Rabu, 04 Januari 2017

"Innocence of Muslims", Bukti Kebencian dan Makar Kaum Kafir


"Innocence of Muslims"
Bukti Kebencian dan Makar Kaum Kafir

Oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah
-hafizhahullah-

Di segala zaman kaum kafir senantiasa melancarkan makar busuknya, akibat kebenciannya kepada ajaran kebenaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul –alaihimush sholatu was salam-.

Para pengikut kebenaran senantiasa dicela oleh kaum kafir, karena keimanan mereka kepada kebenaran yang disampaikan oleh Allah melalui lisan para nabi dan rasul-Nya.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman dalam menceritakan kaum beriman yang disiksa dan dibakar dalam parit oleh kaum kafir yang dikenal dengan "Ash-habul Ukhdud",
وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [البروج : 8]
"Dan mereka (kaum kafir) tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. Al-Buruj : 9)

Siksaan, celaan dan pembunuhan merupakan sunnatullah yang akan menguji setiap pengikut kebenaran.

Disinilah dibutuhkan sikap sabar dalam menghadapi cobaan. Sebab kaum kafir akan senantiasa melancarkan makarnya, baik berupa perbuatan, maupun ucapan yang berusaha melemahkan dan merobohkan keimanan seseorang terhadap kebenaran.


Akibatnya seorang mukmin terkadang murtad dan kafir akibat pengaruh makar kaum kafir.

Allah -Subhanahu wa Ta'ala- berfirman,
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [البقرة : 109]
"Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. Al-Baqoroh : 109)

Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy Al-Yamaniy -rahimahullah- berkata,
"فِيهِ إِخْبَارُ الْمُسْلِمِينَ بِحِرْصِ الْيَهُودِ عَلَى فِتْنَتِهِمْ وَرَدِّهِمْ عَنِ الْإِسْلَامِ، وَالتَّشْكِيكِ عَلَيْهِمْ فِي دِينِهِمْ." اهـ من فتح القدير للشوكاني - (1 / 149)
"Di dalam ayat ini terdapat pemberitaan bagi kaum muslimin tentang keinginan kuat kaum Yahudi dalam menggoda kaum muslimin dan memurtadkan mereka dari Islam serta menyebarkan keraguan di tengah mereka tentang agamanya (yakni, tentang Islam)". [Lihat Fathul Qodir (1/149)]

Salah satu diantara bukti ucapan Asy-Syaukaniy, adanya film yang menyudutkan Islam dan secara khusus Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Film itu diberi judul dengan "Innocence of Muslims" yang digarap  oleh Sam Bacile (nama samaran dari Nakoula Basselay), seorang warga Southern, California, Amerika Serikat.

Konon kabarnya, film itu dibuat atas bantuan Yahudi. Film garapan 2012 M ini, membuat hati kaum muslimin terasa tersayat.

Jelas ini adalah makar Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) sebagai usaha menggoyahkan keimanan dan kepercayaan orang Islam terhadap Nabinya, Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Semoga Allah memberikan balasan setimpal atas pelakunya.

Penghinaan seperti ini sebenarnya sudah menjadi catatan klasik dalam lembaran sejarah pengikut setia para nabi, termasuk pengikut Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Di zaman Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau dan para sahabatnya sering mendapat cercaan dan hinaan dari ahli Kitab dan kaum musyrikin.

Beliau beserta umatnya, hanya diperintahkan oleh Allah agar bersabar dalam menghadapi mereka, karena di saat itu kaum beriman masih sangat lemah dan tak mampu melakukan perlawanan.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ [آل عمران : 186]
"Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan diri kalian. Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan (karena wajibnya)". (QS. Ali Imraan : 186)

Mufassir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fidaa' Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"فكان من قام بحق، أو أمر بمعروف، أو نهى عن منكر، فلا بد أن يؤذَى، فما له دواء إلا الصبر في الله، والاستعانة بالله، والرجوع إلى الله، عز وجل." اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة - (2 / 180)
Jadi, barangsiapa yang menegakkan kebenaran, atau memerintahkan perkara yang ma'ruf dan melarang dari kemungkaran, maka pasti ia akan disakiti. Hal seperti itu tidak memiliki obat, selain kesabaran karena Allah, meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepada Allah -Azza wa Jalla-". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (2/180), cet. Dar Thoybah, 1420 H]

Munculnya film penghinaan itu atau pun makar apa saja dari orang kafir, maka selayaknya seorang mukmin bersabar, meminta pertolongan dan solusi kepada Allah, serta senantiasa bertaqwa kepada Allah, tanpa melakukan hal-hal berupa pelanggaran (seperti, demo atau menyebarkan aib pemerintah) yang akan menghalangi datangnya bantuan dari Allah Yang berada di atas langit.

Dengan adanya penghinaan seperti itu, wajar jika kaum muslimin marah. Namun kemarahan itu jangan sampai melampaui batasan syariat. Dalam mengambil sikap, hendaknya kembali kepada bimbingan para ulama dan pemerintah.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا  [النساء : 83]
"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan "ulil amri" di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)". (QS. An-Nisaa' : 83)

Al-Hasan Al-Bashriy, Qotadah dan Ibnu Juraij menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "ulil amri" adalah para ulama. Sebagian lagi, menyatakan bahwa mereka adalah para pemimpin. [Lihat Zadul Masir (2/73)]

Ayat ini menganjurkan kita agar dalam segala urusan genting dan penting yang berkaitan dengan masyarakat banyak, hendaknya kita kembalikan urusan itu kepada mereka.

Termasuk dalam hal ini, menyikapi film penghinaan itu, kita kembalikan urusannya kepada pemerintah dan para ulama.

Jangan setiap orang diantara kita terbawa oleh emosinya sampai ia melampaui batas dalam bersikap, seperti melakukan perusakan, demonstrasi yang tak membuahkan hasil baik, membunuh setiap kaum kafir yang ia temui atau memboikot produk kaum kafir, tanpa arahan pemerintah.

Sikap seperti ini bukan malah memperbaiki, tapi malah memperumit masalah!!

Di sisi lain, seorang muslim harus sadar bahwa kaum kafir itu amat benci kepada kaum muslimin, walaupun pada lahiriahnya mereka berusaha bermanis muka di hadapan kita demi menipu dan mengelabui kita.

Kebencian mereka telah tertanam dalam jiwa mereka, jauh hari sebelum dan setelah munculnya film tersebut.

Karenanya, Allah melarang kita menjadikan mereka sebagai wali (orang-orang yang kita cintai),
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (57) وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ (58) قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ (59) [المائدة : 57_59]
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil sebagai wali (orang-orang yang engkau cintai), orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Al-Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.  Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. Katakanlah: "Hai ahli kitab, apakah kalian amat membenci kami, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kalian benar-benar orang-orang yang fasik?" (QS. Al-Maa'idah : 57-59)

Inilah isi hati kaum kafir dari kalangan Ahli Kitab. Jika Ahli Kitab begini besarnya kebencian mereka kepada Islam dan kaum muslimin, maka tentunya kaum musyrikin lebih para lagi kebencian mereka kepada Islam dan kaum muslimin.

Ingat, jangan tertipu dengan manisnya wajah mereka kepada anda. Tetap mewaspadai mereka dan menguatkan barisan kaum muslimin seraya memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah -Tabaroka wa Ta'ala-! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar