Terpukau dengan Kemajuan Barat
Terpukau dengan Kemajuan Barat
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah
-hafizhahullah-
Seorang
doktor keluaran Amerika pernah memberikan sebuah ceramah di depan kaum muslimin
dengan penuh semangat ia mengelu-elukan dan membanggakan
kemajuan Amerika dan negara barat lainnya,
yang notabenenya adalah kaum kafir yang ingkar kepada Islam.
Dia
membanggakan kaum kafir, karena semata kemajuan dunianya. Sebaliknya, dengan nada dan pandangan sinis, ia merendahkan kaum muslimin
karena kemunduran dan keterbelakangan dalam urusan dunia.
Ini
adalah sebuah realitas ketertipuan sebagian kaum cendekiawan muslim terhadap
kemajuan kaum kafir.
Dia
tertipu karena melihat, merasakan dan terpukau dengan gemerlapnya kemajuan kaum
kafir barat, tanpa melihat sudut pandang kedudukan mereka di sisi Allah -Azza
wa Jalla- sebagai makhluk yang paling buruk.
Sementara
itu, sang Doktor lupa bahwa kaum beriman adalah sebaik-baik makhluk di sisi
Allah –tabaroka wa ta'ala-.
Allah
–Subhanahu wa Ta'ala- berfirman,
إِنَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ
فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (6) إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) [البينة : 6 ، 7]
"Sesungguhnya
orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan
masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah
seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk". (QS. Al-Bayyinah : 6-7)
Imam
Ahli Tafsir, Abu Ja'far Ath-Thobariy
-rahimahullah- berkata saat membahasakan dan menafsirkan ayat ini,
يقول تعالى ذكره: إن الذين كفروا بالله ورسوله
محمد صلى الله عليه وسلم، فجحدوا نبوّته، من اليهود والنصارى والمشركين جميعهم ( فِي
نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ) يقول: ماكثين لابثين فيها (أَبَدًا) لا يخرجون
منها، ولا يموتون فيها( أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ)." تفسير الطبري -
(24 / 542)
"Allah
–ta'ala dzikruh- berkata, "Sesungguhnya orang-orang kafir (ingkar) kepada
Allah dan Rasul-Nya Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, lalu mereka pun
mengingkari kenabian beliau dari kalangan kaum Yahudi dan Nasrani serta seluruh
kaum musyrikin.
Mereka
ini di neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama-lamanya. Mereka tak akan
keluar darinya dan tidak akan mati di dalamnya. Mereka ini adalah seburuk-buruk
makhluk". [Lihat Jami' Al-Bayan (24/542)
oleh Ath-Thobariy, dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, cet. Mu'assasah
Ar-Risalah, 1420 H]
Kaum
kafir memang diberikan banyak kenikmatan oleh Allah –azza wa jalla- di
dunia ini, agar mereka semakin lalai dan ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya.
Namun
banyaknya kenikmatan dan harta benda yang diperoleh oleh kaum kafir, jangan
menjadi sebab kita bangga dan tertipu dengan gaya hidup dan agama mereka.
Dunia mereka memang hebat dan serba canggih, namun
akhirat mereka hancur berantakan.
Kemajuan
mereka dalam hal dunia janganlah menyedihkan kita, apalagi sampai tertipu
dengannya sehingga kita pun membanggakan dan mencintai mereka atau
menjadikannnya sahabat dan orang kepercayaan.
Allah
-Ta'ala- berfirman mengingatkan kita,
لَا
يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ
مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (197)
[آل عمران : 196 - 198]
"Janganlah
sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam
negeri. Itu hanyalah kesenangan
sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu
adalah tempat yang seburuk-buruknya".
