Selasa, 31 Januari 2017

Nasihat Syaikh Ali bin Ahmad Ar-Rozihiy untuk Para Dai Ahlus Sunnah agar Jangan Ikut Campur dalam Urusan Pemerintah



Nasihat Syaikh Ali bin Ahmad Ar-Rozihiy untuk Para Dai Ahlus Sunnah agar Jangan Ikut Campur dalam Urusan Pemerintah

oleh : 
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah 
-hafizhahullah-

Belakangan ini, ada sebuah fenomena yang kami perhatikan merebak di kalangan sebagian Ahlus Sunnah, berupa ikut campurnya mereka dalam perkara-perkara dan kasus-kasus yang ditangani pemerintah, karena (mungkin) termakan media.

Parahnya lagi, bila seorang dai ikut membuat pernyataan dalam urusan pemerintah yang bukan urusannya, sehingga bermunculan kesan buruk bagi dakwah Ahlus Sunnah bahwa mereka tidak menghormati pemerintah muslim. Padahal itu hanyalah sikap pribadi dai tertentu.

Akibatnya, kini banyak juga ikhwah alias audiens yang "berani" berkomentar tentang masalah-masalah kekinian yang mendera negeri ini, seperti kasus Bapak Patrialis Akbar, dan lainnya.

Tulisan dan nasihat ini, jangan dipahami bahwa kita menutup pintu nasihat bagi pemerintah. Silakan, nasihati mereka. Tapi tentunya dengan cara-cara syar'i, dan dilakukan oleh orang yang pantas mengemban tugas nasihat itu dari kalangan orang yang dikenal dan dekat dengan pemerintah. Nasihatilah mereka pribadi dengan cara yang baik berupa nasihat persaudaraan dan secara pribadi, bukan secara terang-terangan di depan publik melalui mimbar, media, dan lainnya!

Para pembaca yang budiman, adanya gejala buruk sebagian Ahlus Sunnah sudah mulai "berani" mengeluarkan STATEMENT (pernyataan) dalam menyikapi masalah-masalah sosial yang dihadapi pemerintah, sehingga seringkali menyerempet nama baik pemerintah muslim.

Adanya gejala buruk ini, memancing sebagian pihak untuk menanyakan hal ini kepada sebagian ulama Ahlus Sunnah di Yaman, dalam hal ini Syaikh Ali bin Ahmad Ar-Rozihiy -hafizhahullah-.

Berikut pertanyaan yang diajukan oleh sebgian thullab Ma'bar kepada Syaikh Ali bin Ahmad Ar-Rozihiy -hafizhahullah- :



Assalamu alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.
"Wahai Syaikh (guru) kami, semoga Allah berbuat baik kepada anda.

Seorang penanya berkata,

"السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 يا شيخنا أحسن الله إليكم، السائل يقول :
"عندنا في البلاد مشاكل ومنها ما جرى على أحد المسؤولين الذي يظهر منه حب السنة والدعوة، فحصلت من الفتنة والتهمة بأنه وقع في الرشوة وغيرها، فقبض بسبب ذلك فما موقفنا في هذا، هل نتكلم أم نتوقفُ؟ وما حكم تدخل الداعيْ من دعاةِ أهلِ السنةِ في الامورِ العامةِ والأمورِ السياسيةِ؟ 

فما نصيحتكم؟ فجزاكم الله خيرا !! 
"Di sisi kami, di negeri kami (muncul) berbagai problema. Diantaranya, apa yang terjadi atas seorang pejabat yang tampak darinya kecintaan kepada sunnah dan dakwah.

Muncul darinya ujian dan tuduhan bahwa ia terjerumus dalam sogok-menyogok dan lainnya, sehingga ia pun ditangkap, karena sebab hal itu.

Nah, apakah sikap kami dalam hal ini? Apakah kami (boleh) berkomentar ataukah kami tawaqquf (tidak menyikapinya)?

Apa hukumnya seorang dai dari kalangan Ahlus Sunnah ikut campur dalam urusan umum dan urusan politik? Apa nasihat anda?

Semoga Allah memberi balasan kebaikan bagi anda.

Jawaban Syaikh Ali bin Ahmad Ar-Rozihiy -hafizhahullah- :
الحمد لله رب العالمين حمدا كثيرا طيبًا مباركًا فيه، وأشهد ألاَّ إلهَ الا الله وحده لا شريك له، وأشهدُ أن محمدًا عبده ورسولُه، أما بعدُ :

فالحمد لله بلاد إندونسيا -ولله الحمد- بلادٌ مسلمةٌ، حكامُهم مسلمونَ،
وبما ان الحكومة قضت باخراج هذا الرجل من وظيفته، فلا ينبغي للإخوة أن يتدخلوا في هذه الشؤون أنه : لماذا أخرج وما شابه ذلك،
فهذا امر ولي الامر والحمد لله لكن لهم أن يواسوه : يصبرونه ويذكرونه بأحاديث الصبر، ولربما دفع الله عنه شرا أعظم مما لو بقي، نعم فعسى أن يكره أمرًا ويجعل الله فيما كرِه خيرًا كثيرًا، فعليه الصبر فقط، وإنما الاخوة ننصحهم أن يصبِّر الاخ الذي أخرج، ولا يتدخلوا في مثله : لماذا ؟ كيف ؟ وهناك كذا...إلى آخِرِهِ
هذا ليس من شانهم! أما تصبير الاخِ سواءٌ فِي الوسائلِ الخاصة : الاتصالات الزيارات وما شابه ذلك، فهذا أمرٌ طيِّبٌ، أما التدخلُ فِيْ شؤون الحكومةِ، فليس لهم هذا،
بارك الله فيكم ونفنا الله بكم وجزاكم الله خيرا والحمد لله رب العالمين

"Segala puji bagi Allah, Pemilik alam semesta dengan pujian yang banyak lagi baik serta berberkah padanya.

Aku mempersaksikan bahwa tiada sembahan (yang haqq), melainkan Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya dan aku mempersaksikan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya. Amma ba'du :

Segala puji bagi Allah. Negeri Indonesia –walillahilhamdu- adalah negeri muslim, dan pemerintah mereka adalah muslim.

Ketika pemerintah memutuskan untuk memecat orang ini dari jabatannya, maka tidak pantas bagi para ikhwah untuk ikut campur dalam urusan-urusan ini (lalu mengeluarkan pernyataan & protes, pent.) bahwa : "Kenapa ia dipecat," dan semisalnya.
Ini adalah urusan pemerintah –walhadulillah-. Akan tetapi boleh bagi mereka (ikhwah) untuk menolongnya : (yakni) menyabarkannya dan mengingatkannya dengan hadits-hadits tentang kesabaran.

Boleh jadi Allah ingin menjauhkan darinya suatu keburukan yang lebih besar dibandingkan andai ia masih tetap (pada jabatannya, -pen.).

Na'am, bisa jadi ia (si pejabat itu) membenci suatu perkara (berupa dipecatnya ia dan lainnya, -pen.), tapi ternyata Allah berikan pada sesuatu yang ia benci suatu kebaikan yang banyak.

Hendaknya ia bersabar saja. Hanyalah ikhwah, kami nasihati mereka agar menyabarkan saudara tersebut (si pejabat tersebut) yang telah dikeluarkan (dipecat), dan hendaknya mereka (para ikhwah) tidak ikut campur dalam hal semisalnya, (lalu berkata), "Kenapa? Bagaimana? Disana ada begini?" dan seterusnya

Ini bukan termasuk urusan mereka! Adapun menyabarkan saudara (pejabat) tadi, sama saja melalui jalur pribadi : menghubunginya, mengunjunginya, dan semisalnya. Ini adalah perkara yang baik.

Adapun ikut campur dalam urusan pemerintah, maka hal ini tidak boleh bagi mereka!

Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian dan semoga Allah memberikan mamnfaat kepada kami dan kalian, dan semoga Allah memberikan balasan kebaikan bagi kalian.

Walhamdulillahi Robbil Alamin."

Demikian jawaban Syaikh Ar-Rozihiy -hafizhahullah-. Semoga jawaban ini memberikan pencerahan bagi seluruh kaum muslimin dan terkhusus Ahlus Sunnah.

Jazallohu khoiron kepada Akhuna Muhammad Rivaldy (salah seorang thullab Ma'bar, Yaman) yang telah mengirimkan audio ini via WhatsApp.


Sumber Audi : https://goo.gl/2kqnvI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar