Hukum Orang yang Lupa Mencuci Tangan Kirinya sampai ke Siku
Hukum Orang yang Lupa Mencuci Tangan
Kirinya sampai ke Siku
Penulis :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
_hafizhahullah_
Mencuci tangan dari ujung jari-jari
sampai ke siku adalah salah satu kewajiban dalam berwudhu’. Kapan kita
tinggalkan, maka wudhu’ kita akan batal dan tidak teranggap!
Lalu bagaimana dengan kasus yang
dialami oleh sebagian orang; ia lupa mencuci
tangan kirinya?
Pertanyaan ini pernah dijawab oleh
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin _rahimahullah_ :
"الجواب : إذا توضأ الإنسان ونسي عضواً من
الأعضاء، فإن ذكر ذلك قريباً، فإنه يغسله وما بعده، مثال ذلك : شخص توضأ ونسي أن
يغسل يده اليسرى فغسل يده اليمنى، ثم مسح رأسه وأذنيه، ثم غسل رجليه،
ولما انتهى من غسل الرجلين، ذكر أنه لم يغسل اليد
اليسرى، فنقول له: اغسل اليد اليسرى، وامسح الرأس والأذنين، واغسل الرجلين،
وإنما أوجبنا عليه إعادة مسح الرأس والأذنين، وغسل
الرجلين، لأجل الترتيب، فإن الوضوء يجب أن يكون مرتباً كما رتبه الله عز وجل،
فقال : {فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ
إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى
الْكَعْبَيْنِ} [المائدة: 6] .____
أما إن كان لم يذكر إلا بعد مدة طويلة، فإنه يعيد
الوضوء من أصله، مثل أن يتوضأ شخص وينسى غسل يده اليسرى ثم ينتهي من وضوئه ويذهب
حتى يمضي مدة طويلة، ثم ذكر أنه لم يغسل اليد اليسرى، فإنه يجب عليه أن يعيد
الوضوء من أوله لفوات الموالاة، لأن الموالاة بين أعضاء الوضوء، شرط لصحته، ولكن
ليعلم أنه لو كان شكاً، يعني بعد أن انتهى من الوضوء شك هل غسل يده اليسرى أو
اليمنى، أو هل تمضمض أو استنشق، فإنه لا يلتفت إلى هذا الشك بل يستمر ويصلي ولا
حرج عليه، وذلك لأن الشك في العبادات بعد الفراغ منها لا يعتبر، لأننا لو قلنا
باعتباره لانفتح على الناس باب الوساوس، وصار كل إنسان يشك في عبادته، فمن رحمة
الله -عز وجل- أن ما كان ما الشك بعد الفراغ من العبادة فإنه لا يلتفت إليه ولا
يهتم به الإنسان إلا إذا تيقن الخلل فإنه يجب عليه تداركه. والله أعلم." اهـ
من فتاوى أركان الإسلام (ص: 219) (رقم : 139)
“Jika seseorang telah berwudhu’, dan ia
lupa satu anggota di antara anggota-anggota wudhu’-nya; jika ia mengingatnya
dalam waktu dekat, maka ia harus mencuci anggota wudhu’ (yang terlupa) tesebut,
dan anggota-anggota wudhu’ setelahnya, misalnya : seseorang telah berwudhu’ dan
ia lupa mencuci tangan kirinya (dari ujung jari-jari sampai ke siku). Ia hanya
mencuci tangan kanannya, lalu mengusap kepala dan kedua telinganya, lalu
mencuci kedua kakinya.
Tatkala ia selesai dari mencuci kedua
kakinya, ia pun ingat bahwa ia belum mencuci tangan kirinya.
Nah, kita katakan kepada orang ini,
“Cucilah tangan kirimu, dan usaplah
kepala dan kedua telingamu, serta cucilah kedua kakimu.”
Kita
mewajibkan
baginya untuk mengulangi pengusapan kepala dan kedua telinganya, serta pencucian
kedua kakinya demi “tartib” (mengurutkan). Karena, wudhu’ itu wajib berurutan
sebagaimana Allah –azza wa jalla- mengurutkannya.
Lantara itu, Allah –azza wa jalla- berfirman,
{فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ
إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى
الْكَعْبَيْنِ} [المائدة: 6] .
“…maka cucilah wajah kalian dan tangan
kalian sampai ke siku, dan usaplahlah kepala kalian, dan (cucilah) kaki kalian
sampai ke kedua mata kaki.” (QS. Al-Maa’idah : 6)
Adapun jika ia tidak mengingat hal
itu (yakni, pencucian tangan kiri), kecuali setelah selang waktu yang lama,
maka ia ulang wudhu’-nya dari asalnya (yakni, dari awal), misalnya : ada orang
yang lupa mencuci tangan kirinya, lalu ia selesai dari wudhu’-nya, dan ia pun
pergi sampai berlalu selang waktu yang lama. Kemudian ia ingat bahwa ia belum
mencuci tangan kirinya, maka wajib baginya mengulang wudhu’-nya dari awal,
karena luputnya “al-muwaalaat” (beruntunnya satu anggota wudhu’ dengan anggota wudhu’ lainnya).
Karena
keberuntunan di antara anggota-anggota wudhu’ merupakan syarat sahnya wudhu’.
Namun perlu
diketahui bahwa jika hal (terjadi) karena ragu, yakni setelah ia usai berwudhu’,
ia ragu apakah ia telah mencuci tangan kirinya atau tangan kanannya; atau
apakah ia telah berkumur-kumur atau istinsyaq (menghirup air ke hidung)[1],
maka ia tidak perlu menoleh kepada keraguan semacam ini, bahkan ia lanjut saja
dan tunaikan sholat; tidak ada dosa baginya.
Yang demikian
itu karena keraguan dalam ibadah setelah selesai darinya, tidak teranggap.
Sebab, kalau kita menyatakan keraguan itu teranggap, maka akan terbuka pintu
waswas bagi manusia, dan setiap orang akan ragu tentang ibadah-ibadahnya.
Lantaran itu, di
antara Allah –azza wa jalla- bahwa jika keraguan itu terjadi setelah selesai
dari ibadah, maka seseorang jangan menoleh kepada keraguan tersebut dan tidak
perlu memedulikannya, kecuali jika yakin adanya kerusakan (pada ibadahnya),
maka wajib baginya memperbaiki hal itu.”
Sumber : Fataawa
Arkan Al-Islam (hlm. 219) (no. 139)

Komentar
Posting Komentar