Sabtu, 21 Januari 2017

Bencana Foto Selfie dan semisalnya, serta Bantahan atas Orang-orang yang Menghalalkan Foto Makhluk Bernyawa


Bencana Foto Selfie dan semisalnya, serta Bantahan atas Orang-orang yang Menghalalkan Foto Makhluk Bernyawa

oleh : 
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. 
-hafizhahullah-

Dewasa ini, dengan perkembangan teknologi yang amat pesat, muncul sebuah alat yang kita kenal dengan "POTRET", alias "KAMERA".

Alat ini dengan berbagai jenisnya, membawa sebuah perubahan dalam kehidupan manusia. Terlebih lagi saat kamera merupakan salah satu fitur yang melengkapi ponsel moderen yang ada di zaman ini, maka semakin berubahlah gaya hidup manusia.

Berangkat dari dukungan alat tersebut, maka muncullah kebiasaan menghalalkan "foto selfie" alias foto pribadi.[1]

Kebiasaan berfoto selfie ini melanda mayoritas manusia : muslim atau kafir, pria atau wanita, tua atau muda.

Sebuah pemandangan yang miris, kita melihat berbagai jenis tampilan foto-foto selfie yang berseliweran di depan mata kita, saat kita membuka media sosial, seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, Twitter, Telegram, LINE, dan lainnya.

Parahnya lagi, jika kebiasaan berfoto selfie ini melanda kaum agamawan, anak-anak muda Islam, aktifis dakwah, ataukah ustadz dan ulama.


Pengaruh dan bahayanya luar biasa jika aksi berfoto selfie tersebut dilakukan oleh kaum agamawan, sebab masyarakat akan menyangka bahwa berfoto selfie, yah boleh-boleh saja, dengan alasan, "Ustadz fulan kan juga berfoto selfie."

Padahal Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengharamkan gambar (termasuk foto), baik gambar itu memiliki dimensi ataukah tidak!

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ
Sesungguhnya diantara manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah para pembuat gambar (bagi makhluk bernyawa)". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (5606), Muslim dalam Shohih-nya (2109), dan An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (5364)]

Al-Imam An-Nawawiy dari kalangan ulama' Syafi'iyyah berkata,
"Para sahabat kami (yakni, yang bermadzhab Syafi'iyyah), dan selain mereka dari kalangan ulama' berkata, "Menggambar makhluk bernyawa sangat haram, dan ia termasuk dosa besar, karena ia diancam dengan ancaman keras seperti ini !!!". [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim Ibn Al-Hajjaj (14/81)]

Yang dimaksud dengan gambar di sini adalah gambar-gambar makhluk bernyawa (seperti gambar manusia, binatang, dan lainnya), baik yang berdimensi berupa patung, maupun tak berdimensi berupa lukisan. Adapun gambar benda mati yang tak memiliki nyawa, seperti, batu, gambar gunung dan lain sebagainya, maka hukumnya boleh, kecuali dijadikan sejadah.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata,
 "Adapun yang dimaksud dengan gambar adalah semua gambar (lukisan) binatang, baik gambar itu berdiri tegak lagi berdimensi, atau yang tak berdimensi berupa pahatan di tembok atau yang ada di sarung bantal dan permadani." [Lihat At-Tahdzib Ala Sunan Abi Dawud (6/78

Terlebih lagi bila foto selfie seseorang terbawa ke dalam rumah atau masjid, maka ia telah menjadi sebab terhalangi masuknya malaikat ke dalam rumah.

Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- memberikan ancaman bagi orang yang membuat gambar dan memasukkan gambar ke dalam rumahnya.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ صُوْرَةٌ
"Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambarnya". [HR. Al-Bukhoriy (3054), dan Muslim (2106)].

Kebiasaan berfoto selfie ini menjangkiti banyak orang di zaman ini, sehingga "tiada hari, tanpa berfoto selfie".

Mereka -tanpa sadar- terjatuh dalam berbagai macam kemungkaran dan dosa, mulai dari memamerkan kecantikannya, kekayaan, dan kepandaiannya kepada kaum laki-laki (yang muslim dan kafir).

Sebagian mereka ada yang membanggakan maksiatnya melalui foto-foto selfie yang mereka jepret saat itu. Ada yang menenggak khomer, membunuh, mencuri lainnya.

Ada pula wanita yang sudah putus urat malunya, yang rela menampakkan dirinya berzina dengan seorang lelaki melalui foto selfie-nya. Kita memohon perlindungan kepada Allah atas keburukan-keburukan itu.

Warnai lain dari para penggemar dan pecandu foto selfie ini, yakni segolongan manusia yang taat beribadah kepada Allah. Kemana dan dimanapun, ia jepret dirinya dalam berbagai momen ibadah. Saat ia berhaji, kamera pun mengarah ke wajahnya sembari menulis sebuah status pada akun Facebook-nya, "Semoga amal ibadah kami diterima oleh Allah."

Adakah ia sadar bahwa foto selfie yang ia sebar dalam status tersebut, akan menjadi jalan sebab pahala hajinya akan hancur, karena ia telah memperlihatkan ibadahnya kepada seluruh alam semesta. Itulah riya' yang menghancurkan pahala ibadahmu!

Ada juga diantara mereka berfoto selfie saat umroh, atau mengikuti dauroh (tabligh akbar).

Ada pula yang setiap kali bersedekah, maka ia jepret dirinya dengan penuh bangga dan seakan-akan tiada salah. Ia ingin agar semua orang mengetahui dirinya bersedekah dan mendapatkan "like" sebanyak-banyaknya.

Allah –Jalla wa Alaa- berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا [البقرة : 264]
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu, seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan." (QS. Al-Baqoroh : 264).

Dari golongan manusia-manusia yang gemar berfoto selfie ini, ada yang menjepret dirinya seakan-akan dalam suasana ibadah (misalnya, sholat tahajjud), seraya membuat status facebook, "Indahnya Sholat Tahajjud". Padahal dia –saat itu- hanyalah sibuk bermain facebook dan media sosial lainnya.

Jenis golongan manusia inilah yang disinggung oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya,
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ  [آل عمران : 188]
"Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih." (QS. Ali Imraan : 188)

Mereka diancam oleh Allah -Tabaroka wa Ta'ala- disebabkan kedustaan dan sikap riya' mereka.

Riya' adalah dosa dimana seseorang menampakkan ibadah dan amal sholihnya kepada manusia, agar manusia melihat dan menyanjungnya.

Demikianlah syaithon terus-menerus menyeret manusia yang gemar berfoto selfie untuk jatuh dalam maksiat dan kerugian akhirat.

Sikap bergampangan dalam berfoto selfie ini, selain karena didorong syahwat dan hawa nafsu, juga dikuatkan oleh syubhat. Padahal Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sudah jelaskan dan amat gamblang telah mengharamkan segala bentuk gambar makhluk yang memiliki roh dan nyawa, atau yang kita namai dengan "gambar makhluk hidup", sebagaimana telah kami nukilkan di atas dari hadits-haditsnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang mengharamkan hal itu.

Yang bergampangan berfoto selfie karena syahwat dan hawa nafsu, maka kebanyakannya dari orang-orang yang jahil tentang agama.

Adapun mereka yang gemar berfoto selfie karena dorongan syubhat, maka biasanya mereka berasal dari kalangan aktifis dakwah dan agamawan.

Namun seringkali juga antara syahwat dan syubhat menyatu dalam menyeret mereka dalam dosa foto selfie tersebut!

Salah satu syubhat mereka bahwa sebagian ulama ada yang membolehkan foto, sehingga mereka pun bergampangan dan berluas-luas dalam membolehkan foto. Padahal ulama yang "membolehkannya" (seperti, Syaikh Al-Utsaimin), bukanlah sekadar membolehkannya begitu saja. Tapi ternyata beliau membolehkannya, saat ada hajat yang mengharuskan dan membolehkannya, semisal : foto KTP, foto SIM, foto, STNK, foto paspor.[2]

Coba anda perhatikan beberapa buah petikan fatwa Syaikh Al-Utsaimin berikut ini :

