Larangan Mengangkat Imam Besar dan Membai'atnya, saat Adanya Pemimpin Resmi dalam Negara
Larangan Mengangkat Imam Besar dan
Membai'atnya, saat Adanya Pemimpin Resmi dalam Negara
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Belakangan
ini sebuah kekhawatiran dalam hati, saat membaca, melihat dan mendengar berita
bahwa ada sebagian jamaah mengangkat seorang "IMAM BESAR"[1] bagi kaum muslimin di negeri ini, lalu si imam besar ini
pun dibai'at. Padahal pemimpin tertinggi negara ini ada dan dia adalah seorang
muslim!
Ini
merupakan sebuah bentuk pemberontakan dan pembangkangan bagi pemerintah yang
sah dan menjadi sebab lahirnya dualisme kepemimpinan.
Jika
muncul dualisme kepemimpinan bagi kaum muslimin, maka akan muncul berikutnya berbagai
macam kerusakan yang akan timbul dengan munculnya fenomena ini.
Kapan ada terjadi dualisme
kepemimpinan, maka akan muncul banyak keributan dan kerusakan, bahkan boleh
jadi perang besar.
Lantas
apa pandangan ulama-ulama besar tentang realita ini?
Sebagai
jawaban, berikut kami nukilkan sejumlah fatwa dari ulama ahlussunnah waljamaah
yang telah dikenal dunia dan menjadi rujukan mereka dalam meminta fatwa.
Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-
|
Pertanyaan
:
س : بعض الفرق المعاصرة تعقد البيعة
لأمرائها الذين يختارونهم من أنفسهم ، ويرون وجوب السمع والطاعة لهم،
وعدم نقض بيعتهم ، وهم تحت ولاة الأمراء
الشرعيين الذين بايعهم عموم المسلمين . هل يجوز ذلك ؟ أي بمعنى أن يكون في عنق
الفرد أكثر من بيعة وما مدى صحة هذه البيعات ؟
Sebagian kelompok-kelompok masa kini melakukan
baiat kepada pemimpin-pemimpin kelompoknya (organisasi, yayasan, ormas, atau
perkumpulannya,-pent.) yang mereka pilih dari kalangan mereka sendiri dan
mereka memandang wajibnya mendengar dan taat kepada mereka (para pemimpin
tersebut) dan tidak bolehnya membatalkan baiat.
Sementara itu mereka di bawah kekuasaan
pemerintah yang syar'i yang telah dibai'at oleh seluruh kaum muslimin.
Nah, apakah boleh hal tersebut, maksudnya,
(bolehkah) di leher seseorang ada beberapa baiat? Sejauh manakah kebenaran hal
ini?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-
menjawab,
ج : هذه البيعة باطلة ولا يجوز فعلها ؛
لأنها تفضي إلى شق العصا ، ووجود الفتن الكثيرة ، والخروج على ولاة الأمور بغير
وجه شرعي . وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : « أوصيكم بتقوى الله
والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ،
فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي ، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ،
وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة »
وصح عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال : «
على المرء السمع والطاعة فيما أحب وكره ، ما لم يؤمر بمعصية الله ، فإن
أمر
بمعصية الله فلا سمع ولا طاعة »
وقال صلى الله عليه وسلم : « إنما
الطاعة في المعروف »
وقال صلى الله عليه وسلم : « من رأى من
أمره شيئا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يدا من طاعة »
والأحاديث في ذلك كثيرة جدا ، كلها دالة
على وجوب السمع والطاعة لولاة الأمر في المعروف ، وعدم جواز الخروج عليهم ، إلا أن
يأتوا كفرا بواحا عند الخارجين عليهم فيه من الله برهان .
ولا شك أن وجود البيعة لبعض الناس يفضي
إلى شق العصا ، والخروج على ولي الأمر العام فوجب تركه ، وحرم فعله ، ثم إنه يجب
على من رأى من أميره كفرا بواحا أن يناصحه حتى يدع ذلك ، ولا يجوز الخروج عليه ،
إذا كان الخروج يترتب عليه شرا أكثر ؛ لأن المنكر لا يزال بأنكر منه ، كما نص على
ذلك أهل العلم رحمهم الله ، كشيخ الإسلام ابن تيمية ، والعلامة ابن القيم رحمة
الله عليهما ، والله ولي التوفيق .
"Ini adalah baiat yang batil dan tidak
boleh dilakukan, karena akan mengantarkan kepada perpecahan dan adanya fitnah-fitnah
yang banyak, serta pemberontakan kepada pemerintah, tanpa ada alasan yang
syar'i.
Sungguh telah shohih dari Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bahwasanya beliau
bersabda,
"Aku wasiatkan kepada kalian untuk
(selalu) bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemerintah),
walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak sahaya. Karena,
sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup (lama), maka dia akan
melihat perselisihan yang banyak.
Karena itu, berpegang teguhlah dengan
sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin setelahku. Berpegang teguhlah
dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan waspadalah kalian terhadap
perkara-perkara yang baru (dalam urusan agama), karena setiap perkara baru
dalam agama adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." [2]
Telah shohih dari Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
"Wajib bagi seorang untuk mendengar dan
taat kepada pemerintahnya dalam perkara yang dia sukai dan dia benci, selama
dia tidak diperintahkan untuk melakukan suatu maksiat kepada Allah. kalau dia diperintahkan
untuk mengerjakan suatu maksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat kepadanya."[3]
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
"Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma'ruf."[4]
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- juga
bersabda,
"Barang siapa yang melihat dari amir-nya (pemerintahnya)
sesuatu berupa maksiat, maka hendaknya dia membenci sesuatu yang dia lakukan
berupa maksiat kepada Allah, dan jangan sekali-kali dia mencabut tangan
ketaatan kepadanya."[5]
Hadits-hadits dalam perkara itu, sangatlah
banyak. Semuanya menunjukkan tentang wajibnya mendengar dan taat kepada pemerintah
dalam perkara yang ma'ruf, dan tidak bolehnya melakukan pemberontakan
kepada mereka, kecuali kalau mereka (pemerintah) melakukan kekafiran yang nyata
di sisi orang-orang yang akan melakukan pemberontakan itu, sedang di dalam
perkara itu dia memiliki keterangan dari Allah (yakni, hujjah tentang
kekafirannya).
Tidak diragukan lagi bahwa adanya bai'at kepada
sebagian orang, itu akan mengantarkan kepada perpecahan dan pemberontakan
melawan pemerintah tertinggi.
Karena itu, wajib meninggalkan hal itu dan haram
melakukannya.
Kemudian, sesungguhnya wajib bagi setiap orang
yang melihat dari pemerintahnya suatu kekafiran yang nyata untuk memberikan nasehat
kepadanya,
sehingga dia (pemerintah) meninggalkan hal itu.
Tidak boleh melakukan pemberontakan kepada
pemerentah (yang sudah nyata kekafirannya, pent.), apabila pemberontakan
tersebut akan melahirkan keburukan yang lebih besar.
Karena kemungkaran tidak boleh dihilangkan
dengan sesuatu yang lebih mungkar darinya, sebagaimana hal itu ditetapkan oleh para ulama
rahimahumullah, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Al-Allamah Ibnul Qoyyim
-rahmatullahi alaihima-
Hanya Allah yang memberikan Taufik."
Sumber Fatwa : Majmu' Fatawa wa
Rosa'il Fadhilah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28/250-253)
Fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albaniy
-rahimahullah-
|
Pertanyaan:
شيخ،
ما حكم البيعة العامة التي تأخذها بعض الجماعات على المنتمين إليها وما حكم البيعة
الخاصة التي تأخذ أيضا بعض الجماعات على الجهاد في سبيل الله زعموا والقيام
بعمليات الاغتيالات وغير ذلك بدعوى إرادة إقامة حكم الله في الأرض وغير ذلك ؟
Syaikh, apa hukumnya baiat umum yang diambil
oleh sebagian kelompok-kelompok atas orang-orang yang bergabung kepada mereka,
dan apa hukumnya baiat khusus yang diambil juga oleh sebagian kelompok atas
perkara jihad dijalan Allah. sebagaimana yang mereka klaim; serta apa hukum
melakukan pembunuhan rahasia (terhadap pemerintah atau aparat, pent.) dan
lainnya, dengan alasan ingin mendirikan menegakkan hukum Allah di permukaan
bumi dan lainnya?"
Jawaban Syaikh Al-Albaniy :
أما
مبايعة حزب من الأحزاب ، لفرد لرئيس لهم أو جماعة من الجماعات لرئيسهم وهكذا فهذا
في الواقع من البدع العصرية التي فشت في الزمن الحاضر ، وذلك بلاشك مما يثير فتنا
كثيرة جدا بين المسلمين لأن كل جماعة تجد نفسها وقد أخذت برهبة البيعة أن تلتزم
الخط الذي يمشي فيه حزبه فهذا المبايع له الأمر والنهي كما لو كان خليفة المسلمين
، وهناك مبايع آخر وله خط آخر وهكذا تتباعد الجماعات بعضها عن بعض بسبب هذه
البيعات العديدة المختلفة ،
"Adapun baiat kelompok-kelompok (jamaah
atau organisasi) kepada pemimpin mereka ataukah sebuah jamaah diantara
jama'ah-jama'ah kepada pemimpin mereka dan lain sebagainya, maka perkara ini
menurut realitanya termasuk bid'ah-bid'ah masa kini yang tersebar pada zaman
sekarang.
