Hadits Lemah tentang Doa Sebelum Makan

 


Hadits Lemah tentang Doa Sebelum Makan


Penulis :

Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. 

_hafizhahullah_

 

Di sana, terdapat sebuah hadits yang masyhur di lisan para pengajar Al-Qur’an, terkhusus di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang menjadi pelajaran tambahan pada bagian doa-doa hafalan para santri. Hanya saja doa tersebut ternyata derajatnya dho’if jiddan ‘lemah sekali’.

 

Doa itu terkait dengan doa sebelum makan. Adapun lafazh doa sebelum makan yang masyhur tersebut, maka berikut kami nukilkan :

 

Dari Abdullah bin Amr –radhiyallahu anhu-, dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- beliau bersabda (berdoa) saat hendak makan ketika makanan telah disuguhkan kepada beliau,

«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، بِسْمِ اللَّهِ»

“Ya Allah, berkahilah bagi kami pada sesuatu yang Engkau berikan kepada kami, dan lindungilah kami dari siksa neraka, bismillah.” [HR. Ath-Thobroniy dalam Ad-Du’a’ (no. 888), Ibnus Sunniy dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah (no. 457), Ibnu Adi dalam Al-Kamil fi Dhu’afa’ Ar-Rijal (7/428)]

 

Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Abi Az-Zuwaizi’ah Salim Al-Azdiy Al-Adzru’iy. Rawi ini bermasalah di kalangan para ulama hadits dan al-jarh wat ta’dil.

 

Ibnu Abi Hatim –rahimahullah- berkata,

"قَالَ أَبِي: هَذَا حديثٌ لَيْسَ بِشَيْءٍ، وابنُ أَبِي الزُّعَيْزِعَة لا يُشْتَغَلُ بِهِ؛ منكرُ الْحَدِيثِ." اهـ من علل الحديث لابن أبي حاتم (4/ 401)

“Hadits ini tidak ada nilainya. Ibnu Abi Az-Zuwaizi’ah tidak perlu disibuki, seorang munkar haditsnya.” [Lihat Ilal Al-Hadits (4/401)]

 

Abu Ahmad Ibnu Adiy –rahimahullah- berkata,

"منكر الحديث جدا، لا يكتب حديثه." اهـ من الكامل في ضعفاء الرجال (7/ 426)

“Amat munkar haditsnya. Haditsnya tidak perlu ditulis.” [Lihat Al-Kamil (7/426)]

 

Al-Imam Al-Bukhoriy –rahimahullah- berkata,

"مُنكَرُ الحديثِ جِدًّا." اهـ من التاريخ الكبير للبخاري بحواشي محمود خليل (1/ 88)

“Amat munkar haditsnya”. [Lihat At-Tarikh Al-Kabir (1/88)]

 

Ibnu Hibban Al-Bustiy –rahimahullah- berkata,

دَجَّالٌ مِنَ الدَّجَاجِلَةِ

 “(Dia) adalah seorang dajjal di antara dajjal-dajjal”. [Lihat Lisan Al-Mizan (7/137) (no. 6786)]

 

Maksudnya ia adalah seorang pendusta. Sementara hadits seorang pendusta adalah dho’if jiddan (amat lemah), bahkan maudhu’ (palsu)!

 

Kesimpulan :

 

Hadits ini adalah hadits dho’if jiddan, karena rawinya yang bernama Muhammad ibnu Abiz Zuwaizi’ah.

 

Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if jiddan ‘lemah sekali’ dalam kitabnya yang berjudul “Ujalah Ar-Roghib Al-Mutamanniy” (2/522).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Buah Pahit Peristiwa Demonstrasi dan Aksi Reformasi Tahun 1998 agar Menjadi Pelajaran Berharga bagi Mereka yang Gemar Berdemonstrasi (Renungan Bermakna sebelum 4 November 2016 M)

Doa-doa Penting di Musim Hujan

Bantahan Khusus untuk Ustadz Adi Hidayat yang Menganggap Zakat Fitri dengan Beras tidak Memiliki Dasar dalam Agama