
sahabat adalah orang-orang yang tidak terlalu memandang penampilan lahiriah.
Karenanya, Rib'iy -radhiyallahu anhu- datang dengan pakaian
paling seerhana.
&
Seorang
muslim tak boleh menampakkan kerendahan dan kehinaan di hadapan kaum kafir.
&
Kemewahan
duniawi tidaklah memukau para sahabat,
sehingga mereka harus mengalah dengan bayaran. Bahkan mereka menolaknya!!
&
Di
saat perang disunnahkan mendakwahi kaum kafir agar masuk Islam sebelum mereka
diperangi. Tapi ini bagi mereka yang belum mengenal Islam dan belum sampai
dakwah kepadanya.
Al-Imam
Asy-Syafi'iy -rahimahullah- berkata,
"Tidak boleh memerangi orang kafir yang belum sampai kepadanya dakwah
sampai mereka didakwahi. Adapun mereka yang sudah sampai dakwah kepadanya, maka
boleh menyerangnya, tanpa didakwahi. Inilah kosekuensi hadits-hadits yang
ada". [Lihat Fathul Bari
(7/596-597) karya Ibnu Hajar]
&
Kuatnya
para sahabat memegang teguh sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
sampai pun di saat perang dan beliau telah wafat.

Komentar
Posting Komentar