Riwayat Perjalanan Matahari yang Tercecer dari Catatan Sejarah Manusia
Riwayat Perjalanan Matahari yang Tercecer
dari Catatan Sejarah Manusia
oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah,
Lc. -hafizhahullah-
Diantara
riwayat dan sejarah matahari yang sudah dilupakan oleh kalangan sejarawan
dunia, kisah seorang nabi yang sholih, yaitu Nabi Yusya' bin Nun -Shallallahu
alaihi wa sallam-.
Disebutkan
riwayat dan sejarahnya oleh Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-
sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhoriy dalam kitab Shohih-nya
dan Imam Muslim juga dalam kitab Shohih-nya bahwa ketika Nabi
Yusya' hendak melakukan jihad melawan kaum kafir yang menguasai Baitul Maqdis,
maka ia memberikan nasihat kepada semua pasukannya.
Kemudian
beliau pun melakukan perjalanan dalam memerangi kaum kafir. Ketika beliau
melihat perang belum usai, sedang matahari hampir tenggelam, maka ia pun
memohon kepada Allah agar matahari ditahan.
Akhirnya, Allah -Azza wa Jalla- menahan matahari sampai Nabi
Yusya' menyelasaikan perang dan mengalahkan kaum kafir.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ
الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ لِبَشَرٍ إِلَّا لِيُوشَعَ لَيَالِيَ سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ
"Sesungguhnya
matahari tak pernah ditahan untuk seorang manusia pun, selain untuk Nabi Yusya'
di hari beliau melakukan perjalanan menuju Baitul Maqdis". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/325) dari
Abu Hurairah. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(no. 202)]
Ahli
Hadits Negeri Yordania, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata,
و فيه أن الشمس لم تحبس لأحد إلا ليوشع عليه السلام ، ففيه
إشارة إلى ضعف ما يروى أنه وقع ذلك لغيره
"Di
dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa matahari tak pernah ditahan (oleh
Allah), selain untuk Yusya' –alaihis salam-. Di dalam hadits ini terdapat
isyarat tentang lemahnya sesuatu yang diriwayatkan bahwa hal itu juga bagi
selain beliau". [Lihat As-Silsilah
Ash-Shohihah (no. 202)]
Kisah
Nabi Yusya' bin Nun ini merupakan bukti kuat bahwa banyak di antara sejarah
dunia yang berserakan dan sudah dilupakan oleh manusia.
Kisah-kisah
itu adalah bukti yang menjelaskan kebesaran dan kekuasaan Allah sebagai
satu-satunya sembahan yang haq bagi manusia.
Akan
tetapi karena kebanyakan sejarawan dunia dari kalangan orang jahil dan atheis,
maka merekapun tidak atau enggan menyebutkan kisah-kisah seperti ini.
Sejarah
yang luar biasa, matahari ditahan oleh Allah Sang Maha Pencipta segala sesuatu.
Makhluk yang demikian besar tunduk kepada ketentuan Allah.
Dia-lah
yang mengatur gerakan dan pergeseran matahari. Matahari setiap harinya bersujud
di hadapan Allah demi merendah, meminta izin dan menunggu perintah Allah -Azza
wa Jalla-.
Dari
Abu Dzarr
-radhiyallahu anhu- berkata,
كُنْتُ
مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ عِنْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ
فَقَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ أَتَدْرِي أَيْنَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ
أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ
"Dahulu
aku pernah bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di dalam masjid ketika
terbenamnya matahari seraya bersabda, "Wahai Abu Dzarr, kemanakah matahari
terbenam?" Aku jawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu". Beliau
bersabda, "Sesungguhnya ia (matahari) pergi hingga ia bersujud di bawah
Arsy". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(no. 4802)]
Kemudian
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- membacakan ayat,
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ
الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ [يس : 38]
"Dan matahari berjalan ditempat
peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui". (QS. Yaasin: 38)
Itulah matahari yang berjalan pada tempat peredarannya
pada setiap hari berdasarkan ketentuan Penciptanya. Jika kiamat telah
dekat, maka ia tak diberi izin untuk lanjut, tapi ia akan diperintahkan terbit
dari arah barat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy -rahimahullah- berkata,
((فقد أخبر في هذا الحديث الصحيح بسجود الشمس إذا غربت واستئذانها
وكذلك قال أبو العالية وغيره
قال أبو العالية : "ما في السماء نجم ولا شمس ولا قمر إلا
يقع ساجدا حين يغيب ثم لا ينصرف حتى يؤذن له فيأخذ ذات اليمين حت يرجع إلى مطلعه"،
ومعلوم أن الشمس لا تزال في الفلك كما اخبر الله تعالى بقوله
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
[الأنبياء : 33]
فهي لا تزال تسبح في الفلك وهي تسجد لله وتستأذنه كل ليلة كما
أخبر النبي صلى الله عليه و سلم فهي تسجد سجودا يناسبها وتخضع له وتخشع كما يخضع
ويخشع كل ساجد من الملائكة والجن والإنس)) رسالة في قنوت الأشياء - (ص / 37)
"Sungguh
beliau mengabarkan dalam hadits yang shohih ini tentang bersujudnya matahari
bila terbenam dan (mengabarkan) tentang permintaan izinnya matahari (kepada
Allah). Demikian pula yang dikatakan oleh Abul Aliyah dan selainnya.
Abul
Aliyah berkata, "Tak ada suatu
bintang, matahari, bulan, kecuali ia akan bersimpuh sujud saat ia terbenam,
lalu ia tak akan pergi (berjalan) sampai ia diberi izin. Kemudian ia pun
mengambil arah kanan sampai ia kembali pada peredarannya."
Perkara
yang telah dimaklumi bahwa matahari senantiasa berada dalam garis edarnya
sebagaimana yang Allah kabarkan dalam firman-Nya,
"Dan dialah yang Telah
menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya
itu beredar di dalam garis edarnya".
(QS. Al-Anbiyaa' : 33)
Jadi, matahari itu senantiasa beredar
di dalam garis edarnya. Dia akan selalu bersujud dan meminta izin kepada Allah
pada setiap malam sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam-. Matahari bersujud dengan suatu sujud yang sesuai dengannya,
tunduk kepada-Nya dan menyerah sebagaimana halnya segala sesuatu berupa
malaikat dan jin serta manusia tunduk dan menyerah". [Lihat Risalah fi Qunutil Asy-yaa' (hal.
37)]
Matahari akan senantiasa berjalan pada garis edarnya
sampai waktu yang telah ditetapkan oleh Allah, yaitu ketika waktu kiamat telah
datang dan pintu tobat telah tertutup.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ
حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا رَآهَا النَّاسُ آمَنَ مَنْ عَلَيْهَا
فَذَاكَ حِينَ [لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ]
"Hari kiamat tak akan tegak sampai
matahari terbit dari arah barat. Jika manusia melihatnya (terbit dari barat,-
pent.), maka berimanlah orang-orang yang ada di permukaan bumi. Hal itu
(terjadi) ketika tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri
yang belum beriman sebelum itu". [HR.
Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4635)]
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam
hadits ini mengisyaratkan firman Allah -Azza wa Jalla-,
هَلْ يَنْظُرُونَ
إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ
بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا
إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا
خَيْرًا قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ
[الأنعام : 158]
"Yang mereka nanti-nanti tidak lain
hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau
kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari
datangnya ayat (tanda kiamat) dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman
seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia
(belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: "Tunggulah
olehmu, sesungguhnya kamipun menunggu (pula)". (QS. Al-An'aam : 158)
Al-Imam Abul Faroj Abdur Rohman Ibnul Jauziy -rahimahullah- berkata,
طلوع الشمس من مغربها
آية تعم الكل وتدل على الصانع المقلب للأشياء وقد سبق الوعد بذلك في القرآن فإذا
اضطرهم ذلك إلى التصديق لم يقبل إيمان من يؤمن حينئذ
ولقد زعم الملحدون
وأهل النجوم أن ذلك لا يكون فيبين كذبهم ويظهر القدرة على ما طلبه الخليل من نمرود
بقوله : ((فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ)) [البقرة/258]
"Terbitnya matahari dari arah barat,
sebuah tanda (terjadinya kiamat) yang akan mengenai setiap orang, dan tanda itu
menunjukkan Sang Maha Pencipta Yang Membolak-balikkan segala sesuatu. Sungguh
telah berlalu janji tentang hal itu di dalam Al-Qur'an. Jika mereka (manusia)
didesak oleh hal itu (munculnya matahari dari barat) untuk membenarkan, maka
keimanan orang yang mau beriman tidak lagi diterima pada hari itu.
"Maka terbitkanlah dia dari
barat," (QS. Al-Baqoroh : 258)." [Lihat
Kasyf Al-Musykil (1/978), cet. Dar Al-Wathon, 1418 H]
Para pembaca yang budiman, hadits di atas menjelaskan bahwa kiamat tak akan tegak
sampai ia akan terbit dari arah barat.
Ini merupakan bantahan
bagi orang-orang yang meramalkan bahwa kiamat akan terjadi tanggal 21 Desember
2012 M.
Alhamdulillah, kita sudah melalui tanggal tersebut, sedang kiamat juga
belum terjadi, karena memang matahari sampai saat ini juga belum terbit dari
arah barat!!
Matahari adalah makhluk besar di alam semesta. Lantaran,
kebesaran bentuk matahari, ada sebagian diantara manusia yang
mempertuhankannya, seperti orang-orang Saba ',
Jepang, Babilonia, dan bangsa Mesir Kuno (kaumnya Fir'aun).
Padahal matahari adalah makhluk yang lemah di sisi Allah
-Azza wa Jalla-. Tak layak untuk disembah, sebab ia juga butuh
pertolongan dan inayah Allah -Azza wa Jalla-.
Amat mengherankan bila ada
orang-orang yang menyembahnya.
Sungguh lemah akal mereka!!
Allah -Tabaroka wa Ta'ala- berfirman dalam
membantah para penyembah matahari,
وَمِنْ آيَاتِهِ
اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا
لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ
تَعْبُدُونَ [فصلت : 37]
"Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah
matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika hanya Dia
(Allah) saja yang kalian hendak sembah". (QS. Fashshilat : 37)
Jadi, inilah riwayat dan sejarah perjalanan
matahari. Dia diciptakan oleh Allah -Azza
wa Jalla- sebagai makhluk yang akan menjadi tanda kebesaran dan kekuasaan
Allah -Ta'ala- serta menjadi tanda tegaknya hari kiamat. Dia berada di
bawah pengaturan Allah, sebab ia adalah ciptaannya. Dia-lah yang yang
mengaturnya sekehendak-Nya!!

Komentar
Posting Komentar