Beginilah Cara Para Sahabat Meluruskan dan Merapatkan Shaff sebelum Memulai Sholat Jama'ah
Beginilah Cara Para Sahabat Meluruskan dan Merapatkan Shaff
sebelum Memulai Sholat Jama'ah
========================================
oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu
Fa'izah -hafizhahullah-
========================================
Dimana-mana
anda akan menemukan shaff kaum muslimin yang tidak karuan saat mereka berdiri
melaksanakan sholat jama'ah di masjid-masjid.
Mayoritas
diantara mereka berdiri seadanya di belakang imam, tanpa memperhatikan tata
cara merapatkan shaff yang benar menurut sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam-.
Belum
lagi imam itu sendiri cuek dan tidak memperhatikan perkara meluruskan dan
merapatkan shaff ini, entah karena ia tidak mengerti caranya, atau mengerti,
tapi mereka malas mengingatkan dan mengajari jamaah cara meluruskan shaff dalam
sholat.
Seringkali
kita melihat orang-orang dewasa dengan anak kecil keliru dalam berbaris dan
bershaff dalam sholat. Padahal cara meluruskan shaff dalam sholat amat gampang;
dan insya Allah akan kami paparkan melalui praktik para dan penjelasan para
sahabat -radhiyallahu anhum-
Para
pembaca yang budiman, meluruskan dan merapatkan shaff adalah perkara yang amat
diperhatikan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan beliau
perintahkan hal itu, dan beliau tidak ingin memulai sholatnya, sebelum shaff
jamaah benar-benar telah lurus dan rapat.
Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bersabda,
أَقِيمُوا
الصُّفُوفَ فَإِنِّي أَرَاكُمْ خَلْفَ ظَهْرِي
"Luruskanlah
shaff-shaff (barisan). Karena, sesungguhnya aku melihat kalian di balik
punggungku". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(718) dan Muslim dalam Shohih-nya (434)]
Meluruskan
shaff tak akan sempurna, kecuali jika setiap jama'ah merapatkan shaff sampai
tak ada celah antara seseorang dengan saudaranya yang ada di sampingnya.
Anas
-radhiyallahu anhu- berkata,
"Sholat
telah diiqomati, lalu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pun
menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda,
أَقِيمُوا
صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي
"Luruskanlah
shaff-shaff kalian dan saling
merapatlah. Karena, sesungguhnya aku melihat kalian di balik
punggungku".[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(719) dan An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (no. 814 & 845)]
Sebagian
orang tidak mengerti tentang tata cara merapatkan shaff (barisan) dalam sholat.
Nah,
kali ini sahabat An-Nu'man bin Basyir -radhiyallahu anhu- akan
menggambarkan kepada anda cara merapatkan dan meluruskan shaff yang benar.
An-Nu'man
bin Basyir -radhiyallahu anhu- berkata
أَقْبَلَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ «
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ». ثَلاَثًا، «وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ
لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ ».
قَالَ
فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ
بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ»
"Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- pernah menghadapkan wajahnya kepada manusia
seraya bersabda, "Tegakkanlah shaff-shaff kalian (sebanyak tiga kali).
Demi Allah, kalian sungguh akan meluruskan shaff ataukah benar-benar Allah akan
mempertentangkan di antara hati kalian".
Dia
(An-Nu'man) berkata, "Lalu aku pun melihat seseorang menempelkan
bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya dan mata kakinya
dengan mata kaki temannya". [HR.
Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya secara mu'allaq dan Abu Dawud
dalam Sunan-nya (no. 662)]
Perhatikanlah
metode merapatkan shaff ini. Itulah yang benar dan ikutilah dengan cara menempelkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki saat berdiri,
ataukah menempelkan lutut dengan lutut saat duduk dalam sholat.
Jika
metode ini, kita tidak terapkan dalam merapatkan shaff, maka setan akan
mengganggu sholat kita sehingga kita pun tidak khusyuk dalam sholat. Bahkan
mendapatkan ancaman dari Allah -Azza wa Jalla-.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
أَقِيمُوا
الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا
بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ لَمْ يَقُلْ عِيسَى بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا
تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ
قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ
"Luruskanlah
shaff, sejajarkanlah bahu-bahu, tutuplah celah-celah, lembutilah tangan
saudara-saudaramu, dan jangan membiarkan celah-celah bagi setan. Barangsiapa
yang menyambung shaff, maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya, -pen.)
dan barangsiapa yang memutuskan shaff, maka Allah akan memutuskannya (dari
rahmat-Nya, -pen.)". [HR. Abu Dawud dalam
As-Sunan (no. 666) dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro
(3/101/no. 5391). Hadits ini dinilai shohih oleh Al-Arna'uth dalam Takhrij
Al-Musnad (no. 5724)]
Jadi,
merapatkan shaff dalam sholat bukanlah perkara remeh. Sebab, ia merupakan
penutup bagi kekurangan yang terjadi dalam sholat kita.