(QS. Ali Imraan : 196-197)
Ahli
Tafsir Jazirah Arab, Al-Imam Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
"وهذه الآية المقصود منها التسلية عما يحصل
للذين كفروا من متاع الدنيا، وتنعمهم فيها، وتقلبهم في البلاد بأنواع التجارات والمكاسب
واللذات، وأنواع العز، والغلبة في بعض الأوقات، فإن هذا كله { متاع قليل } ليس له ثبوت
ولا بقاء، بل يتمتعون به قليلا ويعذبون عليه طويلا." اهـ من تيسير الكريم الرحمن
للسعدي - (1 / 162)
"Ayat
ini maksudnya adalah hiburan (bagi kaum beriman) karena adanya sesuatu yang
diraih oleh kaum kafir berupa harta benda dunia dan bersenang-senangnya mereka
di dunia serta bebasnya mereka bergerak di negeri-negeri dengan berbagai macam
bentuk perdagangan, usaha, kejayaan dan kemenangan pada sebagian kesempatan.
Karena, semua itu hanyalah kesenangan sementara yang tak memiliki kestabilan
dan keabadian. Mereka hanya bersenang-senang dengannya dalam waktu sementara dan
kelak akan disiksa dalam waktu yang panjang". [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 162)
oleh As-Sa'diy, dengan tahqiq Abdur Rahman Al-Luwaihiq, cet. Mu'assasah
Ar-Risalah, 1420 H]
Kenikmatan
duniawi yang diraih oleh kaum kafir dan musyrikin, bukanlah ukuran yang
menunjukkan bahwa mereka adalah manusia terbaik di sisi Allah, bahkan mereka
buruk di sisi Allah disebabkan kekafiran mereka kepada Islam, risalah agung
para nabi dan rasul yang ditutup oleh Nabi kita Muhammad -Shallallahu alaihi
wa sallam-.
Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا
رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا
هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
"Bila
engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba sesuatu yang ia cintai
berupa dunia atas perbuatan-perbuatan maksiatnya, maka itu adalah istidroj
(tipuan) belaka (baginya)". [HR.
Ahmad dalam Al-Musnad (4/145). Di-shohih-kan oleh
Al-Albaniy dalam dalam Shohih Al-Jami' (561)]
Dunia
yang didapatkan oleh orang-orang kafir bukanlah nikmat pada hakikatnya, bahkan
ia terkadang menjadi tipuan agar terus lalai dan menjadi sebab datangnya azab
bagi mereka, sebagaimana yang dialami umat-umat kafir terdahulu.
Dunia
dibukakan bagi mereka, sehingga mereka memperoleh apa saja mereka inginkan, sebab mereka dalam memperolehnya
menempuh segala macam cara, tanpa
memperhatikan halal dan haramnya.
Bahkan
kebanyakan harta benda mereka diperoleh dengan cara yang haram. Tentunya
perolehan harta benda seperti ini adalah pelanggaran dan maksiat yang
mendatangkan murka dan siksa Allah. Inilah yang menyebabkan tercabutnya berkah
dari usaha dan harta benda mereka.
Mereka
dalam memperoleh harta benda tidak memperhatikan syariat Allah, yang berisi
batasan dan aturan-aturan dalam berusaha dan bermuamalah.
Tapi
demikianlah kaum kafir terus tenggelam kelalaian dari mengingat Allah -Tabaroka
wa Ta'ala- dan hari perjumpaan dengan-Nya.
Allah
-Azza wa Jalla- berfirman,
فَلَمَّا
نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا
فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ [الأنعام : 44]
"Maka
tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun
membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka
bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka
dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa". (QS. Al-An'aam : 44)
Dunia bukanlah segalanya bagi seorang mukmin. Dia hanya mengambil dunia sekedar bekal yang
mengantarkan dirinya kepada Allah.
Seorang
mukmin tak dilalaikan oleh dunia beserta perhiasannya. Segala sesuatu yang ia
dapatkan berupa harta benda digunakan
kepentingan Islam dan akhiratnya.
Dia
tak diperhambakan oleh rupiah
dan dolar, sehingga
ia pun memperhatikan dari mana datangnya harta yang ia dapatkan. Jika halal,
maka ia ambil dengan cara yang baik dan ia gunakan dalam kebaikan.
Harta
dunia bukanlah menjadi kebanggaan yang menipu dirinya. Sebab ia sadar bahwa
dunia hanya sementara.
Begitulah
seorang mukmin, ia tidak memburu dunia dengan segala nafasnya. Apa yang ia
dapatkan berupa rezeki halal yang telah ditetapkan baginya, maka ia syukuri.
Bila
ia tak diberi rezeki setelah berusaha mendapatkannya, maka ia bersabar,
bersyukur, dan tidak melampaui batas dalam mengusahakannya.
Beda
halnya dengan kaum kafir!! Mereka memperolehnya tanpa memperhatikan batasan
Allah.
Ketika
mendapatkannya, maka si kafir tak bersyukur dalam menggunakannya, bahkan ia
gunakan dalam kekafiran dan kemaksiatannya atau dalam perkara sia-sia, tanpa
manfaat.
Sekali
lagi, dunia bukanlah segalanya menjadi
barometer bagi mulia dan majunya seseorang di sisi Allah, baik di dunia, maupun di akhirat. Bahkan seringkali dunia melalaikan dan
membinasakan seseorang dan menghancurkan agamanya.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
فَوَاللهِ
لاَ الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ
الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا
وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
"Demi
Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas diri kalian. Tapi aku khawatirkan
kalau dibukakan dunia bagi kalian sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang
(kafir) sebelum kalian, lalu kalian pun berlomba-lomba meraihnya sebagaimana
mereka berlomba-lomba meraihnya; (aku juga khawatirkan) kalau dunia itu akan
membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3158,
4015 & 6425), dan Muslim dalam Shohih-nya (2961)]
Al-Imam
Badruddin Al-'Ainiy Al-Hanafiy -rahimahullah-
berkata,
"وَفِيه: أَن المنافسة فِي الدُّنْيَا قد
تجر إِلَى هَلَاك الدّين." اهـ من عمدة القاري شرح صحيح البخاري - (15 / 81)
"Di
dalamnya terdapat (keterangan) bahwa berlomba-lomba dalam dunia terkadang
menyeret kepada kehancuran agama." [Lihat
Umdah Al-Qori (15/81)]
Kemajuan
kaum kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan kaum musyrikin, bukan hanya terjadi di
zaman ini, bahkan jauh hari di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
dan para sahabat.
Di
zaman kenabian, kemajuan peradaban dan dunia Kerajaan Bizantium dan Persia
telah diakui.
Namun
semua itu tidaklah menyilaukan mata Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan
para sahabat yang bersama beliau.
Karenanya,
hari inipun tak perlu kita silau dengan kemajuan barat dalam hal dunia. Kita
harus gembira dan bersyukur dengan keislaman kita, walaupun dunia yang kita
dapatkan jauh di bawah kaum kafir!!!
Allah
-Ta'ala- berfirman,
وَلَا
تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
(139) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ
نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ
مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (140) [آل عمران : 139 ، 140]
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan
janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kalianlah orang-orang yang paling
tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang
yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya
kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran)
itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman
(dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai)
syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim". (QS. Ali Imraan : 139-140)
Al-Imam Jamaluddin Al-Qosimiy -rahimahullah- berkata,
"والحال أنكم الأعلون الغالبون دون عدوكم،
فإن مصير أمرهم إلى الدمار حسبما شاهدتم من عاقبة أسلافهم." اهـ من تفسير القاسمي
= محاسن التأويل - (2 / 416)
"Keadaan (yang ada) bahwa kalian
adalah yang lebih tinggi dan menang di depan musuh kalian. Karena, kesudahan
mereka menuju kepada kehancuran sebagaimana yang kalian saksikan berupa akibat
dan kesudahan para pendahulu mereka." [Lihat
Mahasin At-Ta'wil (2/416)]
Jadi, ketinggian dan kemuliaan itu
adalah milik Allah -Tabaroka wa Ta'ala- yang Dia anugerahkan kepada kaum
beriman, berkat keimanan dan amal sholih mereka, sebagai cerminan ketaqwaan
mereka kepada Allah.

Komentar
Posting Komentar