Perkara seperti itu tanpa diragukan lagi
termasuk perkara yang akan mengobarkan fitnah-fitnah (musibah) yang
banyak sekali di antara kaum muslimin.
Karena, setiap jamaah mendapati dirinya (yang
berhak dibai'at) dan sungguh jamaah itu beberapa saat (kemudian) mengambil
baiat agar mereka (anggota jamaah) berpegang kuat pada rencana yang hizb
(anggota-anggotanya) akan berjalan padanya.
(Pemimpin jamaah) yang dibai'at ini, memiliki
perintah dan larangan sebagaimana halnya andaikan dia menjadi seorang khalifah bagi
kaum muslimin. Sementara disana ada juga pemimpin (bagi jamaah lain) yang di
baiat dan dia juga memiliki rencana yang lain.
Demikianlah halnya jama'ah-jama'ah itu saling
menjauh antara satu dengan lainnya, disebabkan adanya bai'at-bai'at yang ber
bilang lagi beragam ini."
Sumber Fatwa : http://bit.ly/2jv6IwC
Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih
Al-Utsaimin -rahimahullah-
|
Pertanyaan,
السؤال : فضيلة الشيخ : ما حكم البيعة
التي تكون في بعض الجماعات ؟
"Syaikh
yang mulia, apa hukum bai'at yang ada sebagian jama'ah-jama'ah?"
الجواب
: البيعة التي تكون في بعض الجماعات بيعة منكرة شاذة , لأنها تتضمن أن الإنسان
يجعل لنفسه إمامين وسلطانين الإمام الأعظم الذي هو على جميع البلاد , والإمام الذي
بايعه ,
وتفضي
أيضا ً إلى شر بالخروج على الأئمة الذي يحصل به من سفك الدماء وإتلاف الأموال ما
لا يعلمه إلا الله ,
“Bai’at yang terdapat pada
jamaah-jamaah merupakan bai’at yang ganjil dan mungkar. Di dalamnya terkandung
makna bahwa seseorang menjadikan untuk dirinya dua imam (pemimpin) dan dua
penguasa : (pertama) imam tertinggi yang merupakan pemimpin yang menguasai
seluruh negeri, dan (kedua) imam yang dibai’atnya.
Juga
akan mengantarkan kepada keburukan, dengan keluar ia dari ketaatan kepada para
penguasa, yang dapat menyebabkan pertumpahan darah dan musnahnya harta benda,
yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.” [Lihat Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, hlm. 188]
Fatwa Syaikh Sholih bin Abdillah
bin Fauzan Al-Fauzan
|
Pertanyaan :
س : البيعة لمن تكون ؟ وهل يجوز أن
يبايع أكثر من واحد ؟
Untuk
siapakah baiat? Bolehkah berbaiat kepada lebih dari seorang (pemimpin)?
ج : البيعة لا تكون إلا لولي أمر
المسلمين، وهذه البيعات المتعددة مبتدعة، وهي من إفرازات الاختلاف، والواجب على
المسلمين الذين هم في بلد واحد وفي مملكة واحدة أن تكون بيعتهم واحدة لإمام واحد،
ولا يجوز المبايعات المتعددة، وإنما هذا من إفرازات تجوز المبايعات من اختلافات
هذا العصر، ومن الجهل بالدين.
وقد نهى الرسول صلى الله عليه وسلم عن
التفرق في البيعة وتعدد البيعة، وقال: ((من جاءكم وأمركم جميع على واحد منكم، يريد
تفريق جماعتكم، فاضربوا عنقه))[1]، أو كما قال صلى الله عليه وسلم، وإذا وجد من
ينازع ولي الأمر الطاعة، ويرد شق العصا وتفريق الجماعة، فقد أمر النبي صلى الله
عليه وسلم ولي الأمر وأمر المسلمين معه بقتال هذا الباغي، قال تعالى: {وَإِنْ
طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَـأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ
بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ
إِلَى أَمْرِ اللَّه} الحجرات: 9.
وقد قاتل أمير المؤمنين علي بن أبي طالب
ومعه أكابر الصحابة، قاتلوا الخوارج البغاة حتى قضوا عليهم، وأخمدوا شوكتهم،
وأراحوا المسلمين من شرهم، وهذه سنة الرسول صلى الله عليه وسلم؛ فإنه أمر بقتال
البغاة وبقتال الخوارج الذين يريدون شق عصا الطاعة، وذلك من أجل الحفاظ على جماعة
المسلمين وعلى كيان المسلمين من التفرق والاختلاف.