Fatwa Pertama

فقد كثر السؤال حول ما نشر في المقابلة التي جرت بيني وبين مندوب جريدة "المسلمون" يوم الجمعة 29\11\1410هـ بالعدد 281 حول حكم التصوير "الفوتوغرافي" وذكرت في هذه المقابلة أني لا أرى أن التصوير "الفوتوغرافي" الفوري -الذي تخرج فيه الصورة فورًا دون تحميض- داخل في التصوير الذي نهى عنه الرسول صلىالله عليه وسلم، ولعن فاعله.
وذكرت علة ذلك ثم قلت: ولكن ينبغي أن يقال: ما الغرض من هذا العمل؟
"إذا كان الغرض شيئًا مباحًا صار هذا العمل مباحًا بإباحة الغرض المقصود منه، وإذا كان الغرض غير مباح صار هذا العمل حرامًا لا لأنه من التصوير، ولكن لأنه قصد به شيء حرام".
وحيث إن الذي يخاطبني رجل صحفي، ذكرت مثالًا من المحرم يتعلق بالصحافة، وهو تصوير النساء على صفحات الجرائد والمجلات، ولم أستطرد بذكر الأمثلة اكتفاء بالقاعدة الآنفة الذكر، وهي أنه متى كان الغرض مباحًا كان هذا العمل مباحًا، ومتى كان الغرض غير مباح كان هذا العمل حرامًا.
ولكن بعض السائلين عن هذه المقابلة رغبوا في ذكر المزيد من الأمثلة للمباح والمحرم. وإجابة لرغبتهم أذكر الآن من الأمثلة المباحة:
أن يقصد بهذا التصوير ما تدعو الحاجة إلى إثباته كإثبات الشخصية، والحادثة المرورية والجنائية، والتنفيذية, مثل أن يطلب منه تنفيذ شيء فيقوم بهذا التصوير لإثباته.
ومن الأمثلة المحرمة:
1 - التصوير للذكرى، كتصوير الأصدقاء، وحفلات الزواج ونحوها؛ لأن ذلك يستلزم اقتناء الصور بلا حاجة وهو حرام؛ لأنه ثبت عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أن الملائكة لا تدخل بيتًا فيه صورة. ومن ذلك أن يحتفظ بصورة ميت حبيب إليه كأبيه وأمه وأخيه يطالعها بين الحين والآخر؛ لأن ذلك يجدد الأحزان عليه، ويوجب تعلق قلبه بالميت.
2 - التصوير للتمتع النفسي أو التلذذ الجنسي برؤية الصورة؛ لأن ذلك يجر إلى الفاحشة.
والواجب على من عنده شيء من هذه الصور لهذه الأغراض، أن يقوم بإتلافها لئلا يلحقه الإثم باقتنائها.
هذه أمثلة للقاعدة الآنفة الذكر، ليست على سبيل الحصر، ولكن من أعطاه الله فهمًا فسوف يتمكن من تطبيق بقية الصور على هذه القاعدة.
هذا وأسأل الله للجميع الهداية والتوفيق لما يحب ويرضى." اهـ من مجموع فتاوى ورسائل العثيمين - (2 / 271_272)
"Sungguh telah banyak pertanyaan seputar perkara yang tersebar dalam sebuah wawancara yang terjadi antara aku dengan utusan Koran Al-Muslimun, Hari Jumat, 19/11/1410 H, pada edisi ke-281, seputar HUKUM GAMBAR 'FOTOGRAFI'.

Aku sebutkan dalam wawancara itu bahwa pembuatan gambar fotografi yang bersifat langsung –yang keluar padanya gambar secara langsung, tanpa proses pengasaman (agar gambarnya tampak, pen.), aku tidak memandang hal itu masuk dalam pembuatan gambar yang dilarang oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan dilaknat pelakunya oleh beliau.

Aku sebutkan alasan hal itu, lalu aku katakan,
"Jika tujuannya adalah sesuatu yang mubah, maka jadilah perbuatan (membuat foto) itu mubah, dengan sebab pembolehan tujuan yang diinginkan darinya. Jika tujuannya adalah tidak mubah, maka perbuatan (membuat foto) ini berubah jadi haram, bukan karena ia termasuk foto, tapi ia dimaksudkan dengannya sesuatu yang haram."

Ketika orang yang mengajakku berbicara adalah seorang jurnalis, maka aku sebutkan sebuah contoh dari foto yang haram, yang berkaitan dengan jurnalistik, yaitu memotret para wanita pada halaman-halaman koran dan majalah. Aku tidaklah meneruskan penyebutan contoh-contohnya, karena mencukupkan diri dengan kaedah yang berlalu penyebutannya, yaitu bahwa kapan saja tujuannya mubah, maka perbuatan itu boleh. dan kapan saja tujuannya tidak boleh, maka perbuatan itu haram.
Akan tetapi sebagian orang-orang yang bertanya tentang wawancara ini, ingin penyebutan contoh-contoh yang mubah dan yang diharamkan.

Demi mengabulkan keinginan mereka, maka aku akan menyebutkan sekarang (sebagian) diantara contoh-contoh yang mubah, yaitu diinginkan dengan pembuatan gambar sesuatu yang didorong oleh hajat untuk membuktikannya, seperti : pembuktian profil, peristiwa lalu lintas, kriminal, dan pelaksanaan, misalnya : diminta darinya pelaksanaan sesuatu, lalu ia pun melakukan pemotretan ini demi membuktikannya.

Diantara contoh-contoh foto yang diharamkan :
1-       Membuat foto kenangan, seperti : memotret teman-teman, pesta pernikahan dan lainnya. Karena, hal itu mengharuskan (bagi si pelaku) untuk memiliki foto-foto, tanpa ada hajat. Perbuatan seperti ini adalah diharamkan. Karena telah nyata (sebuah hadits) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa para malaikat tidak akan memasuki sebuah rumah yang di dalamnya terdapat gambar (yakni, gambar makhluk bernyawa).

Diantara hal itu (yakni, foto-foto yang haram), seorang menyimpan foto mayit orang yang ia cintai, seperti : ayahnya, ibunya, dan saudaranya. Foto-foto itu ia pandangi dari waktu ke waktu. Sebab, hal itu akan selalu memperbaharui rasa sedihnya, dan melahirkan keterpautan hati dengan si mayit.
2-       Menbuat foto untuk kesenangan jiwa, atau kelezatan seksual, dengan melihat foto itu, karena hal itu menyeret kepada perbuatan keji.

Kewajiban bagi orang memiliki sesuatu dari foto-foto ini adalah melenyapkannya, agar ia tidak terkena dosa lantaran memilikinya.

Inilah contoh-contoh untuk kaedah yang telah berlalu penyebutannya. Contoh-contoh itu bukan sebagai pembatasan. Akan tetapi siapa saja yang diberi pemahaman oleh Allah, maka kelak ia akan mampu menerapkan foto-foto lainnya di atas kaedah ini.

Demikian inilah. Aku memohon kepada Allah hidayah dan taufik kepada sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh-Nya untuk semua pihak." [Lihat Majmu' Fatawa wa Rosa'il Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin, (2/271-272)]

Fatwa Kedua

وهذا هو الذي نرجحه أن التصوير الفوتوغرافي لا بأس به لكن ينظر ما هو الغرض من ذلك إذا كان الغرض اقتناء هذه الصور على وجهٍ لا يباح فهذا يحرم من هذه الناحية فيكون تحريمه تحريم الوسائل لا تحريم المقاصد
وأما إذا كان الغرض لمصلحة كحفظ الأمن في التابعيات وشبهها فهذا لا بأس به يعني لا بأس بالتصوير للتابعية وشبهها ومع هذا مع قولنا بالجواز أو مع ترجيحنا للجواز نرى أن اللائق للمسلم أن يبتعد عنه لأن ذلك أتقى وأورع لما في ذلك من الشبهة فإن بعض أهل العلم يرون أن التصوير حتى للصور الشمسية أو الفوتوغرافية يرون أنه حرام وترك الإنسان لما هو محرم هذا أمرٌ ينبغي إلا إذا دعت الحاجة إليه فإن المشتبه يزول بالحاجة." اهـ من فتاوى نور على الدرب - (4 / 173) – عبر المكتبة الشاملة
"Inilah yang kami kuatkan bahwa pembuatan gambar fotografi, tidak mengapa. Akan tetapi ditinjau apa tujuan hal itu. Jika tujuannya adalah memiliki foto-foto itu dalam bentuk yang tidak dibolehkan, maka ini haram dari sisi ini. Jadi, pengharamannya adalah pengharaman wasilah (pengantar), bukan pengharaman tujuan.
Adapun apabila tujuannya adalah untuk suatu kemaslahatan, seperti : untuk menjaga keamanan dalam pendataan penduduk dan semisalnya, maka ini tidak mengapa, yakni tidak mengapa untuk membuat foto untuk pendataan penduduk dan semisalnya.

Seiiring hal ini, seiiring pernyataan kami tentang bolehnya, atau seiiring kami menguatkan bolehnya hal itu, namun kami memandang bahwa hal yang pantas bagi seorang muslim adalah menjauh darinya (yakni, dari membuat foto), karena hal itu lebih bertaqwa dan lebih waro', karena sesuatu yang ada padanya berupa syubhat. Karena, sebagian ulama memandang bahwa membuat gambar, sampaipun itu berupa foto hitam putih atau fotografi, mereka memandang bahwa hal itu adalah haram. Sementara seorang manusia meninggalkan sesuatu yang haram adalah perkara yang sepantasnya, kecuali jika ada hajat yang mendorong kepada hal itu. Karena, sesuatu yang samar, akan hilang, karena adanya hajat. [Lihat Fatawa Nur ala Ad-Darb (4/173)]

Fatwa Ketiga

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya,
السؤال:
طيب جزاكم الله خيراً. السائل حسن حسين يقول: أنا شاب أحب التصوير والاحتفاظ بالصور، ولا تمر مناسبة إلا وأقوم بالتقاط الصور للذكرى وهذه الصورة أحفظها داخل ألبوم، وقد تمر شهور دون أن أفتح هذا ألبوم وأنظر للصور،
ما حكم هذه الصور التي أقوم بتصويرها والاحتفاظ بها؟
الجواب:
"Baiklah, semoga Allah memberi balasan kebaikan bagi anda. Si Penanya Hasan Husain berkata,
"Aku adalah pemuda yang gemar memotret dan menyimpan foto-foto. Tidaklah ada suatu momen yang lewat, melainkan aku lakukan penjepretan untuk foto-foto kenangan.
Foto-foto ini aku simpan dalam sebuah album. Terkadang berlalu sebulan tanpa membuka album ini dan melihat foto-fotonya.
Apa hukumnya foto-foto yang aku buat dan aku simpan?"

Syaikh Al-Utsaimin kemudian menjawab,
الشيخ: الواجب عليك أن تتوب إلى الله عز وجل مما صنعت، وأن تحرق جميع الصور التي تحتفظ بها الآن؛ لأنه لا يجوز الاحتفاظ بالصور للذكرى، فعليك أن تحرقها من حين أن تسمع كلامي هذا، وأسأل الله لي ولك الهداية والسلامة مما يكره.
"Kewajibanmu adalah engkau bertobat kepada Allah -Azza wa Jalla- dari perkara yang telah engkau lakukan, dan bakarlah semua foto-foto yang kamu simpan sekarang, karena tidak boleh menyimpan foto-foto untuk kenangan.

Wajib bagimu membakarnya sejak kamu mendengarkan ucapanku ini. Aku memohon kepada Allah untukku dan untukmu hidayah dan keselamatan dari sesuatu yang Allah benci." [Sumber : http://binothaimeen.net/content/13225 ]

Para pembaca yang budiman, setelah kita mencermati 3 fatwa Syaikh Al-Utsaimin, maka dapat kita simpulkan :
1.    Semua gambar adalah haram.
2.    Membuat foto tanpa ada hajat yang mendesak adalah haram.
3.    Membuat foto saat ada hajat yang penting dan mendesak adalah boleh. Sementara sebagian ulama mengharamkannya secara muthlaq, sebagaimana yang beliau isyaratkan.

Jadi, tidak ada alasan dan hujjah dalam fatwa Syaikh Al-Utsaimin untuk membolehkan foto selfie dan lainnya diantara foto-foto yang tidak ada hajat penting untuk membuatnya, dan seringkali dibuat hanya karena kesenangan dan hawa nafsu semata.






[1] Lihat sejarah dan hakikatnya dalam : http://bit.ly/2jGkAH1
[2] Apa yang beliau bolehkan, juga dibolehkan oleh para ulama yang mengharamkan foto (semisal, Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albaniy, Syaikh Al-Fauzan, dan lainnya), saat ada hajat yang menuntut harus seseorang berfoto. Adapun saat tidak ada hajat yang mengharuskannya, maka semua masyayikh dan ulama tersebut melarangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar