Menata Adab dan Akhlak sebelum Jauh Melangkah
Menata Adab dan Akhlak
sebelum Jauh Melangkah
|
oleh : Ust. Abdul Qodir Abu
Fa'izah, Lc. -hafizhahullah-
|
Sebuah
kesalahan para penuntut ilmu, ia hanya mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya.
Namun ia lupa menghiasi dirinya dengan adab-adab islami kepada yang lain :
kepada ustadz, ilmu, kitab, kawan-kawan, tetangga, masyarakat, orang tua dan
lainnya.
Tak
heran bila di zaman ini, kita akan menjumpai manusia-manusia durhaka kepada
guru dan ustadznya yang telah mengajarinya sekian banyak jenis ilmu yang
bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.
Semua
itu dibalas dengan adab dan akhlak buruk kepada gurunya, sampai ada diantara
mereka yang meng-ghibahi gurunya, menghukuminya sebagai orang sesat, sementara
itu ia tak menasihatinya.
Gelar-gelar
buruk tak luput dari lisannya sehingga manusia yang berjasa dalam hidupnya ia
gelari dengan "kadzdzab" (tukang dusta), dajjal, pencuri dan
sederet gelar-gelar hina ia sematkan kepada sang guru.
Di
sudut sana , ada
segelintir manusia rendah yang punya kebiasaan CURIGA dan buruk
sangka kepada gurunya dan punya hobi menguntit aib dan kesalahan-kesalahan
gurunya. Padahal gurunya adalah seorang yang berjalan di atas sunnah.
Kadang pun diantara mereka, ada yang menasihati gurunya, layaknya menasihati anak kecil dengan menggunakan bahasa-bahasa yang tidak sopan dan rada merendahkan dan menggurui.
Lebih
parah lagi, bila golongan manusia durhaka seperti ini membuat asumsi-asumsi
negatif dan kabar miring tentang diri gurunya yang telah membinanya selama ini,
disebabkan ia hanya mendengar berita qila wa qola (kabar burung) tentang
gurunya. Padahal berita-berita itu belum jelas ujung pangkal dan
asal-muasalnya. Susu dibalas tuba.
Tak
heran bila para salaf dan orang tua mereka senantiasa mewanti-wanti anak-anak
mereka jika mereka mengutusnya kepada seorang guru agar si anak betul-betul
menjaga watak dan perangainya di depan guru (syaikhnya).
Imam
Darul Hijroh, Imam Malik bin Anas Al-Ashbahiy -rahimahullah- bercerita tentang kisah awalnya menuntut
ilmu:
كانت
أمي تلبسني الثياب وتعممني وأنا صبي وتوجهني إلى ربيعة بن أبي عبد الرحمن وتقول لي
تأتي أنت مجلس ربيعة فتعلم من سمته وأدبه قبل أن تتعلم من حديثه وفهمه " مسند
الموطأ - (1 / 95)
"Dahulu
ibuku mengenakan pakaianku dan memasangkan surbanku, sedang aku masih kecil
serta mengarahkanku kepada Robi'ah bin Abi Abdir Rahman, seraya ibuku berkata
kepadaku, "Engkau akan mendatangi majelisnya Robi'ah. Karenanya,
pelajarilah perangai dan adabnya sebelum engkau mempelajari hadits dan
pemahamannya". [AR. Musnad Al-Muwaththo'
(1/95) oleh Abul Qosim Al-Jawhariy]
Perhatikanlah
ibu dari Imam Malik. Yang pertama beliau pesankan pada anaknya agar mengambil
dan mempelajari adab gurunya.
Pesan
mulia ini terus teringat dalam benak beliau sampai saat beliau menjadi guru.
Suatu
hari, saat Imam Malik telah menjadi guru dan rujukan umat, jika menemukan
penuntut ilmu pemula, maka beliau nasihatkan agar mempelajari dan memperhatikan
adab dulu sebelum jauh terjun dalam mengkaji dan mempelajari ilmu-ilmu lain.
Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbahiy -rahimahullah- berkata kepada seorang pemuda
Quraisy,
((يا
ابن أخي تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم))
"Wahai
anakku, pelajari adab sebelum engkau mempelajari ilmu". [HR. Abu Nu'aim dalam Hilyah Al-Awliya'
(6/330)]
Pesan
beliau ini kepada si pemuda Quraisy merupakan hasil didikan seorang ibu yang
cerdik.
Hal
itu terus terukir dalam relung hatinya, sampai pun beliau sudah menjadi imam
dan ulama tersohor di zamannya, beliau tetap mengingat pesan dan petuah emas
yang diberikan oleh sang ibu kepada beliau.
Inilah
kebiasaan turun-temurun di tengah para penuntut dari kalangan salaf.
Mereka
amat memperhatikan adab, akhlak dan perangai gurunya (syaikh atau ustadznya),
bukan seperti di zaman ini, kebanyakan orang hanya memperhatikan kemampuan
retorikanya dan candaan dari para ustadznya.
Sementara
akhlak dan adab sang guru tidak mereka perhatikan, dan tidak pula mereka contoh
untuk kemudian ia mengejawantahkannya dalam akhlak dan kepribadiannya.
Dari
Al-Husain bin Ismail dari bapaknya, ia (bapaknya) berkata,
كَانَ
يَجتَمِعُ فِي مَجْلِسِ أَحْمَدَ زُهَاءُ خَمْسَةِ آلاَفٍ أَوْ يَزِيدُوْنَ، نَحْوُ
خَمْسِ مائَةٍ يَكْتُبُوْنَ، وَالبَاقُوْنَ يَتَعلَّمُوْنَ مِنْهُ حُسْنَ الأَدَبِ
وَالسَّمْتِ.
"Dahulu
orang-orang berkumpul di majelis Ahmad sekitar 5000 orang atau lebih.
Sekitar 500 orang menulis, sedang sisanya mempelajari dari beliau adab
dan perangai yang baik".
[Lihat Siyar A'lam An-Nubala' (11/316)]
Mereka mengambil akhlaq dan adab dari gurunya melalui
lisan atau perbuatan gurunya.
Bukan
main, para penuntut ilmu dahulu bertahun-tahun "menghinakan diri" di
depan gurunya untuk mengambil ilmu dan adab dalam tenggang waktu puluhan tahun.
Subhanallah, tekad yang hebat.
Abu Bakr Ya'qub bin Yusuf Al-Muthowwi'iy -rahimahullah- berkata,
اخْتَلَفتُ
إِلَى أَبِي عَبْدِ اللهِ ثِنْتَي عَشْرَةَ سَنَةً، وَهُوَ يَقْرَأُ (المُسْنَدَ)
عَلَى أَوْلاَدِهِ، فَمَا كَتَبْتُ عَنْهُ حَدِيْثاً وَاحِداً، إِنَّمَا كُنْتُ
أَنْظُرُ إِلَى هَدْيِهِ وَأَخلاَقِهِ.
"Aku
berbolak-balik kepada Abu Abdillah (yakni, Imam Ahmad) selama 12 tahun, sedang
beliau membaca Al-Musnad di depan anak-anaknya. Aku tak pernah menulis dari
beliau sebuah hadits. Aku hanyalah memandang kepada petunjuk dan
akhlaknya".[Lihat Siyar A'lam An-Nubala' (11/316)]
Luar
biasa! Keikhlasan dalam mencari ilmu dan kebaikan membentuk sosok dan pribadi
para salaf. Tak ada diantara mereka yang hadir di majelis, melainkan mereka
ingin mencari kebaikan! Mereka tidak ingin mencari popularitas, apalagi mencari
aib gurunya.
Adapun
di zaman kita ini, maka keikhlasan itu telah hilang dari lubuk hati kita,
sehingga disana-sini kita menemukan berbagai keganjilan dan keganjalan dalam
bermuamalah dengan ustadz selaku gurunya. Akibatnya, sang guru ia perlakukan
bagaikan orang yang tak bernilai.
Di
hari ini, sungguh kita butuh kepada akhlak. Syaithon menipu dirimu bahwa engkau
adalah seorang ihkwah yang multazim (berpegang) dengan sunnah, namun
akhlakmu masih morat-marit.
Jika
engkau benar adalah seorang yang multazim dengan sunnah, maka ketahuilah
bahwa sunnah itu akan memberikan pengaruh baik pada dirimu. Lalu kenapa
pengaruh sunnah tidak tampak pada dirimu?!
Disinilah
anda perlu bertanya, "Apakah ilmu yang selama ini aku pelajari, bermanfaat
bagiku?"
Di
saat kejujuran dan keikhlasan itu tercabut dari dirimu, maka keberkahan sunnah
akan tercabut dari diri dan kehidupanmu.
Disinilah
tampak bagi kita rahasia kesabaran para salaf dalam menempa akhlak mereka
selama puluhan tahun.
Sebab,
watak manusia laksana besi keras
yang bengkok. Ia memerlukan waktu yang lama dalam
menempa, meluruskan dan membentuknya agar menjadi indah dan berguna.
Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarok Al-Marwaziy -rahimahullah- berkata,
طَلَبْتُ
الأَدَبَ ثَلاَثِيْنَ سَنَةً، وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِيْنَ سَنَةً، كَانُوْا يَطْلُبُوْنَ
اْلأَدَبَ ثُمَّ الْعِلْمَ
"Aku
telah mencari (mempelajari) adab selama 30 tahun dan aku mencari (mempelajari)
ilmu selama 20 tahun. Dahulu mereka (para salaf) mencari (mempelajari) adab,
lalu (setelah itu) ilmu". [Lihat
Tartib Al-Madarik (3/39) oleh Al-Qodhi Iyadh, cet. Mathba'ah
Fadholah, dan Ghoyah An-Nihayah fi Thobaqot Al-Qurro' (1/446/no.
1885) oleh Abul Khoir Ibnul Jazariy, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah, 1351 H]
Demikian
secuil nukilan dari kehidupan para salaf, generasi terbaik dalam menegakkan
agama.
Mereka
adalah kaum yang dikenal memelihara adab dan menghiasi diri mereka dengannya.
Semakin banyak ilmunya, maka semakin baik pula adabnya. Semakin ilmunya berisi,
maka semakin tampak pula sifat merendah dan tawadhu'-nya.
Adapun
generasi sekarang, sebagian orang diantara mereka, semakin banyak ilmunya, maka
semakin congkak dan kurang ajar.
Sebagian
diantara mereka ada yang berlagak bagaikan orang awam yang jahil!! Tidak
segan-segan ia membeberkan aib gurunya, menyebarkannya, dan membentuk opini
buruk tentang diri gurunya.
Wahai
saudaraku yang masih memerlukan akhlak, sadarkah engkau bahwa ilmu yang engkau
pelajari belumlah bermanfaat bagi dirimu. Cobalah engkau koreksi dirimu yang
juga masih banyak kekurangan dan aibnya. Andaikan engkau adalah seorang berilmu
dengan ilmu yang nafi' (bermanfaat), maka pasti ilmu itu akan menempa dan
mengubah pribadimu yang buruk.
Tapi
mengapa akhlakmu masih demikian buruk?! Itu artinya, anda masih perlu memeriksa
keikhlasan, dan kejujuranmu dalam belajar, atau engkau masih membutuhkan waktu
panjang dalam menempa akhlak burukmu.
Adab
merupakan hiasan yang amat berharga pada diri seorang penuntut ilmu, bahkan
adab lebih berharga dibandingkan seorang istri dan anak yang hilang.
Disebutkan
oleh Al-Imam Ibnu Jama'ah Al-Kinaniy -rahimahullah- bahwa Imam Asy-Syafi'iy
-rahimahullah- pernah ditanya, "Bagaimana engkau mencari
(mempelajari) adab?"
Imam Syafi'iy
-rahimahullah- menjawab,
طلب
المرأة المضلة ولدها، وليس لها غيره
"(Aku
akan mencari adab) seperti halnya seorang wanita yang kehilangan dalam mencari
anaknya, sedang ia tidak memiliki anak selainnya". [Lihat Tadzkiroh as-Sami' wal Mutakallim (hal.
41), cet. Maktabah Al-Imam Adz-Dzahabiy, 1424 H]
Nilai
seorang penuntut ilmu bukanlah dilihat dari banyak ilmu yang ia kumpulkan,
namun dilihat dari adab yang menghiasi dirinya. Apalah arti banyak ilmu, namun
diri masih berlumuran dengan akhlak buruk kepada ustadz (selaku guru), kerabat,
tetangga, dan lainnya.
Seorang
tabi'ut tabi'in, Makhlad bin Al-Husain -rahimahullah- berkata,
نحن
إلى كثيرٍ من الأدبِ أَحْوَجُ منا إلى كثيرٍ من الحديثِ
"Kita
ini lebih butuh kepada adab yang banyak dibandingkan banyak hadits". [HR. Al-Khothib dalam Al-Jami' li Akhlaq Ar-Rowi
(no. 11)]
Subhanallah,
pertanyaan yang luar biasa. Alangkah benarnya ucapan beliau. Ini adalah ucapan
dan pernyataan yang lahir dari sebuah ilmu dan pengalaman.
Jika
di masa itu saja, seorang salaf berkata demikian, maka pasti di zaman kita jauh
lebih pantas kita katakan demikian. Sebab, terlalu banyak realita dan fenomena
miris yang mewarnai kehidupan ini, dimana banyaknya bermunculan ulah dan
tindakan amoral dan di luar etika dari seorang murid kepada ustadz gurunya,
hanya karena persoalan-persoalan remeh dan kesalahpahaman.
Ketahuilah
bahwa menempa akhlak adalah urusan yang teramat susah! Ia lebih susah dibanding
memindahkan sebuah gunung. Ini terlihat dari banyaknya manusia yang diberi ilmu
oleh Allah -Tabaroka wa Ta'ala-, namun ia belum mampu mengentaskan
dirinya dari kubang akhlak buruknya!
Itulah
sebabnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- selalu berdoa meminta
pertolongan kepada Allah -Subhanahu wa Ta'ala- agar diberi akhlak yang
baik dan dijauhkan dari akhlak yang buruk, serta mengajarkan doa-doa itu kepada
umatnya
Insya
Allah -Ta'ala-, doa-doa tersebut akan kami bahas dalam artikel berikutnya.

Thank you for nice information. Please visit our web:
BalasHapusNaufal
Naufal