Penawar Musibah
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Setiap
manusia pasti mengalami musibah, baik ia muda, maupun tua. Musibah dan ujian
terkadang menimpa hati, jasad dan harta benda.
Seorang
pedagang mengalami kerugian. Seorang ibu kematian anak atau suami. Seorang
bapak kehilangan anak atau istri. Seorang pejabat dan pegawai atau pekerja
kehilangan kedudukan dan pekerjaan. Seorang yang mengalami kecelakaan. Seorang
petani gagal panen.
Semua
ini adalah musibah yang muncul dari ketentuan (takdir) Allah -Subhanahu wa
Ta'ala- sebagian ujian bagi keimanan bagi para hamba.
Mungkin
diantara kita bertanya, "Lantas apa penawar musibah-musibah itu?"
Jawabnya, seorang hamba ridho dan rela terhadap takdir
(ketentuan) Allah berupa musibah yang menimpa dirinya.
Itulah
kesabaran. Lalu kesabaran itu diiringi oleh ihtisab
(mencari pahala) di sisi Allah -Azza wa Jalla-.
Orang
yang melakukan langkah seperti ini akan selalu mendapat petunjuk dan bimbingan
Allah -Ta'ala-.
Allah Robbul
Izzah berfirman,
مَا
أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ
قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
[التغابن : 11]
"Tidak
ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah; dan
barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya dia akan memberi petunjuk
kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu". (QS. At-Taghabun : 11)
Siapa
yang dimaksud dengan "orang yang beriman" dalam ayat ini?
Ulama
tabi'in, Alqomah bin Qois Al-Kufiy -rahimahullah- berkata saat menjawab pertanyaan
seperti ini,
هُوَ
الرَّجُلُ تُصِيْبُهُ الْمُصِيْبَةُ، فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللهِ، فَيُسَلِّمُ
ذَلِكَ وَيَرْضَى
"Dia
adalah seorang yang ditimpa musibah. Lalu menyadari bahwa musibah itu dari sisi
Allah sehingga ia pun menerimanya (dengan lapang dada) dan ridho". [HR. Ath-Thobariy dalam Jami' Al-Bayan
(23/421), Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (no. 9976), dan
Al-Qodhi Abu Ishaq Al-Malikiy dalam Ahkam Al-Qur'an (hal. 223)
dengan sanad yang shohih]
Ketika
tertimpa musibah kematian –misalnya-, maka seorang mukmin tidaklah menampakkan
keluh kesah dan sikap protesnya di hadapan Allah, akibat musibah yang menimpa
orang yang ia cintai.
Sikap
protes dan keluh kesah semacam ini seakan ia adalah bentuk pengingkaran atas
Allah -Azza wa Jalla-.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
اثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ : الطَّعْنُ فِى النَّسَبِ،
وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ
"Dua
perkara yang ada di kalangan manusia; keduanya merupakan pengingkaran: yaitu
mencerca nasab dan meratapi mayat". [HR.
Muslim dalam Kitabul Iman (no. 67)]
Meratapi
mayat di hari berkabung, bukanlah kebiasaan kaum beriman, bahkan merupakan
kebiasaan kaum jahiliah.
Kaum
beriman hanyalah bersedih di hari seperti itu, dengan linangan air mata dan
iringan doa serta harapan semoga si mayat mendapatkan tempat yang baik di sisi
Allah dan ada pengganti yang baik baginya di dunia, berupa keluarga dan keturunan
yang sholih senantiasa mendoakan kebaikan dan ampunan baginya.
Adapun
sikap meronta-ronta, merobek baju, memukul anggota badan serta meraung-raung,
sambil mengenang jasa baik si mayat, maka semua ini kebiasaan buruk kaum
jahiliah.
Itulah
sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengingkari hal itu dalam
sabdanya,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا
بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
"Bukan
dari golongan kami, orang yang memukul wajahnya, merobek kerah bajunya dan
menyeru dengan seruan jahiliah". [HR.
Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1297), dan Muslim dalam Shohih-nya
(103)]
Al-Imam
Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- menerangkan
makna "seruan jahiliah" seraya berkata,
"يعني قال عند البكاء ما لا يجوز شرعا مما يقول به أهل
الجاهلية." اهـ من تحفة الأحوذي - (4 / 69)
"Maksudnya,
ia mengucapkan –di saat menangis- sesuatu yang tak boleh dalam syariat berupa
perkara yang biasa diucapkan oleh kaum jahiliah". [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy *(4/69), cet. Dar
Al-Kutub Al-Ilmiyyah]
Itulah
musibah kematian, seorang harus bersabar menghadapinya.
Demikian
pula musibah kehilangan harta benda atau Allah menurunkan musibah atas dirinya
berupa penyakit, kecelakaan, kebakaran rumah, bagkrutnya usaha dan lainnya.
Sebagian
orang saat mendapat musibah-musibah seperti ini, ia berburuk sangka kepada
Allah -Azza wa Jalla-.
Ia
mengira bahwa dengan musibah itu berarti Allah tak menyayanginya.
Sebaliknya,
ia menyangka bila ia bersenang-senang dengan berbagai macam kenikmatan duniawi
yang ia gunakan bermaksiat. Dia dibiarkan sehat dan bebas dalam kehidupan ini,
tanpa ada bencana dan musibah yang menimpa dirinya. Akhirnya, ia pun menyangka
bahwa dirinya dicintai oleh Allah.
Padahal
ia adalah munusia yang buruk, ditunda balasan buruknya di akhirat, bukan di
dunia.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ
فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ
حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ
"Bila
Allah menginginkan kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Allah menyegerakan musibah
baginya di dunia. Jika Allah menginginkan keburukan pada diri hamba-Nya, maka
Allah menangguhkannya, karena dosanya, sampai ia membawa dosanya pada hari
kiamat". [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya
(no. 2396). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah
(1220)]
Bila
seseorang mukmin yang berusaha taat kepada Allah, lalu ia diberi ujian berupa
bala', maka semua itu adalah tanda bahwa ia
adalah orang yang dicintai oleh Tuhan-nya,
bukan dibenci!! Sebab seorang mukmin bila ia bersabar dan ridho terhadap takdir
Allah berupa bala' yang menimpa dirinya, maka ia akan mendapatkan balasan yang
besar, insya Allah.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ
إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ
فَلَهُ السَّخَطُ
"Sesungguhnya
besarnya balasan seiring dengan besarnya bala'. Sesungguhnya Allah bila
mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberinya bala'. Karenanya, barangsiapa
yang ridho, maka ia akan mendapatkan keridhoan dan barangsiapa yang murka, maka
ia akan mendapatkan kemurkaan". [HR.
At-Tirmidziy (2396) dan Ibnu Majah (4031). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh
Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 146)]
Syaikh
Muhammad Nashir Al-Arna'uth -rahimahullah-
berkata,
و هذا الحديث يدل على أمر زائد على ما سبق و هو أن البلاء إنما
يكون خيرا ، و أن صاحبه يكون محبوبا عند الله تعالى ، إذا صبر على بلاء الله تعالى
، و رضي بقضاء الله عز و جل ." اهـ من سلسلة الأحاديث الصحيحة - (1 / 145)
"Hadits
ini menunjukkan tentang suatu perkara tambahan atas penjelasan telah lewat,
yaitu bahwa bala' akan menjadi kebaikan dan bahwa pelakunya dicintai di sisi
Allah -Ta'ala-, bila ia bersabar atas bala' yang Allah turunkan serta ridho
terhadap ketentuan Allah -Azza wa Jalla-". [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah
(1/145)]
Semua
musibah akan terasa ringan bagi seorang mukmin, bila ia menyadari bahwa semua
itu adalah takdir dan ketentuan Allah, Sang Maha Pencipta alam semesta.
Dari
situ, ia bersabar dan ridho terhadap segala bala' dan musibah yang ia rasakan.
Inilah penawar musibah.
Syaikh
Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
فإن العبد متى علم أن المصيبة بإذن الله ، وأن الله أتم الحكمة
في تقديرها ، وله النعمة السابغة في تقديرها على العبد رضي بقضاء الله وسلم لأمره
وصبر على المكاره ، تقربا إلى الله ، ورجاء لثوابه ، وخوفا من عقابه ، واغتناما
لأفضل الأخلاق ، فاطمأن قلبه وقوي إيمانه وتوحيده ." اهـ من القول السديد شرح
كتاب التوحيد - (ص / 128)
"Sesungguhnya
seorang hamba kapan saja ia tahu bahwa musibah berdasarkan izin Allah dan bahwa
Allah telah menyempurnakan hikmah-Nya dalam menakdirkan musibah, -sedang Dia
memiliki nikmat yang sempurna saat menakdirkannya atas hamba-Nya-, maka seorang
hamba akan ridho terhadap ketentuan Allah dan menerima ketetapan-Nya serta
bersabar atas hal-hal yang dibenci demi mendekatkan diri kepada Allah,
mengharapkan pahala-Nya, takut terhadap hukuman-Nya dan menggunakan akhlak
terbaik (yakni, bersabar). Akhirnya, hatinya akan tenang, iman dan tauhidnya
semakin kuat". [Lihat Al-Qoul As-Sadid
(hal. 128)]
Itulah
penawar musibah yang
mampu menjadikan musibah sebagai kebaikan yang membentuk diri kaum beriman
sebagai manusia terbaik di sisi Allah.
Itulah
sebabnya para nabi menjadi manusia terbaik, sebab mereka banyak mendapatkan
musibah dan tantangan saat mereka berdakwah di jalan Allah. Tapi beratnya
rintangan, ditepis dengan kesabaran.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءَ، ثُمَّ الَّذِينَ
يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
"Sesungguhnya
diantara manusia yang paling keras bala'-nya adalah para nabi, lalu orang-orang
setelahnya, lalu orang-orang setelahnya, lalu orang-orang setelahnya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (6/369).
Syu'aib Al-Arna'uth menyatakan hadits ini shohih dalam Takhrijul
Musnad (no. 27079)]
Semoga
Allah -Azza wa Jalla- menjadikan kita orang-orang yang berbalut
kesabaran dan keridhoan atas segala ketentuan-Nya.

Komentar
Posting Komentar