Kamis, 26 Januari 2017

Larangan Mengangkat Imam Besar dan Membai'atnya, saat Adanya Pemimpin Resmi dalam Negara


Larangan Mengangkat Imam Besar dan Membai'atnya, saat Adanya Pemimpin Resmi dalam Negara

oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah- 

Belakangan ini sebuah kekhawatiran dalam hati, saat membaca, melihat dan mendengar berita bahwa ada sebagian jamaah mengangkat seorang "IMAM BESAR"[1] bagi kaum muslimin di negeri ini, lalu si imam besar ini pun dibai'at. Padahal pemimpin tertinggi negara ini ada dan dia adalah seorang muslim!

Ini merupakan sebuah bentuk pemberontakan dan pembangkangan bagi pemerintah yang sah dan menjadi sebab lahirnya dualisme kepemimpinan.

Jika muncul dualisme kepemimpinan bagi kaum muslimin, maka akan muncul berikutnya berbagai macam kerusakan yang akan timbul dengan munculnya fenomena ini.

Kapan ada terjadi dualisme kepemimpinan, maka akan muncul banyak keributan dan kerusakan, bahkan boleh jadi perang besar.

Lantas apa pandangan ulama-ulama besar tentang realita ini?

Sebagai jawaban, berikut kami nukilkan sejumlah fatwa dari ulama ahlussunnah waljamaah yang telah dikenal dunia dan menjadi rujukan mereka dalam meminta fatwa.


Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-


Pertanyaan :
س : بعض الفرق المعاصرة تعقد البيعة لأمرائها الذين يختارونهم من أنفسهم ، ويرون وجوب السمع والطاعة لهم،
وعدم نقض بيعتهم ، وهم تحت ولاة الأمراء الشرعيين الذين بايعهم عموم المسلمين . هل يجوز ذلك ؟ أي بمعنى أن يكون في عنق الفرد أكثر من بيعة وما مدى صحة هذه البيعات ؟
Sebagian kelompok-kelompok masa kini melakukan baiat kepada pemimpin-pemimpin kelompoknya (organisasi, yayasan, ormas, atau perkumpulannya,-pent.) yang mereka pilih dari kalangan mereka sendiri dan mereka memandang wajibnya mendengar dan taat kepada mereka (para pemimpin tersebut) dan tidak bolehnya membatalkan baiat.

Sementara itu mereka di bawah kekuasaan pemerintah yang syar'i yang telah dibai'at oleh seluruh kaum muslimin.

Nah, apakah boleh hal tersebut, maksudnya, (bolehkah) di leher seseorang ada beberapa baiat? Sejauh manakah kebenaran hal ini?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- menjawab,
ج : هذه البيعة باطلة ولا يجوز فعلها ؛ لأنها تفضي إلى شق العصا ، ووجود الفتن الكثيرة ، والخروج على ولاة الأمور بغير وجه شرعي . وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : « أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي ، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة »

وصح عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال : « على المرء السمع والطاعة فيما أحب وكره ، ما لم يؤمر بمعصية الله ، فإن أمر بمعصية الله فلا سمع ولا طاعة »
وقال صلى الله عليه وسلم : « إنما الطاعة في المعروف »
وقال صلى الله عليه وسلم : « من رأى من أمره شيئا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يدا من طاعة »
والأحاديث في ذلك كثيرة جدا ، كلها دالة على وجوب السمع والطاعة لولاة الأمر في المعروف ، وعدم جواز الخروج عليهم ، إلا أن يأتوا كفرا بواحا عند الخارجين عليهم فيه من الله برهان .
ولا شك أن وجود البيعة لبعض الناس يفضي إلى شق العصا ، والخروج على ولي الأمر العام فوجب تركه ، وحرم فعله ، ثم إنه يجب على من رأى من أميره كفرا بواحا أن يناصحه حتى يدع ذلك ، ولا يجوز الخروج عليه ، إذا كان الخروج يترتب عليه شرا أكثر ؛ لأن المنكر لا يزال بأنكر منه ، كما نص على ذلك أهل العلم رحمهم الله ، كشيخ الإسلام ابن تيمية ، والعلامة ابن القيم رحمة الله عليهما ، والله ولي التوفيق .

"Ini adalah baiat yang batil dan tidak boleh dilakukan, karena akan mengantarkan kepada perpecahan dan adanya fitnah-fitnah yang banyak, serta pemberontakan kepada pemerintah, tanpa ada alasan yang syar'i.

Sungguh telah shohih dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-  bahwasanya beliau bersabda,
"Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemerintah), walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak sahaya. Karena, sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup (lama), maka dia akan melihat perselisihan yang banyak.
Karena itu, berpegang teguhlah dengan sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin setelahku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan waspadalah kalian terhadap perkara-perkara yang baru (dalam urusan agama), karena setiap perkara baru dalam agama adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." [2]

Telah shohih dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
"Wajib bagi seorang untuk mendengar dan taat kepada pemerintahnya dalam perkara yang dia sukai dan dia benci, selama dia tidak diperintahkan untuk melakukan suatu maksiat kepada Allah. kalau dia diperintahkan untuk mengerjakan suatu maksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat kepadanya."[3]


Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
"Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma'ruf."[4]

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- juga bersabda,
"Barang siapa yang melihat dari amir-nya (pemerintahnya) sesuatu berupa maksiat, maka hendaknya dia membenci sesuatu yang dia lakukan berupa maksiat kepada Allah, dan jangan sekali-kali dia mencabut tangan ketaatan kepadanya."[5]

Hadits-hadits dalam perkara itu, sangatlah banyak. Semuanya menunjukkan tentang wajibnya mendengar dan taat kepada pemerintah dalam perkara yang ma'ruf, dan tidak bolehnya melakukan pemberontakan kepada mereka, kecuali kalau mereka (pemerintah) melakukan kekafiran yang nyata di sisi orang-orang yang akan melakukan pemberontakan itu, sedang di dalam perkara itu dia memiliki keterangan dari Allah (yakni, hujjah tentang kekafirannya).

Tidak diragukan lagi bahwa adanya bai'at kepada sebagian orang, itu akan mengantarkan kepada perpecahan dan pemberontakan melawan pemerintah tertinggi.

Karena itu, wajib meninggalkan hal itu dan haram melakukannya.

Kemudian, sesungguhnya wajib bagi setiap orang yang melihat dari pemerintahnya suatu kekafiran yang nyata untuk memberikan nasehat kepadanya, sehingga dia (pemerintah) meninggalkan hal itu.

Tidak boleh melakukan pemberontakan kepada pemerentah (yang sudah nyata kekafirannya, pent.), apabila pemberontakan tersebut akan melahirkan keburukan yang lebih besar.

Karena kemungkaran tidak boleh dihilangkan dengan sesuatu yang lebih mungkar darinya, sebagaimana hal itu ditetapkan oleh para ulama rahimahumullah, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Al-Allamah Ibnul Qoyyim -rahmatullahi alaihima-
Hanya Allah yang memberikan Taufik."

Sumber Fatwa : Majmu' Fatawa wa Rosa'il Fadhilah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28/250-253)


Fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy
-rahimahullah-

Pertanyaan: 
شيخ، ما حكم البيعة العامة التي تأخذها بعض الجماعات على المنتمين إليها وما حكم البيعة الخاصة التي تأخذ أيضا بعض الجماعات على الجهاد في سبيل الله زعموا والقيام بعمليات الاغتيالات وغير ذلك بدعوى إرادة إقامة حكم الله في الأرض وغير ذلك ؟
Syaikh, apa hukumnya baiat umum yang diambil oleh sebagian kelompok-kelompok atas orang-orang yang bergabung kepada mereka, dan apa hukumnya baiat khusus yang diambil juga oleh sebagian kelompok atas perkara jihad dijalan Allah. sebagaimana yang mereka klaim; serta apa hukum melakukan pembunuhan rahasia (terhadap pemerintah atau aparat, pent.) dan lainnya, dengan alasan ingin mendirikan menegakkan hukum Allah di permukaan bumi dan lainnya?"


Jawaban Syaikh Al-Albaniy :
أما مبايعة حزب من الأحزاب ، لفرد لرئيس لهم أو جماعة من الجماعات لرئيسهم وهكذا فهذا في الواقع من البدع العصرية التي فشت في الزمن الحاضر ، وذلك بلاشك مما يثير فتنا كثيرة جدا بين المسلمين لأن كل جماعة تجد نفسها وقد أخذت برهبة البيعة أن تلتزم الخط الذي يمشي فيه حزبه فهذا المبايع له الأمر والنهي كما لو كان خليفة المسلمين ، وهناك مبايع آخر وله خط آخر وهكذا تتباعد الجماعات بعضها عن بعض بسبب هذه البيعات العديدة المختلفة ، 

"Adapun baiat kelompok-kelompok (jamaah atau organisasi) kepada pemimpin mereka ataukah sebuah jamaah diantara jama'ah-jama'ah kepada pemimpin mereka dan lain sebagainya, maka perkara ini menurut realitanya termasuk bid'ah-bid'ah masa kini yang tersebar pada zaman sekarang.

Perkara seperti itu tanpa diragukan lagi termasuk perkara yang akan mengobarkan fitnah-fitnah (musibah) yang banyak sekali di antara kaum muslimin.

Karena, setiap jamaah mendapati dirinya (yang berhak dibai'at) dan sungguh jamaah itu beberapa saat (kemudian) mengambil baiat agar mereka (anggota jamaah) berpegang kuat pada rencana yang hizb (anggota-anggotanya) akan berjalan padanya.

(Pemimpin jamaah) yang dibai'at ini, memiliki perintah dan larangan sebagaimana halnya andaikan dia menjadi seorang khalifah bagi kaum muslimin. Sementara disana ada juga pemimpin (bagi jamaah lain) yang di baiat dan dia juga memiliki rencana yang lain.

Demikianlah halnya jama'ah-jama'ah itu saling menjauh antara satu dengan lainnya, disebabkan adanya bai'at-bai'at yang ber bilang lagi beragam ini."

Sumber Fatwa : http://bit.ly/2jv6IwC


Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah-


Pertanyaan,
السؤال : فضيلة الشيخ : ما حكم البيعة التي تكون في بعض الجماعات ؟
"Syaikh yang mulia, apa hukum bai'at yang ada sebagian jama'ah-jama'ah?"
الجواب : البيعة التي تكون في بعض الجماعات بيعة منكرة شاذة , لأنها تتضمن أن الإنسان يجعل لنفسه إمامين وسلطانين الإمام الأعظم الذي هو على جميع البلاد , والإمام الذي بايعه ,
وتفضي أيضا ً إلى شر بالخروج على الأئمة الذي يحصل به من سفك الدماء وإتلاف الأموال ما لا يعلمه إلا الله ,
“Bai’at yang terdapat pada jamaah-jamaah merupakan bai’at yang ganjil dan mungkar. Di dalamnya terkandung makna bahwa seseorang menjadikan untuk dirinya dua imam (pemimpin) dan dua penguasa : (pertama) imam tertinggi yang merupakan pemimpin yang menguasai seluruh negeri, dan (kedua) imam yang dibai’atnya.
Juga akan mengantarkan kepada keburukan, dengan keluar ia dari ketaatan kepada para penguasa, yang dapat menyebabkan pertumpahan darah dan musnahnya harta benda, yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.” [Lihat Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, hlm. 188]

Fatwa Syaikh Sholih bin Abdillah bin Fauzan Al-Fauzan

Pertanyaan :
س : البيعة لمن تكون ؟ وهل يجوز أن يبايع أكثر من واحد ؟
Untuk siapakah baiat? Bolehkah berbaiat kepada lebih dari seorang (pemimpin)?

ج : البيعة لا تكون إلا لولي أمر المسلمين، وهذه البيعات المتعددة مبتدعة، وهي من إفرازات الاختلاف، والواجب على المسلمين الذين هم في بلد واحد وفي مملكة واحدة أن تكون بيعتهم واحدة لإمام واحد، ولا يجوز المبايعات المتعددة، وإنما هذا من إفرازات تجوز المبايعات من اختلافات هذا العصر، ومن الجهل بالدين.
وقد نهى الرسول صلى الله عليه وسلم عن التفرق في البيعة وتعدد البيعة، وقال: ((من جاءكم وأمركم جميع على واحد منكم، يريد تفريق جماعتكم، فاضربوا عنقه))[1]، أو كما قال صلى الله عليه وسلم، وإذا وجد من ينازع ولي الأمر الطاعة، ويرد شق العصا وتفريق الجماعة، فقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم ولي الأمر وأمر المسلمين معه بقتال هذا الباغي، قال تعالى: {وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَـأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّه} الحجرات: 9.
وقد قاتل أمير المؤمنين علي بن أبي طالب ومعه أكابر الصحابة، قاتلوا الخوارج البغاة حتى قضوا عليهم، وأخمدوا شوكتهم، وأراحوا المسلمين من شرهم، وهذه سنة الرسول صلى الله عليه وسلم؛ فإنه أمر بقتال البغاة وبقتال الخوارج الذين يريدون شق عصا الطاعة، وذلك من أجل الحفاظ على جماعة المسلمين وعلى كيان المسلمين من التفرق والاختلاف.

Jawab: 
Baiat itu tidak dilakukan, kecuali bagi pemerintah kaum muslimin.

Adapun baiat-baiat yang berbilang (terhadap kelompok-kelompok) adalah bid’ah (mengada-ada dalam urusan agama, dan tidak ada contohnya dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-  dan para sahabat -radhiyallahu anhum-), serta termasuk sebab yang memunculkan perselisihan.

Wajib atas kaum muslimin yang tinggal di satu negeri atau sebuah kerajaan untuk berbaiat kepada satu pemimpin (yaitu pemimpin negeri tersebut), tidak dibenarkan yang dibaiat itu lebih dari satu.

Pembaiatan kepada banyak pemimpin, termasuk sebab munculnya perselisihan di masa ini dan termasuk kebodohan terhadap agama.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah melarang perpecahan dalam baiat dan berbilangnya baiat.

Beliau bersabda,
مَنْ جَاءَكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَى وَاحِدٍ مِنْكُمْ، يُرِيْدُ تَفْرِيْقَ جَمَاعَتَكُمْ، فَاضْرِبُوْا عُنُقَهُ
“Siapa yang datang kepada kalian untuk memecah persatuan kalian, sedang kalian berada dalam satu kepemimpinan salah seorang dari kalian, maka penggallah lehernya.”[6],
seperti yang disabdakan oleh beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Apabila ada orang yang mau merampas ketaatan terhadap pemerintah, merusak persatuan dan memecah belah pemerintahan, maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah memerintahkan kepada pemerintah dan kaum muslimin yang bersamanya untuk memerangi orang yang melampaui batas ini.

Allah -ta’ala- berfirman,
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَـأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّه
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya (melampaui batas) terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” (QS. : 9)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu anhu- dan bersama beliau ada pembesar para sahabat, telah memerangi kaum Khawarij yang melampaui batas hingga berhasil menumpas mereka, menghancurkan kekuatan mereka dan mengamankan kaum muslimin dari kejelekan mereka.

Inilah sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau telah memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang melampaui batas (para pemberontak) dan memerangi Khawarij yang ingin melepaskan diri dari ketaatan terhadap pemerintah.

Ini semua dalam rangka menjaga pemerintahan kaum muslimin dan menjaga kaum muslimin dari perpecahan dan perselisihan."

Sumber Fatwa : Al-Muntaqo min Fatawa Fadhilah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, (no. 213) via naskah Syamilah]

Demikian fatwa-fatwa ini kami bawakan agar kaum muslimin di Indonesia tidak salah dalam menyikapi sebagian orang yang mengajak manusia untuk berbai'at dengan bai'at yang menyalahi sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Kesimpulan :

Imam Besar kaum muslimin adalah pemimpin tertinggi yang menguasai negeri mereka dan mengurusinya, baik dia adalah kholifah, atau raja, atau presiden.

Adapun seorang pemimpin organisasi, jamaah, kelompok atau perkumpulan, maka dia bukanlah "Imam Besar" yang boleh dibai'at oleh kaum muslimin!!

Kapan ada terjadi dualisme kepemimpinan, maka akan muncul banyak keributan dan kerusakan, bahkan boleh jadi perang besar.





[1] "IMAM BESAR" adalah istilah dan gelar yang disematkan dan digunakan oleh para ulama terdahulu bagi "pemerintah muslim" yang berkuasa di suatu negeri. [Lihat Adz-Dzakhiroh (3/421) Al-Qorofiy, Bidayatul Mujtahid (2/371), Al-Asybah wa An-Nazho'ir (1/351) oleh As-Suyuthiy, dan masih banyak lagi kitab-kitab lainnya]
[2] HR. At-Tirmidziy (2676).
[3] HR. Muslim (1839)
[4] HR. Al-Bukhoriy (4340), dan Muslim (1840)
[5] HR. Muslim (1855)
[6] HR. Muslim (1852) dari sahabat Arfajah bin Syuroih Al-Asyja'iy. 

2 komentar:

  1. Afwan ustadz, apakah jika imam mahdi muncul, maka baiat diberikan kepada imam mahdi dan melepas baiat pemimpin sebelumnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kewajiban seorang mukmin saat ia muncul, membai'at beliau sbg kholifah. Disitu ada isyarat bahwa di zaman itu tdk ada lg pemimpin muslim, selain beliau. Wallahu a'lam bish showab.

      Hapus