Jawab:
Baiat itu tidak dilakukan, kecuali bagi pemerintah kaum
muslimin.
Adapun baiat-baiat yang berbilang (terhadap
kelompok-kelompok) adalah bid’ah (mengada-ada dalam urusan agama, dan tidak ada
contohnya dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat -radhiyallahu anhum-),
serta termasuk sebab yang memunculkan perselisihan.
Wajib atas kaum muslimin yang tinggal di satu negeri atau
sebuah kerajaan untuk berbaiat kepada satu pemimpin (yaitu pemimpin negeri
tersebut), tidak dibenarkan yang dibaiat itu lebih dari satu.
Pembaiatan kepada banyak pemimpin, termasuk sebab
munculnya perselisihan di masa ini dan termasuk kebodohan terhadap agama.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah melarang
perpecahan dalam baiat dan berbilangnya baiat.
Beliau bersabda,
مَنْ جَاءَكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَى
وَاحِدٍ مِنْكُمْ، يُرِيْدُ تَفْرِيْقَ جَمَاعَتَكُمْ، فَاضْرِبُوْا عُنُقَهُ
“Siapa yang datang kepada kalian
untuk memecah persatuan kalian, sedang kalian berada dalam satu kepemimpinan
salah seorang dari kalian, maka penggallah lehernya.”[6],
seperti yang disabdakan oleh beliau -Shallallahu alaihi
wa sallam-.
Apabila ada orang yang mau merampas ketaatan terhadap
pemerintah, merusak persatuan dan memecah belah pemerintahan, maka Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- telah memerintahkan kepada pemerintah dan kaum muslimin
yang bersamanya untuk memerangi orang yang melampaui batas ini.
Allah -ta’ala- berfirman,
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَـأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا
عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّه
“Dan jika ada dua golongan dari
orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu
dari kedua golongan itu berbuat aniaya (melampaui batas) terhadap golongan yang
lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu
kembali kepada perintah Allah.” (QS.
: 9)
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu anhu-
dan bersama beliau ada pembesar para sahabat, telah memerangi kaum Khawarij
yang melampaui batas hingga berhasil menumpas mereka, menghancurkan kekuatan
mereka dan mengamankan kaum muslimin dari kejelekan mereka.
Inilah sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa
sallam-, beliau telah memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang
melampaui batas (para pemberontak) dan memerangi Khawarij yang ingin melepaskan
diri dari ketaatan terhadap pemerintah.
Ini semua dalam rangka menjaga pemerintahan kaum muslimin
dan menjaga kaum muslimin dari perpecahan dan perselisihan."
Sumber Fatwa : Al-Muntaqo min Fatawa Fadhilah Asy-Syaikh Shalih bin
Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, (no.
213) via naskah Syamilah]
Demikian fatwa-fatwa ini kami bawakan agar kaum muslimin
di Indonesia
tidak salah dalam menyikapi sebagian orang yang mengajak manusia untuk
berbai'at dengan bai'at yang menyalahi sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa
sallam-.
Kesimpulan :
Imam Besar kaum muslimin adalah pemimpin
tertinggi yang menguasai negeri mereka dan mengurusinya, baik dia adalah
kholifah, atau raja, atau presiden.
Adapun seorang pemimpin organisasi,
jamaah, kelompok atau perkumpulan, maka dia bukanlah "Imam Besar"
yang boleh dibai'at oleh kaum muslimin!!
Kapan ada terjadi dualisme
kepemimpinan, maka akan muncul banyak keributan dan kerusakan, bahkan boleh
jadi perang besar.
[1] "IMAM BESAR" adalah istilah dan gelar yang disematkan dan digunakan
oleh para ulama terdahulu bagi "pemerintah muslim" yang berkuasa di
suatu negeri. [Lihat Adz-Dzakhiroh (3/421) Al-Qorofiy, Bidayatul
Mujtahid (2/371), Al-Asybah wa An-Nazho'ir (1/351) oleh
As-Suyuthiy, dan masih banyak lagi kitab-kitab lainnya]
[2] HR.
At-Tirmidziy (2676).
[3] HR.
Muslim (1839)
[4] HR.
Al-Bukhoriy (4340), dan Muslim (1840)
[5] HR.
Muslim (1855)
[6] HR.
Muslim (1852) dari sahabat Arfajah bin Syuroih Al-Asyja'iy.

Afwan ustadz, apakah jika imam mahdi muncul, maka baiat diberikan kepada imam mahdi dan melepas baiat pemimpin sebelumnya?
BalasHapusKewajiban seorang mukmin saat ia muncul, membai'at beliau sbg kholifah. Disitu ada isyarat bahwa di zaman itu tdk ada lg pemimpin muslim, selain beliau. Wallahu a'lam bish showab.
Hapus