Hukum Memakai Gigi Emas
Hukum Memakai Gigi Emas
Di sebagian negara, memakai gigi emas (entah
murni semuanya emas atau disepuh dengan emas), menjadi tren dan kebiasaan di
kalangan mereka.
Lalu apa hukumnya?
Perkara ini pernah ditanyakan kepada Syaikh
Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin _rahimahullah_.
Beliau pun memberikan jawaban seraya berkata,
الجواب : الأسنان الذهبية لا
يجوز تركيبها للرجال إلا لضرورة، لأن الرجل يحرم عليه لبس الذهب والتحلي به، وأما
للمرأة فإذا جرت عادة النساء بأن تتحلى بأسنان الذهب فلا حرج عليها في ذلك فلها أن
تكسو أسنانها ذهباً إذا كان هذا مما جرت العادة بالتجمل به، ولم يكن إسرافاً، لقول
النبي صلى الله عليه وسلم: ((أحل الذهب والحرير لإناث أمتي))
وإذا ماتت المرأة في هذه
الحالة أو مات الرجل وعليه سن ذهب قد لبسه للضرورة فإنه يخلع إلا إذا خشي المثلة،
يعني خشي أن تتمزق اللثة فإنه يبقى، وذلك أن الذهب يعتبر من المال، والمال يرثه
الورثة من بعد الميت فإبقائه في الميت ودفنه إضاعة للمال." اهـ من فتاوى
أركان الإسلام (ص: 210) (رقم : 125)
“Gigi emas dipasangkan untuk kaum
laki-laki, kecuali karena darurat. Karena, kaum haram baginya memakai emas dan
berhias diri dengannya.
Adapun bagi kaum wanita, jika berlaku
kebiasaan kaum wanita (di negerinya) mereka berhiasa dengan gigi emas, maka
tidak dosa baginya dalam hal itu. Boleh baginya menyepuh giginya dengan emas,
bila kebiasaan berhias dengan emas memang (di negerinya), dan hal itu bukan
pemborosan, berdasarkan sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-,
((أحل الذهب
والحرير لإناث أمتي))[1]
Jika si wanita meninggal dalam
kondisi ini (yakni, memakai gigi emas), atau seorang laki-laki meninggal,
sedang ia memakai gigi emas yang gunakan karena darurat, maka gigi emas itu
dilepas,
kecuali bila dikhawatirkan terjadi cacat,
yakni dikhawatirkan gusinya akan sobek, maka gigi itu dibiarkan.
Yang demikian itu (dilakukan), karena
emas dianggap sebagai harta. Nah, sementara harta itu diwarisi oleh para ahli
waris sepeninggal orang yang mati.
Jadi, membiarkan emas itu pada mayat
dan menguburnya (bersama si mayat) merupakan penyianyiaan harta.”
Sumber : Fatawa Arkan Al-Islam (hlm.
210) (no. 125)
[1] HR.
At-Tirmidziy (1720) dan An-Nasa’iy (5148). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’
(277)
Komentar
Posting Komentar