Orang yang tidak meluruskan dan merapatkan shaffnya diancam akan
diputuskan dari rahmat Allah.
Tentunya
ancaman seperti ini tak akan muncul, kecuali karena memutuskan shaff adalah
dosa dan maksiat.
Lantaran
itu, berhati-hatilah jangan sampai anda bermaksiat dalam sholat dengan sebab
memutuskan shaff (barisan) dalam sholat!!!
Ibrah
dan Renungan
Di
dalam hadits-hadits ini terdapat beberapa faedah yang bisa kita petik sehingga
menjadi ibrah (pelajaran) dan bahan renungan bagi kita semua. Diantara
faedah-faedah itu :
1. Wajibnya menegakkan, meluruskan dan saling merapatkan
shaff dalam sholat. Karena, adanya perintah dalam hadits-hadits itu untuk hal
tersebut. Sementara itu, hukum asal perintah adalah memberikan faedah hukum
wajib hal itu.
2. Meluruskan shaff adalah dengan cara menempelkan bahu
dengan bahu, dan pinggir telapak kaki dengan pinggir telapak orang lain. Sebab,
inilah yang dilakukan oleh para sahabat -radhiyallahu anhu- ketika mereka
diperintahkan meluruskan shaff dan merapatkannya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy
-rahimahullah- berkata, "Pernyataan An-Nu'man ini memberikan
faedah bahwa perbuatan tersebut terjadi di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam-. Dengan ini, sempurnalah berhujjah dengan hadits itu dalam menjelaskan
maksud dari menegakkan shaff dan meluruskannya". [Lihat Fath Al-Bari Syarh Shohih
Al-Bukhoriy (2/211)]
3. Di dalam hadits pertama terdapat mukjizat yang terang
bagi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, yaitu beliau bisa melihat orang yang
ada di belakangnya. Namun seyogianya di ketahui bahwa penglihatan seperti
itu khusus hanya dalam kondisi beliau sholat. Sebab, tak ada di dalam
sunnah (hadits) bahwa beliau juga mampu melihat seperti itu di luar sholat. Wallahu
A'lam.
4. Di dalam hadits-hadits di atas terdapat dalil yang
gamblang tentang suatu perkara yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.
Walapun hal itu menjadi perkara yang dikenal dalam ilmu psikologi, yaitu bahwa
rusaknya lahiriah memberikan pengaruh bagi rusaknya batin atau sebaliknya.
5. Langsungnya imam ber-takbiratul ihram ketika tukang adzan
selesai iqomat merupakan bid'ah!! Sebab hal itu menyelisihi sunnah yang
shohihah sebagaimana yang ditunjukkan oleh –hadits-hadits di atas, utamanya
hadits pertama!!!
Karena hadits-hadits itu memberikan faedah bahwa bagi
imam ada sebuah kewajiban usai iqomat,
kewajiban yang harus ia laksanakan, yaitu memerintahkan manusia (jama'ah) untuk
meluruskan shaff (barisan) dengan mengingatkan mereka tentang hal itu. Sebab ia
akan ditanyai tentang jama'ahnya nanti pada hari kiamat. [Lihat Silsilah
Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/1/72-74) oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albaniy, cet. Maktabah Al-Ma'arif]
6. Di dalam hadits ini terdapat keterangan kuatnya semangat
para sahabat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam mengamalkan
sunnah dan berpegang teguh dengannya.
Tidak heran bila Allah memuji mereka di dalam Al-Qur'an
atas iman dan amal sholih yang mereka lakukan.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ
الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [التوبة : 100]
"Orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan
Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka
kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar". (QS. At-Taubah : 100)
Keutamaan ini
tentunya tidaklah mereka raih, kecuali karena iman dan amal sholih mereka yang
dibangun di atas ilmu!!
Inilah beberapa faedah yang penting kita petik. Semoga
faedah-faedah ini dapat kita amalkan dan bermanfaat bagi dunia dan akhirat
kita.

Komentar
Posting Komentar